Ayin Barabbas
Skripsi: PEMIKIRAN K.H. HASYIM ASY’ARI DALAM PENDIDIKAN ISLAM
NAMA : MOH. ASROFI
NIM : 2006.4.21.01778
NIMKO : 2006.4.021.0001.1.01131
JURUSAN : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PERGURUAN TINGGI : SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH “AL
MUSLIHUUN” BLITAR
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan sesuatu yang
dasar yang setiap orang wajib untuk memperolehnya secara gratis karena
merupakan hak dasar kebutuhan manusia. Hal yang demikian diatur oleh negara dan
negara menjamin dalam undang-undang, bahwa pendidikan harus diperoleh secara
gratis. Pendidikan merupakan “Public
goods” atau hak azasi dasar setiap manusia di dunia.[1]
Dari sini dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang sangat
penting.
Sejarah pendidikan Indonesia membuktikan
peranan pendidikan sangat signifikan, karena pendidikan merupakan sebagai
rekayasa struktural masyarakat, hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Anis
Baswedan dalam makalahnya di seminar diesnatalis PPMI di gedung Rektorat UNY,
ia mengemukakan bahwa:
Anak-anak muda kuliahan di era 1960-an ini yang kemudian
hari menjadi kelas menengah pertama di republik ini. Anak-anak muda yang “bukan
siapa-siapa” menjadi kelas menengah baru di daerah-daerah urban. Mereka ini
juga turut menjadi penggerak pembangunan dan penarik urbanisasi. Terjadilah
pertumbuhan kelas menengah yang memiliki kekuatan ekonomi, tapi karena berada
di bawah Orde Baru, mereka tumbuh tanpa kekuatan politik. Mereka ini pula yang
setiap tahun menjadi simbol mudik lebaran. Pulang kampung membawa cerita sukses
dengan berbagai perangkat materi pembuktianya, seperti wajarnya kelas menengah
di berbagai negeri. Kita sering tidak sadar bahwa mereka itu adalah produk
sebuah rekayasa sosial pada tahun 1950-an. Intervensi Pemerintah melalui
pendirian SMA di setiap kabupaten di Indonesia merupakan sebuah rekayasa
sosial yang jenius. Mungkin saja, yang melakukan rekayasa ini tidak sadar kalau
sedang melakukan rekayasa sosial. Mungkin mereka semata-mata menjalankan amanat
konstitusi untuk untuk mencerdaskan keghidupan bangsa. Tetapi, sebenarnya yang
namanya mencerdaskan kehidupan bangsa itu adalah sebuah intervensi struktural
terhadap struktur sosio-ekonomi sebuah bangsa.[2]
Sejarah juga membyuktikan pendidikan
sangat penting bagi proses berlangsungnya pembentukan peradaban sebuah negara
tak terkecuali dengan pendidikan Islam yang ada di Indonesia. Pendidikan Islam
telah ada sejak zaman mulai masuknya
Islam di Indonesia. Yaitu melalui salah satu metode dakwah yang dibawa
pedagang dari Gujarat, kemudian dilanjutkan
melakukan pendirian pondok pesantren.
Pendidikan Islam juga merupakan
sesuatu yang sangat vital karena dalam dinamikanya selalu membawa perubahan
baik dari struktur sosial, politik, dan budaya. Peradaban yang ada di dunia ini
juga tak lepas dari pendidikan Islam. Misalnya saja Eropa dulu merupakan
wilayah daulah bani Umayah yang di situ juga tidak lepas dari adanya pendidikan
Islam.
Perkembangan selanjutnya jarang
sekali generasi penerus Islam yang melakukan kajian kritis dari khasanah
intelektual muslim itu sendiri dalam pendidikan Islam. Sehingga menyebabkan
berkurangnya kekayaan intelektual muslim yang seharusnya lebih bisa
diaplikaskan tidak hanya secara teoritis tetapi juga secara praktis.
Pendidikan Islam mempunyai peranan
yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Dari dahulu sampai sekarang
telah tebukti bahwa sebelum adanya pendidikan formal pendidikan Islam telah
sudah ada melalui dakwah-dakwah dan juga melalui pesantren.
Banyak sekali tokoh pendidikan dalam
Islam yang sangat berperan baik dalam mengembangkan pendidikan Islam yang
pemikiranya sudah diakui seantero dunia. Diantaranya adalah Imam Ghazali, Ibnu
Khaldun, Ibn Maskawaih, Al-Nawawi, Ibn Sahnun, Al-Zarnuji, Muhammad Abduh,
Jamaludin Al-Afghani, Rasyid Ridla, dan lain-lainya. Selain itu juga banyak
para ulama yang menjadi tokoh pendidikan Islam di Indonesia sendiri yang
pemikiranya juga terlihat dengan nyata hasilnya. Tokoh di Indonesia yang banyak
berperan penting diantaranya adalah K.H. Ahmad Dahlan, M. Natsir, K.H. Hasyim
Asy’ari, K.H. Imam Zarkasyi dan lain-lainnya.
Sangat menarik sekali jika melakukan
kajian tentang salah satu tokoh kunci pembaharu pendidikan Islam. Tentunya akan
bisa menambah wawasan tentang pemikiran pendidikan Islam. Salah satu tokoh
pendidikan Islam itu adalah K.H. Hasyim Asy’ari. Menyebut nama K.H Hasyim
Asy’ari, orang tentu akan berpikir pada pendiri organisasi Nahdlatul Ulama
(NU). Tak salah memang, sebab dengan peran Hadratussyekh sebagai tokoh sentral
di organisasi ini, NU mampu menjadi organisasi keislaman yang diikuti banyak
masyarakat muslim di Indonesia.
Mungkin dari sedikit pemaparan di
atas akan memunculkan pertanyaan mengapa harus K.H. Hasyim Asy’ari? Sedangkan
telah kita ketahui banyak sekali tokoh-tokoh ulama yang berperan sangat penting
dalam pendidikan Islam. Akan sedikit dipaparkan mengapa harus K.H. Hasyim
Asy’ari? Pertama, Karena K.H. Hasyim
Asy’ari merupakan tokoh pembaharu pesantren. Pesantren telah mengalami
perkembangan pesat setelah K.H. Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren Tebu
Ireng yang berada di kawasan Cukir dekat pabrik gula. Karena beliau melakukan
pembaharuan tidak hanya metode yang diajarkan tetapi juga yang diajarkan. K.H.
Hasyim Asy’ari juga mengajarkan huruf latin dan juga cara berpidato.
Selain mumpuni dalam bidang agama,
hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari sangat lihai sekali dalam mengatur berbagai
sistem pesantren yang kemudian beliau dikenal dengan pembaharu pesantren.
Karena beliau mengatur dalam kurikulum pesantren, mengatur strategi pengajaran,
menulis kitab, dan memutuskan persoalan-persoalan aktual kemasyarakatan.[3]
Kiai Hasyim melakukan pembaharuan pesantren
secara besar-besaran, banyak sekali hal-hal yang dilakukan, Tiar Anwar Bahtiar
menuliskan bahwa:
Bila sebelumnya pesantren hanya semata-mata mengajarkan Bahasa Arab
dan kitab-kitab kuning, Hadratusysyekh mencoba memasukkan pelajaran yang masih
dianggap tabu, antara lain: baca-tulis huruf latin, pidato, berorganisasi, dan
menggalakkan bacaan-bacaan tentang pengetahuan umum di pesantrennya. Sekalipun
Pesantren memang disiapkan untuk mencetak calon ahli agama, namun bukan berarti
pengetahuan lain tidak perlu dimiliki. Sampai pada titik ini, Hasyim sebenarnya
sudah mulai memelopori adanya integrasi ilmu pengetahuan.[4]
Kedua, K.H. Hasyim Asy’ari merupakan
seorang ulama’ yang besar, hal ini dapat dilihat dari gelar yang diperolehnya
adalah hadratussyekh yang berarti “Tuan Guru Besar”. Tak dapat disangkal bahwa
orang-orang besar yang berada di negeri ini juga pernah belajar dari K.H.
Hasyim Asy’ari. Tokoh-tokoh besar itu adalah K.H. Ahmad Shiddiq dari Jember,
K.H. Wahab Chasbullah, K.H. Wahid Hasyim putranya sendiri.
Beliau memperoleh gelar itu tidak
semata-mata karena beliau seorang guru besar sajab tetapi juga sebagai ulama
yang kealimanya diakui oleh semua orang. Dalam
sejarah hidupnya pernah suatu saat dalam pesantren Tebu Ireng setiap
tahun selalu mengadakan ngaji rutin membahas hadits Shahih Bukhari yang
langsung dibimbing oleh hadratussyekh sendiri. Ketika saat pengajian beliau
melihat seorang yang beliau merasa tidak asing, jantungnya berdetak kencang.
Beliau kenal betul siapa ia. Dan sosok pria itu adalah Kiai Khazin dari Siwalan
Panji Sidoarjo. Di rumah K.H. Hasyim Asy’ari terjadi dialog yang mengesankan
bahwa gurunya menyatakan menjadi santri beliau. Mbah Hasyim tidak bisa menolak
karena beliau kenal betul siapa gurunya itu.[5]
Hal yang demikian tidak membuat beliau
takabur. Ketika sesudah selesei sholat pun keduanya saling mendahului keluar
duluan masing-masing berebut menyiapkan sandal gurunya.
Ketiga, selain sebagai pembaharu
pesantren dan juga seorang ulama’ besar beliau juga pendiri Nahdlatul Ulama
(NU). NU inilah yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, tidak hanya di Indonesia bahkan di dunia dengan
jumlah anggota kurang lebih ada sekitar empat puluh juta orang. Dan dari
sejarah organisasi NU hanya K.H. Hasyim Asy’ari yang pernah menjabat sebagai
ketua dengan nama Rais Akbar. Setelah wafatnya beliau Rais Akbar diganti dengan
Rais ‘Aam karena semua merasa tidak ada yang pantas menduduki Rais Akbar selain
K.H. Hasyim Asy’ari. Maka setelah itu diganti dengan Rais ‘Aam. Jadi K.H.
Hasyim Asy’ari satu-satunya yang pernah menduduki jabatan Rais Akbar.
Kaitanya dengan hal ini ada kisah
tentang kejadian hal ini yang ditulis oleh Rijal Mumaziq Zionis dalam bukunya “Cermin Bening Dari Pesantren” ia
menuliskan:
Saat hadratussyekh berpulang ke rahmatullah pada 1947, jabatan Rais
Akbar menjadi lowong. Adapun sebagai wakilnya adalah K.H. Abdullah Faqih dari
Gresik, sedang Katibnya K.H. Wahab Chasbullah. Kalau menurut Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga maka secara otomatis K.H. Abdullah Faqih berhak menduduki
jabatan Rais Akbar, sampai muktamar berikutnya tiba. Akan tetapi Kiai Dulah
bersikukuh menolak secara halus peraturan tersebut... Tetapi pada akhirnya para
kiai sepakat menunjuk K.H. Wahab Chasbullah, karena dialah yang mula-mula
mempunyai gagasan mendirikan NU. Pada mulanya, Kiai Wahab menolak dengan keras,
tetapi setelah mendapat desakan hebat maka ia menyatakan bersedia asal dengan
syarat. Adapun syaratnya ialah perubahan namanya dari Rais Akbar menjadi Rais
Aam, Ketua Besar Menjadi Ketua Umum. Kiai Wahab sendiri merasa tidak patut
disebut Rais Akbar, oleh sebab itu maka sebutan itu diturunkan satu level
menjadi Rais Aam.[6]
Keempat, K.H. Hasyim Asy’ari juga
sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat bahwa
K.H. Hasyim merupakan tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau juga sebagai
tokoh pahlawan nasional. Hal ini berdasarkan keputusan presiden No. 29/1964,
beliau diakui tidak hanya sebagai tokoh agama yang alim tentang kedalaman
ilmunya tetapi sebagai tokoh nasional yang gigih dalam memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia.
Sering kali dalam tindakan dan
kebijaksanaan beliau selalu didasarkan untuk
keutuhan bangsa indonesia.
Saat itu ada ketegangan tentang pancasila dan yang paling menjadi perdebatan
adalah adanya piagam jakarta.
Tetapi ada yang tidak mensepakati dari piagam Jakarta yaitu dari kalangan Indonesia Timur.
Kelompok Indonesia Timur mengancam keluar dari Indonesia
jika piagam Jakarta
dimasukan dalam pancasila. Demi menjaga keutuhan negara yang dalam situasi yang
sangat genting itu, sejumlah tokoh penting termasuk K.H. Hasyim Asy’ari setuju
untuk menghapus rujukan pada agama Islam dalam Teks Muqaddimah UUD 1945.[7]
Beliau dalam berjuang melawan belanda
sangat cerdik, sehingga seringkali membuat kelabakan para kolonial. Hingga
suatu saat sekitar tahun 1935-an pemerintah Belanda ingin menghentikanya lewat
jalan yang halus karena dengan jalan kontroversi sangat sulit sekali untuk
menggoyahkan mbah Hasyim. Melalui Van Der Plas (Pakar Islamologi) ingin
menganugrahkan sebuah bintang penghargaan. Karena Van Der Plas tahu dengan baik
filsafat orang Indonesia
yang dalam huruf jawa diekanal dengan ho-no-co-ro-ko.
Huruf yang selalu hidup dan mandiri. Dilayar,
wulu, cakra, taling, dan tarungpun
tetap hidup, tetapi jika dipangku akan mati. Dan strategi ini coba diterapkan
oleh Van Der Plas yang saat itu menjabat sebagai Bupati Jombang. Dengan sengaja
Van Der Plas mengunjungi pondok pesantren Tebu Ireng. Dan ketika
berbincang-bincang langsung mengungkapakan maksudnya ingin memberikan
penghargaan. Tetapi hadratussyekh sudah mengetahui kalau ada unsur politik di
balik penghanggargaan itu. Dengan rendah hati beliau menolaknya dan akhirnya tipu
muslihat Van Der Plas pun tidak berhasil[8].
Selama penjajahan jepang pun K.H.
Hasyim Asy’ari walaupun usianya sudah bertambah tetapi perjuangan juga masih
merepotkan pemerintah jepang. Dalam situasi yang saat itu tidak menentu adanya
kekacauan dan kebingungan K.H. Hasyim Asy’ari tanpa alasan yang jelas tiba-tiba
ditangkap oleh Jepang. Tetapi Untung saja saat itu K.H. Wahab Chasbullah
dibantu dengan putra hadratussyekh Wahid Hasyim langsung berusaha sebisa
mungkin untuk membebaskan K.H. Hasyim Asy’ari.[9]
Perjuangan Hasyim Asy’ari tidak hanya
melalui organisasi NU (saat itu belum menjadi partai politik) tetapi juga
pernah melalui partai politik karena saat itu organisasi Islam menggabungkan
diri menjadi suatu federasi yang bernama Masyumi (Majlis Syuro Muslimin
Indonesia) Diantara yang duduk sebagai salah satu pimpinannya adalah K.H.
Hasyim Asy’ari.[10]
Kelima, Banyak sekali anak-anak muda NU
yang mulai melupakan pemikiran dari K.H. Hasyim Asy’ari ini adalah founding fathernya NU, seperti yang
telah kita ketahui bahwa K.H. Hasyim Asy’ari adalah seorang pendiri organisasi
terbesar di dunia ini. Maka sudah sepatutnya perlu adanya pengetahuan tentang
pemikiran dari pendirinya. Beberapa anak muda NU lebih menyukai mempelajari
pemikiran yang kekiri-kirian daripada pemikiran bapak pendiri organisasi ini
yang juga merupakan pemikiran asli dari bangsa sendiri.
Ditinjau dari segi geografisnya
sebenarnya yang cocok dan sesuai dengan konteks Indonesia adalah orang
Indonesia sendiri dan yang mengerti tentang kondisi geografis, sosio-kultur
dari wilayah itu sendiri karena akan membuat sebuah konsep yang pas dan sesuai
dengan kebutuhan serta mengena dalam masyarakat itu sendiri.
Walaupun K.H. Hasyim Asy’ari juga
memperoleh pendidikan luar negeri dalam hal ini Arab, tetapi beliau tetap
mempertahankan kebudayaan lokal dalam artian beliau tidak mengubah adat
istiadat masyarakat. Akan tetapi hal itu digunakan sebagai media dakwah. Dan
juga yang terpenting nilai-nilai Islam juga tidak diabaikan begitu saja dan
Islam dapat menjiwai dari segala bentuk adat istiadat yang ada.
Mungkin sudah banyak buku-buku yang
membahas tentang K.H. Hasyim Asy’ari tetapi dalam penelitian ini berbeda dengan
buku-buku yang sudah ada. Sebenarnya memang sudah ada buku-buku yang membahas
tentang K.H. Hasyim Asy’ari antara lain, K.H.
Hasyim Asy’ari: Ulama Besar Indonesia karya Sholichin Salam (1966), Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari:
Perintis Kemerdekaan Indonesia karya Muhammad Asad Syihab (1994), Pertumbuhan dan Perkembangan NU karya
Choirul Anam (1999), Fajar Kebangunan
Ulama: Biografi K.H. Hasyim Asy’ari karya Latiful Khuluq (2000), K.H. Hasyim Asy’ari: Figur Ulama dan Pejuang
Sejati karya M. Ishom Hadziq (2000), K.H.
Hasyim Asy’ari: Biografi Singkat 1871-1947 karya Muhammad Rifai, serta Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Moderasi,
Keumatan, dan Kebangsaan karya Zuhairi Misrawi (2010). Tetapi rata-rata
buku-buku yang ada membahas tentang sejarah hidupnya dan tentang pendirian NU,
sedangkan di pemikiranya masih sedikit.
Sebenarnya buku yang membahas tentang pemikiranya sudah ada tapi masih
pembahsan yang umum. Sampai sekarang belum ada buku yang membahas khusus
tentang pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari yang spesifik misalnya khusus pemikianya
tentang politik, tentang ekonomi, tentang budaya, dll. Karya tulis ini hadir
khusus membahas pemikiranya tentang pendidikan. Tidak hanya dari karyanya yang
termanifestokan dalam kitabnya al-Adab
al-Alim wa al-Muta’allim. Tetapi
juga membahas tentang pemikiran pendidikan yang diaplikasikan dalam gerakan
pembaharuanya di system pendidikan terutama pesantren.
“Pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari dalam
Pendidikan Islam” adalah bagian dari usaha untuk membuka kembali khasanah
pemikiran Islam dari para salah satu ulama besar Indonesia dan juga untuk
membuka kembali penyadaran dari anak-anak muda NU. Dan yang terpenting adalah
penyadaran kembali betapa pentingnya tujuan pendidikan dan lebih khusus adalah
pendidikan Islam. Betapa besar perhatian para ulama terhadap pendidikan Islam
dan yang mulai mengkhawatirkan adalah tujuan utama pendidikan Islam yang
seharusnya mampu menjawab persoalan yang ada malah melenceng jauh dari
angan-angan.
Sebenarnya yang menjadi lebih
perhatian adalah ide-ide dari pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari dan juga
gerakan-gerakan untuk mewujudkanya. Karena pemikiran ini lahir atau dilahirkan
oleh suatu keadaan masyarakat.
B. Rumusan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah
dan fokus pada permasalahan yang telah diuraikan seperti di atas, maka akan
diangkat menjadi rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana
pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari tentang pendidikan Islam?
2.
Bagaimana
pengaruh pemikiran-pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari terhadap pendidikan Islam di
Indonesia?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas tujuan dari penelitian ini adalah:
1.
Mengetahui
pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari dalam pendidikan Islam.
2.
Mengetahui
pengaruh pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari terhadap pendidikan Islam di Indonesia.
D. Kegunaan Penelitian
Kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Penelitian
ini memberikan kajian ilmiah pemikiran-pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari, terutama
tentang pendidikan Islam.
2.
Penelitian
ini memberikan pemahaman baru bagi penulis khususnya dan pada yang berkenan
membaca umumnya tentang pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari dalam pendidikan Islam.
E. Metode Penelitian
- Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah
penelitian pustaka (Library Research)
yaitu penelitian yang sunber datanya diperoleh melalui penelitian buku-buku,
majalah, jurnal, internet, dan media publikasi lainya yang berkaitan dengan
masalah ini.
- Tehnik Pengumpulan Data
Karena penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, maka
pengumpulan datanya adalah dengan menelusuri dan me-recover buku-buku
dan tulisan-tulisan dalam bentuk lain yang berkaitan dengan objek penelitian.
Di samping itu juga ditelusuri serta dikaji buku-buku dan tulisan-tulisan lain
yang mendukung kedalaman dan ketajaman analisis dalam penelitian ini.
Sumber data yang penyusun gunakan dalam kajian ini terdiri dari
sumber data primer dan sekunder, yaitu:
a.
Sumber Data Primer
Dalam penelitian ini penyusun menggunakan karya-karya yang telah
ditulis oleh K.H. Hasyim Asy’ari, terutama buku-buku yang berkaitan dengan
pendidikan Islam.
b.
Sumber Data Sekunder
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah karya-karya
penyusun lain yang berkaitan dengan tema penelitian baik berupa buku, artikel,
maupun tulisan lain.
- Metode Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik content
analysis, yaitu menganalisis data sesuai dengan kandungan isinya. Sedangkan
metode analisis datanya menggunakan metode induktif dan metode deduktif.
Penyusun mencoba menganalisis bagaimana pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari
dalam memahami agama Islam dari kitab-kitab yang ditulis maupun dari
gerakan yang dilakukanya yang bersumber dari data yang tertulis baik itu dari
buku, majalah, buletin, maupun juga internet, kemudian dari pemahaman tersebut
diambil kesimpulan umum tentang relevansinya dengan pendidikan Islam.
F. Definisi Operasional
Penelitian ini berjudul “Pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari dalam
Pendidikan Islam” tetapi akan dijelaskan definisi yang menjadi kata kunci
dalam penelitian ini.
1.
Tentang
Pemikiran.
Pemikiran selalu berkembang sesuai
dengan keadaaan permasalahan yang
berkembang. Mustahil memahami sebuah pemikiran jika tanpa memahami latar
belakang yang menyusun pemikiran itu, karena pemikiran lahir atau dilahirkan
oleh keadaan masyarakatnya.
2.
Tentang Pemikiran
K.H. Hasyim Asy’ari
Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari
merupakan salah satu ulama besar Indonesia yang selalu berfikir untuk kemajuan
bangsanya. Dan untuk kemajuan itu K.H. Hasyim Asy’ari membuat gerakan-gerakan
dari hasil pemikiranya baik dalam membangun ekonomi, dan juga moral melalui
pendidikan Islam.
Dalam pemikiranya tentang pendidikan
Islam beliau lakukan baik melalui gerakan-gerakan dalam sistem pendidikan
seperti menerapkan system klasikal dan juga memasukan pelajaran “kitab putih”
dalam pesantren dan juga dalam pemikiran di konsep pendidikan Islam yang
terdomentasikan yang terwujud kitab kuning dengan judul Al-Adab Alim wa Al-Muta’alim sebagai bukti otentik pemikiranya.
3.
Pendidikan
Islam
Dalam pendidikan Islam tidak hanya
sekedar untuk mentransfer ilmu saja tetapi ditekakan penyelarasan dalam hidup
lebih bermanfaat baik di dunia maupun akhirat. Hasan Langgulung merumuskan
pendidikan Islam sebagai suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi
peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan
fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.[11]
G. Sistematika Pembahasan
Agar pembahasan dalam penelitian ini tersusun secara sistematis dan
menghasilkan sebuah karya ilmiah yang utuh dan komprehensif, maka penelitian
ini dibagi ke dalam beberapa bagian. Adapun bagian-bagian tersebut secara garis
besarnya dapat disistematikakan sebagai berikut;
Bab pertama, Pendahuluan. Dalam Bab ini diuraikan berbagai
persoalan mendasar yang akan menentukan bangunan isi seluruhnya, yang mencakup
latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan
penelitian, metode penelitian, definisi operasional, dan sistematika
pembahasan.
Bab kedua, Riwayat
K.H Hasyim Asy’ari dan Keteladanan serta Karya-karyanya. Sub bab pertama
dibahas tentang biografi K.H. Hasyim Asy’ari, yang mencakup sejarah
kehidupannya dari masa kanak-kanak sampai wafatnya yaitu silsilah K.H. Hasyim
Asy’ari, dalam kandungan dan kelahiranya, masa kecil, masa muda K.H. Hasyim
Asy’ari dalam menuntut ilmu dan pernikahanya yang pertama, kembali ke tanah
suci Mekah, mendirikan pesantren Tebu Ireng dan menikah lagi, komite Hijaz dan
mendirikan NU, Kiai Hasyim dan MIAI, akhir hayat K.H. Hasyim Asy’ari. Pada sub
yang kedua adalah karakter pemikiran dan karya-karyanya sebagai bukti otentik
akademik. Dan sub yang ketiga adalah potret keteladan K.H. Hasyim Asy’ari.
Bab ketiga, Kondisi Indonesia dan corak pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari. Sub bab
pertama membahas tentang kondisi Indonesia diakhir abad XIX dan awal abad XX
dan sub bab ini meliputi kondisi sosial politik Indonesia dan juga kondisi
pendidikan Indonesia. Dan sub bab selanjutnya adalah corak pemikiran K.H.
Hasyim Asy’ari.
Bab keempat. Pemikiran K.H Hasyim Asy’ari dalam pendidikan Islam dan pengaruhnya.
Pada sub bab pertama membahas gerakan dan teori-teori yang digagas
K.H. Hasyim Asy’ari sebagai pijakan untuk membahas tema sesuai dengan rumusan masalah.
Pada sub bab kedua dilakukan pengaruh pemikiran K.H. Hasyim
Asy’ari terhadap pendidikan Islam di Indonesia.
Selanjutnya penelitian ini diakhiri dengan Bab kelima. Dalam Bab ini akan disimpulkan semua hasil analisis yang
telah dilakukan pada bagian-bagian sebelumnya, dan kemudian akan disampaikan
saran-saran yang mungkin diperlukan sebagai bahan perbaikan dan pembahasan
lebih lanjut berkaitan dengan tema penelitian ini.
[4] Tiar Anwar
Bahtiar, Tokoh-Tokoh Pendidikan, http://republika.co.id/koran/155/61054/Tokoh_Tokoh_Pendidikan,
di unduh 3 maret 2010
[5] Rizal Mumaziq Zionis, Op. Cit, hlm. 45-46
[7] Lutfi, Warga
Nahdiyin: Menyambut Kemerdekaan RI Ke-57 Tanpa Pesta, (Blitar: Buletin
Suara NU, edisi V / Tahun I / Agustus), hlm. 3
[8] Rizal Mumaziq Zionis, Op. Cit, hlm 35-37
[9] Saifudin Zuhri, AlMaghfurlah KH. A. Wahab Chasbullah: Bapak dan Pendiri Nahdlatul
Ulama, (Jakarta:
Yayasan KH. A Wahab Chasbullah dan Yayasan Saifudin Zuhri, 1999), hlm. 48
[11] Imam Mawardi, Ilmu Pendidikan Islam, http: Ilmu Pendidikan Islam « KULIAH
Mr.Mawardi Rz.htm. diunduh pada tanggal 10 Maret 2010






0 comments:
Post a Comment