Ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam tidak
sepenuhnya bertolak belakang dengan ilmu pengetaguan barat. Ada segi-segi
tertentu yang merupakan titik persamaan. Hal ini di buktikan bahwa kebenaran
akal dan indera juga diakui. Banyak sekali ayat Al Quran yang menjelasjan
keduanya. Namun keduanya juga sangat terbatas dlam memecahkan masalah. Tidak
semua permasalahan dapat dipecahkan oleh akal dan indera. Karena keduanya
sangat terbatas, itulah akhirnya ilmu Islam dirancang dan dibangun selain berdasar kedua sumber di
atas, juga berdasarkan kekuatan spiritual yang bersumber dari Allah melalui
wahyu
1. Bersandar pada kekuatan spiritual
Manusia adalah makhluk yang lebih dari skedar bersifat
sensual, dia punya akal, punya hati nurani dan punya iman. Dalam keimanan
terdapat kekuatan-kekuatan spiritual yang luar biasa. Dalam hati juga
terdpat kekuatan spiritul. Indikasinya adalah bahwa hati nurani sseorang selalu
condong pada perbuatan-perbuatan baik yang diridhoi Tuhan. Pada akal juga
terdapat kekuatan spuiritual. Akal manusia mempunyai subtansi sumber dan
prinsipnya adalah Ilahi. Fazlur Rahman
menempatkan indera dan akal pada posisi sentral dalam memperoleh dan
mengembangkan pengetahuan. Namun dari
ketiganya, para filosof Muslim menempatkan wahyu di atas rasio. Hal ini
dikrenakan wahyu merupkan ajaran-ajaran Tuhan demi kemsalahatan manusia, dan wahyu
merupkan kebenaran yang mutlak. Oleh karena itu indera dan akal harus tunduk kepada
wahyu, karena wahyu merupakan petunjuk dari Allah selaku Tuhan pencipta
mannusia.
Kebenaran yang dirawarkan
oleh wahyu sering dipahami sebagai kebenaran apriori. Memang hal ini
ada benarnya jika dipandang dari sudut lmu pengetahuan manusia berdasarkan
ketentuan –ketentan Allah dalam kitab suci. Artinya kita mengetahui kebenaran
sesutu berdasarkan informasi wahyu, walaupun tanpa penelitian terlebih dahulu.
Tetapi dari sudut pengalaman bisa juga sebaliknya, yaitu aposteriori. Artinya
kita lebih lama mengalami atau mengamalkan sesuatu ajaran Allah tetapi belum tahu
rahasia ajaran tersebut dan mungkin kita baru tahu ketentuan-ketentuan yang
memerintahkan untuk mengamalkan sesuatu itu. Pendekatan
terhadap wahyu tersebut sering diremehkan oleh Ilmuwan Barat, kecuali sedikit
sekali. Hal ini berbeda
sekali dengan ilmu pengetahuan Islam yang menempatkan wahyu pada posisi dan
fungsi yang sangat strategis.
Di samping wahyu, kekuatan spiritual lain bisa berupa
intuisi. Seperti halnya wahyu, intuisi juga ditinggalkan Ilmuwan Barat, baik
sebagai sumber maupun sebagai pendekatan pengetahuan. Hanya saja Bergson
menyakini, bahwa baik dengan budi maupun dengan indera belaka, kita tak mampu
menyelami relitas sepenuhnya. Untuk itu kita harus menggunakan intuisi. Dikalangan
muslim intuisi menempati kedudukan yang paling baik sebagai sumber mupun pendekatan untuk
mendapatkan pegetahuan. Mereka lalu memafaatkan intuiasi dalam melakukan kerja
ilmiah untuk mendampingi akal, sehingga disamping ada target-terget yang harus
dicapai melalui pemikiran, juga mereka mengharapkan datangnya pengetahuan yang
sifatnya dianugerahkan melalui intuisi. Yang kemudian
Intuisi ini digunakan untuk menyempurnakan proses pemikiran mereka dalam
menggagas persoalan-persoalan ilmu.
Dengan demikian, disamping rasionalisme dan empirisme masih
terdapat cara untuk mendapatka penegtahuan yang lain yaitu intuiasi dan wahyu.
Sampai sejauh ini pengetahuan yang didapatkan secara rasioanl maupun empiris,
kedua-duanya merupakan induk produk dari sebuah
penalaran sedangkan pengetahuan yang didapatkan melalui wahyu dan
intuisi diyakni lagsung dari Allah. Sebenarnya
metode ynng dimiliki oleh pemikir Islam lebih banyak dari Ilmuwan Barat,
seharusnya pengetahuan pemikir muslim lebih maju di atas ilmu pengetahuan yang
lahir dari barat, namuan kenyataannya pada saat ini, ilmu yang dihasilkan oleh
Ilmuwan Barat lebih mendomiasi ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa
masih ada yang salah dengan para pemikir muslim.
2. Hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal
Karakter ilmu dalam Islam yang kedua adalah didasarkan pada
hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal. Keduanya tidak dipertentangkan
karena memiliki titik temu. Atas dasar dan pertimbangan inilah pendamaian
filsafat dan agama menjadi harapan dan aspirasi seluruh filosof muslim.
Rata-rata mereka memiliki konsep yang sangat mesra atau harmonis hubungan
antara wahyu dan akal, atau antara agama dengan filsafat. Hal ini menjelasakan
bahwa ilmu Islam tidak memppertentangkan antara wahyu dan akal.
Namun tradisi pemikiran seperti ini tidak bisa terjadi
dikalangan para ilmuwan pada umumnya, terutama para ilmuwan barat. Mereka dapat
menerima bahkan menerapakan, bahwa akal sebagai sumber untuk mendapatkan
kebenaran pengetahuan. Namaun mereka menolak wahyu sebagai alat yang dipakai
untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah. Kedunya praktis putus satu sama lain yag
tidak bisa disatukan. Merek kurang menyadari bahwa sesunguhnya ilmu tanpa
didampingi agama akan menyimpang dari akidah yang benar atau kebablasan,
seperti kecondongan mendewakan akal, sedangkan agama tanpa didampingi ilmu akan
dirasakan sebagai doktrin-doktrin semata yanng membelenggu penalaran dan
pemikiran seseorang, karena tidak ada penjelasan-penjelasan yang memadai dari
agama, yang ada hanya ketentuan-ketentuan normatif.
Salah satu sebab berkembngnya kecenderungan dikotomi tersebut
adalah kegagalan manusia (Muslim) memahami secara proporsional hubungan antara
ilmu dan agama. Mereka terjebak oleh pandangan ilmuwan barat mengenai hubunngan
antara agama dan ilmu pengetahuan. Pandangan
ilmuwan barat secara historis dan psikologis dapat dimaklumi, karena
sebelum masa renaissance terjadi pertentanngan yang hebat antara doktrin
agama (Kristen) dengan temuan ilmu pengetahuan yang menyebabkan banyak sekali
korban di kalangan ilmu pengetahuan. Nmun kasus tersebut tidak pernah terjadi
dalam dunia Islam. secara historis umat Islam dapat mencapai keayaan ustru
karena disemangati oleh Islam. Ibn Rusyd menegaskan “sekiranya tidak terdapat
perselisihan dalam pandangan Islam antara agama dan akal, maka keduanya adalah
jalan mencapai kebenaran tunggal, dan sebagai sarana mencapai satu tujuan
yaitu, kebaikan manusia dan kebahagiaannya.” Filsafat dan agama dengan demikian
sama-sama bertujuan untuk mencapai kebenaran.
Mengenai hubungan timbal balik antara keduanya, Al-Isfahani
menggambarkan bahwa “tanpa wahyu akal tidak sepantasnya dipedomi, dan tanpa
akal, wahyu tidak dapat dicapai scara eksplisit kebenarannya. ” Einstein
mengatakan “ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh.”
Dengan demikian pada dasarnya tidak ada kontradiksi dan
dikotomi antara sains dan agama. Juka sepintas tampak adanya kontradiksi dan
dikotomi yang selama ini dianggap terjadi antara agama dan ilmu pengetahuan,
sesungguhnya merupakan persepsi ilmuwan barat lantaran mereka pernah mengalami
sejarah hitam yang berkaitan denga pertentangan agama melawan ilmu pengetahuan,
sehingga melumpuhkan perkembangan peradabannya. Namun bagi pemikir Islam, ilmu
pengetahuan perlu mendapatkan bimbingan agama, sedangkan agama perlu didampingi
ilmu pengetahuan.
3. Interpendensi akal dan intuisi
Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun
adakalanya atas kerjasama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki
keterbatasana-keterbatasan yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang
sifatnya pemberian atau bantuan, sedangken pemberian dari intuisi masih belum
tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan
pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu. Dengan pengertian lain akal membutuhkan
intuisi dan begitu pula sebaliknya, intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling
membutuhkan bantuan dari pihak lainnya untuk menyempurnakan pergerakan yang
dicapai masing-masing.
Pascal melihat dengan jelas bahwa, perkembangan rasional
tidak akan pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang paling esensial. Bukan
lantaran pikirannya melainkan berkat rahmat Tuhnlah paradoks-paradoks
eksistensi manusia bisa teratasi. Maka kita harus menyadari terhaddap
kelemahan-kelemahan akal manusia agar kita tdak sampai berbuat sesat dengan
mendewakan akal. Rahmat Allah itulah yang paling menentukan dan memuaskan dalam
menjawab atau memecahkan persoalan-persoalan pelik yang dihadapi manusia.
Rahmat Allah itu mencakup juga intuisi, sehingga intuisi banyak membantu kerja
akal dalam memahami kebenaran dan mencapai pengetahuan. Hasi pemikiran
rasioanal dikenal dengan pengetahuan perolehan, sedangkan hasil dari pengeahuan
intuisi dikenal dengan pengetahuan yang dihadirkan.
Kedua macam pengetahuan ini memiliki ciri masing-masing.
Penegtahuan yang dicapai atau pengetahuan perolehan bersifat tak langsung,
rasioanal, logis dan diskursif. Sedang pengetahuan yang dihadirkan bersifat
langsug, serta merta, suprarasioanl, intuitif, dan kontemplatif. Ciri-ciri
tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara pengetahuan perolehan dengan
pengetahuan yang dihadirkan, namun keduanya tidak untuk dipertentangkan dalam
semua aspeknya, melainkan ada indikasi perbedaan tingkatan. Misalnya sifat
rasional peda pengetahuan perolehan dan suprarasional pada pengetahuan yang
dihadirkan sesungguhnya tidak bertentangan. Hanya saja sesuatu yang
suprarasioanal berada di atas derajat rasioanal, karena berada di luar jangkaun
rasio, seperti supraindera berarti di atas indera.
4. Memiliki orientasi teosentris
Bertolakdari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari Allah
dan ini merupakan salah satu perbedaan mendasar antara ilmu dengan sains, ilmu
dalam Islam memilki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Artinya ilmu
tesebut mengemban nilai-nilai ketuhanan, sebagai nilai yang memberikan
kesejahteraan dan kedamaian bagi semua makhluk. Sebaliknya ilmu tersebut tidak
boleh menyimpang dari ajaran-ajaran allah. Jika sains Barat tidak memiliki
kepedulian kepada Tuhan, maka ilmu dalam Islam selalu diorientasikan kepada Allah
untuk mencapai kebahagiaan hakiki.
Ilmu dalam Islam selain berdasar fakta empiris dan akal, juga
berdasarkan wahyu (agama). Wahyu mencakup berbagai dimensi persoalan; muai ari
permasalahan yang berkaitan ddengab pengalaman atau pengetahuan sehari-hari (knowlodge),
ilmu pengetahuan (science), filsafat yang mengandalkan potensi akal, dan
persoalan-persoalan suprarasioanal (di atas jangkauna akal). Pada persoalan
terakhir ini menjadi wilyah jealajah agama dan di luar jangkauan ilmu maupun filsafat.
Ketika mengemukakan permsalahan yang berkait dengan dimensi spiritual atau
traansendental, maka ilmu dalam Islam juga menggarap wilayah di luar jelajah
ilmu dan filsafat tersebut. Dengan demikian ilmu dalam Islam berlapis ganda;
lapis indera, lapis akal dan lapis iman. Sebab itulah ilmu dalam Islam memiliki
kandungan informasi dan pembahasan yang
jauh lebih mendalam daripada sains, karena ilmu dala Islam di samping melalui
proses yang bisa dilalui oleh sains juga mendapatkan bahan-bahan informasi dari
Tuhan melalui wahyu. Dengan demikian ilmu dalam Islam memiliki sesuatu yang
dimiliki dan tidak dimiliki oleh sains. Disinilah letak kelebihan atau
keunggulan ilmu dalam Islam di banding sains. Adapun kelebihan itu terletak
pada faktor transedental.
5. Terikat nilai
Mengingat ilmu dalam Islam dipengaruhi dimensi spiritual,
wahyu, intuisi, dan memiliki orientasi teosentris, konsekuensi berikutnya
sebagai salah satu ciri ilmu tersebut adalah terikat nilai. Ini sangat
membedakan dengan sains barat, karena semangat tradisi ilmiah barat senantiasa
berusaha menegaskan, bahwa ilmu itu nertal atau bebas nilai, tidak boleh
terikat nilai tertentu. Bahkan menurut pandangan barat, salah satu sarat
keilmiahan adalah bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan
fakta apa adanya dan tidak boleh dipengaruhi oleh fakta apapun.
Orang-orang barat merasa resah terhadap dampak negatif dari serangkaian
kemajuan yang berhasil dicapai. Kondisi demikian ini secara langsung maupun tidak langsung adalah akibat dari sains
barat yang tidak dibangun di atas landasan etika. Berbeda dengan tradisi barat
tersebut, tradisi keilmuan Islam sejak dini memiliki perhatian besar pada
etika. Pada prinsipnya etika diyakini memiliki peranan yang sangat besar dalam
menuntun perkembangan pengetahuan dan respons masyarakat, sehingga pertimbangan-pertimbangan
aksiologis selalu ditempatkan menyertai pertimbanngan-perimbangan
epostemologis, agar di samping mampu mencapai kemajuan juga mampu
mempertahankan keutuhan moralitas yang positif. A. Rashid Maten menegaskan “Dalam
Islam ilmu harus didasarkan nilai dan harus memiliki fungsi dan tujuan” dengan
kata lain, pengetahuan bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi menyajikan jalan
keselamatan, dan agaknya tidak seluruh pengetahuan melayani tujuan ini.






rujuakan dari mana?
ReplyDeletetlg kirim di 083876848481 ya? mksi
ReplyDeletesemua ada di daftar rujukan gan
ReplyDelete