a.
Wahyu (Al-Quran dan Hadis)
Sumber pengetahuan yang disebut “wahyu” identik dengan agama
atau kepercayaan. Karena wahyu merupakan pengetahuan yang bersumber dari Tuhan
melalui hambanya yang terpilih untuk menyampaikannya (nabi dan rasul).[1]
Menurut Arkoun, tidak ada terjemahan istilah wahyu ke dalam bahasa lain, karena
dia berpendapat tidak ada padanan kata yang tepat dalam bahsa manapun untuk
menerjemahkan kata wahyu tersebut.[2]
Disini, wahyu
terbagi menjadi dua. Pertama adalah
Al-Quran. Al-Quran adalah firman Allah berupa wahyu yang di sampaikan oleh
Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat
dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad. Dalam
Al-Quran terdiri dari dua prinsip besar yaitu yg berhubungan dgn masalah
keimanan yg disebut aqidah dan yg berhubungan dgn amal disebut syari’ah.[3]
Kedua adalah Hadist. Hadist adalah perkataan,
perbuatan ataupun pengakuan Rasul Allah SWT.[4]
Yang di maksud dengan pengakuan ialah kejadian atau perbuatan orang lain yang di
ketahui Rasululah dan beliau membiarkan saja kejadian atau erbuatan itu
berjalan. Hadist merupakan sumber ajaran kedua sesudah Al-Qur’an.
Menurut Arkoun, hadist merupakan bentuk
penafsiran Nabi sebagai penerima wahyu terhadap Al-Quran untuk melakukan kontekstualisasi
makna wahyu yang di terima agar bisa di pahami dan di aplikasikan kepada
masyarakat.[5]
Hadist juga sama dengan Al-Quran, berisi pedoman untuk kemaslahatan hidup
manusia dalam segala aspek untuk membina umat menjadi manusia yang utuh atau
muslim yang bertaqwa.
b.
Akal
Rasio (akal),
adalah pemikiran menurut akal sehat, akal budi atau nalar.[6]
Paham Rasionalisme ini beranggapan bahwa sumber pengetahuan manusia adalah
rasio.[7]
Jadi dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia harus
dimulai dari rasio. Tanpa rasio maka mustahil manusia itu dapat memperolah ilmu
pengetahuan. Rasio itu adalah berpikir.
Maka berpikir inilah yang kemudian membentuk pengetahuan. Dan manusia yang
berpikirlah yang akan memperoleh pengetahuan. Semakin banyak manusia itu
berpikir maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapat. Berdasarkan
pengetahuan lah manusia berbuat dan menentukan tindakannya. Sehingga nantinya
ada perbedaan prilaku, perbuatan, dan tindakan manusia sesuai dengan perbedaan
pengetahuan yang didapat tadi.
Namun demikian, rasio juga tidak bisa berdiri
sendiri. Ia juga butuh dunia nyata. Sehingga proses pemerolehan pengetahuan ini
ialah rasio yang bersentuhan dengan dunia nyata di dalam berbagai pengalaman
empirisnya. Maka dengan demikian, seperti yang telah disinggung sebelumnya
kualitas pengetahuan manusia ditentukan seberapa banyak rasionya bekerja.
Semakin sering rasio bekerja dan bersentuhan dengan realitas sekitar maka
semakin dekat pula manusia itu kepada kesempunaan. Hal ini sesuai dengan irman
Allah dalam surat Al Isro’:
Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali
dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu
kelompok yang lebih besar. (Al Isro’: 6)[8]
Dan Allah mengeluarkan
kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia
memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.(An Nahl:
78)[9]
Katakanlah: "Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati". (tetapi) Amat sedikit kamu
bersyukur.(Al Mulk: 23)[10]
Leibinz adalah
seorang Jerman yang pada usia 17 tahun telah menjadi sarjana. Ia menjadi duta
tetapi tidak meniggalkan ilmu pasti dan
filsafat. Teorinya menyatakan bahwa segala sesuatau itu terjadi dari monade,
tidak ada hubunannya dengan luar dan tidak mempunyai hubungan apapun. Oleh
karena itu pengetahuan tidak berpangkal dari luar diri kita, tetapi berpangkal
pada diri kita sendiri, akal. Leibintz mengemukakan doktrine of innete idea (innete
= di bawa sejak lahir).
Gagasan inilah
yang membawa kita kepada pengetahuan. Pikiran didapat dari diri kita sendiri,
dibawa sejak lahir. Misalnya bujur sangkar tidak dapat dilihat, tetapi hanya
dapat dipikirkan. Jadi bujur sangkar ada padadiri kita, dari gagasan atau idea.[11]
Descrates
sebagai bapak rasionalisme kontinental, berusaha menemukan suatu kebenaran yang
tidak dapat diraguan yang darinya dengan memakai metode deuktifdapat
disimpulkan semua pengetahuan kita. Ia yakin bahwa kebenaran yang semacam itu ada
dan bahwa kebenaran-kebenaran tersebut dikenal dengan cahaya yang terang dari
akal budi sebagai hal-hal yang idak dapat diragukan lagi. Secara demikian akal
budi dipahamkan sebagai (1) sejenis perantara kgusu yang dengan perantara
tersebut dapat dikenal kebenaran, dan sebagai (2) suati tehnik eduktif yang
degan memakai tehnik tersebut dapat ditemukan kebenaran-kebenaran: artinya
dengan melakukan penalaran.[12]
Teori-teori
pengetahuan acap kali gugur, karena sulit diterima akal.[13]
Para ilmuwan boleh memberikn konsep tentang cara-cara memeroleh ilmu
pengetahuan, tetapi konsep mereka harus bisa diterima oleh akal sehat mamusia.
Karena rasio memberikan pertimbangan dan
sekaligus pengujian aling awal terhadap segala konsep untuk memperoleh
pengetahuan. Pertimbangan dan pengujian rasio terhadap konse epistemologi
tersebut berfungsi menentukan dan memperlancar
pengakuan terhadap konsep tersebut, apakah konsep tersebut bisa
dipertanggungjawabkan kebenarannya, atau ditolak sebagai kesalahan.
Walaupun
sedemikian penting posisi akal dala menentukan suatu konsep kebenaran, namun
cukup banyak pula kekurangannya. Kartanegara memaparkan bahwa, sebenarnya ada
beberapa kelemahan akal antara lain, a) akal tidak mampu menembus atau menjangkau secara utuh
pengalaman-pengalaman yanaga bersifat eksistensial yaitu pengalaman yang secara
langsung kita rasakan , dan bukan seperti yang kita konsepsikan, b) akal
cenderung memahami sesuatu secara general dan homogen sehingga tidak mampu
mengerti keunikan sebuah momen atau atau ruang sebagaimana yang di alami
seseorang, c) akal tidak mampu memahami objek secara langsung karena akal hanya berada pada dunia kata-kata
dan simbul dan tidak pernah secara langsung menyentuhnya.[14]
c.
Panca Indera
Empirisme
(panca indera) berasal dari bahasa yunani empeirikos yang berasal darin kata
empeiria, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui
pengalaman.[15]
Pengalaman yang di maksud dalam pengetahuan ini adalah pengalaman yang bersifat
inderawi.
Dapat
disimpulkan maksud dari empirisme adalah, bahwa pada mulanya manusia itu kosong
dari p0engetahuan, kemudian kehidupannya sehari-hari menjadi pengalaman yang
mengisi jiwanya sehingga manusia tersebut memiliki pengetahuan. Hal ini sesuai
denga irman Allah dalam surat As Sajdah
ayat 9 yang artinya:
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya
roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan
hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.[16]
Sebagai contoh,
manusia bisa mengatakan kalau es rasanya dingin setelah mereka (manusia)
menyentuhnya. Tanpa menyentuhnya, manusia tidak bisa mengatakan kalau es itu dingin. Manusia juga mengatakan kalau
gula itu manis karena mereka (manusia) telah mencicipinya.
Kelemahan
aliran ini cukup banyak.[17]
diantaranya ialah indra adalah indera sangat terbatas. Benda yang jauh
kelihatan kecil tapi belum tentu benda yang jauh itu benar-benar kecil. Sebagai
contoh, bintang di langit terlihat kecil,namun sebenarnya bintang itu adalah
besar. Hal ini terjadi karena keterbatasan indera. Contoh lain adalah pada
orang yang sakit malaria. Menurutnya gula pahit rasanya, udara panas dirasakan
dingin. Pada fatamorgana manusia melihat objek yang sebearnya objek itu idak
seperti apa yang mereka lihat. Indera, dalam hal ini mata tidak mampu melihat
objek secara keseluruhan. Mata ketika melihat objek dari depan, maka
pengetahuan yang ada adalah bahwa bentuk objek itu seperti yang dilihatnya.
d.
Intuitif (Hati)
Banyak
kalangan yang menyebut intuitif dapat menjadi sumber pengetahuan. Henri Bergson
adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akal
juga terbatas. Objek-objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu
berubah.[18] Sumber pengetahuan intuitif ini adalah sumber pengetahuan yang bersandar
pada hati.[19]
Hal ini sesuai engan irman Allah dalam surat al Baqoroh ayat 269 yang artinya:
Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran
dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi
hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya
orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).[20]
Metode
intuitif ini di gunakan untuk melawan metode epistemologi barat yang
menggunakan akal untuk mendapatkan pengetahuan dan kebenaran. Ada
pandangan yang berbareng dengan hal ini,
yaitu bahwa pemahaman yang berakar pada logika dan analisis kritis, empiris dan
rasionalis bukanlah yang di butuhkan.[21]
Dengan
menyadari keterbatasan akal pada pemaparan di atas, Bergson mengembangakan satu kemampuan tingkat tinggi
yang dimiliki manusia, yaitu intuisi. Ini adalah hasil pemahaman yang
tertinggi.[22]
Malcolm Gladwell, seperti yang di sunting oleh Nuroini Soyomukti, beliau
berpendapat bahwa “intuisi adalah kekuatan bawah sadar yang menyerap banyak
banyak sekali informasi dan data dari indra dan dengan tepat membentuk situasi,
memecahkan masalah, dan seterusnya, tanpa adanya pikiran formal yang kaku dan
mengatur”.[23]
Kartanegara
memaparkan beberapa kelebihan intuisi atau hati sebagaimana berikut: a) hati
mampu memahami wilayah kehidupan emosional manusia yang bersifat eksistensial,
b) hati mampu menangkap keunikan-keunikan setiap peristiwa yang dialami
manusia, c) hati mempunyai kemampuan untuk mengenal objeknya secara langsung (direct experiment).[24]
[1] Nuraini
Soyomukti, Pengantar Filsafat Umum (Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 162.
[2] Ruslani, Masyarakat Kitab dan Dialog Antar Agama:
Studi Atas Pemikiran Mohammed Arkoun (Yogyakarta: Yayasan Bentang Utama,
2000), hlm. 94
[3] Zakiah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jkarta: PT Bumi Aksara, 2000), cet 4, hlm
19-20. Lihat Riyanto, Pendidikan Islam Indonesia, blog.re.or.id
> Pondok Pesantren > Pendidikan Islam Indonesia ... Pendidikan Islam. Di
ulas pada 25 Maret 2013
[4] Abu Zahrah, Ushul Fiqh (Jakarta: PT Firdaus dengan
Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan asyrakat, 1983) hlm 147. Lihat Zakiah
Drajat hlm 20-21.
[5] Ruslani, op.cit., hlm. 88
[6] Definisi:
rasio, Arti Kata: rasio, www.artikata.com/arti-347091-rasio.html
[7] Filsafat
Ilmu Aliran Rasionalisme dan Empirisme – Kompasiana.
Filsafat.kompasiana.com/.../filsafat-ilmu-aliran-rasionalisme-dan-empiris.
Diakses pada 11 Maret 2013.
[8] Departemen Agama Republik Indonesia, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: CV. Atlas, 2000), hlm.
425
[9] Ibid., hlm.
413
[10] Ibid.,
hlm. 957
[12] Luis O
Kattasof, Elements of Philosophy, Terjemahan Soejon Soemargono (Yogyakarta:
Tiara Wacana Yogya, 2004) cet, 9 hlm. 135
[13] Mujamil Qomar,
op.cit., hlm. 65
[14] Muhammad In’am
Esha, loc.it.
[15] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum : Akal dan Hati Sejak Thales
Sampai Capra, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), cet 18, hlm. 24
[17] Ahmad Tafsir, loc,it.
[18] Ahmad Tafsir, op.cit., hlm 27.
[19] Muhammad In’am
Esha, Menuju Pemikiran Filsafat (Malang:
UIN Maliki Press, 2010), cet 1, hlm. 97
[20] Departemen
Agama Republik Indonesia, op.,cit., hlm. 67
[21] Nuraini
Soyomukti, loc.it.
[22] Ahmad Tafsir, loc.,it
[23] Nuraini Soyomukti,
op.cit., hlm. 161
[24] Muhammad In’am
Esha, loc.it.






0 comments:
Post a Comment