Definition List

April 19, 2013

MERENGKUH ASA DI UJUNG PENA


            Matahari masih malu-malu membagi hangatnya, 20 menit sebelum bel tanda dimulainya KBM berbunyi, Musala An-Nur masih tampak lengang. hanya segelintir makhluk berseragam yang tampak .........menyambangi musala dengan sajadah tersampir di pundak atau lipatan mukena rapi dalam pelukan.
            Tak lama berselang, musalla yang tadinya lengang perlahan mulai terpenuhi siswa yang begitu antusias menjalankan ibadah salat dhuha, mulai  kelas X sampai kelas XII tanpa kecuali. Begitu ikhlas, murni bersumber dari hati, tanpa paksaan, tanpa harus dibumbui dengan omelan.
            “ Tuk...tik...tak...tuk,” gemeletuk  bangkiak  yang dikenakan bapak dan ibu guru setiap kali menuju musala turut berbaur bersama riuh suara lain yang segera memenuhi setiap penjuru ruang di MA Hidayatut Thulab, Blitar itu.
            Jama’ah salat dhuha dan MA Hidayatut Thulab memang merupakan dua komponen yang tak terpisah. Bisa dibilang, kegiatan belajar mengajar tak akan dimulai tanpa salat dluha berjama’ah terlebih dahulu.
***
            “ Azka...Cepetan dikit, nanti telat, loch!”
            Na’am Ukhty... Bentar, masih pakai sepatu nich!” jawabku sembari memasangkan sepatu ke kakiku.
            Intadzir Ukhty....,” teriakku lagi.
            Suara yang sedari tadi memanggilku untuk segera bergegas berangkat masih setia berdiri di depan pintu keluar pondok dengan kokohnya. Setelah sepasang sepatu hitam terpasang di kedua kakiku, lari-lari kecil segera kubentuk agar dapat segera memposisikan diri di samping Ukhty Naya. Ukhty Naya adalah orang yang sedari tadi memanggilku, yang juga teman sekamar di Pondok Pesantren Al-Hikam dan juga teman sekelas di sekolah.
            “ Tet...tet...tet...”
            Benar saja,bel tanda akan dimulainya pelajaran terdengar begitu nyaring. Merambat dari ruang piket lantas dihantarkan oleh desis angin pagi itu ke telinga kami. Sesampai di depan mulut gerbang sekolah, kami mengurangi kecepatan langkah kami. Sekelumit cahaya menerobos ke celah nadi, menyunggingkan segaris senyum tak bertepi.
            “ Kita belum terlambat Az...,” tutur Ukhty Naya lirih.
            Hanya anggukan beriring senyum yang mampu ku sampaikan. Ini adalah hari pertamaku kembali menjejakkan kaki di sekolah ini setelah tiga minggu terakhir menjalani masa-masa liburan yang kurasa tak berkesudahan. Wajah-wajah sumringah satu per satu mulai berjejal antri di depan retinaku. Ya, untuk kali ini penglihatanku benar-benar tepat. Mereka yang kulihat adalah teman-teman terbaikku di kelas XB. Hangat jabatan tangan mereka sejenak kurasa teradiasi ke tanganku yang sedari tadi seolah membeku.
            “ Teman-teman... Aku kangen kalian semua.”
            Sejurus kemudian canda dan tawa pun meledak begitu saja. Biasa, Cabe Smile Community memang tak pernah meninggalkan keceriaan saat bersua. Cabe Smile Community adalah sebutan untuk kami anak-anak XB. Tapi setitik tawa itu perlahan mulai meranggas. Kami sadar bahwa kami akan berpisah di kelas XI. Kusadari memang aku yang terkesan menjauhkan langkah dari mereka. Hampir semua alumnus XB masuk jurusan IPA. Jurusan yang diidam-idamkan oleh kebanyakan siswa. Tapi aku... Aku tak sedikitpun berpikir senada dengan mereka. Aku tak akan goyah, aku harus menerima keputusan yang kubuat sendiri. Jurusan bahasa telah menanti kehadiranku untuk turut andil di dalamnya. Aku telah memilih, itu berarti aku harus siap dengan segala konsekuensinya.
***
            “ Astaghfirullohal’adziim... Inikah kelasku saat ini? Kelas XI Bahasa? Dengan 27 siswa yang kesemuanya begitu banyak bicara? Bahkan yang tanpa segan berbicaa saat bapak/ibu guru berada tepat di depan mata? Masya Allah....”, rintihku dalam hati sembari memperhatikan suasana kelas yang demikian adanya.“ Mengapa? Seolah tak ada rasa saling memiliki di sini? Mengapa berbeda dengan kelasku yang dulu?”Kucoba melempar tanya pada malaikat di kanan dan kiriku. Dan hasilnya nihil, percuma. Tanyaku menguap entah ke mana. Keadaan ini membuat bayangan teman-temanku di XB kembali menyeruak ke permukaan rasaku ini. Aku mematung seorang diri di sudut ruangan, coba kukecilkan volume kehidupan yang ada. Kudengar sayup-sayup hatiku bersuara,lirih sekali.
 Aku kini mematung di sini, di persimpangan jalan yang tak mungkin lagi kita lewati
Melulur sosok di penghujung waktu pun aku tak mampu
Terlebih lagi menghadirkan sosokku di sela rerimbunan baru itu
Rerimbunan itu kau bentuk dengan mereka yang kini setia di sampingmu
Meski aku tahu satu hal yang tak mungkin kalian eliminasi
Ya... Aku percaya sosokku tak akan memudar disapu hari
Tetap melekat di benak kalian
Meski kebersamaan dan keselarasan langkah kita tak sekalipun kalian utarakan
Tapi aku bisa membaca itu dari segaris mendung di matamu
Mendung yang tak dapat dipungkiri juga ada di mataku. Dari peluk hangat di setiap kali kita bersua. Dan dari binar manja yang kau beri tanpa perantara. Aku pun dapat merasakan radiasi itu. Begitu tertancap di hatiku yang tengah kelu. Dan kini kita harus sadar bahwa jalan itu tak selamanya searah. Ada kalanya kita menemukan percabangan. Dan di percabangan itu tak selamanya kita bisa begandeng tangan. Tapi ingatlah hati kita selalu berpelukan. Selalu berdampingan dan selalu dalam satu harapan. Dulu, kita memulai di sini bersama-sama
Dan bersama-sama pula kita akan bermetamorfosis menghadapi tantangan dunia
Hari-hari berikutnya hal serupa menimpa. Tetap dalam suasana kelas yang pasif. Pada awal tahun pelajaran baru seperti saat ini, tak sedikit jam-jam kosong menghiasi hari-hari kami, kelas XI Bahasa. Mungkin jam kosong adalah waktu yang amat ditunggu oleh penghuni XI Bahasa. Di jam-jam kosong mereka bisa bermain, bercanda, makan-makan, bahkan menyelundup keluar jika ingin jajan. Pemandangan yang begitu memuakkan yang tak pernah kutemui sebelumya di kelas X.                                                                             
Saat ini adalah saatnya pelajaran Al-Qur’an dan Hadits. Dan sang guru dikabarkan sedang ada training di Surabaya. Itu artinya jam kosong lagi. Sontak seluruh penghuni kelas XI Bahasa bersorak gembira. Tetapi yang bergurau belum mulai tertawa dan yang makan belum sempat membuka bungkus makanannya ketika ayun langkah kaki terdengar mendekati kelas. Drama pun dimulai tanpa perlu adanya komando dari sang narator. Semua siswa mampu berperan menjadi aktor pemenang Panasonic  Award yang merangkap jabatan sebagai sutradara. Semua adegan dilakukan dengan apik. Semua mata terbelalak tatkala retina mereka menangkap sesosok lelaki kurus nan ramping berdiri di depan kelas lantas beranjak masuk diiringi lantang alunan salam. Suara mereka seolah tercekat di tenggorokan meski sekedar untuk menjawab salam.
“ Wa’alaikum salam warohmatullohi wa barokatuh,” jawab kami sedikit terbata.
“ Pak Arifin? Katanya ada training di Surabaya? Tapi kok nggak jadi?” bisik Hilmi, teman bangku sebelahku.“ Bismillahirrohmaanirrohim...In the name of Allah the most gracious,the most merciful,” ucap kami serentak. Tak berbeda dengan hari-hari biasa, sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, mengabsen adalah suatu perkara wajib yang tak boleh sampai tertinggal. Absensi selesai, dan bersamaan dengan itu rasa takut mencuat di sela denyut nadiku.“ Di antara kalian siapa yang mondok di pondok pesantrean Al-Hikam?”“ Deg!”, jantungku seolah berhenti berdetak untuk beberapa waktu. Bukan apa-apa,tapi aku harus memprogram mental agar siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Celaan apa lagi yang akan diberikan oleh guru yang satu ini mengenai pondokku? Enam tangan akhirnya teracung ke atas, tentu dengan ekspresi yang tak secerah tadi.“ Saat liburan semester  II kemarin, apakah pondok kalian juga libur?” Pertanyaan yang sudah pasti ditujukan untuk kami berenam.
“ Ya Pak,kami juga libur”, ucap Lira tak mau kalah.“ Berapa lama? Dua  minggu? Seperti libur sekolah?” Pertanyaan beliau terus memburu kami.“ Tidak Pak, tapi kami sudah cukup puas. Kami lebih suka mengaji daripada berlama-lama di rumah. Paling mentok juga SMS-an atau sekedar tiduran di depan TV”, ucapku membela diri.
Bukan etnosentrisme seperti yang kami peroleh dalam pelajaran Antropologi. Tapi karena kami memang tak sedikitpun merasa keberatan dengan ketentuan pondok yang seperti itu. Lagi pula, siapa juga yang terima kalau tempat kita menuntut ilmu selalu direndahkan. Ini bukan kali pertama hinaan untuk pondokku ku dengar dari guru-guru di MA Hidayatut Thulab. Telingaku seakan ingin mengatup setiap kali mereka berkata hal-hal senada. Siapa lagi kalau bukan Pak Arifin dan Pak Roman?
“ Pondok itu harus tahu diri. Kalau sekolah libur, pondok juga harus libur! Pondok mendapatkan santri dari siswa MA ini. Kalau tidak dari MA ini, mana mungkin akan mendapatkan santri?”, ucapnya.
Aku meradang, emosiku membuncah. Ku akui memang mayoritas santri Al-Hikam adalah siswa MA Hidayatut Thulab. Tapi kurasa mereka sependapat denganku. Bahkan mereka rela pindah sekolah bila cercaan terus menerus ditujukan pada kami.
Sungguh kami ingin bernafas bebas. Bebas merasakan sekelumit cahaya itu memantul ke retina kami .Agar kami bisa menatap dan mencari kesalahan terbesar apa yang ada di diri kami. Bila memang cacat dan cela itu memang benar-benar telah terlarut di diri kami
Bantu kami mengikis cacat dan cela itu. Jangan hanya mematung! Jangan hanya terdiam!
Sementara hati kalian dijejali rasa ketidaksukaan. Jangan hanya menyalahkan! Jangan hanya memberi kritikan! Tapi beri kami sebuah jawaban. Jawaban atas pertanyaan kami selama ini
Apa salah kami? Kami juga seperti yang lain yang ingin merasakan secuil ras yang juga sama dengan yang lain. Antara kami dan mereka. Kumohon jangan kau pandang sebelah mata
Hal serupa selalu terjadi setiap jam pelajaran Al-Quran dan Hadits berlangsung. Dulu saat di kelas X ada Pak Roman yang kurasa satu idiologi dengan Pak Arifin.
***
“ Ya Allah...Ya Rohman...Ya Rohim... kenapa semua seperti ini? Dua kubu bertentangan yang pada hakikatnya aku membutuhkan keduanya. Kenapa kami dipandang berbeda oleh Pak Arifin dan Pak Roman? Atau mungkin ada lagi yang lain? Bila terlambat, sangsi yang diberikan pada kami selalu berbeda, lebih berat dibandingkan dengan mereka yang berasal dari pondok pesantren lain. Untuk apa mereka membangun kami dengan mimpi semata? Untuk apa mereka menjejali kami dengan kisah tentang madu dan gula-gula kau nyatanya hanya ada darah dan caci maki? Aku ingin mereka melihat bahwa dunia memang sudah teramat pahit bagi kami.” Gumamku seiring tetesan  air mata yang luruh di suatu malam pekat di PP.Al-Hikam.
***
“ Alah... XI Bahasa muridnya paling sedikit, kelasnya terpencil. Iih! Lagian kan jurusan Bahasa hampir ditiadakan untuk tahun ini. Mana mungkin mereka bisa lebih baik dari kita? IPA kan selalu menjadi yang terbaik.”
Desah angin membawa untaian kata itu padaku. Kurasa pikiran-pikiran semacam itu pernah terlintas di benak Bapak/ ibu guru. Entahlah, hanya sekedar untuk melintas atau untuk sejenak singgah dan bersemayam. Aroma kesesakan berkelabat merambat lantas menyusup ke dalam saraf, juga desah angin yang sama membawa hawa atis ke dalam celah benteng ketegaranku. Aku ingin menenggelamkan diriku dalam kesunyian dan kedamaian itu di sana. Di tempat yang sama saat salat dhuha biasa didirikan.
“ Ya Allah...Ya Rabb... kini hanya ada aku dan segala ke-Maha-an-Mu. Dekaplah aku dengan cinta-Mu. Curahkan seluruh kasih dan cinta-Mu sekarang. Allah subhanaka irhamna ya Allah. Tuntunlah jalanku,luapkan kesabaran dan himpunkan kebesaran jiwa padaku saat menghadapi cobaan. Karen ku tahu tak ada dan tak akan pernah ada yang lebih sempurna dari Mu. Dzat maha perkasa dan maha mengetahui segalanya. La haula wala quwwata illa billah.”
Semua tangan menyembul dari balik satir pembatas di Musala An-Nur. Secarik kertas kulihat tergeletak di lantai setelah beberapa detik sebelumnya tangan yang tadi kulihat tampak ditarik oleh pemiliknya. Kuedarkan pandanganku ke setiap penjuru musala. Tak ada seorang pun di dalam musala. Kualihkan pandangan ke teras musala, seorang lelaki yang tampak berusia delapan belas tahun berbaju koko lengkap dengan sarung dan kopyah, memacu langkah menjauhi musala. Kini mataku menyorot kertas yag tergeletak tadi. Perlahan lipatannya memudar, di sana tertulis:
Dalam semrawut dawat terajut . Serupa polesan kata merajut selaksa peristiwa. Dalam kubangan halimun dan prediksi tak terbaca. Untuk : Azka Danisha
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.....
Katakanlah pada setiap orang yang mecela kita setiap kali terjadi perubahan masa. Bukankah orang yang menantang waktu yang akan mendapat bahaya? Bila engkau putus asa hanya karena belum mendapat jalan keluar, engkau ke manakan Allah dan ke-Mahakuasaan-Nya? Ketahuilah bahwa sesungguhnya di setiap tempat engkau pasti menemukan kegelapan. Karena itu, nyalakanlah pelita dalam dirimu. Seperti kata seorang pujangga, jadilah seperti kupu-kupu. Ringan bebannya, indah penampilannya, dan tak suka bergantung pada yang lain. Dengan leluasa ia terbang dari satu bunga ke bunga yang lain, dari satu tangkai ke tangkai yang lain. Atau, jadilah seperti seekor lebah. Memakan sesuatu yang baik-baik saja dan hanya mengeluarkan yang baik pula. Jika hinggap di atas sebatang tangkai ia tidak mematahkannya. Menyentuh nektar, tapi tidak merusaknya, dan mengeluarkan madu tanpa pernah menyengat. Ia terbang dengan rasa cinta dan hinggap dengan tali kasih. Ia memiliki dengungan suka cita dan bisikan kerelaan laksana duta kerajaan langit yang turun ke bumi. Maka, ambillah dari musim semi itu semua kelembutannya, dari minyak misik itu keharumannya, dan dari gunung itu kekokohannya. Tetaplah melangkah di jalan Allah.
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.....
                                                                                                    Hafidz
“ Terima kasih... terima kasih atas semua, Akhy.... meski Allah belum mengizinkanku untuk mengenalmu, tapi Allah telah mengizinkanmu untuk mengenalku. Andai agama mengizinkanku untuk sekedar memandangmu sedikit lebih lama dari yang aku bisa. Sukron... sukron katsiron Akhy.
Ya... kenapa aku harus terpuruk dalam kegamangan ini? Pun senja masih dapat menoreh warna.
“ Tetaplah hati kalian seputih awan. Seperti yang Ibu harapkan. Tetaplah cintaku mengisi nafasmu. Biarkan mereka berkata apa. Ketahuilah bahwa kepengecutan yang paling besar adalah ketika membuktikan kekuatan pada kelemahan orang lain. Dan yakinlah bahwa sukses tidak diukur dari posisi yang dicapai seseorang dalam hidup,tapi dari kesulitan-kesulitan yang berhasil diatasi ketika berusaha meraih sukses.“ tutur wali kelasku beberapa waktu lalu. Aku harus bisa membuat XI Bahasa menjadi lebih baik. I believe I can. Language isn’t everything, but everything without language is nothing.

0 comments:

Post a Comment