1 Paradigma Baru Pendidikan Islam Humanistik
Manusia adalah aktor utama dalam proses pendidikan. Dengan
demikian sistem pendidikan benar-benar dituntut untuk menyelenggarakan praktik pendidikan yang menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan[1] yang mampu
mengembangkan potensi manusia sebagai abdi
dan khalifah Allah. Pola
pendidikan inilah yang disebut sebagai pendidikan humanistik.
Pendidikan berparadigma humanistik merupakan praktik
pendidikan yang memandang manusia sebagai manusia, makhluk terbaik ciptaan
Tuhan yang memiliki fitrah-fitrah tertentu yang harus dikembangkan secara
optimal. Dengan demikian peserta didik mampu memerankan fungsi kemanusiaanya
sebagai hamba sekaligus duta Allah di alam semesta dengan baik dan sesuai
dengan kehendak sang pencipta.[2] Pengembangan
potensi ini hanya mungkin terwujud bila pelaksanaan pendidikan didasarkan pada
prinsip humanisme, yaitu terlindunginya nilai-nilai hidup, harkat, dan martabat
manusia. Perlindungan ini berfungsi untuk menjamin potensi anak didik supaya
bisa teraktulisasi secara maksimal. Pendidikan humanistik dalam Islam berupaya
memahami kebenaran, kebaikan universal, dan aktualisasi diri lebih jauh ke
kehidupan spiritual (dimensi vertikal), di samping memahami realitas dan
permasalahan kehidupan manusia (dimensi horizontal) dalam kehidupan bersama.
Dalam pendidikan humanistik diterapkan bagaiamana agar pendidik dan peserta didik mampu
memanusiakan manusia sehingga dapat mnjunjung martabat manusia. Sehingga
penerapannya dalam pendidikan, hubungan antara pendidik dan peserta didik
adalah egaliter[3]
yang mana peserta didik harus dilibatkan secara aktif dan total. Sehingga
peserta didik tidak hanya sebagai penampung ilmu dari yang diajarkan oleh guru,
dan guru tidak hanya sebagai seorang yang memberikan pelajaran saja, namun juga
memberikan ruang gerak kepada peserta didik sehingga bisa memunculkan
pribadi-pribadi yang kreatif dan saling menghargai. Dengan demikian pola
hubungan pendidik peserta didik adalah pendidik belajar dari peserta didik dan
peserta didik belajar dari pendidik sehingga pendidik menjadi rekan peserta
didik yang melibatkan diri dan menubuhkan daya pemikiran
kritis-produktif-progresif peserta didiknya.[4]
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat di ambil kesimpulan
bahwa pendidikan Islam yang humanistik adalah pola pendidikan dan pembelajaran
yang setidaknya memiliki karakter berikut:[5]
a. Pendidikan yang menghargai dan menegembangkkan segenap potensi
manusia secara utuh, baik dimensi kognitif, afektif dan psikomotorik.
b. Pendidiakan yang mengembnag kan semua aspekkehdupan manusia
(intelektual, emosional dan spiritual) secara utuh dan seimbang.
c. Pendidikan yang di dalamya terdapat interaksi antara siswa dan
guru yang tulus, ikhlas, saling percaya, dan saling memaham satu sma lain.
d. Pendidikan yang di dalamnya penuh dengan penghormatan dan
penghargaan, jauh dari tindak kekerasan, penindasan, serta pelecahan harkat dan
martabat manusia.
e. Pendidikan yang menekankan pada pertumbuhan dan perkembangan
diri peserta didk secara utuh sehingga mereka menjadi pribadi dewasa yang
matang dan mapan serta mampu menghadapi berbagai masalah dan konflik dalam
kehidupan sehari-hari dengan arif dan bijaksana.
f.
Pendidikan yang di dalamnya
terdapat proses pembelajaran yang mendorong terjadinya interaksi dalam kelompok
dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi pengalaman,
mengungkapkan ide-ide kreaatif, kebutuhan dan perasaannya sendiri sekaligus
belajar memahami perasaan orang lain.
g. Pendidikan yang mengembangkan metode pembelajaran yang dapat
menggerakkan setiap siswa untuk menyadari diri, mengubah perilaku, dan belajar
dalam aktivitas kelompok melalui permainan, bermain peran dan metode belajar
aktif lainnya.
h. Pendidikan yang di dalamnya terdapat pendidik yang peduli, penuh
perhatian, menerima siswa apa adanya, dan memiliki pandangan positif terhadap
siswa sesuai dengan fitrah kemanusiaanyya.
i.
Pendidikan yang
mengembnagkan sistem penilaian yang memungkinkan keterlibatan siswa, misalnya
siswa menilai kemajuan yang telah dicapai sendiri melalui evaluasi diri.
j.
Pendidikan yang lebih
mengutamakan proses daripada mendahulukan hasil dan lebih mendahulukan reward
(pemberian hadiah) daripada punishment (pemberian hukuman).






0 comments:
Post a Comment