Definition List

March 4, 2015

Contoh Skripsi Bab I PEMIKIRAN K.H. HASYIM ASY’ARI DALAM PENDIDIKAN ISLAM



Ayin Barabbas 
Skripsi: PEMIKIRAN K.H. HASYIM ASY’ARI DALAM PENDIDIKAN ISLAM 

NAMA                             : MOH. ASROFI 
NIM                                 : 2006.4.21.01778 
NIMKO                           : 2006.4.021.0001.1.01131 
JURUSAN                       : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 
PERGURUAN TINGGI : SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH “AL MUSLIHUUN” BLITAR



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan sesuatu yang dasar yang setiap orang wajib untuk memperolehnya secara gratis karena merupakan hak dasar kebutuhan manusia. Hal yang demikian diatur oleh negara dan negara menjamin dalam undang-undang, bahwa pendidikan harus diperoleh secara gratis. Pendidikan merupakan “Public goods” atau hak azasi dasar setiap manusia di dunia.[1] Dari sini dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting.
Sejarah pendidikan Indonesia membuktikan peranan pendidikan sangat signifikan, karena pendidikan merupakan sebagai rekayasa struktural masyarakat, hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Anis Baswedan dalam makalahnya di seminar diesnatalis PPMI di gedung Rektorat UNY, ia mengemukakan bahwa:
Anak-anak muda kuliahan di era 1960-an ini yang kemudian hari menjadi kelas menengah pertama di republik ini. Anak-anak muda yang “bukan siapa-siapa” menjadi kelas menengah baru di daerah-daerah urban. Mereka ini juga turut menjadi penggerak pembangunan dan penarik urbanisasi. Terjadilah pertumbuhan kelas menengah yang memiliki kekuatan ekonomi, tapi karena berada di bawah Orde Baru, mereka tumbuh tanpa kekuatan politik. Mereka ini pula yang setiap tahun menjadi simbol mudik lebaran. Pulang kampung membawa cerita sukses dengan berbagai perangkat materi pembuktianya, seperti wajarnya kelas menengah di berbagai negeri. Kita sering tidak sadar bahwa mereka itu adalah produk sebuah rekayasa sosial pada tahun 1950-an. Intervensi Pemerintah melalui pendirian SMA di setiap kabupaten di Indonesia merupakan sebuah rekayasa sosial yang jenius. Mungkin saja, yang melakukan rekayasa ini tidak sadar kalau sedang melakukan rekayasa sosial. Mungkin mereka semata-mata menjalankan amanat konstitusi untuk untuk mencerdaskan keghidupan bangsa. Tetapi, sebenarnya yang namanya mencerdaskan kehidupan bangsa itu adalah sebuah intervensi struktural terhadap struktur sosio-ekonomi sebuah bangsa.[2]

Sejarah juga membyuktikan pendidikan sangat penting bagi proses berlangsungnya pembentukan peradaban sebuah negara tak terkecuali dengan pendidikan Islam yang ada di Indonesia. Pendidikan Islam telah ada sejak zaman mulai masuknya  Islam di Indonesia. Yaitu melalui salah satu metode dakwah yang dibawa pedagang dari Gujarat, kemudian dilanjutkan melakukan pendirian pondok pesantren.
Pendidikan Islam juga merupakan sesuatu yang sangat vital karena dalam dinamikanya selalu membawa perubahan baik dari struktur sosial, politik, dan budaya. Peradaban yang ada di dunia ini juga tak lepas dari pendidikan Islam. Misalnya saja Eropa dulu merupakan wilayah daulah bani Umayah yang di situ juga tidak lepas dari adanya pendidikan Islam.
Perkembangan selanjutnya jarang sekali generasi penerus Islam yang melakukan kajian kritis dari khasanah intelektual muslim itu sendiri dalam pendidikan Islam. Sehingga menyebabkan berkurangnya kekayaan intelektual muslim yang seharusnya lebih bisa diaplikaskan tidak hanya secara teoritis tetapi juga secara praktis.
Pendidikan Islam mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Dari dahulu sampai sekarang telah tebukti bahwa sebelum adanya pendidikan formal pendidikan Islam telah sudah ada melalui dakwah-dakwah dan juga melalui pesantren.
Banyak sekali tokoh pendidikan dalam Islam yang sangat berperan baik dalam mengembangkan pendidikan Islam yang pemikiranya sudah diakui seantero dunia. Diantaranya adalah Imam Ghazali, Ibnu Khaldun, Ibn Maskawaih, Al-Nawawi, Ibn Sahnun, Al-Zarnuji, Muhammad Abduh, Jamaludin Al-Afghani, Rasyid Ridla, dan lain-lainya. Selain itu juga banyak para ulama yang menjadi tokoh pendidikan Islam di Indonesia sendiri yang pemikiranya juga terlihat dengan nyata hasilnya. Tokoh di Indonesia yang banyak berperan penting diantaranya adalah K.H. Ahmad Dahlan, M. Natsir, K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Imam Zarkasyi dan lain-lainnya.
Sangat menarik sekali jika melakukan kajian tentang salah satu tokoh kunci pembaharu pendidikan Islam. Tentunya akan bisa menambah wawasan tentang pemikiran pendidikan Islam. Salah satu tokoh pendidikan Islam itu adalah K.H. Hasyim Asy’ari. Menyebut nama K.H Hasyim Asy’ari, orang tentu akan berpikir pada pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Tak salah memang, sebab dengan peran Hadratussyekh sebagai tokoh sentral di organisasi ini, NU mampu menjadi organisasi keislaman yang diikuti banyak masyarakat muslim di Indonesia.
Mungkin dari sedikit pemaparan di atas akan memunculkan pertanyaan mengapa harus K.H. Hasyim Asy’ari? Sedangkan telah kita ketahui banyak sekali tokoh-tokoh ulama yang berperan sangat penting dalam pendidikan Islam. Akan sedikit dipaparkan mengapa harus K.H. Hasyim Asy’ari? Pertama, Karena K.H. Hasyim Asy’ari merupakan tokoh pembaharu pesantren. Pesantren telah mengalami perkembangan pesat setelah K.H. Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren Tebu Ireng yang berada di kawasan Cukir dekat pabrik gula. Karena beliau melakukan pembaharuan tidak hanya metode yang diajarkan tetapi juga yang diajarkan. K.H. Hasyim Asy’ari juga mengajarkan huruf latin dan juga cara berpidato.
Selain mumpuni dalam bidang agama, hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari sangat lihai sekali dalam mengatur berbagai sistem pesantren yang kemudian beliau dikenal dengan pembaharu pesantren. Karena beliau mengatur dalam kurikulum pesantren, mengatur strategi pengajaran, menulis kitab, dan memutuskan persoalan-persoalan aktual kemasyarakatan.[3]
 Kiai Hasyim melakukan pembaharuan pesantren secara besar-besaran, banyak sekali hal-hal yang dilakukan, Tiar Anwar Bahtiar menuliskan bahwa:
Bila sebelumnya pesantren hanya semata-mata mengajarkan Bahasa Arab dan kitab-kitab kuning, Hadratusysyekh mencoba memasukkan pelajaran yang masih dianggap tabu, antara lain: baca-tulis huruf latin, pidato, berorganisasi, dan menggalakkan bacaan-bacaan tentang pengetahuan umum di pesantrennya. Sekalipun Pesantren memang disiapkan untuk mencetak calon ahli agama, namun bukan berarti pengetahuan lain tidak perlu dimiliki. Sampai pada titik ini, Hasyim sebenarnya sudah mulai memelopori adanya integrasi ilmu pengetahuan.[4]

Kedua, K.H. Hasyim Asy’ari merupakan seorang ulama’ yang besar, hal ini dapat dilihat dari gelar yang diperolehnya adalah hadratussyekh yang berarti “Tuan Guru Besar”. Tak dapat disangkal bahwa orang-orang besar yang berada di negeri ini juga pernah belajar dari K.H. Hasyim Asy’ari. Tokoh-tokoh besar itu adalah K.H. Ahmad Shiddiq dari Jember, K.H. Wahab Chasbullah, K.H. Wahid Hasyim putranya sendiri.
Beliau memperoleh gelar itu tidak semata-mata karena beliau seorang guru besar sajab tetapi juga sebagai ulama yang kealimanya diakui oleh semua orang. Dalam  sejarah hidupnya pernah suatu saat dalam pesantren Tebu Ireng setiap tahun selalu mengadakan ngaji rutin membahas hadits Shahih Bukhari yang langsung dibimbing oleh hadratussyekh sendiri. Ketika saat pengajian beliau melihat seorang yang beliau merasa tidak asing, jantungnya berdetak kencang. Beliau kenal betul siapa ia. Dan sosok pria itu adalah Kiai Khazin dari Siwalan Panji Sidoarjo. Di rumah K.H. Hasyim Asy’ari terjadi dialog yang mengesankan bahwa gurunya menyatakan menjadi santri beliau. Mbah Hasyim tidak bisa menolak karena beliau kenal betul siapa gurunya itu.[5]
Hal yang demikian tidak membuat beliau takabur. Ketika sesudah selesei sholat pun keduanya saling mendahului keluar duluan masing-masing berebut menyiapkan sandal gurunya.
Ketiga, selain sebagai pembaharu pesantren dan juga seorang ulama’ besar beliau juga pendiri Nahdlatul Ulama (NU). NU inilah yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, tidak hanya di Indonesia bahkan di dunia dengan jumlah anggota kurang lebih ada sekitar empat puluh juta orang. Dan dari sejarah organisasi NU hanya K.H. Hasyim Asy’ari yang pernah menjabat sebagai ketua dengan nama Rais Akbar. Setelah wafatnya beliau Rais Akbar diganti dengan Rais ‘Aam karena semua merasa tidak ada yang pantas menduduki Rais Akbar selain K.H. Hasyim Asy’ari. Maka setelah itu diganti dengan Rais ‘Aam. Jadi K.H. Hasyim Asy’ari satu-satunya yang pernah menduduki jabatan Rais Akbar.
Kaitanya dengan hal ini ada kisah tentang kejadian hal ini yang ditulis oleh Rijal Mumaziq Zionis dalam bukunya “Cermin Bening Dari Pesantren” ia menuliskan:
Saat hadratussyekh berpulang ke rahmatullah pada 1947, jabatan Rais Akbar menjadi lowong. Adapun sebagai wakilnya adalah K.H. Abdullah Faqih dari Gresik, sedang Katibnya K.H. Wahab Chasbullah. Kalau menurut Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga maka secara otomatis K.H. Abdullah Faqih berhak menduduki jabatan Rais Akbar, sampai muktamar berikutnya tiba. Akan tetapi Kiai Dulah bersikukuh menolak secara halus peraturan tersebut... Tetapi pada akhirnya para kiai sepakat menunjuk K.H. Wahab Chasbullah, karena dialah yang mula-mula mempunyai gagasan mendirikan NU. Pada mulanya, Kiai Wahab menolak dengan keras, tetapi setelah mendapat desakan hebat maka ia menyatakan bersedia asal dengan syarat. Adapun syaratnya ialah perubahan namanya dari Rais Akbar menjadi Rais Aam, Ketua Besar Menjadi Ketua Umum. Kiai Wahab sendiri merasa tidak patut disebut Rais Akbar, oleh sebab itu maka sebutan itu diturunkan satu level menjadi Rais Aam.[6]

Keempat, K.H. Hasyim Asy’ari juga sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat bahwa K.H. Hasyim merupakan tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau juga sebagai tokoh pahlawan nasional. Hal ini berdasarkan keputusan presiden No. 29/1964, beliau diakui tidak hanya sebagai tokoh agama yang alim tentang kedalaman ilmunya tetapi sebagai tokoh nasional yang gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Sering kali dalam tindakan dan kebijaksanaan beliau selalu didasarkan untuk  keutuhan bangsa indonesia. Saat itu ada ketegangan tentang pancasila dan yang paling menjadi perdebatan adalah adanya piagam jakarta. Tetapi ada yang tidak mensepakati dari piagam Jakarta yaitu dari kalangan Indonesia Timur. Kelompok Indonesia Timur mengancam keluar dari Indonesia jika piagam Jakarta dimasukan dalam pancasila. Demi menjaga keutuhan negara yang dalam situasi yang sangat genting itu, sejumlah tokoh penting termasuk K.H. Hasyim Asy’ari setuju untuk menghapus rujukan pada agama Islam dalam Teks Muqaddimah UUD 1945.[7]
Beliau dalam berjuang melawan belanda sangat cerdik, sehingga seringkali membuat kelabakan para kolonial. Hingga suatu saat sekitar tahun 1935-an pemerintah Belanda ingin menghentikanya lewat jalan yang halus karena dengan jalan kontroversi sangat sulit sekali untuk menggoyahkan mbah Hasyim. Melalui Van Der Plas (Pakar Islamologi) ingin menganugrahkan sebuah bintang penghargaan. Karena Van Der Plas tahu dengan baik filsafat orang Indonesia yang dalam huruf jawa diekanal dengan ho-no-co-ro-ko. Huruf yang selalu hidup dan mandiri. Dilayar, wulu, cakra, taling, dan tarungpun tetap hidup, tetapi jika dipangku akan mati. Dan strategi ini coba diterapkan oleh Van Der Plas yang saat itu menjabat sebagai Bupati Jombang. Dengan sengaja Van Der Plas mengunjungi pondok pesantren Tebu Ireng. Dan ketika berbincang-bincang langsung mengungkapakan maksudnya ingin memberikan penghargaan. Tetapi hadratussyekh sudah mengetahui kalau ada unsur politik di balik penghanggargaan itu. Dengan rendah hati beliau menolaknya dan akhirnya tipu muslihat Van Der Plas pun tidak berhasil[8].
Selama penjajahan jepang pun K.H. Hasyim Asy’ari walaupun usianya sudah bertambah tetapi perjuangan juga masih merepotkan pemerintah jepang. Dalam situasi yang saat itu tidak menentu adanya kekacauan dan kebingungan K.H. Hasyim Asy’ari tanpa alasan yang jelas tiba-tiba ditangkap oleh Jepang. Tetapi Untung saja saat itu K.H. Wahab Chasbullah dibantu dengan putra hadratussyekh Wahid Hasyim langsung berusaha sebisa mungkin untuk membebaskan K.H. Hasyim Asy’ari.[9]
Perjuangan Hasyim Asy’ari tidak hanya melalui organisasi NU (saat itu belum menjadi partai politik) tetapi juga pernah melalui partai politik karena saat itu organisasi Islam menggabungkan diri menjadi suatu federasi yang bernama Masyumi (Majlis Syuro Muslimin Indonesia) Diantara yang duduk sebagai salah satu pimpinannya adalah K.H. Hasyim Asy’ari.[10]
Kelima, Banyak sekali anak-anak muda NU yang mulai melupakan pemikiran dari K.H. Hasyim Asy’ari ini adalah founding fathernya NU, seperti yang telah kita ketahui bahwa K.H. Hasyim Asy’ari adalah seorang pendiri organisasi terbesar di dunia ini. Maka sudah sepatutnya perlu adanya pengetahuan tentang pemikiran dari pendirinya. Beberapa anak muda NU lebih menyukai mempelajari pemikiran yang kekiri-kirian daripada pemikiran bapak pendiri organisasi ini yang juga merupakan pemikiran asli dari bangsa sendiri.
Ditinjau dari segi geografisnya sebenarnya yang cocok dan sesuai dengan konteks Indonesia adalah orang Indonesia sendiri dan yang mengerti tentang kondisi geografis, sosio-kultur dari wilayah itu sendiri karena akan membuat sebuah konsep yang pas dan sesuai dengan kebutuhan serta mengena dalam masyarakat itu sendiri.
Walaupun K.H. Hasyim Asy’ari juga memperoleh pendidikan luar negeri dalam hal ini Arab, tetapi beliau tetap mempertahankan kebudayaan lokal dalam artian beliau tidak mengubah adat istiadat masyarakat. Akan tetapi hal itu digunakan sebagai media dakwah. Dan juga yang terpenting nilai-nilai Islam juga tidak diabaikan begitu saja dan Islam dapat menjiwai dari segala bentuk adat istiadat yang ada.
Mungkin sudah banyak buku-buku yang membahas tentang K.H. Hasyim Asy’ari tetapi dalam penelitian ini berbeda dengan buku-buku yang sudah ada. Sebenarnya memang sudah ada buku-buku yang membahas tentang K.H. Hasyim Asy’ari antara lain, K.H. Hasyim Asy’ari: Ulama Besar Indonesia karya Sholichin Salam (1966), Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari: Perintis Kemerdekaan Indonesia karya Muhammad Asad Syihab (1994), Pertumbuhan dan Perkembangan NU karya Choirul Anam (1999), Fajar Kebangunan Ulama: Biografi K.H. Hasyim Asy’ari karya Latiful Khuluq (2000), K.H. Hasyim Asy’ari: Figur Ulama dan Pejuang Sejati karya M. Ishom Hadziq (2000), K.H. Hasyim Asy’ari: Biografi Singkat 1871-1947 karya Muhammad Rifai, serta Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan karya Zuhairi Misrawi (2010). Tetapi rata-rata buku-buku yang ada membahas tentang sejarah hidupnya dan tentang pendirian NU, sedangkan di pemikiranya masih sedikit. Sebenarnya buku yang membahas tentang pemikiranya sudah ada tapi masih pembahsan yang umum. Sampai sekarang belum ada buku yang membahas khusus tentang pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari yang spesifik misalnya khusus pemikianya tentang politik, tentang ekonomi, tentang budaya, dll. Karya tulis ini hadir khusus membahas pemikiranya tentang pendidikan. Tidak hanya dari karyanya yang termanifestokan dalam kitabnya al-Adab al-Alim wa al-Muta’allim.  Tetapi juga membahas tentang pemikiran pendidikan yang diaplikasikan dalam gerakan pembaharuanya di system pendidikan terutama pesantren.
“Pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari dalam Pendidikan Islam” adalah bagian dari usaha untuk membuka kembali khasanah pemikiran Islam dari para salah satu ulama besar Indonesia dan juga untuk membuka kembali penyadaran dari anak-anak muda NU. Dan yang terpenting adalah penyadaran kembali betapa pentingnya tujuan pendidikan dan lebih khusus adalah pendidikan Islam. Betapa besar perhatian para ulama terhadap pendidikan Islam dan yang mulai mengkhawatirkan adalah tujuan utama pendidikan Islam yang seharusnya mampu menjawab persoalan yang ada malah melenceng jauh dari angan-angan.
Sebenarnya yang menjadi lebih perhatian adalah ide-ide dari pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari dan juga gerakan-gerakan untuk mewujudkanya. Karena pemikiran ini lahir atau dilahirkan oleh suatu keadaan masyarakat.

B. Rumusan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah dan fokus pada permasalahan yang telah diuraikan seperti di atas, maka akan diangkat menjadi rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari tentang pendidikan Islam?
2.      Bagaimana pengaruh pemikiran-pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari terhadap pendidikan Islam di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas tujuan dari penelitian ini adalah:
1.          Mengetahui pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari dalam pendidikan Islam.
2.          Mengetahui pengaruh pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari terhadap pendidikan Islam di Indonesia.

D. Kegunaan Penelitian
Kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.     Penelitian ini memberikan kajian ilmiah pemikiran-pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari, terutama tentang pendidikan Islam.
2.      Penelitian ini memberikan pemahaman baru bagi penulis khususnya dan pada yang berkenan membaca umumnya tentang pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari dalam pendidikan Islam.

E. Metode Penelitian
  1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library Research) yaitu penelitian yang sunber datanya diperoleh melalui penelitian buku-buku, majalah, jurnal, internet, dan media publikasi lainya yang berkaitan dengan masalah ini.
  1. Tehnik Pengumpulan Data
Karena penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, maka pengumpulan datanya adalah dengan menelusuri dan me-recover buku-buku dan tulisan-tulisan dalam bentuk lain yang berkaitan dengan objek penelitian. Di samping itu juga ditelusuri serta dikaji buku-buku dan tulisan-tulisan lain yang mendukung kedalaman dan ketajaman analisis dalam penelitian ini.
Sumber data yang penyusun gunakan dalam kajian ini terdiri dari sumber data primer dan sekunder, yaitu:
a.      Sumber Data Primer
Dalam penelitian ini penyusun menggunakan karya-karya yang telah ditulis oleh K.H. Hasyim Asy’ari, terutama buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan Islam.
b.      Sumber Data Sekunder
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah karya-karya penyusun lain yang berkaitan dengan tema penelitian baik berupa buku, artikel, maupun tulisan lain.
  1. Metode Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik content analysis, yaitu menganalisis data sesuai dengan kandungan isinya. Sedangkan metode analisis datanya menggunakan metode induktif dan metode deduktif. Penyusun mencoba menganalisis bagaimana pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari dalam memahami agama Islam dari kitab-kitab yang ditulis maupun dari gerakan yang dilakukanya yang bersumber dari data yang tertulis baik itu dari buku, majalah, buletin, maupun juga internet, kemudian dari pemahaman tersebut diambil kesimpulan umum tentang relevansinya dengan pendidikan Islam.

F. Definisi Operasional
Penelitian ini berjudul “Pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari dalam Pendidikan Islam” tetapi akan dijelaskan definisi yang menjadi kata kunci dalam penelitian ini.
1.    Tentang Pemikiran.
Pemikiran selalu berkembang sesuai dengan keadaaan permasalahan yang  berkembang. Mustahil memahami sebuah pemikiran jika tanpa memahami latar belakang yang menyusun pemikiran itu, karena pemikiran lahir atau dilahirkan oleh keadaan masyarakatnya.
2.      Tentang Pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari
Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari merupakan salah satu ulama besar Indonesia yang selalu berfikir untuk kemajuan bangsanya. Dan untuk kemajuan itu K.H. Hasyim Asy’ari membuat gerakan-gerakan dari hasil pemikiranya baik dalam membangun ekonomi, dan juga moral melalui pendidikan Islam.
Dalam pemikiranya tentang pendidikan Islam beliau lakukan baik melalui gerakan-gerakan dalam sistem pendidikan seperti menerapkan system klasikal dan juga memasukan pelajaran “kitab putih” dalam pesantren dan juga dalam pemikiran di konsep pendidikan Islam yang terdomentasikan yang terwujud kitab kuning dengan judul Al-Adab Alim wa Al-Muta’alim sebagai bukti otentik pemikiranya.
3.      Pendidikan Islam
Dalam pendidikan Islam tidak hanya sekedar untuk mentransfer ilmu saja tetapi ditekakan penyelarasan dalam hidup lebih bermanfaat baik di dunia maupun akhirat. Hasan Langgulung merumuskan pendidikan Islam sebagai suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.[11]

G. Sistematika Pembahasan
Agar pembahasan dalam penelitian ini tersusun secara sistematis dan menghasilkan sebuah karya ilmiah yang utuh dan komprehensif, maka penelitian ini dibagi ke dalam beberapa bagian. Adapun bagian-bagian tersebut secara garis besarnya dapat disistematikakan sebagai berikut;
Bab pertama, Pendahuluan. Dalam Bab ini diuraikan berbagai persoalan mendasar yang akan menentukan bangunan isi seluruhnya, yang mencakup latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian, definisi operasional, dan sistematika pembahasan.
Bab kedua, Riwayat K.H Hasyim Asy’ari dan Keteladanan serta Karya-karyanya. Sub bab pertama dibahas tentang biografi K.H. Hasyim Asy’ari, yang mencakup sejarah kehidupannya dari masa kanak-kanak sampai wafatnya yaitu silsilah K.H. Hasyim Asy’ari, dalam kandungan dan kelahiranya, masa kecil, masa muda K.H. Hasyim Asy’ari dalam menuntut ilmu dan pernikahanya yang pertama, kembali ke tanah suci Mekah, mendirikan pesantren Tebu Ireng dan menikah lagi, komite Hijaz dan mendirikan NU, Kiai Hasyim dan MIAI, akhir hayat K.H. Hasyim Asy’ari. Pada sub yang kedua adalah karakter pemikiran dan karya-karyanya sebagai bukti otentik akademik. Dan sub yang ketiga adalah potret keteladan K.H. Hasyim Asy’ari.
Bab ketiga, Kondisi Indonesia dan corak pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari. Sub bab pertama membahas tentang kondisi Indonesia diakhir abad XIX dan awal abad XX dan sub bab ini meliputi kondisi sosial politik Indonesia dan juga kondisi pendidikan Indonesia. Dan sub bab selanjutnya adalah corak pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari.
Bab keempat. Pemikiran K.H Hasyim Asy’ari dalam pendidikan Islam dan pengaruhnya. Pada sub bab pertama membahas gerakan dan teori-teori yang digagas K.H. Hasyim Asy’ari sebagai pijakan untuk membahas tema sesuai dengan rumusan masalah. Pada sub bab kedua dilakukan pengaruh pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari terhadap pendidikan Islam di Indonesia.
Selanjutnya penelitian ini diakhiri dengan Bab kelima. Dalam Bab ini akan disimpulkan semua hasil analisis yang telah dilakukan pada bagian-bagian sebelumnya, dan kemudian akan disampaikan saran-saran yang mungkin diperlukan sebagai bahan perbaikan dan pembahasan lebih lanjut berkaitan dengan tema penelitian ini.



                [1] Herwindo Haribowo, Fokus Dan Prioritas Pendidikan Nasional, dalam seminar diesnatalis PPMI ke-17 digedung rektorat Universitas Negeri Jogjakarta pada tanggal 8 mei 2009, hal. 1
                [2] Anis Baswedan, Pendidikan Sebagai Rekayasa Struktural Masyarakat, dalam seminar diesnatalis PPMI ke-17 digedung rektorat Universitas Negeri Jogjakarta pada tanggal 8 mei 2009, hlm. 4-5
                [3] Rizal Mumaziq Zionis, Cermin Bening Dari Pesanten : Potret Keteladanan Para Kiai, (Surabaya: Khalista, 2009),  hlm. 33
[4] Tiar Anwar Bahtiar, Tokoh-Tokoh Pendidikan, http://republika.co.id/koran/155/61054/Tokoh_Tokoh_Pendidikan, di unduh 3 maret 2010
[5] Rizal Mumaziq Zionis, Op. Cit, hlm. 45-46

[6] Ibid, hlm. 52-53
[7] Lutfi, Warga Nahdiyin: Menyambut Kemerdekaan RI Ke-57 Tanpa Pesta, (Blitar: Buletin Suara NU, edisi V / Tahun I / Agustus), hlm. 3
[8] Rizal Mumaziq Zionis, Op. Cit, hlm 35-37
[9] Saifudin Zuhri, AlMaghfurlah KH. A. Wahab Chasbullah: Bapak dan Pendiri Nahdlatul Ulama, (Jakarta: Yayasan KH. A Wahab Chasbullah dan Yayasan Saifudin Zuhri, 1999), hlm. 48
[10] Ibid, hlm. 51
[11] Imam Mawardi, Ilmu Pendidikan Islam, http: Ilmu Pendidikan Islam « KULIAH Mr.Mawardi Rz.htm. diunduh pada tanggal 10 Maret 2010

0 comments:

Post a Comment