Definition List

February 21, 2015

Epistemologi Islam


ayin barabbas
BAB III
EPISTEMOLOGI ISLAM

A.    Pengertian dan Ruang Lingkup Epistemologi
Dalam belajar filsafat, kita akan menemui banyak cabang kajian yang akan membawa kita pada fakta dan betapa kaya dan beragam kajian filsafat itu. Sebenarnya yang terpenting  adalah bagaimana kita semua memahami  apa saja yan menjadi kajan filsafat, cabang-cabang filsafat.[1] Albuerey Castel membagi masalah filsafat menjadi enam bagian yaitu, teologis, metafisika, epistemologi, etika, plitik dan sejarah.[2] Nuraini Soyomukti mengungkapkan, tiga cabang utama filsafat yang sering menjadi kajian dan harus benar – benar diajarkan adalah: ontolgi, aksiologi dan, epistemolgi.[3] Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari benar atau tidaknya suatu pengetahuan.[4]
Sebagai sub sistem filsafat, epistemologi mempunyai banyak sekali pemaknaan atau pengertian yang kadang sulit untuk dipahami. Dalam memberikan pemaknaan terhadap epistemologi, para ahli memiliki sudut pandang yang berbeda, sehingga memberikan pemaknaan yang berbeda ketika mngungkapkannya.[5]
Akan tetapi, untuk lebih mudah dalam memahami pengertian epistemologi, maka perlu dikatahui pengertian dasarnya terlelebih dahulu. Secara etimologi, epistemologi berasal dari bahasa yunani  episteme (pengetahuan) dan logos (kata, pikiran, percakapan atau ilmu).[6] Ada juga yang mengatakan kalau logos berarti teori.[7] Secara terminologi, epistemologi adalah teori atau ilmu pengetahuan tentang metode dan dasar-dasar pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan batas-batas pengetahuan dan validitas atau sah berlakunya pengetahuan itu.[8]
Beberapa ahli yang mencoba mengungkapkan definisi daripada epistemologi adalah P. Hardono Hadi. Menurut beliau epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.[9] Tokoh lain yang mencoba mendefinisikan epistemoogi adalah D.W Hamlyin, beliau mengatakan bahwa epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat  dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaian – pengandaian serta secara umum hal itu dapat  diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.[10]
Sedangkan menurut filsuf besar yunani kuno Aristoteles,  episteme  adalah an organized body of rational knowledge with is proper object yang maksudnya adalah suatu kumpulan yang teratur dari oengetahuan rasional dengan obyeknya sendiri yang tepat.[11] jAdi ilsaat dan lmu tergolong sebagai pengetahuan rasional, yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran atau rasio manusia.
Dagobert D. Runes. Seperti yang di tulis Mujamil Qomar, beliau memaparkan bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas, sumber, struktur, metode-metode, dan validitas pengetahuan.[12] Sedangkan menurut  Azyumardi Azra, beliau menambahkan bahwa epistemologi sebagai ilmu yang membahas keaslian, pengertian, struktur, metode, dan validitas ilmu pengetahuan.[13] Walaupun dari kedua pemaparan di atas terdapat sedikit perbedaan, namun keduanya memberikan pengertian yang sederhana dan relatif mudah di pahami. Mudhlor ahmad merinci menadi enam aspek yaitu, hakikat, unsur, macam,  tumpuan, batas dan saran  pengetahuan.[14]
Am syaifufdin  menyebutkan bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana asalanya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai manakah batassannya. Semua pertanyaan itu dapat diringkas menjadi dua masalah pokok, masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu.[15]
B.     Landasan Epistemologi Islam
Landasan epistemologi memiliki arti yang sangat penting bagi bangunan pengetahuan, sebab ia merupakan tempat berpijak. Bangunan pengetahuan menjadi mapan, jika memiliki landasan yang kokoh. Landasan epistemologi ilmu adalah metode ilmiah, yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam meyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan. Jadi, imu pengetahuan merupakan pengetahuan yang diperoleh lewat metode ilmiah. Dengan demikian, metode ilmiah merupakan penentu layak-tidaknya pengetahuan menjadi ilmu, sehingga memiliki fungsi yang sangat penting dalam bangunan ilmu pengetahuan.[16]
Metode ilmiah berperanan pada tataran tranormasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. Bisa tidaknua pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan, sangat bergantung pada metode ilmiah, karena metode ilmiah menajdi standar untuk menilai dan mengukur kelayakanilmu pengetahuan. Sebaliknya, meskipun fenomena pengetahuan logis tetapi tidak empiris, juga tidak termasuk dalam ilmu pengatahuan, malainkan wilayah filsaat.[17] Dari keterangan di atas dapat dirarik benang merah bahwa metode ilmiah harus didukung dua pilar ilmu pengetahuan yaitu rasio dan fakta empiris.
Rasio atau akal merupakan instrumen utama untuk memperoleh pengetahuan.[18] Rasio ini telah lama digunaka manusia  untuk memecahkan atau menemukan awaban suatu masalah pengetahuan. Bahkan ini merupakan cara tertua yang digunakan manusia dalam wilayah keilmuan. Pendekatan ini disebut pendekata deduktif yang dikenal dengan silogisme aristoteles, karena dirintis oleh aristoteles.[19]
Menurut Francis Bacon, pengetahuan yang benar itu dioeroleh melalui kenyataan pengalaman, maka dia memunculkan aliran empirisme. Bacon  yakin mampu membuat kesimpulan umum yang lebih benar dan valid, bila kita mau mengumpulkan fakta melalui pengamatan langsung, maka dia memperkenalkan metode indukti sebagai lawan metode dedukti.[20]
Akan tetapi berlainan dari kedua tokoh diatas yaitu darwin mempunya pandanagan yang berbeda. Dia sebagai perints yang memadukan metode dedukti dengan metode indukt meenadi metode dedukti indukti yanng kemudian disebut mtode ilmiah. Jadi metode ilmiah adalah gabungan anara metode dedukti dengan metode indukti atau perkawinan antara rasionalisme denga  empirisme. Ilmuwan lain yang mempelopori penggunaan metode ini adalah Galileo dan Isac Newton.[21]
Dengan menggunakan meode ini sebagai gabunngan dari metode dedukti dan metode indukti ini agar dapat mengembangkan ilmu yang memiliki kerangka penjelasn yang masuk akal dan sekaligus mencerminkan kenyataan yang sebenarnya, sehingga bisa terandalkan. Melaluipenggabungan kedua metode ini akhirnya dapat mengatasi masing-masing kelemahan metode tersebut. Kelemahan  metode indukti dapat di atsi oleh kelebihan metode dedukti dan begitu pula sebaliknya.
Dari pengertian, ruang lingkup, objek, dan landasan epistemologi ini, dapat kita disimpulkan bahwa epistemologi merupakan salah satu komponen filsafat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, khususnya berkenaan dengan cara, proses, dan prsedur bagaimana ilmu itu diperoleh.
C.    Obyek Ilmu
Dalam konsep filsafat Islam, obyek kajian ilmu addalah ayat-ayat Tuhan sendiri, yaitu ayat-ayat Tuhan yang tersurat dalam kitab suci yang berisi firman-firman-Nya, dan ayat-ayat Tuhan yang tersirat dan terkandung dalam ciptaan-Nya  yaitu alam semesta dan diri manusia sendiri. Kajian terhadap kitab suci dan kembali melahirkan ilmu agama, sedangkan kajian terhadap alam semesta ,dalam dimensi fisik atau materi, melahirkan ilmu alam dan ilmu pasti termasuk di dalamnya kajian terhadap manusia dalam kaitannya dengan dimensi fisiknya, akan tetapi pada dimensi nofisiknya, yaitu perilaku, watak dan eksistensinya dalam berbagai aspek kehidupan, melahirkan ilmu humaniora, sedangkan kajian terhadap ketiga ayat Tuhan itu yang dilakukan pada tingkatan makna, yang berusaha untuk mencari hakikatnya melahirkan ilmu filsafat.[22]
Oleh  karena itu jika dilihat dari obyek kajiannya, maka agama, ilmu dan filsafat adalah berbeda, baik dalam metode yang ditempuhnya maupun tingkat dan sifat dari kebenaran yang dhasilkannya. Akan tetapi bila dilihat dari sumbernya, maka ketiganya berasal dari sumber yang satu yaitu ayat-ayat-Nya. Dalam kaitan ini maka ketiganya pada hakikatnya saling berhubugan dam saling melengkapi. Ilmu dipakai untuk memecahkan persolan-persoalan tehnis, filsafat memberikan landasan-landasan nilai dan wawasan yang menyeluruh, sedangkan agama mengantarkan pada realitas spiritual, memasuki dimensi Ilahi.[23]
Agama dilihat dari segi doktrin, kitab suci dan eksistensi kenabian, adalah bidang kajian ilmu agama, akan tetapi jika dilihat dari pemahaman, pemikiran dan penafsiran manusia terhadap doktrin kitab suci, Tuhan dan kenabian itu, maka kajian atas pemikiran dan pemahaman manusia tersebut dapat masuk pada kajian ilmu humaniora. Sedangkan kajian filsafat dapat memberikan penjelasan dan konsep mengenai Tuhan, doktrin dan kenabian, tetapi sifatnya spekulatif dan hanya agama yang dapat memberikan tata cara yang tehnis bagaimana berhubungan dengan Tuhan dan menghayati ajaran-ajaran-Nya, yang dibawa oleh nabi utusan-Nya dan yang tertuang dalam kitab suci.[24]
Oleh karena itu waawasan epistemolgi Islam pada hakikatnya bercorak tauhid, dan tauhid dalam konsep Islam, tidak hanya berkaitan pada konsep teologi saja, tetapi juga dalam konsep antropologi[25] dan epistemologi. Epistemologi Islam sesungguhnya tidak mengenal dikotomi keilmuan, seperti yang sekarang banyak dilakukan dikalangan umat Islam Indonesia, yang membagi ilmu agama dan ilmu umum, atau syari’ah dan non syari’ah, yang secara institusional dipisahkan penyelenggaraannya, yaitu ilmu agama penyelenggaraanya di bawah Departemen Agama, dan yang umum di bawah Departemen Pendidikan.[26]
Dalam Al Quran dijelaskan bahwa di data ayat-ayat Tuhan yaitu alam, manusia dan kitab suci, didalamnya terdapat hukum-hukum dan semuanya itu dicptakan agar manusia mau memikirkannya, karena melalui proses keilmuan itu, maka akan tersingkap dan diketahui makna kebenaran yang ada di dalamnya yang memungkinkan manusia memanfaatkan untuk kepentingan hidupnya.[27]
Al quran menerangkan tentang irinya sebagai obye berpikir dan pusat pengetahuan dalam surat Az Aukhruf ayat :3-4
$¯RÎ) çm»oYù=yèy_ $ºRºuäöè% $|Î/ttã öNà6¯=yè©9 šcqè=É)÷ès? ÇÌÈ ¼çm¯RÎ)ur þÎû ÏdQé& É=»tGÅ3ø9$# $uZ÷ƒt$s! ;Í?yès9 íOŠÅ3ym ÇÍÈ
3.Sesungguhnya kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).
4.Dan Sesungguhnya Al Quran itu dalam Induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi kami, adalah benar-benar Tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.[28]
Selanjutnya Al Quran mengatakan tentang alam sebagai obyek pemikiran untuk kepentingan hidup manusia dalam surat Al Jaatsiyah ayat: 5
É#»n=ÏG÷z$#ur È@ø©9$# Í$pk¨]9$#ur !$tBur tAtRr& ª!$# z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# `ÏB 5-øÍh $uŠômr'sù ÏmÎ/ uÚöF{$# y÷èt/ $pkÌEöqtB
É#ƒÎŽóÇn@ur Ëx»tƒÌh9$# ×M»tƒ#uä 5Qöqs)Ïj9 tbqè=É)÷ètƒ ÇÎÈ
Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.[29]
D.    Tujuan Epistemologi Islam
Selanjutnya, apa yang menjadi tujuan epistemologi tersebut? Jacques Martain mengatakan, “Tujuan epistemologi bukanlah hal utama menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu.”[30] Hal ini menunjukkan bahwa tujuan epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan -kendatipun tidak bisa dihindari- akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu, yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan.
Rumusan tujuan epistemologi tersebut memiliki makna strategis dalam dinamika pengetahuan. Rumusan ini menumbuhkan kesadaran bahwa jangan sampai dia puas dengan sekedar memperoleh pengetahuan, tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh pengetahuan, sebab keadaan memperoleh pengetahuan melambangkan sikap pasif, sedangkan cara memperoleh pengetahuan melambangkan sikap dinamis. Keadaan pertama hanya berorientasi pada hasil, sedangkan keadaan kedua lebih berorientasi pada proses. Seseorang yang mengetahui prosesnya, tentu akan dapat mengetahui hasilnya, tetapi seseorang yang mengetahui hasilnya acapkali tidak mengetahui prosesnya. Contoh, seorang guru dapat mengajarkan kepada siswanya bahwa empat kali lima sama dengan dua puluh (4 X 5 = 20) dan siswa mengetahui, bahkan hafal. Namun, bagi siswa yang cerdas tidak pernah puas dengan pengetahuan da hafalannya itu. Dia akan mengejar bagaimana prosesnya, empat kali lima sama dengan dua puluh. Maka guru yang profesional akan menerangkan proses tersebut secara rinci dan mendetail, sehingga siswa benar-benar mampu memahaminya dan mampu mengembangkan perkalian angka-angka lain. Dengan demikian, seseorang tidak sekedar mengetahui sesuatu atas informasi orang lain, tetapi benar-benar tahu berdasarkan pembuktian kontektual melalui proses itu.
E.     Cara Memperoleh Ilmu
Setiap obyek kajian keilmuan, menuntut suatu metode yang sesuai dengan obyek kajiannya itu, sehingga metode kajian selalu menyesuaikan obyeknya. Metode kajian adalah jalan dan cara yang ditempuh untuk menemukan prinsip-prinsip kebenaran yang terkandug pada obyek kajiannya, dan kemudian dirumuskan dalam konsep teoritik, dengan menyesuaikan dengan obyak kajian, sehingga tidak terjadi kesalahan pendekatan, seperti menggergaji untuk menumbangkan pohon jati dengan silet.[31]
Namun cara kerja filsafat, sulit dirumuskan secara umum, karena masing-masing filosof mempunyai metodenya sendiri-sendiri. Metode para filosof dibangun oleh pengalamannya sendiri selama bertahun-tahun dalam perenungan dan pemikiran bebas, anFilsafat pada dasarnya bekerja mulai dengan pertanyaan dan berakhir dengan pertanyproses pencerahan, dengan menjalani pengalaman spiritual dalam keyakinan kegaiban.
Dalam konsep filsafat Islam, ilmu bisa diperoleh melalui dua jalan yaitu jalan kasbi atau khusuli[32] dan jalan laduni atau khudhuri[33]. Ilmu kasbi atau khusuli ini bisa diperoleh oleh manusia pada umumnya. Sedangkan ilmu laduni atau khudhuri ini hanya bisa diperoleh oleh manusia yang mendapatkan cahaya Ilahi. Dengan hadirnya cahaya Ilahi itu, semua pintu ilmu terbuka menerangi kebenaran, terbaca dengan jelas dan terserap dalam kesadaran intelek, seakan-akan orang  tersebut memeroleh ilmu dariTuhan secara langsung. Allah berfirman dalam Alquran surat Al Baqoroh ayat 32:
(#qä9$s% y7oY»ysö6ß Ÿw zNù=Ïæ !$uZs9 žwÎ) $tB !$oYtFôJ¯=tã ( y7¨RÎ) |MRr& ãLìÎ=yèø9$# ÞOŠÅ3ptø:$# ÇÌËÈ
Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.[34]
Allah juga berfirman dalam Al Quran surat Al Alaq ayat:3-5
ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ
3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,[35]
5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.[36]
Dalam kaitan ini secara tehnis, Alquran memperkenalkan suatu cara membaca dengan kesadaran bahiyah seperti dinyatakan Alquran Al Alaq ayat:1
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan[37]
Membaca yang diperintahkan Tuhan kepada nabi Muhammad SAW., seperti yang dijelaskan Alquran di atas, tidak memaca deretan huruf-huruf dan susunan kata-kata, akan tetapi membaca realitas dengan berbagai dimensinya dalam kehidupan di sekelilingnya, dan melaluibacaan demikian, Nabi Muhammad SAW memperoleh wawasan spiritual dan penguasaan pengetahuan hikmah. Ini dimungkinkan karena nabimempunyai kecerdasan suci. Barangkli kemampuan menghafalnya yang jelek, syakautu ila Waqi, ‘ala syu’a hifdzi fa-aarsyadani ‘ala tarkil ma’ashi, dan gurunya nasehat memberi kepadanya untuk meninggalkan atau tidak melakukan tindakan kemaksiatan.[38]
Dengan membersihkan qalb  dan mengosongkan egoisme dan keakuannya ke titik nol, maka ia berdiri di hadapan Tuhan, seperti seoarang murid berhadapan dengan gurunya, Tuhan hadir membukakan pintu kebenaran dana manusia masuk ke dalamnya,memasuki kebenaran itu, dan ketikaia keluar, maka ia menjadi dan menyatu dengan kebenaran yang dimasukinya. Dalam keadaan demikian ia mempunyai komitmen yang tinggi atas kebenaran yang diserapnya dan ia melibatkan diri alam proses menjadikan kebenaran dalam kehidupan masyarakat.[39]
Cahaya atau nur Allah hanya akan masuk ke dalam ruh dan qalb untuk membaca, memahami dan menyerap kebenaran,jika seseorangtelah mengkosongkan aql dan qalbnya daari egoism, keakuan, keangkuhan, dengan kihlasan yang totaldan kemudian berusaha keras, dengan menyiapkan diri menjadi murid memohon Allah mengajarkan kepadanya kebenaran, dan degan aktif ia mengikuti aql dan qalbnya merangkaikan realitas yang hadir dalam berbagai dimensinya danmenaiknya dalam kesadaran intelek. Proses itu menjadi tradisi kehidupan batinnya yang teru menerus dilakukan sepenuh hatinya dan memerlkan waktu panjang, tidak terjadi seketika, utuk melatih katajaman ruh  agar bercahaya menerangi aqal dan qalbnya menyerap kebenaran. Proses itu berjalan tidak mulus, tetapi menghadapi berbagai pergolakan dan konflik batin, dan hanya bisa diatasi dengan keihlasamn yang total. Pergolakan dan konflik itu terjadi karena ia harus mampu menekan dan megendalikan keakuannya, bahkan menundukkanya untuk dapat bersikap rendah hati berhadapan dengan cahaya kebenaran.
F.     Karakteristik Ilmu Dalam Perspektif Islam
Ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam tidak sepenuhnya bertolak belakang dengan ilmu pengetaguan barat. Ada segi-segi tertentu yang merupakan titik persamaan. Hal ini di buktikan bahwa kebenaran akal dan indera juga diakui. Banyak sekali ayat Al Quran yang menjelasjan keduanya. Namun keduanya juga sangat terbatas dlam memecahkan masalah. Tidak semua permasalahan dapat dipecahkan oleh akal dan indera. Karena keduanya sangat terbatas, itulah akhirnya ilmu Islam dirancang  dan dibangun selain berdasar kedua sumber di atas, juga berdasarkan kekuatan spiritual yang bersumber dari Allah melalui wahyu.
1.      Bersandar pada kekuatan spiritual
Manusia adalah makhluk yang lebih dari skedar bersifat sensual, dia punya akal, punya hati nurani dan punya iman. Dalam keimanan terdapat kekuatan-kekuatan spiritual yang luar biasa.[40] Dalam hati juga terdpat kekuatan spiritul. Indikasinya adalah bahwa hati nurani sseorang selalu condong pada perbuatan-perbuatan baik yang diridhoi Tuhan.[41] Pada akal juga terdapat kekuatan spuiritual. Akal manusia mempunyai subtansi sumber dan prinsipnya adalah Ilahi.[42] Fazlur Rahman menempatkan indera dan akal pada posisi sentral dalam memperoleh dan mengembangkan pengetahuan.[43] Namun dari ketiganya, para filosof Muslim menempatkan wahyu di atas rasio.[44] Hal ini dikrenakan wahyu merupkan ajaran-ajaran Tuhan demi kemsalahatan manusia, dan wahyu merupkan kebenaran yang mutlak. Oleh karena itu indera dan akal harus tunduk kepada wahyu, karena wahyu merupakan petunjuk dari Allah selaku Tuhan pencipta mannusia.
Kebenaran yang dirawarkan  oleh wahyu sering dipahami sebagai kebenaran apriori.[45] Memang hal ini ada benarnya jika dipandang dari sudut lmu pengetahuan manusia berdasarkan ketentuan –ketentan Allah dalam kitab suci. Artinya kita mengetahui kebenaran sesutu berdasarkan informasi wahyu, walaupun tanpa penelitian terlebih dahulu. Tetapi dari sudut pengalaman bisa juga sebaliknya, yaitu aposteriori. Artinya kita lebih lama mengalami atau mengamalkan sesuatu ajaran Allah tetapi belum tahu rahasia ajaran tersebut dan mungkin kita baru tahu ketentuan-ketentuan yang memerintahkan untuk mengamalkan sesuatu itu.[46] Pendekatan terhadap wahyu tersebut sering diremehkan oleh Ilmuwan Barat, kecuali sedikit sekali.[47] Hal ini berbeda sekali dengan ilmu pengetahuan Islam yang menempatkan wahyu pada posisi dan fungsi yang sangat strategis.[48]
Di samping wahyu, kekuatan spiritual lain bisa berupa intuisi. Seperti halnya wahyu, intuisi juga ditinggalkan Ilmuwan Barat, baik sebagai sumber maupun sebagai pendekatan pengetahuan. Hanya saja Bergson menyakini, bahwa baik dengan budi maupun dengan indera belaka, kita tak mampu menyelami relitas sepenuhnya. Untuk itu kita harus menggunakan intuisi. Dikalangan muslim intuisi menempati kedudukan yang paling baik  sebagai sumber mupun pendekatan untuk mendapatkan pegetahuan. Mereka lalu memafaatkan intuiasi dalam melakukan kerja ilmiah untuk mendampingi akal, sehingga disamping ada target-terget yang harus dicapai melalui pemikiran, juga mereka mengharapkan datangnya pengetahuan yang sifatnya dianugerahkan melalui intuisi.[49] Yang kemudian Intuisi ini digunakan untuk menyempurnakan proses pemikiran mereka dalam menggagas persoalan-persoalan ilmu.
Dengan demikian, disamping rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatka penegtahuan yang lain yaitu intuiasi dan wahyu. Sampai sejauh ini pengetahuan yang didapatkan secara rasioanl maupun empiris, kedua-duanya merupakan induk produk dari sebuah  penalaran sedangkan pengetahuan yang didapatkan melalui wahyu dan intuisi diyakni lagsung dari Allah.[50] Sebenarnya metode ynng dimiliki oleh pemikir Islam lebih banyak dari Ilmuwan Barat, seharusnya pengetahuan pemikir muslim lebih maju di atas ilmu pengetahuan yang lahir dari barat, namuan kenyataannya pada saat ini, ilmu yang dihasilkan oleh Ilmuwan Barat lebih mendomiasi ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa masih ada yang salah dengan para pemikir muslim
2.      Hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal
Karakter ilmu dalam Islam yang kedua adalah didasarkan pada hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal. Keduanya tidak dipertentangkan karena memiliki titik temu. Atas dasar dan pertimbangan inilah pendamaian filsafat dan agama menjadi harapan dan aspirasi seluruh filosof muslim. Rata-rata mereka memiliki konsep yang sangat mesra atau harmonis hubungan antara wahyu dan akal, atau antara agama dengan filsafat. Hal ini menjelasakan bahwa ilmu Islam tidak memppertentangkan antara wahyu dan akal.[51]
Namun tradisi pemikiran seperti ini tidak bisa terjadi dikalangan para ilmuwan pada umumnya, terutama para ilmuwan barat. Mereka dapat menerima bahkan menerapakan, bahwa akal sebagai sumber untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan. Namaun mereka menolak wahyu sebagai alat yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah. Kedunya praktis putus satu sama lain yag tidak bisa disatukan. Merek kurang menyadari bahwa sesunguhnya ilmu tanpa didampingi agama akan menyimpang dari akidah yang benar atau kebablasan, seperti kecondongan mendewakan akal, sedangkan agama tanpa didampingi ilmu akan dirasakan sebagai doktrin-doktrin semata yanng membelenggu penalaran dan pemikiran seseorang, karena tidak ada penjelasan-penjelasan yang memadai dari agama, yang ada hanya ketentuan-ketentuan normatif.[52]
Salah satu sebab berkembngnya kecenderungan dikotomi tersebut adalah kegagalan manusia (Muslim) memahami secara proporsional hubungan antara ilmu dan agama. Mereka terjebak oleh pandangan ilmuwan barat mengenai hubunngan antara agama dan ilmu pengetahuan. Pandangan  ilmuwan barat secara historis dan psikologis dapat dimaklumi, karena sebelum masa renaissance terjadi pertentanngan yang hebat antara doktrin agama (Kristen) dengan temuan ilmu pengetahuan yang menyebabkan banyak sekali korban di kalangan ilmu pengetahuan. Nmun kasus tersebut tidak pernah terjadi dalam dunia Islam. secara historis umat Islam dapat mencapai keayaan ustru karena disemangati oleh Islam. Ibn Rusyd menegaskan “sekiranya tidak terdapat perselisihan dalam pandangan Islam antara agama dan akal, maka keduanya adalah jalan mencapai kebenaran tunggal, dan sebagai sarana mencapai satu tujuan yaitu, kebaikan manusia dan kebahagiaannya.” Filsafat dan agama dengan demikian sama-sama bertujuan untuk mencapai kebenaran.[53]
Mengenai hubungan timbal balik antara keduanya, Al-Isfahani menggambarkan bahwa “tanpa wahyu akal tidak sepantasnya dipedomi, dan tanpa akal, wahyu tidak dapat dicapai scara eksplisit kebenarannya. ” Einstein mengatakan “ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh.”[54]
Dengan demikian pada dasarnya tidak ada kontradiksi dan dikotomi antara sains dan agama. Juka sepintas tampak adanya kontradiksi dan dikotomi yang selama ini dianggap terjadi antara agama dan ilmu pengetahuan, sesungguhnya merupakan persepsi ilmuwan barat lantaran mereka pernah mengalami sejarah hitam yang berkaitan denga pertentangan agama melawan ilmu pengetahuan, sehingga melumpuhkan perkembangan peradabannya. Namun bagi pemikir Islam, ilmu pengetahuan perlu mendapatkan bimbingan agama, sedangkan agama perlu didampingi ilmu pengetahuan.[55]
3.      Interpendensi akal dan intuisi
Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun adakalanya atas kerjasama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki keterbatasana-keterbatasan yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang sifatnya pemberian atau bantuan, sedangken pemberian dari intuisi masih belum tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu.  Dengan pengertian lain akal membutuhkan intuisi dan begitu pula sebaliknya, intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling membutuhkan bantuan dari pihak lainnya untuk menyempurnakan pergerakan yang dicapai masing-masing.[56]
Pascal melihat dengan jelas bahwa, perkembangan rasional tidak akan pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang paling esensial. Bukan lantaran pikirannya melainkan berkat rahmat Tuhnlah paradoks-paradoks eksistensi manusia bisa teratasi. Maka kita harus menyadari terhaddap kelemahan-kelemahan akal manusia agar kita tdak sampai berbuat sesat dengan mendewakan akal. Rahmat Allah itulah yang paling menentukan dan memuaskan dalam menjawab atau memecahkan persoalan-persoalan pelik yang dihadapi manusia. Rahmat Allah itu mencakup juga intuisi, sehingga intuisi banyak membantu kerja akal dalam memahami kebenaran dan mencapai pengetahuan. Hasi pemikiran rasioanal dikenal dengan pengetahuan perolehan, sedangkan hasil dari pengeahuan intuisi dikenal dengan pengetahuan yang dihadirkan.[57]
Kedua macam pengetahuan ini memiliki ciri masing-masing. Penegtahuan yang dicapai atau pengetahuan perolehan bersifat tak langsung, rasioanal, logis dan diskursif. Sedang pengetahuan yang dihadirkan bersifat langsug, serta merta, suprarasioanl, intuitif, dan kontemplatif. Ciri-ciri tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara pengetahuan perolehan dengan pengetahuan yang dihadirkan, namun keduanya tidak untuk dipertentangkan dalam semua aspeknya, melainkan ada indikasi perbedaan tingkatan. Misalnya sifat rasional peda pengetahuan perolehan dan suprarasional pada pengetahuan yang dihadirkan sesungguhnya tidak bertentangan. Hanya saja sesuatu yang suprarasioanal berada di atas derajat rasioanal, karena berada di luar jangkaun rasio, seperti supraindera berarti di atas indera.[58]
4.      Memiliki orientasi teosentris
Bertolakdari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari Allah dan ini merupakan salah satu perbedaan mendasar antara ilmu dengan sains, ilmu dalam Islam memilki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Artinya ilmu tesebut mengemban nilai-nilai ketuhanan, sebagai nilai yang memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi semua makhluk. Sebaliknya ilmu tersebut tidak boleh menyimpang dari ajaran-ajaran allah. Jika sains Barat tidak memiliki kepedulian kepada Tuhan, maka ilmu dalam Islam selalu diorientasikan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan hakiki.[59]
Ilmu dalam Islam selain berdasar fakta empiris dan akal, juga berdasarkan wahyu (agama). Wahyu mencakup berbagai dimensi persoalan; muai ari permasalahan yang berkaitan ddengab pengalaman atau pengetahuan sehari-hari (knowlodge), ilmu pengetahuan (science), filsafat yang mengandalkan potensi akal, dan persoalan-persoalan suprarasioanal (di atas jangkauna akal). Pada persoalan terakhir ini menjadi wilyah jealajah agama dan di luar jangkauan ilmu maupun filsafat. Ketika mengemukakan permsalahan yang berkait dengan dimensi spiritual atau traansendental, maka ilmu dalam Islam juga menggarap wilayah di luar jelajah ilmu dan filsafat tersebut. Dengan demikian ilmu dalam Islam berlapis ganda; lapis indera, lapis akal dan lapis iman. Sebab itulah ilmu dalam Islam memiliki kandungan  informasi dan pembahasan yang jauh lebih mendalam daripada sains, karena ilmu dala Islam di samping melalui proses yang bisa dilalui oleh sains juga mendapatkan bahan-bahan informasi dari Tuhan melalui wahyu. Dengan demikian ilmu dalam Islam memiliki sesuatu yang dimiliki dan tidak dimiliki oleh sains. Disinilah letak kelebihan atau keunggulan ilmu dalam Islam di banding sains. Adapun kelebihan itu terletak pada faktor transedental.[60]
5.      Terikat nilai
Mengingat ilmu dalam Islam dipengaruhi dimensi spiritual, wahyu, intuisi, dan memiliki orientasi teosentris, konsekuensi berikutnya sebagai salah satu ciri ilmu tersebut adalah terikat nilai. Ini sangat membedakan dengan sains barat, karena semangat tradisi ilmiah barat senantiasa berusaha menegaskan, bahwa ilmu itu nertal atau bebas nilai, tidak boleh terikat nilai tertentu. Bahkan menurut pandangan barat, salah satu sarat keilmiahan adalah bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan fakta apa adanya dan tidak boleh dipengaruhi oleh fakta apapun.[61]
Orang-orang barat merasa resah  terhadap dampak negatif dari serangkaian kemajuan yang berhasil dicapai. Kondisi demikian ini secara langsung  maupun tidak langsung adalah akibat dari sains barat yang tidak dibangun di atas landasan etika. Berbeda dengan tradisi barat tersebut, tradisi keilmuan Islam sejak dini memiliki perhatian besar pada etika. Pada prinsipnya etika diyakini memiliki peranan yang sangat besar dalam menuntun perkembangan pengetahuan dan respons masyarakat, sehingga pertimbangan-pertimbangan aksiologis selalu ditempatkan menyertai pertimbanngan-perimbangan epostemologis, agar di samping mampu mencapai kemajuan juga mampu mempertahankan keutuhan moralitas yang positif. A. Rashid Maten menegaskan “Dalam Islam ilmu harus didasarkan nilai dan harus memiliki fungsi dan tujuan” dengan kata lain, pengetahuan bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi menyajikan jalan keselamatan, dan agaknya tidak seluruh pengetahuan melayani tujuan ini.[62]


[1] Nuraini Soyomukti,  Pengantar Filsafat Umum (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm, 111
[2] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu (Jakarta, PT Rineka Cipta: 2010), hlm, 26
[3] Nuraini Soyomukti, op.cit., hlm, 116
[4] Nina W. Syam, Filsafat Sebagai Akar Ilmu Komunikasi (Bandung: Simbiosa Rekatama, 2010), cet 1, hlm 229
[5] Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam: dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik, (Jakarta: Erlangga, 2005), hlm. 2
[6] Muhammad In’am Esha, Menuju Pemikiran Filsafat (Malang: UIN Maliki Press, 2010), cet 1, hlm, 97
[7] Fuad Ihsan, op.cit., hlm, 225
[9] Mujamil Qomar, op.cit., hlm. 3. Lihat pula dalam P. Hardono Hadi, “Pengantar”, dalam Kenneth T. Gallagher, Epistemologi Filsafat Pengetahuan, disdur oleh P. Hardono Hadi, (Yogyakarta: Kansius, 1994), hlm. 5.
[10] Ibid.,
[11]  The iang Gie, Pengantar Filsaat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta Bekerjasama Dengan  Yayasan Study Ilmu Dan Teknoogi  Yogyakarta, 1991) hlm. 1
[12] Muamil qomar Ibid,  hlm, 4
[13] Ibid, Lihat juga: Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dn Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm 146.
[14] Mudlor Ahamad,  Ilmu Dan Keinginan Tabu (Epistemologi Dalam Ilsaat), (Bandung: Trigenda Karya. 1994)  hlm. 61
[15] Mualil qomar 4
[16] Samsul Afandi, Rekonstruksi Epistemologi Pendidikan Islam: Upaya Mewujudkan Pendidikan Islam Yang Mencerdaskan, annajib.wordpress.com/.../rekonstruksi-epistemologi-pendidikan-Islam, di akses pada 20 April 2013
[17] Muajmil Qomar, op.,cit hlm. 12
[18] Imam Barnadib, Filsaat Pendidikan: Sistem dan Metode  (Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Ilmu Pendidikan, 1976)  hlm. 119-120
[19] Muamjil Qomar, loc., cit
[20] Ibid., hlm. 14
[21] Ibid., hlm. 15
[22] Musa Asy’arie, Filsafat Islam: Saunnah Nabi Dalam Berfikir (Yogyakarta: LESFI, 2001), cet 2, hlm. 67-68
[23] Ibid., hlm. 68
[24] Ibid., hlm. 68-69
[25] Cabang filsafat yang mempersoalkan tentang hakikat manusia. Kata ini berasal daribahasa yunani anthropos yang berarti orang atau manusia, dan  logia dari legien  yang berarti berbicara. Antropologi, studi yang berkaitan dengn ras, karakteristik, mental dan fisik, distribusi, kebiasan-kebiasaan dan lain sebagainya. Kajian ini dibatasi pada studi tentang institusi-institusi, mitos-mitos yang bersumber dari masyarakat primitive. Hlm. 215
[26] Musa Asy’arie, op.cit, hlm. 68-69
[27] Ibid., hlm. 70
[28] Departemen Agama Republik Indonesia, op.cit., hlm. 794
[29] Departemen Agama Republik Indonesia, op.cit., hlm. 815
[30] Mujamil Qomar, op.cit,  hlm 15
[31] Musa Asy’arie, op.cit, hlm 72
[32] Cara berpikir sistemik dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahap melalui proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan. Hlm 74
[33] Ilmu ini diperoleh oleh orang-orang tertentu, dengan tdak melalui proses ilmu pada umumnya, tetapi oleh proses pencerahan oelh hadirnya cahaya Ilahi dalam qolb. Hlm. 75
[34] Departemen Agama Republik Indonesia, op.,cit., hlm. 14. Sebenarnya terjemahan Hakim dengan Maha Bijaksana kurang tepat, Karena arti Hakim ialah: yang mempunyai hikmah. hikmah ialah penciptaan dan penggunaan sesuatu sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya. di sini diartikan dengan Maha Bijaksana Karena dianggap arti tersebut hampir mendekati arti Hakim.
[35]: Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
[36] Departemen Agama Republik Indonesia, op.,cit., hlm. 1084.
[37] Departemen Agama Republik Indonesia, loc.it.,
[38] Musa Asy’arie, op.cit, hlm 76
[39] Imam Barnadib, op.cit., hlm. 77
[40] Mujamil Qomar, op,cit., hlm. 127
[41] Mujamil Qomar, loc,it
[42] Ibid., hlm. 128
[43] Sutrisno, Fazlur Rahman, Kajian terhadap Metode, Epistemologi, dan Sistem Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Belajar. 2005) hlm 97
[44] Mujamil Qomar ,opc.it., hlm. 130
[45] Ibid., hlm 134
[46] Ibid., hlm.134-135
[47] Ibid., hlm 136
[48] Ibid., hlm. 135
[49] Ibid., hlm 136
[50] Ibid., hlm. 137
[51] Ibid.,  hlm. I43-144
[52] Ibid., hlm. 144-145
[53] Ibid., hlm. 147-148
[54] Ibid., hlm. 148
[55] Ibid., hlm. 150
[56] Ibid., hlm. 151-152
[57] Ibid., hlm. 154
[58] Ibid., hlm. 154
[59] Ibid., hlm., 154-155
[60] Ibid., hlm.  156-157
[61] Ibid., hlm 159
[62] Ibid.,hlm 161-162

0 comments:

Post a Comment