Matahari
masih malu-malu membagi hangatnya, 20 menit sebelum bel tanda dimulainya KBM
berbunyi, Musala An-Nur masih tampak lengang. hanya segelintir makhluk
berseragam yang tampak .........menyambangi musala dengan sajadah tersampir di
pundak atau lipatan mukena rapi dalam pelukan.
Tak
lama berselang, musalla
yang tadinya lengang perlahan mulai terpenuhi siswa yang begitu antusias
menjalankan ibadah salat
dhuha, mulai kelas X sampai kelas XII tanpa kecuali. Begitu
ikhlas, murni bersumber dari hati, tanpa paksaan, tanpa harus dibumbui dengan
omelan.
“
Tuk...tik...tak...tuk,” gemeletuk bangkiak yang dikenakan bapak dan ibu guru setiap kali
menuju musala turut berbaur bersama riuh suara lain yang segera memenuhi setiap
penjuru ruang di MA Hidayatut Thulab, Blitar itu.
Jama’ah
salat
dhuha dan MA Hidayatut Thulab memang merupakan dua komponen yang tak terpisah.
Bisa dibilang, kegiatan belajar mengajar tak akan dimulai tanpa salat dluha berjama’ah terlebih
dahulu.
***
“
Azka...Cepetan dikit, nanti telat, loch!”
“
Na’am Ukhty... Bentar, masih pakai
sepatu nich!” jawabku sembari memasangkan sepatu ke kakiku.
“
Intadzir Ukhty....,” teriakku lagi.
Suara
yang sedari tadi memanggilku untuk segera bergegas berangkat masih setia
berdiri di depan pintu keluar pondok dengan kokohnya. Setelah sepasang sepatu
hitam terpasang di kedua kakiku, lari-lari kecil segera kubentuk agar dapat
segera memposisikan diri di samping Ukhty Naya. Ukhty Naya adalah orang yang
sedari tadi memanggilku, yang juga teman sekamar di Pondok Pesantren Al-Hikam
dan juga teman sekelas di sekolah.
“
Tet...tet...tet...”
Benar
saja,bel tanda akan dimulainya pelajaran terdengar begitu nyaring. Merambat
dari ruang piket lantas dihantarkan oleh desis angin pagi itu ke telinga kami.
Sesampai di depan mulut gerbang sekolah, kami mengurangi kecepatan langkah
kami. Sekelumit cahaya menerobos ke celah nadi, menyunggingkan segaris senyum
tak bertepi.
“
Kita belum terlambat Az...,” tutur Ukhty Naya lirih.
Hanya
anggukan beriring senyum yang mampu ku sampaikan. Ini adalah hari pertamaku kembali
menjejakkan kaki di sekolah ini setelah tiga minggu terakhir menjalani
masa-masa liburan yang kurasa tak berkesudahan. Wajah-wajah sumringah satu per
satu mulai berjejal antri di depan retinaku. Ya, untuk kali ini penglihatanku
benar-benar tepat. Mereka yang kulihat adalah teman-teman terbaikku di kelas
XB. Hangat jabatan tangan mereka sejenak kurasa teradiasi ke tanganku yang
sedari tadi seolah membeku.
“
Teman-teman... Aku kangen kalian semua.”
Sejurus
kemudian canda dan tawa pun meledak begitu saja. Biasa, Cabe Smile Community memang tak pernah meninggalkan keceriaan saat
bersua. Cabe Smile Community adalah
sebutan untuk kami anak-anak XB. Tapi setitik tawa itu perlahan mulai
meranggas. Kami sadar bahwa kami akan berpisah di kelas XI. Kusadari memang aku
yang terkesan menjauhkan langkah dari mereka. Hampir semua alumnus XB masuk
jurusan IPA. Jurusan yang diidam-idamkan oleh kebanyakan siswa. Tapi aku... Aku
tak sedikitpun berpikir senada dengan mereka. Aku tak akan goyah, aku harus
menerima keputusan yang kubuat sendiri. Jurusan bahasa telah menanti
kehadiranku untuk turut andil di dalamnya. Aku telah memilih, itu berarti aku
harus siap dengan segala konsekuensinya.
***
“
Astaghfirullohal’adziim... Inikah kelasku saat ini? Kelas XI Bahasa? Dengan 27
siswa yang kesemuanya begitu banyak bicara? Bahkan yang tanpa segan berbicaa
saat bapak/ibu guru berada tepat di depan mata? Masya Allah....”, rintihku dalam
hati sembari memperhatikan suasana kelas yang demikian adanya.“ Mengapa? Seolah
tak ada rasa saling memiliki di sini? Mengapa berbeda dengan kelasku yang
dulu?”Kucoba melempar tanya pada malaikat di kanan dan kiriku. Dan hasilnya
nihil, percuma. Tanyaku menguap entah ke mana. Keadaan ini membuat bayangan
teman-temanku di XB kembali menyeruak ke permukaan rasaku ini. Aku mematung
seorang diri di sudut ruangan, coba kukecilkan volume kehidupan yang ada.
Kudengar sayup-sayup hatiku bersuara,lirih sekali.
Aku kini mematung di sini, di persimpangan
jalan yang tak mungkin lagi kita lewati
Melulur
sosok di penghujung waktu pun aku tak mampu
Terlebih
lagi menghadirkan sosokku di sela rerimbunan baru itu
Rerimbunan
itu kau bentuk dengan mereka yang kini setia di sampingmu
Meski
aku tahu satu hal yang tak mungkin kalian eliminasi
Ya...
Aku percaya sosokku tak akan memudar disapu hari
Tetap
melekat di benak kalian
Meski
kebersamaan dan keselarasan langkah
kita tak sekalipun kalian utarakan
Tapi
aku bisa membaca itu dari segaris mendung di matamu
Mendung
yang tak dapat dipungkiri juga ada di mataku. Dari peluk hangat di setiap kali
kita bersua. Dan
dari binar manja yang kau beri tanpa perantara. Aku pun dapat merasakan radiasi
itu. Begitu
tertancap di hatiku yang tengah kelu. Dan kini kita harus sadar bahwa
jalan itu tak selamanya searah. Ada
kalanya kita menemukan percabangan. Dan di percabangan itu tak
selamanya kita bisa begandeng tangan. Tapi ingatlah hati kita selalu
berpelukan. Selalu
berdampingan dan selalu dalam satu harapan. Dulu, kita memulai di sini
bersama-sama
Dan
bersama-sama pula kita akan bermetamorfosis menghadapi tantangan dunia
Hari-hari berikutnya hal serupa menimpa. Tetap dalam suasana
kelas yang pasif. Pada awal tahun pelajaran baru seperti saat ini, tak sedikit
jam-jam kosong menghiasi hari-hari kami, kelas XI Bahasa. Mungkin jam kosong
adalah waktu yang amat ditunggu oleh penghuni XI Bahasa. Di jam-jam kosong mereka
bisa bermain, bercanda, makan-makan, bahkan menyelundup keluar jika ingin
jajan. Pemandangan yang begitu memuakkan yang tak pernah kutemui sebelumya di
kelas X.
Saat ini adalah saatnya pelajaran
Al-Qur’an dan Hadits. Dan sang guru dikabarkan sedang ada training di Surabaya. Itu artinya jam kosong lagi. Sontak seluruh
penghuni kelas XI Bahasa bersorak gembira. Tetapi yang bergurau belum mulai
tertawa dan yang makan belum sempat membuka bungkus makanannya ketika ayun
langkah kaki terdengar mendekati kelas. Drama pun dimulai tanpa perlu adanya
komando dari sang narator. Semua siswa mampu berperan menjadi aktor pemenang
Panasonic Award yang merangkap jabatan
sebagai sutradara. Semua adegan dilakukan dengan apik. Semua mata terbelalak
tatkala retina mereka menangkap sesosok lelaki kurus nan ramping berdiri di
depan kelas lantas beranjak masuk diiringi lantang alunan salam. Suara mereka
seolah tercekat di tenggorokan meski sekedar untuk menjawab salam.
“
Wa’alaikum salam warohmatullohi wa barokatuh,” jawab kami sedikit terbata.
“
Pak Arifin? Katanya ada training di Surabaya? Tapi kok nggak jadi?” bisik
Hilmi, teman bangku sebelahku.“ Bismillahirrohmaanirrohim...In the name of Allah the most gracious,the
most merciful,” ucap kami serentak. Tak
berbeda dengan hari-hari biasa,
sebelum
kegiatan belajar mengajar dimulai, mengabsen adalah suatu perkara wajib
yang tak boleh sampai tertinggal. Absensi selesai, dan bersamaan dengan itu
rasa takut mencuat di sela denyut nadiku.“ Di antara kalian siapa yang mondok
di pondok pesantrean Al-Hikam?”“ Deg!”, jantungku seolah berhenti berdetak
untuk beberapa waktu. Bukan apa-apa,tapi aku harus memprogram mental agar siap
dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Celaan apa lagi yang akan
diberikan oleh guru yang satu ini mengenai pondokku? Enam tangan akhirnya teracung ke
atas, tentu dengan ekspresi yang tak secerah tadi.“ Saat liburan semester II
kemarin, apakah pondok kalian juga libur?” Pertanyaan yang sudah pasti
ditujukan untuk kami berenam.
“
Ya Pak,kami juga libur”, ucap Lira tak mau kalah.“ Berapa lama? Dua
minggu? Seperti libur sekolah?” Pertanyaan beliau terus memburu
kami.“ Tidak Pak, tapi kami sudah cukup puas. Kami lebih suka mengaji daripada
berlama-lama di rumah. Paling mentok juga SMS-an atau sekedar tiduran di depan
TV”, ucapku membela diri.
Bukan
etnosentrisme seperti yang kami peroleh dalam pelajaran Antropologi. Tapi karena kami memang tak
sedikitpun merasa keberatan dengan ketentuan pondok yang seperti itu. Lagi
pula, siapa juga yang terima kalau tempat kita menuntut ilmu selalu
direndahkan. Ini bukan kali pertama hinaan untuk pondokku ku dengar dari
guru-guru di MA Hidayatut Thulab. Telingaku seakan ingin mengatup setiap kali
mereka berkata hal-hal senada. Siapa lagi kalau bukan Pak Arifin dan Pak Roman?
“
Pondok itu harus tahu diri. Kalau sekolah libur, pondok juga harus libur!
Pondok mendapatkan santri dari siswa MA ini. Kalau tidak dari MA ini, mana
mungkin akan mendapatkan santri?”, ucapnya.
Aku
meradang, emosiku membuncah. Ku akui memang mayoritas santri Al-Hikam adalah
siswa MA Hidayatut Thulab. Tapi kurasa mereka sependapat denganku. Bahkan
mereka rela pindah sekolah bila cercaan terus menerus ditujukan pada kami.
Sungguh
kami ingin bernafas bebas. Bebas
merasakan sekelumit cahaya itu memantul ke retina kami .Agar kami bisa menatap dan
mencari kesalahan terbesar apa yang ada di diri kami. Bila memang cacat dan cela itu
memang benar-benar telah terlarut di diri kami
Bantu
kami mengikis cacat dan cela itu. Jangan hanya mematung! Jangan
hanya terdiam!
Sementara
hati kalian dijejali rasa ketidaksukaan. Jangan hanya menyalahkan! Jangan
hanya memberi kritikan! Tapi
beri kami sebuah jawaban. Jawaban
atas pertanyaan kami selama ini
Apa
salah kami? Kami
juga seperti yang lain yang ingin merasakan secuil ras yang juga sama dengan
yang lain. Antara
kami dan mereka. Kumohon
jangan kau pandang sebelah mata
Hal
serupa selalu terjadi setiap jam pelajaran Al-Quran dan Hadits berlangsung.
Dulu saat di kelas X ada Pak Roman yang kurasa satu idiologi dengan Pak Arifin.
***
“
Ya Allah...Ya Rohman...Ya Rohim... kenapa semua seperti ini? Dua kubu
bertentangan yang pada hakikatnya aku membutuhkan keduanya. Kenapa kami
dipandang berbeda oleh Pak Arifin dan Pak Roman? Atau mungkin ada lagi yang
lain? Bila terlambat, sangsi yang diberikan pada kami selalu berbeda, lebih berat
dibandingkan dengan mereka yang berasal
dari pondok pesantren lain. Untuk apa mereka membangun kami dengan mimpi
semata? Untuk apa mereka menjejali kami dengan kisah tentang madu dan gula-gula
kau nyatanya hanya ada darah dan caci maki? Aku ingin mereka melihat bahwa
dunia memang sudah teramat pahit bagi kami.” Gumamku seiring tetesan air mata yang luruh di suatu malam pekat di
PP.Al-Hikam.
***
“
Alah... XI Bahasa muridnya paling sedikit, kelasnya terpencil. Iih! Lagian kan
jurusan Bahasa hampir ditiadakan untuk tahun ini. Mana mungkin mereka bisa
lebih baik dari kita? IPA kan selalu menjadi yang terbaik.”
Desah
angin membawa untaian kata itu padaku. Kurasa pikiran-pikiran semacam itu
pernah terlintas di benak Bapak/ ibu guru. Entahlah, hanya sekedar untuk
melintas atau untuk sejenak singgah dan bersemayam. Aroma kesesakan berkelabat
merambat lantas menyusup ke dalam saraf, juga desah angin yang sama membawa
hawa atis ke dalam celah benteng ketegaranku. Aku ingin menenggelamkan diriku
dalam kesunyian dan kedamaian itu di sana. Di tempat yang sama saat salat dhuha biasa didirikan.
“
Ya Allah...Ya Rabb... kini hanya ada aku dan segala ke-Maha-an-Mu. Dekaplah aku
dengan cinta-Mu. Curahkan seluruh kasih dan cinta-Mu sekarang. Allah subhanaka irhamna ya Allah. Tuntunlah
jalanku,luapkan kesabaran dan himpunkan kebesaran jiwa padaku saat menghadapi
cobaan. Karen ku tahu tak ada dan tak akan pernah ada yang lebih sempurna dari
Mu. Dzat maha perkasa dan maha mengetahui segalanya. La haula wala quwwata illa billah.”
Semua
tangan menyembul dari balik satir pembatas di Musala An-Nur. Secarik kertas kulihat
tergeletak di lantai setelah beberapa detik sebelumnya tangan yang tadi kulihat
tampak ditarik oleh pemiliknya. Kuedarkan pandanganku ke setiap
penjuru musala.
Tak ada seorang pun di dalam musala. Kualihkan pandangan ke teras
musala,
seorang lelaki yang tampak berusia delapan belas tahun berbaju koko lengkap
dengan sarung dan kopyah, memacu langkah menjauhi musala. Kini mataku menyorot kertas
yag tergeletak tadi. Perlahan lipatannya memudar, di sana tertulis:
Dalam
semrawut dawat terajut . Serupa
polesan kata merajut selaksa peristiwa. Dalam kubangan halimun dan
prediksi tak terbaca. Untuk
: Azka Danisha
Assalamu’alaikum
warohmatullohi wabarokatuh.....
Katakanlah
pada setiap orang yang mecela kita setiap kali terjadi perubahan masa. Bukankah
orang yang menantang waktu yang akan mendapat bahaya? Bila engkau putus asa
hanya karena belum mendapat jalan keluar, engkau ke manakan Allah dan
ke-Mahakuasaan-Nya? Ketahuilah bahwa sesungguhnya di setiap tempat engkau pasti
menemukan kegelapan. Karena itu, nyalakanlah pelita dalam dirimu. Seperti kata
seorang pujangga, jadilah seperti kupu-kupu. Ringan bebannya, indah
penampilannya, dan tak suka bergantung pada yang lain. Dengan leluasa ia
terbang dari satu bunga ke bunga yang lain, dari satu tangkai ke tangkai yang
lain. Atau, jadilah seperti seekor lebah. Memakan sesuatu yang baik-baik saja
dan hanya mengeluarkan yang baik pula. Jika hinggap di atas sebatang tangkai ia
tidak mematahkannya. Menyentuh nektar, tapi tidak merusaknya, dan mengeluarkan
madu tanpa pernah menyengat. Ia terbang dengan rasa cinta dan hinggap dengan
tali kasih. Ia memiliki dengungan suka cita dan bisikan kerelaan laksana duta
kerajaan langit yang turun ke bumi. Maka, ambillah dari musim semi itu semua
kelembutannya, dari minyak misik itu keharumannya, dan dari gunung itu
kekokohannya. Tetaplah melangkah di jalan Allah.
Wassalamu’alaikum
warohmatullohi wabarokatuh.....
Hafidz
“
Terima kasih... terima kasih atas semua, Akhy.... meski Allah belum mengizinkanku
untuk mengenalmu, tapi Allah telah mengizinkanmu untuk mengenalku. Andai agama
mengizinkanku untuk sekedar memandangmu sedikit lebih lama dari yang aku bisa. Sukron... sukron katsiron Akhy.
Ya...
kenapa aku harus terpuruk dalam kegamangan ini? Pun senja masih dapat menoreh
warna.
“
Tetaplah hati kalian seputih awan. Seperti yang Ibu harapkan. Tetaplah cintaku
mengisi nafasmu. Biarkan mereka berkata apa. Ketahuilah bahwa kepengecutan yang
paling besar adalah ketika membuktikan kekuatan pada kelemahan orang lain. Dan
yakinlah bahwa sukses tidak diukur dari posisi yang dicapai seseorang dalam
hidup,tapi dari kesulitan-kesulitan yang berhasil diatasi ketika berusaha
meraih sukses.“ tutur wali kelasku beberapa waktu lalu. Aku harus bisa membuat
XI Bahasa menjadi lebih baik. I believe I
can. Language isn’t everything, but everything without language is nothing.






0 comments:
Post a Comment