ayin barabbas
BAB
III
EPISTEMOLOGI
ISLAM
A. Pengertian dan Ruang Lingkup Epistemologi
Dalam belajar filsafat, kita akan menemui banyak
cabang kajian yang akan membawa kita
pada fakta dan betapa kaya dan beragam kajian filsafat itu. Sebenarnya yang
terpenting adalah bagaimana kita semua
memahami apa saja yan menjadi kajan
filsafat, cabang-cabang filsafat.[1]
Albuerey Castel membagi masalah filsafat menjadi enam bagian yaitu, teologis,
metafisika, epistemologi, etika, plitik dan sejarah.[2]
Nuraini Soyomukti mengungkapkan, tiga cabang utama filsafat yang sering menjadi
kajian dan harus benar – benar diajarkan adalah: ontolgi, aksiologi dan, epistemolgi.[3]
Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari benar atau tidaknya suatu
pengetahuan.[4]
Sebagai sub
sistem filsafat, epistemologi mempunyai banyak sekali pemaknaan atau pengertian
yang kadang sulit untuk dipahami. Dalam memberikan pemaknaan terhadap epistemologi, para ahli memiliki
sudut pandang yang berbeda, sehingga memberikan pemaknaan yang berbeda ketika
mngungkapkannya.[5]
Akan tetapi,
untuk lebih mudah dalam memahami pengertian epistemologi, maka perlu dikatahui
pengertian dasarnya terlelebih dahulu. Secara etimologi, epistemologi berasal
dari bahasa yunani episteme (pengetahuan) dan logos
(kata, pikiran, percakapan atau ilmu).[6]
Ada juga yang mengatakan kalau logos berarti
teori.[7]
Secara terminologi, epistemologi adalah teori atau ilmu pengetahuan tentang
metode dan dasar-dasar pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan
batas-batas pengetahuan dan validitas atau sah berlakunya pengetahuan itu.[8]
Beberapa ahli
yang mencoba mengungkapkan definisi daripada epistemologi adalah P. Hardono
Hadi. Menurut beliau epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan
mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan
dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang
dimiliki.[9]
Tokoh lain yang mencoba mendefinisikan epistemoogi adalah D.W Hamlyin, beliau
mengatakan bahwa epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan
hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar
dan pengandaian – pengandaian serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang
memiliki pengetahuan.[10]
Sedangkan
menurut filsuf besar yunani kuno Aristoteles,
episteme adalah an
organized body of rational knowledge with is proper object yang maksudnya
adalah suatu kumpulan yang teratur dari oengetahuan rasional dengan obyeknya
sendiri yang tepat.[11]
jAdi ilsaat dan lmu tergolong sebagai pengetahuan rasional, yakni pengetahuan
yang diperoleh dari pemikiran atau rasio manusia.
Dagobert D.
Runes. Seperti yang di tulis Mujamil Qomar, beliau memaparkan bahwa
epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas, sumber, struktur,
metode-metode, dan validitas pengetahuan.[12]
Sedangkan menurut Azyumardi Azra, beliau
menambahkan bahwa epistemologi sebagai ilmu yang membahas keaslian, pengertian,
struktur, metode, dan validitas ilmu pengetahuan.[13]
Walaupun dari kedua pemaparan di atas terdapat sedikit perbedaan, namun
keduanya memberikan pengertian yang sederhana dan relatif mudah di pahami.
Mudhlor ahmad merinci menadi enam aspek yaitu, hakikat, unsur, macam, tumpuan, batas dan saran pengetahuan.[14]
Am
syaifufdin menyebutkan bahwa
epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana
asalanya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat
dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa
yang dapat kita ketahui, dan sampai manakah batassannya. Semua pertanyaan itu
dapat diringkas menjadi dua masalah pokok, masalah sumber ilmu dan masalah
benarnya ilmu.[15]
B. Landasan Epistemologi Islam
Landasan
epistemologi memiliki arti yang sangat
penting bagi bangunan pengetahuan, sebab ia merupakan tempat berpijak. Bangunan
pengetahuan menjadi mapan, jika memiliki landasan yang kokoh. Landasan
epistemologi ilmu adalah metode ilmiah, yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam
meyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam
mendapatkan pengetahuan. Jadi, imu pengetahuan merupakan pengetahuan yang
diperoleh lewat metode ilmiah. Dengan demikian, metode ilmiah merupakan penentu
layak-tidaknya pengetahuan menjadi ilmu, sehingga memiliki fungsi yang sangat
penting dalam bangunan ilmu pengetahuan.[16]
Metode
ilmiah berperanan pada tataran tranormasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu
pengetahuan. Bisa tidaknua pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan, sangat
bergantung pada metode ilmiah, karena metode ilmiah menajdi standar untuk
menilai dan mengukur kelayakanilmu pengetahuan. Sebaliknya, meskipun fenomena
pengetahuan logis tetapi tidak empiris, juga tidak termasuk dalam ilmu
pengatahuan, malainkan wilayah filsaat.[17] Dari
keterangan di atas dapat dirarik benang merah bahwa metode ilmiah harus
didukung dua pilar ilmu pengetahuan yaitu rasio dan fakta empiris.
Rasio
atau akal merupakan instrumen utama untuk memperoleh pengetahuan.[18] Rasio ini
telah lama digunaka manusia untuk
memecahkan atau menemukan awaban suatu masalah pengetahuan. Bahkan ini
merupakan cara tertua yang digunakan manusia dalam wilayah keilmuan. Pendekatan
ini disebut pendekata deduktif yang dikenal dengan silogisme aristoteles,
karena dirintis oleh aristoteles.[19]
Menurut
Francis Bacon, pengetahuan yang benar itu dioeroleh melalui kenyataan
pengalaman, maka dia memunculkan aliran empirisme. Bacon yakin mampu membuat kesimpulan umum yang
lebih benar dan valid, bila kita mau mengumpulkan fakta melalui pengamatan
langsung, maka dia memperkenalkan metode indukti sebagai lawan metode dedukti.[20]
Akan
tetapi berlainan dari kedua tokoh diatas yaitu darwin mempunya pandanagan yang
berbeda. Dia sebagai perints yang memadukan metode dedukti dengan metode indukt
meenadi metode dedukti indukti yanng kemudian disebut mtode ilmiah. Jadi metode
ilmiah adalah gabungan anara metode dedukti dengan metode indukti atau
perkawinan antara rasionalisme denga
empirisme. Ilmuwan lain yang mempelopori penggunaan metode ini adalah
Galileo dan Isac Newton.[21]
Dengan
menggunakan meode ini sebagai gabunngan dari metode dedukti dan metode indukti
ini agar dapat mengembangkan ilmu yang memiliki kerangka penjelasn yang masuk
akal dan sekaligus mencerminkan kenyataan yang sebenarnya, sehingga bisa
terandalkan. Melaluipenggabungan kedua metode ini akhirnya dapat mengatasi
masing-masing kelemahan metode tersebut. Kelemahan metode indukti dapat di atsi oleh kelebihan
metode dedukti dan begitu pula sebaliknya.
Dari
pengertian, ruang lingkup, objek, dan landasan
epistemologi ini, dapat kita disimpulkan bahwa epistemologi merupakan salah
satu komponen filsafat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, khususnya
berkenaan dengan cara, proses, dan prsedur bagaimana ilmu itu diperoleh.
C. Obyek Ilmu
Dalam konsep filsafat Islam, obyek kajian ilmu addalah ayat-ayat Tuhan sendiri, yaitu ayat-ayat
Tuhan yang tersurat dalam kitab suci yang berisi firman-firman-Nya, dan
ayat-ayat Tuhan yang tersirat dan terkandung dalam ciptaan-Nya yaitu alam semesta dan diri manusia sendiri.
Kajian terhadap kitab suci dan kembali melahirkan ilmu agama, sedangkan kajian
terhadap alam semesta ,dalam dimensi fisik atau materi, melahirkan ilmu alam
dan ilmu pasti termasuk di dalamnya kajian terhadap manusia dalam kaitannya
dengan dimensi fisiknya, akan tetapi pada dimensi nofisiknya, yaitu perilaku,
watak dan eksistensinya dalam berbagai aspek kehidupan, melahirkan ilmu
humaniora, sedangkan kajian terhadap ketiga ayat Tuhan itu yang dilakukan pada
tingkatan makna, yang berusaha untuk mencari hakikatnya melahirkan ilmu
filsafat.[22]
Oleh karena itu
jika dilihat dari obyek kajiannya, maka agama, ilmu dan filsafat adalah berbeda,
baik dalam metode yang ditempuhnya maupun tingkat dan sifat dari kebenaran yang
dhasilkannya. Akan tetapi bila dilihat dari sumbernya, maka ketiganya berasal
dari sumber yang satu yaitu ayat-ayat-Nya. Dalam kaitan ini maka ketiganya pada
hakikatnya saling berhubugan dam saling melengkapi. Ilmu dipakai untuk
memecahkan persolan-persoalan tehnis, filsafat memberikan landasan-landasan
nilai dan wawasan yang menyeluruh, sedangkan agama mengantarkan pada realitas
spiritual, memasuki dimensi Ilahi.[23]
Agama dilihat dari segi doktrin, kitab suci dan
eksistensi kenabian, adalah bidang kajian ilmu agama, akan tetapi jika dilihat
dari pemahaman, pemikiran dan penafsiran manusia terhadap doktrin kitab suci,
Tuhan dan kenabian itu, maka kajian atas pemikiran dan pemahaman manusia
tersebut dapat masuk pada kajian ilmu humaniora. Sedangkan kajian filsafat
dapat memberikan penjelasan dan konsep mengenai Tuhan, doktrin dan kenabian,
tetapi sifatnya spekulatif dan hanya agama yang dapat memberikan tata cara yang
tehnis bagaimana berhubungan dengan Tuhan dan menghayati ajaran-ajaran-Nya,
yang dibawa oleh nabi utusan-Nya dan yang tertuang dalam kitab suci.[24]
Oleh karena itu waawasan epistemolgi Islam pada
hakikatnya bercorak tauhid, dan tauhid dalam konsep Islam, tidak hanya berkaitan
pada konsep teologi saja, tetapi juga dalam konsep antropologi[25] dan
epistemologi. Epistemologi Islam sesungguhnya tidak mengenal dikotomi keilmuan,
seperti yang sekarang banyak dilakukan dikalangan umat Islam Indonesia, yang
membagi ilmu agama dan ilmu umum, atau syari’ah dan non syari’ah, yang secara
institusional dipisahkan penyelenggaraannya, yaitu ilmu agama penyelenggaraanya
di bawah Departemen Agama, dan yang umum di bawah Departemen Pendidikan.[26]
Dalam Al Quran dijelaskan bahwa di data ayat-ayat
Tuhan yaitu alam, manusia dan kitab suci, didalamnya terdapat hukum-hukum dan
semuanya itu dicptakan agar manusia mau memikirkannya, karena melalui proses
keilmuan itu, maka akan tersingkap dan diketahui makna kebenaran yang ada di
dalamnya yang memungkinkan manusia memanfaatkan untuk kepentingan hidupnya.[27]
Al quran menerangkan tentang irinya sebagai obye
berpikir dan pusat pengetahuan dalam surat Az Aukhruf ayat :3-4
$¯RÎ) çm»oYù=yèy_ $ºRºuäöè% $|Î/ttã öNà6¯=yè©9 cqè=É)÷ès? ÇÌÈ ¼çm¯RÎ)ur þÎû ÏdQé& É=»tGÅ3ø9$# $uZ÷t$s! ;Í?yès9 íOÅ3ym ÇÍÈ
3.Sesungguhnya
kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).
4.Dan Sesungguhnya Al Quran itu dalam Induk Al Kitab
(Lauh Mahfuzh) di sisi kami, adalah benar-benar Tinggi (nilainya) dan amat
banyak mengandung hikmah.[28]
Selanjutnya Al Quran mengatakan tentang alam sebagai
obyek pemikiran untuk kepentingan hidup manusia dalam surat Al Jaatsiyah ayat: 5
É#»n=ÏG÷z$#ur È@ø©9$# Í$pk¨]9$#ur !$tBur tAtRr& ª!$# z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# `ÏB 5-øÍh $uômr'sù ÏmÎ/ uÚöF{$# y÷èt/ $pkÌEöqtB
É#ÎóÇn@ur Ëx»tÌh9$# ×M»t#uä 5Qöqs)Ïj9 tbqè=É)÷èt ÇÎÈ
Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari
langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada
perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.[29]
D. Tujuan Epistemologi Islam
Selanjutnya,
apa yang menjadi
tujuan epistemologi tersebut? Jacques Martain mengatakan, “Tujuan epistemologi bukanlah hal utama menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu,
tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu.”[30] Hal ini
menunjukkan bahwa tujuan epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan
-kendatipun tidak bisa dihindari- akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari
tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu, yaitu ingin memiliki potensi
untuk memperoleh pengetahuan.
Rumusan
tujuan epistemologi tersebut memiliki makna strategis dalam dinamika
pengetahuan. Rumusan ini menumbuhkan kesadaran bahwa jangan sampai dia puas
dengan sekedar memperoleh pengetahuan, tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh pengetahuan, sebab keadaan memperoleh
pengetahuan melambangkan sikap pasif, sedangkan cara memperoleh pengetahuan
melambangkan sikap dinamis. Keadaan pertama hanya berorientasi pada hasil,
sedangkan keadaan kedua lebih berorientasi pada proses. Seseorang yang
mengetahui prosesnya, tentu akan dapat mengetahui hasilnya, tetapi seseorang
yang mengetahui hasilnya acapkali tidak mengetahui prosesnya. Contoh, seorang guru
dapat mengajarkan kepada siswanya bahwa empat kali lima sama dengan dua puluh
(4 X 5 = 20) dan siswa mengetahui, bahkan hafal. Namun, bagi siswa yang cerdas
tidak pernah puas dengan pengetahuan da hafalannya itu. Dia akan mengejar
bagaimana prosesnya, empat kali lima sama dengan dua puluh. Maka guru yang
profesional akan menerangkan proses tersebut secara rinci dan mendetail,
sehingga siswa benar-benar mampu memahaminya dan mampu mengembangkan perkalian
angka-angka lain. Dengan demikian, seseorang tidak sekedar mengetahui sesuatu
atas informasi orang lain, tetapi benar-benar tahu berdasarkan pembuktian
kontektual melalui proses itu.
E. Cara Memperoleh Ilmu
Setiap obyek
kajian keilmuan, menuntut
suatu metode yang sesuai dengan obyek kajiannya itu, sehingga metode kajian
selalu menyesuaikan obyeknya. Metode kajian adalah jalan dan cara yang ditempuh
untuk menemukan prinsip-prinsip kebenaran yang terkandug pada obyek kajiannya,
dan kemudian dirumuskan dalam konsep teoritik, dengan menyesuaikan dengan obyak
kajian, sehingga tidak terjadi kesalahan pendekatan, seperti menggergaji untuk
menumbangkan pohon jati dengan silet.[31]
Namun
cara kerja filsafat, sulit dirumuskan secara umum, karena masing-masing filosof
mempunyai metodenya sendiri-sendiri. Metode para filosof dibangun oleh
pengalamannya sendiri selama bertahun-tahun dalam perenungan dan pemikiran
bebas, anFilsafat pada dasarnya bekerja mulai dengan pertanyaan dan berakhir
dengan pertanyproses pencerahan, dengan menjalani pengalaman spiritual dalam
keyakinan kegaiban.
Dalam konsep filsafat Islam, ilmu bisa diperoleh
melalui dua jalan yaitu jalan kasbi atau
khusuli[32]
dan jalan laduni atau khudhuri[33]. Ilmu kasbi atau khusuli ini
bisa diperoleh oleh manusia pada umumnya. Sedangkan ilmu laduni atau khudhuri ini
hanya bisa diperoleh oleh manusia yang mendapatkan cahaya Ilahi. Dengan
hadirnya cahaya Ilahi itu, semua pintu ilmu terbuka menerangi kebenaran,
terbaca dengan jelas dan terserap dalam kesadaran intelek, seakan-akan
orang tersebut memeroleh ilmu dariTuhan
secara langsung. Allah berfirman dalam Alquran surat Al Baqoroh ayat 32:
(#qä9$s% y7oY»ysö6ß w zNù=Ïæ !$uZs9 wÎ) $tB !$oYtFôJ¯=tã (
y7¨RÎ) |MRr& ãLìÎ=yèø9$# ÞOÅ3ptø:$# ÇÌËÈ
Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah
yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.[34]
Allah juga berfirman dalam Al Quran surat Al Alaq ayat:3-5
ù&tø%$# y7/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷èt ÇÎÈ
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang
mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,[35]
5. Dia mengajar
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.[36]
Dalam kaitan ini secara tehnis, Alquran memperkenalkan
suatu cara membaca dengan kesadaran bahiyah seperti dinyatakan Alquran Al Alaq
ayat:1
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
Menciptakan[37]
Membaca yang diperintahkan Tuhan kepada nabi Muhammad
SAW., seperti yang dijelaskan Alquran di atas, tidak memaca deretan huruf-huruf
dan susunan kata-kata, akan tetapi membaca realitas dengan berbagai dimensinya
dalam kehidupan di sekelilingnya, dan melaluibacaan demikian, Nabi Muhammad SAW
memperoleh wawasan spiritual dan penguasaan pengetahuan hikmah. Ini
dimungkinkan karena nabimempunyai kecerdasan suci. Barangkli kemampuan
menghafalnya yang jelek, syakautu ila
Waqi, ‘ala syu’a hifdzi fa-aarsyadani ‘ala tarkil ma’ashi, dan gurunya
nasehat memberi kepadanya untuk meninggalkan atau tidak melakukan tindakan
kemaksiatan.[38]
Dengan membersihkan qalb dan mengosongkan egoisme
dan keakuannya ke titik nol, maka ia berdiri di hadapan Tuhan, seperti seoarang
murid berhadapan dengan gurunya, Tuhan hadir membukakan pintu kebenaran dana
manusia masuk ke dalamnya,memasuki kebenaran itu, dan ketikaia keluar, maka ia
menjadi dan menyatu dengan kebenaran yang dimasukinya. Dalam keadaan demikian
ia mempunyai komitmen yang tinggi atas kebenaran yang diserapnya dan ia
melibatkan diri alam proses menjadikan kebenaran dalam kehidupan masyarakat.[39]
Cahaya atau nur Allah hanya akan masuk ke dalam ruh
dan qalb untuk membaca, memahami dan
menyerap kebenaran,jika seseorangtelah mengkosongkan aql dan qalbnya daari
egoism, keakuan, keangkuhan, dengan kihlasan yang totaldan kemudian berusaha
keras, dengan menyiapkan diri menjadi murid memohon Allah mengajarkan kepadanya
kebenaran, dan degan aktif ia mengikuti aql
dan qalbnya merangkaikan realitas
yang hadir dalam berbagai dimensinya danmenaiknya dalam kesadaran intelek.
Proses itu menjadi tradisi kehidupan batinnya yang teru menerus dilakukan
sepenuh hatinya dan memerlkan waktu panjang, tidak terjadi seketika, utuk
melatih katajaman ruh agar bercahaya
menerangi aqal dan qalbnya menyerap kebenaran. Proses itu berjalan
tidak mulus, tetapi menghadapi berbagai pergolakan dan konflik batin, dan hanya
bisa diatasi dengan keihlasamn yang total. Pergolakan dan konflik itu terjadi
karena ia harus mampu menekan dan megendalikan keakuannya, bahkan menundukkanya
untuk dapat bersikap rendah hati berhadapan dengan cahaya kebenaran.
F. Karakteristik Ilmu Dalam Perspektif Islam
Ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam tidak
sepenuhnya bertolak belakang dengan ilmu pengetaguan barat. Ada segi-segi
tertentu yang merupakan titik persamaan. Hal ini di buktikan bahwa kebenaran
akal dan indera juga diakui. Banyak sekali ayat Al Quran yang menjelasjan
keduanya. Namun keduanya juga sangat terbatas dlam memecahkan masalah. Tidak
semua permasalahan dapat dipecahkan oleh akal dan indera. Karena keduanya
sangat terbatas, itulah akhirnya ilmu Islam dirancang dan dibangun selain berdasar kedua sumber di
atas, juga berdasarkan kekuatan spiritual yang bersumber dari Allah melalui
wahyu.
1. Bersandar pada kekuatan spiritual
Manusia adalah makhluk yang lebih dari skedar bersifat
sensual, dia punya akal, punya hati nurani dan punya iman. Dalam keimanan
terdapat kekuatan-kekuatan spiritual yang luar biasa.[40] Dalam hati
juga terdpat kekuatan spiritul. Indikasinya adalah bahwa hati nurani sseorang
selalu condong pada perbuatan-perbuatan baik yang diridhoi Tuhan.[41] Pada akal juga
terdapat kekuatan spuiritual. Akal manusia mempunyai subtansi sumber dan
prinsipnya adalah Ilahi.[42] Fazlur Rahman
menempatkan indera dan akal pada posisi sentral dalam memperoleh dan
mengembangkan pengetahuan.[43] Namun dari
ketiganya, para filosof Muslim menempatkan wahyu di atas rasio.[44] Hal ini
dikrenakan wahyu merupkan ajaran-ajaran Tuhan demi kemsalahatan manusia, dan wahyu
merupkan kebenaran yang mutlak. Oleh karena itu indera dan akal harus tunduk
kepada wahyu, karena wahyu merupakan petunjuk dari Allah selaku Tuhan pencipta
mannusia.
Kebenaran yang dirawarkan
oleh wahyu sering dipahami sebagai kebenaran apriori.[45] Memang hal ini
ada benarnya jika dipandang dari sudut lmu pengetahuan manusia berdasarkan
ketentuan –ketentan Allah dalam kitab suci. Artinya kita mengetahui kebenaran
sesutu berdasarkan informasi wahyu, walaupun tanpa penelitian terlebih dahulu.
Tetapi dari sudut pengalaman bisa juga sebaliknya, yaitu aposteriori. Artinya
kita lebih lama mengalami atau mengamalkan sesuatu ajaran Allah tetapi belum tahu
rahasia ajaran tersebut dan mungkin kita baru tahu ketentuan-ketentuan yang
memerintahkan untuk mengamalkan sesuatu itu.[46] Pendekatan
terhadap wahyu tersebut sering diremehkan oleh Ilmuwan Barat, kecuali sedikit
sekali.[47] Hal ini
berbeda sekali dengan ilmu pengetahuan Islam yang menempatkan wahyu pada posisi
dan fungsi yang sangat strategis.[48]
Di samping wahyu, kekuatan spiritual lain bisa berupa
intuisi. Seperti halnya wahyu, intuisi juga ditinggalkan Ilmuwan Barat, baik
sebagai sumber maupun sebagai pendekatan pengetahuan. Hanya saja Bergson
menyakini, bahwa baik dengan budi maupun dengan indera belaka, kita tak mampu
menyelami relitas sepenuhnya. Untuk itu kita harus menggunakan intuisi.
Dikalangan muslim intuisi menempati kedudukan yang paling baik sebagai sumber mupun pendekatan untuk
mendapatkan pegetahuan. Mereka lalu memafaatkan intuiasi dalam melakukan kerja
ilmiah untuk mendampingi akal, sehingga disamping ada target-terget yang harus
dicapai melalui pemikiran, juga mereka mengharapkan datangnya pengetahuan yang
sifatnya dianugerahkan melalui intuisi.[49] Yang kemudian
Intuisi ini digunakan untuk menyempurnakan proses pemikiran mereka dalam
menggagas persoalan-persoalan ilmu.
Dengan demikian, disamping rasionalisme dan empirisme masih
terdapat cara untuk mendapatka penegtahuan yang lain yaitu intuiasi dan wahyu.
Sampai sejauh ini pengetahuan yang didapatkan secara rasioanl maupun empiris,
kedua-duanya merupakan induk produk dari sebuah
penalaran sedangkan pengetahuan yang didapatkan melalui wahyu dan
intuisi diyakni lagsung dari Allah.[50] Sebenarnya
metode ynng dimiliki oleh pemikir Islam lebih banyak dari Ilmuwan Barat,
seharusnya pengetahuan pemikir muslim lebih maju di atas ilmu pengetahuan yang
lahir dari barat, namuan kenyataannya pada saat ini, ilmu yang dihasilkan oleh
Ilmuwan Barat lebih mendomiasi ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa
masih ada yang salah dengan para pemikir muslim
2. Hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal
Karakter ilmu dalam Islam yang kedua adalah didasarkan pada
hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal. Keduanya tidak dipertentangkan
karena memiliki titik temu. Atas dasar dan pertimbangan inilah pendamaian
filsafat dan agama menjadi harapan dan aspirasi seluruh filosof muslim.
Rata-rata mereka memiliki konsep yang sangat mesra atau harmonis hubungan
antara wahyu dan akal, atau antara agama dengan filsafat. Hal ini menjelasakan
bahwa ilmu Islam tidak memppertentangkan antara wahyu dan akal.[51]
Namun tradisi pemikiran seperti ini tidak bisa terjadi
dikalangan para ilmuwan pada umumnya, terutama para ilmuwan barat. Mereka dapat
menerima bahkan menerapakan, bahwa akal sebagai sumber untuk mendapatkan
kebenaran pengetahuan. Namaun mereka menolak wahyu sebagai alat yang dipakai
untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah. Kedunya praktis putus satu sama lain yag
tidak bisa disatukan. Merek kurang menyadari bahwa sesunguhnya ilmu tanpa
didampingi agama akan menyimpang dari akidah yang benar atau kebablasan,
seperti kecondongan mendewakan akal, sedangkan agama tanpa didampingi ilmu akan
dirasakan sebagai doktrin-doktrin semata yanng membelenggu penalaran dan
pemikiran seseorang, karena tidak ada penjelasan-penjelasan yang memadai dari
agama, yang ada hanya ketentuan-ketentuan normatif.[52]
Salah satu sebab berkembngnya kecenderungan dikotomi tersebut
adalah kegagalan manusia (Muslim) memahami secara proporsional hubungan antara
ilmu dan agama. Mereka terjebak oleh pandangan ilmuwan barat mengenai hubunngan
antara agama dan ilmu pengetahuan. Pandangan
ilmuwan barat secara historis dan psikologis dapat dimaklumi, karena
sebelum masa renaissance terjadi pertentanngan yang hebat antara doktrin
agama (Kristen) dengan temuan ilmu pengetahuan yang menyebabkan banyak sekali
korban di kalangan ilmu pengetahuan. Nmun kasus tersebut tidak pernah terjadi
dalam dunia Islam. secara historis umat Islam dapat mencapai keayaan ustru
karena disemangati oleh Islam. Ibn Rusyd menegaskan “sekiranya tidak terdapat
perselisihan dalam pandangan Islam antara agama dan akal, maka keduanya adalah
jalan mencapai kebenaran tunggal, dan sebagai sarana mencapai satu tujuan
yaitu, kebaikan manusia dan kebahagiaannya.” Filsafat dan agama dengan demikian
sama-sama bertujuan untuk mencapai kebenaran.[53]
Mengenai hubungan timbal balik antara keduanya, Al-Isfahani
menggambarkan bahwa “tanpa wahyu akal tidak sepantasnya dipedomi, dan tanpa
akal, wahyu tidak dapat dicapai scara eksplisit kebenarannya. ” Einstein
mengatakan “ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh.”[54]
Dengan demikian pada dasarnya tidak ada kontradiksi dan
dikotomi antara sains dan agama. Juka sepintas tampak adanya kontradiksi dan
dikotomi yang selama ini dianggap terjadi antara agama dan ilmu pengetahuan,
sesungguhnya merupakan persepsi ilmuwan barat lantaran mereka pernah mengalami
sejarah hitam yang berkaitan denga pertentangan agama melawan ilmu pengetahuan,
sehingga melumpuhkan perkembangan peradabannya. Namun bagi pemikir Islam, ilmu
pengetahuan perlu mendapatkan bimbingan agama, sedangkan agama perlu didampingi
ilmu pengetahuan.[55]
3. Interpendensi akal dan intuisi
Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun
adakalanya atas kerjasama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki
keterbatasana-keterbatasan yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang
sifatnya pemberian atau bantuan, sedangken pemberian dari intuisi masih belum
tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan
pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu. Dengan pengertian lain akal membutuhkan
intuisi dan begitu pula sebaliknya, intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling
membutuhkan bantuan dari pihak lainnya untuk menyempurnakan pergerakan yang
dicapai masing-masing.[56]
Pascal melihat dengan jelas bahwa, perkembangan rasional
tidak akan pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang paling esensial. Bukan
lantaran pikirannya melainkan berkat rahmat Tuhnlah paradoks-paradoks
eksistensi manusia bisa teratasi. Maka kita harus menyadari terhaddap
kelemahan-kelemahan akal manusia agar kita tdak sampai berbuat sesat dengan
mendewakan akal. Rahmat Allah itulah yang paling menentukan dan memuaskan dalam
menjawab atau memecahkan persoalan-persoalan pelik yang dihadapi manusia.
Rahmat Allah itu mencakup juga intuisi, sehingga intuisi banyak membantu kerja
akal dalam memahami kebenaran dan mencapai pengetahuan. Hasi pemikiran
rasioanal dikenal dengan pengetahuan perolehan, sedangkan hasil dari pengeahuan
intuisi dikenal dengan pengetahuan yang dihadirkan.[57]
Kedua macam pengetahuan ini memiliki ciri masing-masing.
Penegtahuan yang dicapai atau pengetahuan perolehan bersifat tak langsung,
rasioanal, logis dan diskursif. Sedang pengetahuan yang dihadirkan bersifat
langsug, serta merta, suprarasioanl, intuitif, dan kontemplatif. Ciri-ciri
tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara pengetahuan perolehan dengan
pengetahuan yang dihadirkan, namun keduanya tidak untuk dipertentangkan dalam
semua aspeknya, melainkan ada indikasi perbedaan tingkatan. Misalnya sifat
rasional peda pengetahuan perolehan dan suprarasional pada pengetahuan yang
dihadirkan sesungguhnya tidak bertentangan. Hanya saja sesuatu yang
suprarasioanal berada di atas derajat rasioanal, karena berada di luar jangkaun
rasio, seperti supraindera berarti di atas indera.[58]
4. Memiliki orientasi teosentris
Bertolakdari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari Allah
dan ini merupakan salah satu perbedaan mendasar antara ilmu dengan sains, ilmu
dalam Islam memilki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Artinya ilmu
tesebut mengemban nilai-nilai ketuhanan, sebagai nilai yang memberikan
kesejahteraan dan kedamaian bagi semua makhluk. Sebaliknya ilmu tersebut tidak
boleh menyimpang dari ajaran-ajaran allah. Jika sains Barat tidak memiliki
kepedulian kepada Tuhan, maka ilmu dalam Islam selalu diorientasikan kepada Allah
untuk mencapai kebahagiaan hakiki.[59]
Ilmu dalam Islam selain berdasar fakta empiris dan akal, juga
berdasarkan wahyu (agama). Wahyu mencakup berbagai dimensi persoalan; muai ari
permasalahan yang berkaitan ddengab pengalaman atau pengetahuan sehari-hari (knowlodge),
ilmu pengetahuan (science), filsafat yang mengandalkan potensi akal, dan
persoalan-persoalan suprarasioanal (di atas jangkauna akal). Pada persoalan
terakhir ini menjadi wilyah jealajah agama dan di luar jangkauan ilmu maupun
filsafat. Ketika mengemukakan permsalahan yang berkait dengan dimensi spiritual
atau traansendental, maka ilmu dalam Islam juga menggarap wilayah di luar
jelajah ilmu dan filsafat tersebut. Dengan demikian ilmu dalam Islam berlapis
ganda; lapis indera, lapis akal dan lapis iman. Sebab itulah ilmu dalam Islam
memiliki kandungan informasi dan
pembahasan yang jauh lebih mendalam daripada sains, karena ilmu dala Islam di
samping melalui proses yang bisa dilalui oleh sains juga mendapatkan
bahan-bahan informasi dari Tuhan melalui wahyu. Dengan demikian ilmu dalam Islam
memiliki sesuatu yang dimiliki dan tidak dimiliki oleh sains. Disinilah letak
kelebihan atau keunggulan ilmu dalam Islam di banding sains. Adapun kelebihan
itu terletak pada faktor transedental.[60]
5. Terikat nilai
Mengingat ilmu dalam Islam dipengaruhi dimensi spiritual,
wahyu, intuisi, dan memiliki orientasi teosentris, konsekuensi berikutnya
sebagai salah satu ciri ilmu tersebut adalah terikat nilai. Ini sangat
membedakan dengan sains barat, karena semangat tradisi ilmiah barat senantiasa
berusaha menegaskan, bahwa ilmu itu nertal atau bebas nilai, tidak boleh
terikat nilai tertentu. Bahkan menurut pandangan barat, salah satu sarat
keilmiahan adalah bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan fakta
apa adanya dan tidak boleh dipengaruhi oleh fakta apapun.[61]
Orang-orang barat merasa resah terhadap dampak negatif dari serangkaian
kemajuan yang berhasil dicapai. Kondisi demikian ini secara langsung maupun tidak langsung adalah akibat dari
sains barat yang tidak dibangun di atas landasan etika. Berbeda dengan tradisi
barat tersebut, tradisi keilmuan Islam sejak dini memiliki perhatian besar pada
etika. Pada prinsipnya etika diyakini memiliki peranan yang sangat besar dalam
menuntun perkembangan pengetahuan dan respons masyarakat, sehingga pertimbangan-pertimbangan
aksiologis selalu ditempatkan menyertai pertimbanngan-perimbangan
epostemologis, agar di samping mampu mencapai kemajuan juga mampu
mempertahankan keutuhan moralitas yang positif. A. Rashid Maten menegaskan “Dalam
Islam ilmu harus didasarkan nilai dan harus memiliki fungsi dan tujuan” dengan
kata lain, pengetahuan bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi menyajikan jalan
keselamatan, dan agaknya tidak seluruh pengetahuan melayani tujuan ini.[62]
[1] Nuraini
Soyomukti, Pengantar Filsafat Umum (Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media, 2011), hlm, 111
[2] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu (Jakarta, PT Rineka Cipta:
2010), hlm, 26
[3] Nuraini
Soyomukti, op.cit., hlm, 116
[4] Nina W. Syam, Filsafat Sebagai Akar Ilmu Komunikasi (Bandung:
Simbiosa Rekatama, 2010), cet 1, hlm 229
[5] Mujamil Qomar, Epistemologi
Pendidikan Islam: dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik, (Jakarta: Erlangga, 2005), hlm. 2
[6] Muhammad In’am
Esha, Menuju Pemikiran Filsafat (Malang:
UIN Maliki Press, 2010), cet 1, hlm, 97
[7] Fuad Ihsan, op.cit., hlm, 225
[8] Erwindahapsari.blogspot.com(21
Juni 2012)
[9] Mujamil Qomar, op.cit., hlm. 3. Lihat pula dalam P.
Hardono Hadi, “Pengantar”, dalam Kenneth T. Gallagher, Epistemologi Filsafat Pengetahuan, disdur oleh P. Hardono Hadi,
(Yogyakarta: Kansius, 1994), hlm. 5.
[10] Ibid.,
[11] The iang Gie, Pengantar Filsaat Ilmu, (Yogyakarta:
Liberty Yogyakarta Bekerjasama Dengan
Yayasan Study Ilmu Dan Teknoogi
Yogyakarta, 1991) hlm. 1
[13] Ibid, Lihat juga: Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dn Modernisasi di
Tengah Tantangan Milenium III, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2012), hlm 146.
[14] Mudlor Ahamad,
Ilmu Dan Keinginan Tabu (Epistemologi
Dalam Ilsaat), (Bandung: Trigenda Karya. 1994) hlm. 61
[15] Mualil qomar 4
[16] Samsul Afandi, Rekonstruksi
Epistemologi Pendidikan Islam: Upaya Mewujudkan Pendidikan Islam Yang
Mencerdaskan, annajib.wordpress.com/.../rekonstruksi-epistemologi-pendidikan-Islam,
di akses pada 20 April 2013
[17] Muajmil Qomar,
op.,cit hlm. 12
[18] Imam Barnadib,
Filsaat Pendidikan: Sistem dan Metode (Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Ilmu
Pendidikan, 1976) hlm. 119-120
[19] Muamjil Qomar,
loc., cit
[20] Ibid.,
hlm. 14
[21] Ibid., hlm.
15
[22] Musa Asy’arie,
Filsafat Islam: Saunnah Nabi Dalam Berfikir (Yogyakarta: LESFI, 2001),
cet 2, hlm. 67-68
[23] Ibid., hlm.
68
[24] Ibid.,
hlm. 68-69
[25] Cabang
filsafat yang mempersoalkan
tentang hakikat manusia. Kata ini berasal daribahasa yunani anthropos yang berarti orang atau
manusia, dan logia dari legien yang berarti berbicara. Antropologi, studi
yang berkaitan dengn ras, karakteristik, mental dan fisik, distribusi,
kebiasan-kebiasaan dan lain sebagainya. Kajian ini dibatasi pada studi tentang
institusi-institusi, mitos-mitos yang bersumber dari masyarakat primitive. Hlm.
215
[26] Musa Asy’arie,
op.cit, hlm. 68-69
[27] Ibid., hlm.
70
[28] Departemen Agama Republik Indonesia,
op.cit., hlm. 794
[30] Mujamil Qomar,
op.cit, hlm 15
[31] Musa Asy’arie,
op.cit, hlm 72
[32] Cara berpikir
sistemik dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahap melalui
proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan. Hlm 74
[33] Ilmu ini
diperoleh oleh orang-orang tertentu, dengan tdak melalui proses ilmu pada umumnya,
tetapi oleh proses pencerahan oelh hadirnya cahaya Ilahi dalam qolb. Hlm. 75
[34] Departemen
Agama Republik Indonesia, op.,cit., hlm. 14. Sebenarnya terjemahan Hakim dengan Maha
Bijaksana kurang tepat, Karena arti Hakim ialah: yang mempunyai hikmah. hikmah
ialah penciptaan dan penggunaan sesuatu sesuai dengan sifat, guna dan
faedahnya. di sini diartikan dengan Maha Bijaksana Karena dianggap arti
tersebut hampir mendekati arti Hakim.
[35]: Maksudnya: Allah mengajar manusia
dengan perantaraan tulis baca.
[36] Departemen
Agama Republik Indonesia, op.,cit., hlm.
1084.
[37] Departemen
Agama Republik Indonesia, loc.it.,
[38] Musa Asy’arie,
op.cit, hlm 76
[39] Imam Barnadib,
op.cit., hlm. 77
[40] Mujamil Qomar,
op,cit., hlm. 127
[41] Mujamil Qomar,
loc,it
[42] Ibid., hlm.
128
[43] Sutrisno, Fazlur Rahman,
Kajian terhadap Metode, Epistemologi, dan Sistem Pendidikan, (Yogyakarta:
Pustaka Belajar. 2005) hlm 97
[44] Mujamil Qomar
,opc.it., hlm. 130
[45] Ibid., hlm
134
[46] Ibid., hlm.134-135
[47] Ibid., hlm
136
[48] Ibid., hlm.
135
[49] Ibid., hlm
136
[50] Ibid., hlm.
137
[51] Ibid., hlm. I43-144
[52] Ibid., hlm.
144-145
[53] Ibid., hlm.
147-148
[54] Ibid., hlm.
148
[55] Ibid., hlm.
150
[56] Ibid., hlm.
151-152
[57] Ibid., hlm.
154
[58] Ibid., hlm.
154
[59] Ibid., hlm.,
154-155
[60] Ibid., hlm. 156-157
[61] Ibid., hlm
159
[62] Ibid.,hlm
161-162






0 comments:
Post a Comment