Definition List

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

October 24, 2018

BENDERA, KALIMAT TAUHID DAN TEMPURUNG JAHAT


BENDERA, KALIMAT TAUHID DAN TEMPURUNG JAHAT

oleh: Ach Dhofir Zuhry*

Insiden pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh oknum Banser di Garut-Jawa Barat bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) sontak menjadi isu nasional, terutama di jagat maya.

Terang betul, karena Presiden RI yang meresmikan HSN tiga tahun silam, ia juga sering bersilaturrahmi ke Pesantren-pesantren dan memang lebih sering sarungan, pendek kata, Presiden sudah semakin santri. Yang belum terang adalah, mengapa bendera HTI berkibar di tengah gegap-gempita HSN? Tak hanya berkibar, ia juga pasti berkabar akan satu hal, dan lantas membuat kita semua berkobar.

Adakah ini murni peristiwa pembakaran atau ada meta-peristiwa dan intrik politik yang beraroma provokasi dengan bumbu-bumbu membenturkan Santri, Banser, NU, Kepolisian dan ormas-ormas lainnya? Siapa tukang kompor dan tukang kipas di balik ini semua? Sekalian kita tunggu tukang sabun dari peristiwa ini. Tiga jenis "tukang" yang saya sebutkan di atas jumlahnya kian masif belakangan ini.

"Kalimat tauhid sengaja dibakar Banser! NU harus bertanggung jawab! Ini penistaan agama dan pelecehan terhadap 1,8 milyar umat Islam! Polisi harus segera mengusut! Negara tidak boleh memihak! Bubarkan Banser, bekukan NU!", lebih-kurang teriakan-teriakan provokatif dari tempurung-tempurung jahat semacam ini akan menghiasi media-media (elektronik dan cetak) beberapa hari ke depan, bahkan hingga Pilpres nanti.

Namun demikian, benarkah Banser membakar kalimat tauhid? Bisakah manusia merendahkan Tuhan yang Mahatinggi? Bisakah manusia meludahi langit? Sama sekali tidak, Banser tidak membakar kalimat tauhid, yang dibakar adalah bendera organisasi terlarang yang menolak Pancasila dan merongrong kedaulatan Negara.

Sama halnya jika Anda membakar bendera PKI, apakah itu berarti Anda membakar palu, arit, semangat pertanian dan perkebunan, semangat marhaenisme dan sosialisme? Saya kira, nyaris setiap muslim pernah membakar Al-Qur-an, terutama yang sudah lapuk dan bolong-bolong, hal ini justru untuk memuliakan Kitab Suci, agar tidak terinjak-injak dan tergeletak di sembarang tempat. Bukankah seluruh Hadits Nabi pernah dibakar Khalifah Umar ra lantaran beliau pernah mendengar sabda Nabi, "jangan kalian tulis apapun dariku kecuali Al-Qur'an". Ini jelas bahwa sayyidina Umar tidak membakar Hadits, malah menggagungkannya. Beliau melakukan itu semata agar proses kodifikasi Al-Qur'an tidak bercampur teks yang lain, sebab tempurung-tempurung jahat mengintai di nama-nama. Satu lagi, bukankah Nabi Muhammad saw juga pernah membakar masjid? Salahkah Nabi?

HTI dan tempurung-tempurung jahat yang menungganginya telah lama mengincar skenario ini. Hanya dengan  skenario-skenario murahan macam ini simpatik pada HTI akan bisa digoreng sedemikian rupa. Ini pekerjaan para tengkulak politik dan makelar kekuasaan untuk merongrong kedaulatan NKRI. Terutama karena ini memang tahun-tahun politik, penuh gorengan dan intrik.

HTI itu bukan agama, ia tak berhak mengatasnamakan agama dalam setiap propagandanya. Mari berpikir jernih, mengapa banyak saudara kita yang tidak bisa membedakan mana kedelai mana tempe, mana agama mana keagamaan, mana putih mana keputihan? Islam itu ibarat kedelai, Banser dan NU itu ibarat tempe, artinya, ia adalah kreatifitas canggih umat Islam Nusantara yang diolah dari "kedelai" sebagai sumber dan bahan dasarnya. Nah, HTI itu apa? Ia adalah ampas dari ampas dari ampasnya ampas "tempe" yang dipoles seolah-oleh "kedelai asli" oleh tempurung-tempurung jahat dan anehnya diterima oleh mereka yang otaknya cingkrang, nalarnya sempit, moralitasnya banal, mereka memekik takbir di jalanan bukan untuk menggagungkan Tuhan, tapi justru menghina dan menyepelekan Tuhan dengan memperjualbelikan agama demi kekuasaan dan selangkangan politik.

Mereka, para tempurung jahat itu sengaja dan memang cari makan di sana, untuk terus membenturkan NU dengan Negara, dengan ormas lain, bahkan dengan sesama Nahdliyyin dengan terus menebar kebencian dan fitnah. HTI memang bubar, tapi para penunggang dan pemegang remotenya akan tetap ada, ia akan tetap dipoles, diplintir dan dijual dengan isu-isu SARA.

Hingga saat ini, para ahli (filsafat) komunikasi sependapat bahwa penggunaan emosi dan kebencian memang sangat mudah menyulut provokasi, pertengkaran, dan akhirnya bisa menimbulkan malapetaka (inter)nasional.

Tokoh propaganda komunis dari Rusia bernama Anatoly Lunacharsky (1875-1933 M), seorang revolusioner Marxis dan komandan Rakyat Soviet Bolshevik pertama, mengatakan, “Singkirkan sejauh mungkin kata-kata penuh kasih, gunakan kebencian. Hanya dengan kebencian, kita menguasai dunia!”

Rupanya metode yang digunakan dalam agitasi komunisme itu belakangan digalakkan kembali oleh tempurung-tempurung jahat dengan politik identitas sebagai modal utama dan agama sebagai kendaraannya, bahkan kini cuma dengan bendera. Nah, bagaimana melawan syiar mereka? Dengan tidak menjadi seperti mereka, dengan tetap menjaga kewarasan dan merekat kebinekaan. Indonesia ini didoakan sang Nabi, disujudi para Wali, ditangisi para Kiai dan terus dirawat oleh para Santri. Siapa datang mengancam, akan binasa!

___
*Penulis adalah Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen, pendiri Sekolah Tinggi Filsafat Al-Farabi Malang. Buku terbarunya: PERADABAN SARUNG (Veni, Vidi, Santri) dan KONDOM GERGAJI.

Dua Burung Elang

Ada orang Melatih burung terbang

Selamat pagi sahabat, semoga hari ini sehat dan semangat untuk memulai aktifitas. Copas artikel pilihan buat sahabat pagi ini. Baca 3 menit Untuk perubahan. Ini kisah sdh sering diceritakan sejak 250 tahun silam. 

>>>>Suatu hari seorang Raja mendapat hadiah 2 ekor anak burung elang. Lalu dia berpikir, akan bagus sekali jika elang ini dilatih untuk terbang tinggi.

Tentu akan lebih indah lagi. Ia memanggil pelatih burung yang tersohor di negerinya untuk melatih 2 elang ini. Setelah beberapa bulan, pelatih burung ini melapor :

"Seekor elang telah terbang tinggi & melayang² di angkasa. Namun yang seekor lagi tidak beranjak dari pohonnya."

Raja pun memanggil semua ahli hewan untuk memeriksa elang kesayangannya ini namun tidak ada yang berhasil menyembuhkan & membuat elang ini terbang.

Berbagai usaha telah dilakukan, tetapi elang ini tidak kunjung bergerak dari dahannya. Kemudian ia bertemu dengan petani yang sangat mengenal akan sifat elang & Raja meminta bantuan petani itu.

Keesokan harinya ketika Raja mengunjungi elang ini, ia kaget melihat elang ini sudah terbang tinggi. Dengan penuh penasaran Raja bertanya kepada petani, apa yang ia lakukan.

"Saya hanya memotong cabang pohon yang selama ini dihinggapinya" kata petani.

Ternyata dahan itu yang membuatnya selama ini nyaman sehingga malas untuk terbang.

July 19, 2018

MOTIVASI ORGANISASI

 Materi I "Motivasi Organisasi"
Oleh: Iftitakhul Muhlasin, S.Pd.I (Kepala Urusan Perencanaan Desa Banggle)


  1. 1.    Definisi Motivasi
 
Motivasi adalah suatu kondisi atau keadaan yang mendorong, merangsang atau menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu atau  kegiatan yang dilakukannya sehingga ia dapat mencapai tujuannya, Motivasi merupakan fungsi dari berbagai macam variable yang saling mempengaruhi. ia merupakan suatu proses yang terjadi dalam diri manusia yang secara psikologis terjadi interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi, proses belajar dan penyelesaian persoalan. Untuk memberikan pemahaman yang lebih luas tentang motivasi perlu terlebih dahulu mengemukanakan pengertian motivasi.
                 Istilah motivasi berasal kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu. Dalam bahasa latin motivation berasal dari kata movere, yang berarti “to move” (Husaini, 2013). B. Uno (2009) mengemukakan bahwa motif dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) macam yaitu (1) motif biogenetis, yaitu motif-motif yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan organisme demi kelanjutan hidupnya, (2) motif sosiogenetis, yaitu motif-motif yang berkembang berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang tersebut berada, dan (3) motif teologis, dalam motif ini manusia adalah makluk yang berkeTuhan-an, sehingga ada interaksi antara manusia dan Tuhan-Nya. Secara etimologi motivasi berasal dari bahasa latin yaitu “Movere” yang berarti dorongan atau daya penggerak.

Menurut Sardiman (2000) fungsi motivasi belajar ada tiga yakni sebagai berikut:
  1. Mendorong manusia untuk berbuat serta sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
  2. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
  3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan yang tidak bermanfaat dengan tujuan tersebut.
            Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tentang motivasi, maka definisi motivasi dapat disimpulkan bahwa, motivasi merupakan suatu dorongan dalam diri individu yang merangsang atau menggerakan kegiatan kearah tertentu untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkannya.

     2.    Definisi Organisasi.
            Manusia adalah mahluk sosial yang cendrung untuk bermasyarakat serta mengatur dan mengorganisasi kegiatan dalam mencapai suatu tujuan tetapi karena keterbatasan kemampuan menyebabkan mereka tidak mampu mewujudkan tujuan tanpa adanya kerjasama. Organisasi merupakan pengelompokkan orang-orang kedalam aktivitas kerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
            Kata organisasi berasal dari kata “organism” yaitu menciptakan struktur dengan bagian-bagian yang diintegrasikan sedemikian rupa, sehingga satu sama lain terkait oleh hubungan terhadap keseluruhan. Bebeapa pendapat tentang pengertian organisasi adalah:
      1.      Menurut Ernest Dale: organisasi adalah suatu proses perencanaan yang meliputi penyusunan, pengembangan, dan pemeliharaan suatu struktur atau pola hubungan kerja dari orang-orang dalam suatu kerja kelompok.
      2.      Menurut Cyril Soffer: organisasi adalah perserikatan orang-orang yang masing-masing diberi peran tertentu dalam suatu sitem kerja dan pembagian dalam mana pekerjaan itu diperinci menjadi tugas-tugas, dibagikan kemudian digabung lagi dalam beberapa bentuk hasil.
      3.      Menurut Kas dan Rosenzweig: organisasi adalah sub sistem teknik, sub sistem struktural, sub sistem pshikososial dan sub sistem manajerial dari lingkungan yang lebih luas diman ada kumpulan orang-orang berorientasi pada tujuan.
                        Secara umum definisi organisasi adalah kelompok orang yang secara bersama-sama ingin mencapai tujuan. Organisassi dipandang sebagai gambaran jaringan hubungan kerja yang sifatnya formal serta tergambar pada kedudukan dan jabatan yang diduduki oleh seseorang sebagai alat pencapain tujuan yang telah ditentukan sebelumnya yang strukturnya bersifat relatif permanen tanpa menutup kemungkinan terjadinya peorganisasi apabila dipandang perlu, baik demi percepatan laju usaha pencapain tujuan maupun dalam usaha peningkatan efisien, efektifitas dan produktifitas kerja.

     B.   Pentingnya motivasi dalam organisasi
Mengarahkan atau menggerakkan individu dalam organisasi untuk mau bekerja adalah suatau keahlian dan kemampuan dalam memotivasi organisasi tersebut. Berdasarkan tujuan yang ingin di capai, manusia akan termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan yang dimilikinya, hal ini sejalan dengan Robins yang mengemukankan bahwa “motivasi organisasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual”. motivasi ini dapat juga dikatakan sebagai energi untuk membangkitkan dorongan dan upaya dalam diri individu untuk mengatasi segala tantangan dan hambatan dalam upaya mencapai tujuan. Seseorang yang memiliki kebutuhan atau motivasi untuk berprestasi merupakan sumber daya manusia yang diperlukan dalam mencapai keberhasilan. Oleh karena itu setiap orang yang memiliki kebutuhan akan prestasi adalah pribadi yang dinamis, kreatif, partisipatif dan optimistik dalam melakukan setiap perbuatan dalam belajar.
Motivasi sudah jelas sangat dibutuhkan dalam diri setiap orang, selain untuk menghilangkan kejenuhan juga untuk bisa meraih segala sesuatu yang dicita-citakannya. Secara individual upaya motivasi bisa dilakukan melalui upaya-upaya mengontrol, menilai lalu memotivasi diri sendiri, namun adakalanya kesadaran untuk memotivasi diri tidak muncul dalam diri seseorang karena itu diperlukan motivasi eksternal yang bisa berasal dari keluarga, teman, guru dan lainnya.


Ada dua sumber motivasi yang selalu harus tumbuh dalam setiap diri individu yaitu:
     1.    Motivasi internal.
Yaitu motivasi dari dalam diri, dari perasaan dan pikiran sendiri yang tidak perlu adanya rangsangan dari luar, orang yang memiliki motivasi internal akan memandang dirinya secara positif.
     2.    Motivasi eksternal.
Yaitu motivasi dari luar atau mendapatkan rangsangan dari luar. Sebagai contoh, seorang anak mendapat dukungan dari orang tuanya atau gurunya maka ia akan termotivasi untuk mendapatkan hasil yang baik karena pengaruh lingkungannya.
Kedua motivasi ini akan terlihat baik jika keduanya dikombinasikan dan tumbuh dalam sertiap individu. Namun dari kedua motivasi ini maka motivasi internal-lah yang harus ada, karena motivasi yang datang dari dalam diri sendiri akan membuat seseorang lebih semangat dan terdorong untuk berusaha mencapai tujuannya
E.       Fungsi Motivasi dalam Organisasi  
            Dalam ilmu organisasi, motivasi adalah hal yang selalu dibicarakan. Seorang pimpinan organisasi harus memberikan motivasi kepada anggotanya dengan hal-hal tertentu jika ingin organisasinya menghasilkan sesuatu yang menjadi harapannya. Sebelum pengembangan organisasi dilakukan, motivasi harus terlebih dahulu dilaksanakan oleh pimpinan, karena pimpinan tidak dapat mengarahkan para anggotanya kecuali jika mereka dimotivasi untuk bersedia mengikutinya. Dengan motivasi yang baik dari pimpinannya membuat para anggota organisasi akan merasa senang dan bersemangat dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan organisasi sehingga mengakibatkan perkembangan dan pertumbuhan yang baik pada organisasi yang dipegang oleh pimpinan tersebut.
            Namun motivasi bukan hanya dilaksanakan oleh pimpinan saja akan tetapi juga dari diri pribadi seseorang yang mendorong keinginan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan yang diharapkan. Adapun fungsi motivasi adalah meningkatkan efektifitas pimpinan dalam memotivasi, mempengaruhi, menggerakkan dan berkomunikasi dengan anggota-anggotanya sehingga menjadikan mereka bersemangat dalam menjalankan pekerjaan-pekerjaannya untuk mencapai tujuan bersama.

November 4, 2017

Peran Pemuda Dalam Pembangunan Desa


Peran Pemuda Dalam Pembangunan Desa
Oleh : Iftitakhul Muhlasin, S.Pd.I
Pendamping Desa Kecamatan Kanigoro


Berbicara mengenai peran pemuda dalam pembangunan desa tidak dapat kita terangkan secara sederhana seperti seorang ayah yang bekerja di sawah kemudian di bantu oleh seorang anaknya yang kuat dan perkasa. Berbicara mengenai pemuda ada berbicara masa depan dan segala pemikiran yang mengarah pada masa depan.
Menurut saya pemuda adalah semua orang, baik remaja maupun dewasa, yang masih memiliki jiwa revolusi dan suka dengan segala gejolak perubahan. Seorang pemuda adalah seorang yang jiwa dan akalnya masih dalam tahap perkembangan akhir untuk menemukan karakter sejati dari dirinya sendiri. Ia adalah jiwa yang sangat suka untuk mencoba hal-hal baru dan suka untuk menciptakan hal-hal yang baru pula. Jadi jika Anda sekalian yang hadir di sini mengaku berjiwa muda namun sedikit pun tidak pernah ikut memikirkan masa depan masyarakat terdekat. Tidak pernah dan tidak mau memberi kontribusi bagi masyarakat terdekat. Maka silahkan ditinjau kembali pengakuan Anda sekalian, sebelum dikoreksi oleh orang-orang terdekat Anda.
 Peran pemuda yang pertama adalah memperdalam ilmu dan pulang kembali ke desa untuk menyampaikannya ke masyarakat. Riilnya adalah seperti ini, jika seorang bersekolah maka hendaklah bersungguh-sungguh dan mengerti apa tujuan utama ia bersekolah. Yaitu melakukan perbaikan diri. Hasil yang ia capai hendaknya tidak hanya semata-mata digunakan untuk mencari harta, tapi juga untuk pengabdian. Ia tularkan ilmu yang telah didapatkannya kepada masyarakat, baik anak-anak maupun dewasa sesuai dengan kapasitas dan daya tangkap masyarakatnya.
Peran selanjutnya adalah menjadi delegasi dan wakil terdepan dalam berbagai ajang kompetisi masyarakat. Kompetisi di sini tidak boleh dipahami secara sempit hanya sebatas perlombaan. Tetapi bagaimana, pemuda memiliki daya saing yang handal dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Sehingga desa ini diperhitungkan oleh masyarakat lain maupun pemerintah, karena kualitas dan kuantitas pemuda yang ada.
 Sikap Masyarakat desa yang acuh tak acuh terhadap keadaan desa dan hanya bisa menerima apa adanya terhadap perkembangan desa akan sangat sulit untuk  dapat berkembang dan maju lebih cepat sebagaimana yang diharapkan. Karena banyak kasus yang terjadi baik dalam rencana pembangunan, maupun pelaksanaannya yang terkadang tidak transparan terkait pendanan yang di gunakan. Hal ini akan menjadi pemicu penghambat dalamp proses kemajuan desa karena sebanyak apapun anggaran yang  pemerintah kucurkan untuk pembangunan desa  tapi tidak di kelola dengan baik maka akan hanya melahirkan sebuah peluang tindakan korupsi
Berangkat dari Undang Undang republik Indonesia no 6 tahun 2014 tentang Desa Paragraf 3 dalam hal Pemantauan pembangunan desa Pasal 82 yang berbunyi: 
a.       Masyarakat desa berhak mendapatkan informasi mengenai rencana dan pelaksanaan pembangunan desa.
b.      Masyarakat desa berhak melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan pembangunan desa.
c.       Masyarakat desa melaporkan hasil pemantauan dan berbagai keluhan terhadap pelaksanaan pembangunan desa. kepada Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa.
d.      Pemerintah Desa wajib menginformasikan perencanaan dan pelaksanaan Rencana Pembangunan. Jangka Menengah Desa, Rencana Kerja Pemerintah Desa, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. 
e.       Kepada masyarakat desa melalui layanan informasi kepada umum dan melaporkannya dalam Musyawarah Desa paling sedikit 1 (satu) tahun sekali.
f.       Masyarakat desa berpartisipasi dalam Musyawarah Desa untuk menanggapi laporan pelaksanaan pembangunan desa.
Berdasarkan ketentuan yang mengedepankan sebuah nilai-nilai Demokrasi yang  dibuat oleh pemerintah terkait pembangunan desa tentu memiliki tujuan agar apa yang diharap oleh pemerintah dan masyarakatnya dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan mengacu kepada Peraturan Pemerintah Pusat No. 6 tahun 2014 bahwa desa diberikan wewenang dalam mengembangkan dan memajukan desa yang bersangkutan dengan diberikan anggaran miliyaran pertahunnya. Dalam hal ini banyak para masyarakat yang masih meragukan terhadap kridibilitas pemerintah desa dalam keberlanjutan pembangunan desa dengan anggaran tersebut.  Keraguan tersebut berdasarkan fakta yang pada saat ini masih banyak pelanggaran yang dilakukan oleh kepala desa baik dalam pembangunan maupun dalam kebijakan mengenai aset Desa.
Dalam permasalahan ini tentu Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat tidak bisa melakukan kontroling setiap waktu terhadap kinerja di pemerintahan desa karena selain jarak tempu, dan akses yang belum memadai  sehingga masih sulit mendapatkan informasi terkait kinerja desa. Maka kemungkinan besar akan banyak pelanggaran yang dapat dilakukan oleh pemerintah desa mengingat sikap acuh masyarakat dan tidak di dukung oleh pemerintah desa yang memiliki kualitas dan kesadaran untuk memberikan informasi atau mempublikasikan terkait segala hal yang menyangkut pelaksanaan pembangunan desa.
Melihat kasus ini tentu harus ada solusi agar apa yang termandat dalam UU Desa no 6 Tahun 2014 dapat terjacapai sebagaimana yang diharapkan, maka dari itu hal ini sangat erat kaitannya dalam peran aktif pemuda yang berasal dari desa tersebut. Khususnya mahasiswa, dapat turut aktif mengontrol dan memantau kinerja desa agar tidak terjadi kesenjangan pembangunan antara masayarakat dan pemerintah desa. Terkait pemantauan ini sangat penting dilakukan agar pembangunan desa dapat bersinergidengan apa yang di harapan oleh pemerintah dan masyarakat setempat.
Ditengah acuh tak acuh sikap masyarat  desa, proses pembangunan menuntut pemuda untuk mengambil peran aktif dalam pengawasan guna menghidupkan harapan yang sudah termandat. Pemuda sebagai manusia yang masih memiliki idealisme dan kecakapan dalam menentukan semangat pembangunan, pemuda haruslah berada di ruang penyeimbang yang dapat menjawab tantangan yang akan dihadapi ke depan.
Mengingat pemuda sebagai agent of chane and agent of controling dalam sebuah perubahan tentu pemuda harus menjadi solusi ketika di hadapkan dengan sebuah tantangan menyambut sebuah perubahan. Peran aktif pemuda memang selalu diharapkan tak terkecuali dalam proses pembangunan desa
Sebagaimana yang telah di atur dalam UU desa no 6 tahun 2014 pasal 83 tersebut masyarakat maupun pemuda tidak perlu takut mendapatkan intervensi dari manapun untuk mencari atau meminta informasi terkait dengan peranan dan perencanaan pembangunan desa karena memang sudah kewajiban pemerintah desa untuk memberikan Informasi serta melayani keperluan segala hal yang menyangkut desa.
Melihat tantangan dalam proses pembangunan desa kedepannya sangat di perlukan pemuda dalam mengawasi serta mengontrol kebijakan maupun pembangunan di pemerintah desa. Karena selain pemuda memiliki idealisme yang sangat tinggi, juga tidak banyak memiliki kepentingan terselubung dalam melakukan aktivitasnya. Maka dari itu penulis berharap dengan adanya tulisan ini pemuda dapat ikut sadar dan berperan dalam suatu pembangunan desa kedepanya. Baik dalam proses pengawasan pembangunan, perencaan, maupun dengan pendanaan desa. Hal ini sangat erat kaitan dengan hal-hal yang tidak di inginkan kedepannya, seperti korupsi dan lainya yang dapat merugikan negara Indonesia dan rakyatnya.

May 6, 2014

MAKALAH MANAJEMEN KURIKULUM




MAKALAH
MANAJEMEN KURIKULUM
Dosen Pengampu :
Dr. Hj. A. SULISTYORINI, M. Ag.
STIT LOGO ijo copy













Oleh :
ANIK NURUS SANIYAH
HENI KUSTANTO
SUGENG
UMA AZIFATUL



SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL-MUSLIHUUN
TLOGO-KANIGORO-BLITAR
2012/2013



KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmatNya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ manajemen kurikulum” yang merupakan salah satu tugas mata kuliah manajemen lembaga pendidikan islam.
Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis telah mendapat banyak bantuan dan masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1.       Ibu Dr. Hj. A. Sulistyorini, M.Ag. selaku dosen mata kuliah  Lembaga Pendidikan Islam yang telah memberikan tugas yang bermanfaat bagi penulis di kemudian hari.
2.       Pihak – pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah turut membantu sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dalam waktu yang tepat.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, namun demikian telah memberikan manfaat bagi penulis. Akhir kata penulis berharap makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Kritik dan saran yang bersifat membangun akan penulis terima dengan senang hati.


Blitar, 25 Februari 2013



Penulis

















BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG

Sekolah merupakan salah satu institusi sosial yang memiliki strategi dalam membina kepribadian anak. Di sekolah akan terjadi proses transformasi kebudayaan kepada anak. Tentunya proses transformsi tersebut berlangsung sesuai kurikulum yang berisikan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka kurikulum tidak dapat di buat sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Apabila penyusunan kurikulum tidak mempunyai landasan yang kuat maka akan dapat berakibat buruk terhadap pendidikan. Sebaliknya ketika penyusunan kurikulum tersebut mempunyai landasan yang kuat maka pendidikan akan berjalan sesuai dengan visi dan misi suatu lembaga.

Dari sedikit penjelasan di atas maka kami akan mencoba membahas mengenai namanajemen kurikulum pada lembaga pendidikan islam.

B.     RUMUSAN MASALAH
Dari uraian latar belakang di atas maka rumusan maalah dari makalah ini adalah :
1.      Apa yang dimaksud dengan manajemen kurikulum?
2.      Bagaimana manajemen  kurikulum pendidikan islam?

C.     TUJUAN
Dari beberapa rumusan masalah diatas maka tujuan dari makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan manajemen kurikulum.
2.      Untuk mengetahui manajemen kurikulum dalam lembaga pendidikan islam.















BAB II
PEMBAHASAN

A.     MANAJEMEN KURIKULUM
1.      Pengertian Manajemen Kurikulum
Management secar umum yaitu mengurusi, manajemen adalah kegiatan seseorang dalam mengatur organisasi, lembaga, atau sekolah yang bersifat manusia atau non manusia, sehingga tujuan organisasi, lembaga atau sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien. [1] Kurikulum berasal dari bahasa yunani kuno curir dan curere. Curir artinya pelari dan curere artinya tempat brpacu. Jadi curriculum diartikan jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Dari makna yang terkandung berdasarkan rumusan kata tersebut, kurikulum dalam pendidikan diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan anak didik untuk memperoleh ijazah.[2]
Dalam kosa kata arab, istilah kurikulum dikenal dengan istilah manhaj, yakni jalan yang terang, atau jalan terang yang dilalui manusia dalam bidang kehidupannya. Dalam konteks pendidikan, kurikulum berarti jalan terang yang dilalui oleh pendidik/ guru peserta didik untuk menggabungkan pengetahuan, keterampilan dan sikapsertanilai-nilai.[3]
J.Galen dan William M.Alexander dalam bukunya curriculum planning for batter teaching and learning, seperti yang dikutip oleh Moh. Yamin, memberikan definisi kurikulum sebagai “The sum total of school’s to influence learning, wheter in the classroom, on the playground or out of school.” Maka dalam konteks ini, segala usaha sekolah guna mempengaruhi peserta didik untuk belajar di dalam kelas, di halaman sekolah, atau di luar sekolah disebut sabagai kurikulum, termasuk dalam hal ini adalah kegiatan ekstrakulikuler.
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 19, kurikulum didefinisikan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.[4]
Prof. I.P. Simanjutak mengkaji kurikulum dari beberapa aspek, yakni :
1.      Kurikulum berkenaan dengan fungsi. Pada garis besarnya, suatu kurikulum diperuntukan bagi warga negara (calon warga negara), calon anggota/pembentuk keluarga yang baru, calon anggota masyarakat, calon anggota profesi, dan sebagainya.
2.      Kurikulum itu disediakan untuk siapa? Pertanyaan ini berkenaan dengan siapa yang akan mendapat dan mengikuti kegiatan-kegiatan kurikulum tersebut. Jadi secara langsung berkenaan dengan siswa atau anak didik. Karena itu kurikulum harus mempertimbangkan aspek pwekwmbangan, kemampuan, intelejensi, kebutuhan, minat dan permasalahan yang dihadapi siswa. Implikasinya, isi kurikulum atau bahan pelajaran harus bersumber dan sesuai dengan lingkungan anak tersebut.
3.      Kurikulum itu diberikan untuk membantu menjadi apa?. Pertanyaan ini berkaitan dengan tujuan kurikulum. Secara khusus perlu dipertanyakan apakah kurikulum itu ditujukan untuk mempersiapkan anak melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, atau mempersiapkan anak ke lapangan kerja yang tersedia dalam masyarakat, atau kedua-duanya.
4.      Hal-hal apa saja yang harus tercakup dalam kurikulum? Pertanyaan ini berkenaan dengan isi kurikulum. Isi kurikulum senantiasa disusun dalam entuk program pengajaran bidang studi.
5.      Bagaimana melksanakan kurikulum? Pertanyaan ini berkaitan dengan metodologi pengajaran. Masalah ini erat pertaliannya dengan tujuan yang hendak dicapai, anak yang belajar, guru yang mengajar, bahan pelajaran, alat bantu pengajaran.
6.      Bagaimana cara mengetahui hasil kurikulum itu? Pertanyaan ini berkaitan dengan sistem evaluasi. Di samping evaluasi hasil belajar juga dikembangkan prosedur evaluasi kurikulum program pendidikan.[5]

2.      Pengertian Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum Pendidikan Islam adalah suatu proses penataan atau pengelolaan lembaga pendidikan islam yang melibatkan sumber daya manusia muslim dan non manusia muslim dan non manusia alam menggerakkannya untuk mencapai tujun pendidikan islam secara efektif.[6]
Kurikulum pendidikan agama islam adalah bahan-bahan pendidikan agama islam berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan sistematis diberikan kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Agama Islam. Kurikulum pendidikan agama islam merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan agama islam. Adapun cakupan materi pendidikan agama islam materi pendidikan agama islam adalah : Al-Qur’an dan hadits, keimanan, akhlak, fiqih/ibadah dan sejarah. Atau dengan kata lain, cakupan pendidikan agama islam adanya keserasian, keserasian dan keseimbangan hubungan manusia dengan Alloh, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungannya. Sedangkan esensi pendidikan agama islam adalah mendidik siswa untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak islam dan mendidik siswa untuk mempelajari materi ajaran islam.[7]
                                                                                              

3.      Komponen-komponen kurikulum
a.       Komponen tujuan
Kurikulum suatu sekolah mempunyai dua tujuan yaitu :
1.      Tujuan yang ingin dicapai sekolah secara menyeluruh
2.      Tujuan yang ingin dicapai dalam setiap bidang studi
b.      Komponen materi (isi dan materi program)
Isi kurikulum (dalam pembelajaran KBK) berisi: pencapaian target yang jelas, materi standar, dan prosedur pelksanaan pembelajaran. Struktur program (yang berlaku saat ini) program pendidikannya terdiri dari program inti, lokal, ekstrakurikuler, dan kepribadian.
c.       Komponen strategi
Strategi pelaksanaan suatu kurikulum tergambar dari cara yang ditempuh di dalam melaksanakan pengajaran, cara dalam mengadakan penilaian, cara dalam memelaksanakan bimbingan dan penyuluhan, dan car mengatur kegiatan sekolah secara keseluruhan.
d.      Komponen evaluasi
Penilaian terhadap kurikulum dimaksud sebagai feedback terhadap tujuan, materi, metode, sarana, dalam rangka membina dan mengembangkan kurikulum lebih lanjut.

4.      Kurikulum sekolah islam
Menurut Mastuhu konsep model pendidikan islam yang diharapkan menjadi orientasi dan landasan dalam kurikulum lembaga pendidikan islam yaitu :[8]
1.      Dasar pendidikan, harus mendasarkan pada “teosentris” dengan menjadikan “antroposentris” sebagai bagian esensial dari konsep teosentris.
2.      Tujun pendidikan, pembangunan kehidupan duniawi bukan menjadi tujuan final, tetapi tujuan finalnya adalah kehidupan ukhrawi.
3.      Konsep manusia, pendidikan islam memandang manusia mempunyai fitrah yang harus dikembangkan.
4.      Nilai, berorientasi pada iptek sebagai kebenaran relatif dan imtaq sebagai kebenaran yang mutlak.
5.      Pendektan dan metodologi
a.       Mengembangkn potensi anak didik dan memanfaatkannya secara optimal
b.      Mengembangkan metode rsional dan empiris
c.       Materi ajaran (nash) harus diberikan secara doktrin, deduktif
d.      Memberikn bekal dan landasan yang kuat sampai dengan tingkat menengah atas
6.      Materi ajar, memadukan aspek tradisional dn modern sesuai dengan sifat, corak dan kepribadiannya.
7.      Pendidik memiliki tiga hal, yaitu:
1.      Memiliki komitmen tinggi, mengabdi, dan merasakan pendidikan sebagai panggilan tugas.
2.      Profesional lengkap dengan kepekaan misi dan ketajaman visi serta kecanggihan metodologi.
3.      Memiliki penghasilan yang cukup agar benar-benar memiliki tanggalan 30 hari dalam sebulannya.
8.      Out put : lulusan diharap dapat memiliki :
a.       Learning ability lebih lanjut
b.      Kegemaran belajar
c.       Mampu tampil beda, baru dan bernilai tambah
d.      Memiliki tiga kemampuan yang merupakan satu kesatuan, amanah dan arif, intelegensi tinggi dan komprehensif, profesional.
e.       Mampu memikir dan mengembangkan iptek dalam perspektif imtaq dan menguraikan imtaq dalam bahasa iptek.
   
5.      Manajemen dan program pengajaran pendidikan islam
Manajemen kurikulum dan program pengajaran pendidikan islam mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kurikulum. Perencanaan dan pengembangan kurikulum pendididikan islam pada umumnya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tingkat pusat dan Depag. Karena itu level sekolah islam yang paling penting adalah bgaimana merealisasikan dn menyesuaikan kurikulum tersebut dengan kegitan pembelajaran. Disamping itu, sekolah islam juga bertugas dan berwenang untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan setempat. Manajer sekolah islam diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan pengembangan kurikulum dan program pengajaran serta melambangkan program sekolah islam, manajer hendaknya tidak membatasi diri pada pendidikan dalam arti sempit, ia harus menghubungkan program-program sekolah islam  dengan seluruh kehidupan peserta didik dan kebutuhan lingkungan. Kepala sekolah merupkan manajer di sekolah. Ia harus bertanggung jawab terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian perubahan atau perbaikan program pengajaran disekolah. Untuk kepentingan tersebut, sedikitnya terdapat empat langkah yang harus dilakukan, yaitu menilai kesesuaian program yang ada dengan tuntutan kebudayaan dan kebutuhan murid, meningkatkan perencanaan program, memilih dan melaksanakan program, serta menilai perubahan program. [9]









BAB III
KESIMPULAN

Pengertian Manajemen Kurikulum
Manajemen adalah proses kegiatan seseorang dalam mengatur organisasi, lembaga, atau sekolah yang bersifat manusia atau non manusia, sehingga tujuan organisasi, lembaga atau sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien
kurikulum didefinisikan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu

Komponen-komponen kurikulum
a.       Komponen tujuan
b.      Komponen materi (isi dan materi program)
c.       Komponen strategi
d.      Komponen evaluasi

Manajemen dan program pengajaran pendidikan islam
Manajemen kurikulum dan program pengajaran pendidikan islam mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kurikulum.


[1] Sulistyorini, M.Pd. Manajemen Pendidikan Islam (yogyakarta: penerbit teras, 2009), hlm.11
[2] Sri Minarti, Manajemen Sekolah (Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2011), hlm 89
[3] Sulistyorini, M.Pd. Manajemen Pendidikan Islam (yogyakarta: penerbit teras, 2009), hlm. 39.
[4] Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS.
[5] Prof. dr. oemar hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 12.
[6] Sulistyorini, M,Pd. Manajemen Pendidikan Islam ( Jogjakarta : Penerbit teras, 2009), hlm. 14.
[7] Ibid, hlm.42.
[8] Sulistyorini, M,Pd. Manajemen Pendidikan Islam ( Jogjakarta : Penerbit teras, 2009), hlm. 44
[9] Sulistyorini, M,Pd. Manajemen Pendidikan Islam ( Jogjakarta : Penerbit teras, 2009), hlm. 59