TUGAS
MATA KULIAH : MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
DOSEN
PENGAMPU: DR. Hj. Sulistyorini, M.Ag.
OLEH:
KELOMPOK
10:
Tingkat
IV A
SITI KHOLIFAH
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL
MUSLIHUUN
TLOGO KANIGORO BLITAR
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Dalam
pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar,
tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik, tidak boleh
dikerjakan secara asal-asalan. Arah pekerjaan yang jelas dan landasan yang
mantab serta cara-cara mendapatkannya yang transparan akan menjadikan amal
perbuatan yang mendapatkan ridlo dan hidayah dari Allah swt. Hal ini merupakan
prinsip utama dalam ajaran Islam. Sesuai dengan prinsip itu, maka manajemen
dalam arti mengatur segala sesuatu agar dilakukan dengan baik, tepat dan tuntas
merupakan hal yang disyariatkan dalam ajaran Islam.
Dalam
upaya peningkatan mutu pendidikan, khususnya pendidikan Islam akan sangat
bergantung kepada manajemen yang digunakan dalam suatu lembaga pendidikan Islam
(sekolah Islam) yang bersangkutan. Manajemen tersebut akan efektif dan efisien
apabila didukung oleh sumber daya manusia yang professional untuk
mengoperasikan sekolah Islam tersebut, kurikulum yang sesuai dengan tingkat
perkembangan dan karakteristik siswa, kemampuan dan komitmen tenaga
kependidikan yang handal, sarana-prasarana yang memadai untuk mendukung
kegiatan belajar-mengajar, dana yang cukup untuk menggaji staf sesuai dengan
fungsinya, serta partisipasi masyarakat yang tinggi. Bila salah satu hal di
atas tidak sesuai dengan yang diharapkan dan/atau tidak berfungsi sebagaimana
mestinya, maka efektivitas dan efisiensi pengelolaan sekolah Islam tersebut
kurang optimal.
Sementara
itu salah satu elemen keberhasilan pendidikan islam ialah peserta didik atau
boleh dikatakan sebagai murid. Murid merupakan input dalam suatu lembaga
pendidikan. Sedangkan keberhasilan suatu pendidikan dapat dilihat atau
dipandang melalui output yang dihasilkan. Output yang mempunyai mutu atau
kualitas yang tinggi tidak mungkin kalau dihasilkan dengan input yang rendah.
Output yang tinggi biasanya dihasilkan melalui input yang tinggi pula. Maka
dari itu suatu sekolah islam yang ingin meningkatkan kualitas pendidikannya
harus meningkatkan kualitas inputnya dahulu.
Disamping
itu walaupun input suatu sekolah tersebut baik, sekolah tersebut tidak mungkin
baik jika tidak didukung dengan pengaturan atau bahasa sekarang dinamakan
manajemen yang baik pula. Banyak sekali sekolah-sekolah yang inputnya baik tapi
kenyataannya outputnya kurang berhasil atau bermutu. Ketika diselidiki, hal itu
bukan disebabkan pendidikan atau materinya akan tetapi disebabkan manajemen
kesiswaannya yang kurang baik.
Dari
latar belakang tersebut, akhirnya tersusunlah makalah dengan judul “Manajemen
Kesiswaan”.
B.
Rumusan masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut:
1.
Apa arti manajemen kesiswaan?
2.
Bagaimana konsep manajemen kesiswaan?
3.
Apa saja prinsip-prinsip manajemen kesiswaan?
4.
Apa saja ruang lingkup manajemen kesiswaan?
C.
Tujuan
Dari rumusan masalah di atas maka dapat diketahui tujuan dari
pembuatan makalah ini:
1.
Untuk mengetahui arti manajemen kesiswaan
2.
Untuk mengetahui konsep manajemen kesiswaan
3.
Untuk mengetahui prinsip-prinsip manajemen kesiswaan
4.
Untuk mengetahui ruang lingkup manajemen kesiswaan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Arti Manajemen Kesiswaan
Manajemen kesiswaan adalah pengelolaan kegiatan yang berkaitan
dengan peserta didik mulai dari awal masuk (bahkan sebelum masuk) hingga akhir
(tamat) dari lembaga pendidikan.[1]
Manajemen kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai kegiatan
dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan
lancar, tertib, teratur serta mampu mencapai tujuan pendidikan sekolah.[2]
B.
Konsep Manajemen Kesiswaan Pendidikan Islam
Manajemen kesiswaan merupakan salah
satu bidang operasional dalam pengelolaan sekolah. Manajemen kesiswaan adalah
penataan dan pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik
mulai masuk sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah.
Manajemen kesiswaan bukan hanya
berupa pencatatan data siswa atau peserta didik, tetapi meliputi aspek yang
lebih luas yang secara operasional membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan
peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.
Manajemen kesiswaan ini merupakan
pelayanan yang memusatkan perhatiannya kepada pengaturan, pengawasan serta
pelayanan terhadap siswa, baik di dalam maupun diluar kelas. Pada intinya
manajemen kesiswaan di suatu sekolah membantu sisiwa untuk mengembangkan
dirinya yang sesuai dengan program-program yang dilakukan oleh sekolah atau
sekolah islam tersebut.
C.
Prinsip-Prinsip Manajemen Kesiswaan
Manajemen kesiswaan bertugas
mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar proses
pembelajaran di sekolah islam berjalan dengan tertib, teratur, dan lancar.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut terdapat sejumlah prinsip yang harus
diperhatikan. Prinsip-prinsip tersebut menurut Depdikbud adalah sebagai
berikut:
- Siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek, sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengembilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka.
- Kondisi siswa sangat beragam ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan intelektual, sosial ekonomi, minat dan seterusnya. Oleh karena itu diperlukan wahana kegiatan yang beragam sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal.
- Siswa hanya akan termotivasi belajar, bila mereka menyenangi apa yang diajarkan.
- Pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif tetapi juga ranah afektif dan psikomotorik.
Disamping hal itu diperlukan juga mengetahui karakteristik
peserta didik yang rinciannya adalah sebagai berikut:
- Peserta didik bukan miniatur orang dewasa.
- Peserta didik memiliki kebutuhan dan menuntut pemenuhan kebutuhan itu semaksimal mungkin.
- Peserta didik memiliki perbedaan antara individu dengan individu yang lain.
- Peserta didik dipandang sebagai kesatuan sistem manusia.
- Peserta didik mengikuti periode-periode perkembangan tertentu dan mempunyai pola perkembangan serta tempo dan iramanya.
Karena peserta didik mempunyai
karakteristik yang berbeda-beda, maka setiap sekolah atau sekolah islam yang
menginginkan pendidikannya berhasil harus berusaha memenuhi kebutuhan para
peserta didik yang berbeda-beda tersebut dengan seefektif mungkin dan juga
dengan memperhatikan kondisi psikologis peserta didik tersebut. Pada intinya
kebutuhan peserta didik dibagi menjadi dua yakni kebutuhan primer dan kebutuhan
sekunder.
D.
Ruang Lingkup Manajemen Kesiswaan
Secara umum bidang kesiswaan
sedikitnya memiliki tiga tugas utama yang harus diperhatikan, yaitu penerimaan
murid baru, kegiatan kemajuan belajar, serta bimbingan dan pembinaan disiplin.
Berdasarkan tiga tugas utama tersebut ruang lingkup manajemen kesiswaan berkaitan
erat dengan hal-hal sebagai berikut:
- Perencanaan kesiswaan.
- Penerimaan siswa baru
- Pengelompokan siswa
- Kehadiran kelompok di sekolah islam
- Pembinaan disiplin siswa
- Kegiatan ekstra kurikuler
- Organisasi Siswa Intra Sekolah
- Evaluasi kegiatan siswa
- Perpindahan siswa
- Kenaikan kelas dan penjurusan
- Kelulusan dan alumni.
1.
Perencanaan Kesiswaan
Dalam perencanaan kesiswaan ini
mencakup sensus sekolah dan penentuan jumlah siswa yang diterima. Sensus
sekolah pencatatan anak usia sekolah yang diperkirakan akan masuk sekolah islam
atau calon siswa.
Pendataan anak usia sekolah atau
calon siswa merupakan salah satu komponen penting dalam perencanaan pendidikan.
Dengan data yang diperoleh dari sensus sekolah akan dapat ditetapkan: 1. jumlah
dan lokasi sekolah, 2. batas daerah penerimaan siswa suatu sekolah. 3. jumlah
fasilitas transportasi, 4. layanan program pendidikanm 5. fasilitas pendidikan
bagi anak-anak cacat, 6. laju pertumbuhan pendidikan khususnya anak-anak usia
sekolah disekitar sekolah.
2.
Penerimaan Siswa Baru
Penerimaan siswa baru perlu dikelola
sedemikian rupa mulai dari perencanaan penentuan daya tampung sekolah islam
atau jumlah siswa baru yang akan diterima, dengan mengurangi daya tampung
dengan jumlah anak yang tinggal dikelas atau mengulang. Kegiatan tersebut
biasanya dikelola oleh panitia penerimaan siswa baru atau PSB.
Langkah-langkah penerimaan siswa
baru adalah sebagai berikut: 1. membentuk panitia penerimaan murid, 2.
menentukan syarat pendaftaran calon, 3. menyediakan formulir pendaftaran, 4.
pengumuman pendaftaran calon, 5. menyediakan buku pendaftaran, 6. waktu
pendaftaran, 7. penentuan calon yang diterima.
3.
Pengelompokan Siswa
Pengelompokan siswa
dimaksudkan agar dalam pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar di sekolah
islam dapat berjalan lancar, tertib dan dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan. Ada beberapa jenis pengelompokan siswa diantaranya:
a. Pengelompokan dalam kelas-kelas.
Agar proses belajar mengajar dapat
berjalan dengan baik, maka siswa harus dibagi ke dalam kelompok yang lebih
kecil lagi yaitu kelas. Banyak kelas disesuaikan dengan jumlah siswa yang
diterima. Pengelompokan jenis ini tidak hanya berlaku untuk kelas satu atau
siswa baru saja melainkan juga berlaku bagi kelas dua dan tiga atau jenjang
berikutnya. Dan selanjutnya terjadi kenaikan kelas, maka dari itu siswa dalam
suatu kelas tidaklah tetap.
b. Pengelompokan berdasarkan bidang studi
Pengelompokan jenis ini dinamakan
dengan penjurusan, yaitu mengelompokkan siswa sesuai dengan minat dan bakatnya.
Pengukuran minat dan bakat tersebut dapat didasarkan pada nilai hasil belajar.
c. Pengelompokan berdasarkan
spesialisasi
Pengelompokan jenis hanya terjadi di
sekolah-sekolah kejuruan, pada hakekatnya berdasarkan bidang studi namun lebih
khusus.
d. Pengelompokan dalam sistem kredit
Pengajaran yang menggunakan sistem
ini biasanya menggunakan sistem sks. Jadi setiap mata pelajaran diberikan bobot
kredit yang satu tatap muka selama 45 menit.
e. Pengelompokan berdasarkan kemampuan
Penglompokan jenis ini adalah
pengelompokan yang pandai bersama yang pandai dan demikian juga sebaliknya.
f. Pengelompokan berdasarkan minat.
Karena setiap siswa mempunyai minat
yang berbeda-beda dalam setiap pokok bahasan tertentu, maka diadakan
pengelompokan dalam kelompok kecil yang didasarkan pada minat siswa tersebut.
4. Pembinaan Disiplin Siswa
Disiplin adalah suatu kegiatan
dimana sikap, penampilan dan tingkah laku peserta didik sesuai dengan tatanan
nilai, norma dan ketentuan-ketentuan yang berlaku di sekolah dan kelas dimana
mereka berada. Dalam peningkatan kedisiplinan biasanya terdapat tata tertib
suatu sekolah yang harus dipetuhi oleh seorang siswa misalnya: hadir 10 menit
sebelum pelajaran dimulai, mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran dengan baik,
dan mengerjakan semua tugas yang diberikan.
Kewajiban menaati tata tertib yang
ada merupakan hal yang penting karena merupakan bagian dari sistem persekolahan
yang dilaksanakan dan juga sebagai sebuah kelengkapan sekolah islam dalam
menjalankan proses pembelajaran.
5. Kegiatan Ektra Kurikuler
Yang dimaksud dengan kegiatan
tersebut adalah kegiatan yang dilaksanakan di sekolah islam namun dilaksanakan
diluar jam sekolah secara resmi. Artinya diluar jadwal pelajaran yang
tercantum. Tujuan dari adanya kegiatan ini adalah memperkaya dan memperluas
wawasan siswa dan juga membantu menanamkan nilai-nilai pada diri siswa.
Hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam pengelolaan kegiatan ekstra kurikuler adalah:
- Peningkatan aspek pengetahuan sikap dan ketrampilan.
- Dorongan untuk menyalurkan bakat dan minat siswa
- Penetapan waktu dan obyek kegiatan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan.
- Jenis-jenis kegiatan ekstra yang disediakan seperti pramuka, PMR, kesenian, olahraga dan sebagainya.
Sedangkan kegiatan Ko Kurikuler
dilaksanakan dalam berbagai bentuk, misalnya mempelajari buku-buku pelajaran
tertentu, mengerjakan PR, atau mengadakan kegiatan lain diluar sekolah islam.
Pada intinya kedua kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan pribadi siswa.
6. Organisasi Siswa Intra Sekolah
OSIS adalah satu-satunya organisasi
yang bersifat intra sekolah yang harus ada di sekolah islam Tsanawiyah maupun
Aliyah. OSIS berfungsi sebagai wadah untuk:
- pembinaan pemuda dan budaya
- pembinaan stabilitas dan ketahanan nasional
- pembentukan watak dan kepribadian dalam integrasi sekolah.
- pencegahan pembinaan siswa yang kurang dapat dipertanggung jawabkan.
- pembinaan aktifitas intra sekolah yang berorientasi pada kegiatan yang bersifat edukatif.
- pemberian kesempata seluas-luasnya bagi pengembangan potensi siswa.
Tujuan OSIS adalah untuk:
- mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang memiliki jiwa pancasila, berkepribadian luhur, moral dan mental yang tinggi, berkecakapan serta berpengetahuan yang siap untuk diamalkan.
- mempersiapakan siswa agar menjadi warga negara yang mengabdi pada Tuhan YME, tanah air dan bangsanya.
- menggalang kesatuan dan persatuan yang kokoh di sekolah dalam satu wadah OSIS.
- menghindarkan siswa dari pengaruh-pengaruh yang tidak sehat.
Kegiatan ini dibina oleh kepala
sekolah dan dibantu oleh guru yang mempunyai kompetensi dalam keorganisasian.
7. Evaluasi Kegiatan Siswa
Dalam evaluasi kegiatan siswa
terdapat berbagai langkah yang perlu diperhatikan:
v Penentuan standar, yang
dimaksud standar adalah patokan mengenai suatu keerhasilan atau kegagalan dalam
suatu kegiatan.
v Mengadakan pengukuran.
Pengukuran dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan.
v Membandingkan hasil
pengukuran dengan standar yang telah ditentukan.
v Mengadakan perbaikan. Maka
dari itu perlu untuk mengetahui standar agar dapat digunakan sebagai
umpan balik sebagai perbaikan dalam pelaksanaan suatu kegiatan, supaya
pelaksanaan kegiatan memenuhi target yang telah ditetapkan.
8. Perpindahan Siswa
Perpindahan siswa mempunyai dua pengertian,
yakni perpindahan siswa dari suatu sekolah islam ke sekolah islam lain yang
sejenis dan perpindahan siswa dari suatu jenis program ke jenis program lain.
Perpindahan siswa dari suatu sekolah islam ke sekolah islam lain yang
sejenis pada dasarnya dikarenakan perpindahan wilayah atau tempat.
Perpindahan siswa dari suatu jenis program ke jenis program lain lebih
dikarenakan kurang cocoknya siswa masuk dalam program tersebut. Maka dari itu
untuk mengantisipasi hal tersebut, pada saat penjurusan harus menentukan
jurusan setepat-tepatnya bagi siswa dengan melihat kecenderungan dan
karakeristik siswa bahkan dengan data yang lengkap yang dimiliki oleh pihak
sekolah islam.
9. Kenaikan Kelas dan
Penjurusan
Kenaikan Kelas dan Penjurusan dapat
diatur dalam peraturan sekolah yang didasarkan pada kebijakan yang ada pada
sekolah. Dalam pelaksanaan kenaikan kelas dan penjurusan seringkali muncul
berbagai masalah yang memerlukan penyelesaian secara bijak. Masalah ini dapat
diperkecil jika data-data tentang hasil evaluasi siswa obyektif dan
mendayagunakan fungsi. Juga para guru harus berhati-hati dalam memberikan nilai
hasil evaluasi belajar kepada siswa.
10. Kelulusan dan Alumni
Kelulusan adalah pernyataan dari
sekolah islam sebagai suatu lembaga tentang telah diselesaikannya program
pendidikan yang harus diikuti oleh siswa. Kelulusan ini ditandai dengan adanya
Ijazah atau STTB. Prosesnya biasanya ditandai dengan pelepasan siswa dalam
suatu upacara.
Sedangkan hubungan dengan alumni,
para sekolah islam tetap menjaga hubungan dengan para alumninya. Demikian juga
para alumni juga biasanya bangga dengan sekolah islam dimana ia bersekolah dan
menempuh pendidikan dahulu.[3]
BAB III
PENUTUP
Manajemen kesiswaan adalah pengelolaan kegiatan yang berkaitan
dengan peserta didik mulai dari awal masuk (bahkan sebelum masuk) hingga akhir
(tamat) dari lembaga pendidikan.
Manajemen kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai kegiatan
dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan
lancar, tertib, teratur serta mampu mencapai tujuan pendidikan sekolah.
Manajemen kesiswaan bukan hanya
berupa pencatatan data siswa atau peserta didik, tetapi meliputi aspek yang
lebih luas yang secara operasional membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan
peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.
Prinsip-prinsip manajemen kesiswaan menurut
Depdikbud adalah sebagai berikut:
1. Siswa
harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek, sehingga harus didorong
untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengembilan keputusan yang
terkait dengan kegiatan mereka.
2. Kondisi
siswa sangat beragam ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan intelektual, sosial
ekonomi, minat dan seterusnya. Oleh karena itu diperlukan wahana kegiatan yang
beragam sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal.
- Siswa hanya akan termotivasi belajar, bila mereka menyenangi apa yang diajarkan.
- Pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif tetapi juga ranah afektif dan psikomotorik.
Ruang lingkup manajemen kesiswaan
berkaitan erat dengan hal-hal sebagai berikut:
1. Perencanaan
kesiswaan.
2. Penerimaan
siswa baru
- Pengelompokan siswa
- Kehadiran kelompok di sekolah islam
- Pembinaan disiplin siswa
- Kegiatan ekstra kurikuler
- Organisasi Siswa Intra Sekolah
- Evaluasi kegiatan siswa
- Perpindahan siswa
- Kenaikan kelas dan penjurusan
- Kelulusan dan alumni.






0 comments:
Post a Comment