Definition List

July 5, 2013

Paradigma Baru Pendidikan Islam Humanistik



1      Paradigma Baru Pendidikan Islam Humanistik
Manusia adalah aktor utama dalam proses pendidikan. Dengan demikian sistem pendidikan benar-benar dituntut untuk menyelenggarakan  praktik pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan[1] yang mampu mengembangkan  potensi manusia sebagai abdi dan khalifah  Allah. Pola pendidikan inilah yang disebut sebagai pendidikan humanistik.
Pendidikan berparadigma humanistik merupakan praktik pendidikan yang memandang manusia sebagai manusia, makhluk terbaik ciptaan Tuhan yang memiliki fitrah-fitrah tertentu yang harus dikembangkan secara optimal. Dengan demikian peserta didik mampu memerankan fungsi kemanusiaanya sebagai hamba sekaligus duta Allah di alam semesta dengan baik dan sesuai dengan kehendak sang pencipta.[2] Pengembangan potensi ini hanya mungkin terwujud bila pelaksanaan pendidikan didasarkan pada prinsip humanisme, yaitu terlindunginya nilai-nilai hidup, harkat, dan martabat manusia. Perlindungan ini berfungsi untuk menjamin potensi anak didik supaya bisa teraktulisasi secara maksimal. Pendidikan humanistik dalam Islam berupaya memahami kebenaran, kebaikan universal, dan aktualisasi diri lebih jauh ke kehidupan spiritual (dimensi vertikal), di samping memahami realitas dan permasalahan kehidupan manusia (dimensi horizontal) dalam kehidupan bersama.
Dalam pendidikan humanistik diterapkan bagaiamana  agar pendidik dan peserta didik mampu memanusiakan manusia sehingga dapat mnjunjung martabat manusia. Sehingga penerapannya dalam pendidikan, hubungan antara pendidik dan peserta didik adalah egaliter[3] yang mana peserta didik harus dilibatkan secara aktif dan total. Sehingga peserta didik tidak hanya sebagai penampung ilmu dari yang diajarkan oleh guru, dan guru tidak hanya sebagai seorang yang memberikan pelajaran saja, namun juga memberikan ruang gerak kepada peserta didik sehingga bisa memunculkan pribadi-pribadi yang kreatif dan saling menghargai. Dengan demikian pola hubungan pendidik peserta didik adalah pendidik belajar dari peserta didik dan peserta didik belajar dari pendidik sehingga pendidik menjadi rekan peserta didik yang melibatkan diri dan menubuhkan daya pemikiran kritis-produktif-progresif peserta didiknya.[4]
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat di ambil kesimpulan bahwa pendidikan Islam yang humanistik adalah pola pendidikan dan pembelajaran yang setidaknya memiliki karakter berikut:[5]
a.       Pendidikan yang menghargai dan menegembangkkan segenap potensi manusia secara utuh, baik dimensi kognitif, afektif dan psikomotorik.
b.      Pendidiakan yang mengembnag kan semua aspekkehdupan manusia (intelektual, emosional dan spiritual) secara utuh dan seimbang.
c.       Pendidikan yang di dalamya terdapat interaksi antara siswa dan guru yang tulus, ikhlas, saling percaya, dan saling memaham satu sma lain.
d.      Pendidikan yang di dalamnya penuh dengan penghormatan dan penghargaan, jauh dari tindak kekerasan, penindasan, serta pelecahan harkat dan martabat manusia.
e.       Pendidikan yang menekankan pada pertumbuhan dan perkembangan diri peserta didk secara utuh sehingga mereka menjadi pribadi dewasa yang matang dan mapan serta mampu menghadapi berbagai masalah dan konflik dalam kehidupan sehari-hari dengan arif dan bijaksana.
f.        Pendidikan yang di dalamnya terdapat proses pembelajaran yang mendorong terjadinya interaksi dalam kelompok dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi pengalaman, mengungkapkan ide-ide kreaatif, kebutuhan dan perasaannya sendiri sekaligus belajar memahami perasaan orang lain.
g.       Pendidikan yang mengembangkan metode pembelajaran yang dapat menggerakkan setiap siswa untuk menyadari diri, mengubah perilaku, dan belajar dalam aktivitas kelompok melalui permainan, bermain peran dan metode belajar aktif lainnya.
h.       Pendidikan yang di dalamnya terdapat pendidik yang peduli, penuh perhatian, menerima siswa apa adanya, dan memiliki pandangan positif terhadap siswa sesuai dengan fitrah kemanusiaanyya.
i.         Pendidikan yang mengembnagkan sistem penilaian yang memungkinkan keterlibatan siswa, misalnya siswa menilai kemajuan yang telah dicapai sendiri melalui evaluasi diri.
j.        Pendidikan yang lebih mengutamakan proses daripada mendahulukan hasil dan lebih mendahulukan reward (pemberian hadiah) daripada punishment (pemberian hukuman).


[1]Ibid., hlm. 189
[2] Ibid., hlm. 190
[3] Belajar bersama yang sama sekali tidak menimbulkan kontradiksi. Lihat Haryanto Al-Fandi,., Desain Pembelajaran yang Demokratis dan Humanis. Hlm. 194
[4] Ibid., hlm. 195
[5]  Ibid., hlm. 197-198

0 comments:

Post a Comment