BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Di era globalisasi
dunia saat ini sebagaimana pemaparan Alvin Toffler yang di sunting oleh Ahmad
Arifi, beliau mengatakan bahwa dunia tengah bergerak memasuki tata dunia baru (new world order) yang disebut dengan Third Wave (Gelombang Ketiga), yakni
suatu gelombang peradaban yang berkarakter merambahnya teknologi informasi (Information Technology atau IT), komputerisasi, revolusi biologi, teknologi
panjang dan terorisme, dan lain-lain. Namun demikian polarisasi dan kolaborasi
dari berbagai karakter tersebut ternyata berakibat pula munculnya “krisis global”
dan “kegoncangan kontemporer” dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan semakin
mengakarnya sentimen kelas borjuis terhadap kaum proletar dan grass root.[1]
Globalisasi ini akan membentuk tatanan baru atau
kehidupan yang lebih bersatu karena seolah-olah tanpa batas geografis, batas
ekonomi maupun batas budaya di dalamnya.[2] Globalisasi
berusaha menghilangkan sekat-sekat antar kebudayaan di dunia. Globalisasi merupakan
perubahan yang tengah terjadi di masyarakat berupa keterkaitan antara
elemen-elemen dengan semakin canggihnya teknologi baik dari segi komunikasi
maupun informasi, tidak heran jika globalisasi akan menjadi jalan pertukaran
budaya hingga jalinan hubungan ekonomi, sosial, dan segala hal secara
internasional antara negara-negara di dunia tanpa memandang batas wilayah,
status sosial maupun perkembangan yang ada di dalamnya.[3]
Jika benar
globalisasi bertujuan menghapus sekat-sekat waktu, tempat, budaya, sistem
perekonomian dan politik antar bangsa, yang pada akhirnya, dengan berbagai cara
bertujuan pula menegakkan nilai-nilai dan peradaban tertentu (yakni peradaban
barat atau peradaban adikuasa), maka hal itupun tetap tidak boleh menjadikan
kita kecut dan kehilangan keseimbangan. Karena yang demikian tak akan
memberikan jalan keluar.[4]
Menurut Mahmud Hamdi
Zaqzuq, beliau memaparkan bahwa, idealnya, kita tidak mengambil posisi sebagai
pendukung atau penentang globalisasi.[5]
Akan tetapi kita harus mempelajarinya terlebih dahulu, sehingga kita bisa
mengetahui dan mengambil yang terbaik buat kita. Beliau juga menegaskan bahwa
dalam merespon globalisasi, kita hendaknya tidak terjebak ke dalam sikap-sikap
extrim, mendukung dan menerimanya tanpa reserve
atau menolaknya mentah-mentah. Akan tetapi, hendaklah kita bisa bersikap lebih kritis dengan melakukan
penelaahan terhadap setiap sisi dari globalisasi.[6]
Dalam hal ini
pendidikanlah yang mampu menyikapi globalisasi secara kritis, sehingga bisa memberikan
reserve terhadap arus globalisasi. Toffler
mengajak masyarakat dunia modern untuk mewaspadai datangnya kejutan-kejutan
masa depan (the future shock) dan
bergegas melakukan upaya preventif melalui pendidikan.[7] Karena pendidikanlah yang bisa
meningkatkan kualitas masyarakat suatu negara. Dengan pendidikan pula,
masyarakat akan mampu memberikan reserve arus globalisasi, karena masyarakat sudah
mampu berpikir kritis dan bertindak kreatif.
Seperti pemaparan Ki Hajar Dewantara yang di kutip
oleh Rahmat Wahab dalam sebuah pengantar buku yang berjudul Memahami Pendidikan
dan Ilmu Pendidikan, beliau mengatakan
bahwa, sebelum Indonesia merdeka sudah mengisyaratkan pentingnya sebuah
pendidikan. Menurutnya pendidikan merupakan kunci pembangunan sebuah bangsa.
Pendidikan dilakukan melalui usaha menuntun segenap kekuatan kodrat yang
dimiliki anak, baik sebagai manusia atau sebagai anggota masyarakat untuk
mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.[8]
Pada dasarnya pendidikan yang dialami seseorang secara
kolektif menurut Mujamil Qomar senantiasa mempengaruhi tatanan kehidupan
bermasyarakat dan bernegara, baik menyangkut sosial, ekonomi, politik, hukum,
budaya, dan lain-lain.[9]
Para pembaharu Islam menyadari akan pentingnya peran, fungsi serta tujuan
pendidikan Islam.
Abdul Mujib mengutip rumusan tujuan pendidikan islam
yang dihasilkan dari seminar pendidikan Islam sedunia tahun 1980 di Islamabad
adalah:
“Education aimts at the
ballanced growth of total personality of man through the training of man’s
spirit, intelect, the rational self,feeling and bodile sense. Education should,
therefore cater for the growth of man in all aspects, spiritual, intelectual,
imaginative, physical, scientific, linguistic, both individually,and collectively,
and motivate all these aspects tomard goodness an attainment of perfection. The
ultimte aim of educationlies in the realization of compete submission to Allah
and the level of individual, the comunity and humanity at large”
Pendidikan seharusnya
bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara
total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, rasio, perasaan dan panca indra.
Oleh karena itu, pendidikan seharusnya pelayanan bagi pertumbuhan manusia dalam
segala aspeknya yang meliputi aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik,
ilmiah, linguistik, baik secara individu maupun secara kolektif dan memotivasi
semua aspek tesebut ke arah kebaikan dan pencapaian ksempurnaan. Tujuan utama
pendidikan bertumpu pada terealisasinya ketundukan kepada Allah SWT. baik dalam
level individu, komunitas , dan manusia secara luas.[10]
Mereka sadar bahwa untuk membenahi keadaan umat Islam
yaitu dengan cara memperbaiki sistem pendidikannya terlebih dahulu.[11]
Tidak ada harapan akan kebangkitan ummat yang sejati kecuali sistem pendidikann
di ubah dan kesalahan-kesalahannya di perbaiki.[12]
Sistem pendidikan di utamakan karena sistem pendidikan merupakan dasar atau
batu dasar peletakan yang nantinya akan menentukan baik atau buruknya mutu
pendidikan generasi yang akan datang. Sehingga pendidikan bisa menjadi tolak
ukur kemajuan suatu bangsa.
Pendidikan Islam khususnya dan pendidikan secara umum
sudah selayaknya mampu berperan dalam menyelesaikan masalah konflik yang
terjadi di masyarakat serta mampu memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa
konflik bukan suatu hal yang baik untuk dibudayakan. Selain itu, pendidikan
Islam selayaknya juga mampu memberikan tawaran-tawaran yang mencerdaskan,
antara lain dengan cara mendesain materi, metode hingga kurikulum yang mampu
menyadarkan masyarakat akan pentingya sikap pluralisme di tengah tatanan negara
Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis budaya dan agama.[13]
Namun Saat ini
pendidikan islam berada pada posisi determinisme historic dan realisme dalam
artian bahwa satu sisi umat Islam berada pada romantisme historic, dimana mereka bangga pernah memiliki para
pemikir dan ilmuan-ilmuan besar. Kini ummat Islam cenderung mengalami
kemunduran hingga abad 21 saat ini, yang
berimbas ke sektor-sektor vital. Seperti perdagangan, perekonomian, teknologi
informasi bahkan ke sektor pendidikan Islam.
Belakangan ini
epistemologi acapkali di bahas dan di sorot dalam forum – forum ilmiah, baik
melalui diskusi, seminar maupun artikel di buku dan majalah.[14] Hal ini terjadi karena pentingnya
epistemologi dalam pengembangan suatu ilmu. Para filsuf barat memang lebih
cenderung menekankan bahasannya pada wilayah epistemologi ini, daripada
ontologi maupun aksiologi,[15]
yang mana ketiganya (epistemologi, ontologi, aksiologi) merupakan cabang atau
sub sistem dari filsafat yang tidak dapat terpisahkan. Oleh karena itu, barat
modern sekarang ini mampu mencapai kemajuan sains dan teknologi yang tidak
dapat di tandingi belahan dunia lainnya.[16]
Sehingga seolah-olah tidak ada ilmuwan kecuali ilmuwan barat.
Berdasarkan realitas
di atas, maka sudah saatnya di carikan
pemecahan atau solusi yang strategis agar kondisi peradaban dan ilmu
keislaman mampu mengimbangi kemajuan barat. Dalam hal ini para cendikiawan
muslimlah yang paling bertanggumg jawab mencari alternatif penyeleseian. Amrullah
Achmad berpandangan, bahwa tugas
cendekiawan muslim yang mendesak dan harus segera dipenuhi adalah mengembangkan
epistemlogi islam.[17]
Karena bagaimanapun, epistemologi merupakan
inti setiap pandangan dunia manapun juga.
B.
Rumusan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah dan fokus pada permasalahan sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka penyusun mengangkatnya menjadi
rumusan masalah yang tersusun sebagai
berikut:
1.
Bagaimana konsep epistemologi pendidikan islam ?
2.
Bagaimana paradigma baru pendidikan islam dalam
kajian epistemologi?
C.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
- Mengetahui konsep epistemologi pendidikan islam.
- Mengetahui paradigma baru pendidikan islam dalam kajian epistemologi.
D.
Kegunaan Penelitian
Berdasarkan rumusan
masalah serta tujuan yang hendak dicapai, maka diharapkan penelitian
ini memberikan kegunaan
sebagai berikut:
1.
Penelitian ini memberikan kajian ilmiah bagi
steokholder pendidikn mengenai paradigma baru pendidikan islam, sehingga
diharapkan nantinya bisa pendidikan islam mampu menjawab tantangan global.
2.
Memberikan gambaran tentang bagaimana
langkah-langkah mengembangkan pendidikan islam.
3.
Penelitian ini memberikan khazanah keilmuan
hususnya kepada peneliti dan umumnya kepada pembaca dalam bidang pendidikan.
E.
Metode Penelitian
- Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat
kepustakaan. Menurut Prof. Dr. Suharsimi Arikunto bahwa,
selain penelitian di laboratium, penelitian di perpustakaan juga banyak dilakukan[18]
atau yang biasa di sebut penelitian kepustakaan. Penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu
penelitian yang sumber datanya diperoleh melalui penelitian buku-buku, majalah, jurnal, internet, dan media publikasi lainnya yang
berkaitan dengan masalah yang telah diangkat oleh penyusun. Kaitannya dengan ini, penelitian yang dilihat
berdasarkan jenis tempat menurut Kartini Kartono dibedakan menjadi tiga:
pertama, Field Research (Penelitian Lapangan / Kancah); kedua, Library
Research (Penelitian Kepustakaan); ketiga, Laboratory Research (Penelitian
Laboratorium).[19]
Berdasarkan jenis pendekatannya,
secara garis besar dibedakan menjadi dua macam, yakni penelitian kualitatif dan
penelitian kuantitatif.[20]
Sedangkan dalam penelitian ini, penyusun menggunakan pendekatan penelitian
kualitatif. Menurut
Bogdan dan Tylor yang dikutip oleh S. Margono, penelitian kualitatif yakni “prosedur penelitian yang menghasilkan
data deskriptif berupa
kata-kata tertulis atau
lisan dari orang-orang
dan perilaku yang
dapat diamati”.[21] Sehingga
dalam penelitian kualitatif memerlukan ketajaman analisis, obyektifitas,
sistematik, dan sistemik dalam mencapai ketepatan interpretasi dari suatu
fenomena atau gejala tertentu.
Berdasarkan fungsinya, penelitian
dibedakan menjadi tiga yakni penelitian dasar (basic research),
penelitian terapan (applied research), dan penelitian evaluatif (evaluation
research).[22]
Dalam penelitian ini penyusun menggunakan jenis penelitian terapan. Menurut
Moh. Nazir, penelitian terapan adalah “penyelidikan yang hati-hati, sistematik
dan terus menerus terhadap suatu masalah dengan tujuan untuk digunakan dengan
segera, untuk keperluan tertentu. Hasil penelitian tidak perlu sebagai satu
penemuan baru, tetapi merupakan aplikasi baru dari penelitian yang sudah ada”.[23] Sehingga
diharapkan hasil penelitian dapat segera digunakan untuk keperluan praktis.
- Tehnik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah
dengan menelusuri dan me-recover buku-buku dan tulisan-tulisan dalam
bentuk lain yang berkaitan dengan objek penelitian. Di samping itu juga
ditelusuri serta dikaji buku-buku dan tulisan-tulisan lain yang mendukung
kedalaman dan ketajaman analisis dalam penelitian ini.
Sumber data yang digunakan penyusun dalam
kajian ini terdiri dari sumber data primer dan sekunder, yaitu:
a.
Sumber Data Primer
Data primer merupakan data utama dari sumber
(pelaku) utama.[24]
Dalam penelitian ini sebagai data primer penyusun
menggunakan buku-buku yang membahas secara
langsung tentang epistemolgi pendidikan islam.
Dalam penelitian ini, buku yang menjadi sumber
data primer yang penulis gunakan adalah buku karya Prof. Dr. Mujalil Qomar,
M.Ag. dengan judul Epistemologi
Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Kritik penerbit Erlangga, 2005. Dalam buku ini dipaparkan
berbagai hal yang terkait dengan epistemologi pendidikan Islam. Kelebihan dan
kekurangan dalam pendidikan Islam saat ini menjadi wacana yang menantang untuk
di bahas dan di cari solusinya.[25]
Selanjutnya sumber primer yang penulis gunakan
dalam penelitian ini adalah buku dengan
judul Desain
Pembelajaran yang Demokratis dan Humanis, karya Haryanto Al-Fandi, cetakah pertama. Dalam buku ini di jelaskan desain pendidikan dan format pendidikan yang tepat.
Di ranah ini pendidikan
islam berpeluang besar untuk
mewujudkannya, khususnya pendidikan islam yang berwawasan humanis
dna demokratis. Sebab pndidikan islam mempunyai tujuan untuk membentuk manusia ideal; manusia yang sadar akan
fungsi kemanusiaanya sebagai hamba Tuhan dan khalifah di muka bumi, manusia yang taat pada ajaran islam sehingga dapat
mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, saleh ritual dan sosial.[26]
b.
Sumber Data Sekunder
Data
sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak
langsung melalui media perantara (diperoleh atau dicatat oleh pihak lain).[27]
Data
sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah karya-karya yang berkaitan
dengan pendidikan Islam baik berupa buku, artikel, maupun tulisan lain baik yang diterbitkan maupun tidak.
Sumber sekunder yang penyusun gunakan antara
lain buku karya Dr. Sutrisno, M.Ag dengan judul Fazlur Rahman, Kajian terhadap
Metode, Epistemologi, dan Sistem Pendidikan yang di terbitkan oleh Pustaka
Belajar Yogyakarta tahn 2005. Buku ini merupakan kajian ilmah terhadap pemikran
Fazlur Rahman yang di fokuskan pada tiga persoalan utama: metodologi,
epistemologi, dan pendidikan.[28]
Buku yang lain yakni
karya Ali Al-Jumbulati dan Abdul Futuh At Tuwaanisi, yang berjudul “Perbandingan
Pendidikan Islam” terjemahan M. Arifin dengan judul asli “Dirasatun
Muqaaranatun fit-Tarbiyyatil Islamiyyah”, terbitan Rineka Cipta, 2002. Buku ini
mengulas mengenai pendidikan Islam yang ada dalam Al Qur’an, baik mengenai
tujuan, kurikulum, dan lain sebagainya.[29]
- Metode Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan
dengan teknik content analysis (analisis isi), yaitu penelitian
yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau
tercetak dalam media massa.[30]
Sedangkan metode analisis datanya menggunakan metode induktif dan metode
deduktif atau dalam istilah lain gabungan keduanya disebut metode ilmiah.
Metode induktif penulis
gunakan ketika penulis menganalisa ragam sumber yang kemudian penulis
menjadikannya satu karya ilmiah. Selanjutnya metode deduktif penulis gunakan
pada taraf penyusunan karya ilmiah yang pembahasannya dapat dikonsumsi oleh
khalayak banyak.
Penyusun mencoba menganalisis mengenai paradigma
baru pendidikan islam dengan kajian epistemologi yang bersumber dari data yang
tertulis baik itu dari buku, majalah, buletin, maupun juga internet. Dalam penyusunan
penelitian ini, penyusun mencoba menguraikan paradigma baru pendidikan islam
dengan kajian epistemologi.
F.
Definisi Operasional
Penelitian ini
berjudul “Paradigma Baru Pendidikan Islam (Sebuah Kajian Epistemologi)”. Untuk itu penyusun akan menjelaskan definisi
operasional yang menjadi kata kunci dalam penelitian ini agar tidak terjadi kerancuan
dan lebih mudah dalam memahaminya.
1. Epistemologi
Banyak para ahli yang
mencoba mendefinisikan arti epistemologi. Dalam hal ini penulis akan mengambil
pengertian epistemologi dari sebagian kecil saja. Diantara para ahli itu adalah
Dagobert D. Runes. Seperti yang di tulis Mujamil Qomar, beliau memaparkan bahwa
epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas, sumber, struktur,
metode-metode, dan validitas pengetahuan.[31]
Sedangkan menurut Azyumardi Azra, beliau menambahkan bahwa
epistemologi sebagai ilmu yang membahas keaslian, pengertian, struktur, metode,
dan validitas ilmu pengetahuan.[32]
Walaupun dari kedua pemaparan di atas terdapat sedikit perbedaan, namun
keduanya memberikan pengertian yang sederhana dan relatif mudah di pahami.
Sutardjo A.
Wiramihardja mengatakan bahwa epistemologi adalah,bagian filsafat yang
mempersoalkan berbagai macam pengertian:
mengetahui, pengetahuan, kepastian atau kebenaran pengetahuan, dan sebagainya.[33]
2. Pendidikan Islam
Pendidikan mengandung
arti yang beragam. Dalam arti sempit, menurut Radja Mudyaharjo
pendidikan adalah sekolah atau persekolahan. Sedangkan secara luas pendidikan
adalah segala situasi dalam hidup yang mempengaruhi pertumbuhan seseorang.[34]
Sedangkan difinisi pendidikan yang diterangkan di dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 1 disebutkan bahwa:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa,
dan negara.”[35]
Pendidikan islam
menurut Fazlur Rahman adalah bukan sekedar perkengkapan dan peralatan fisik
atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang di ajarkan ataupun struktur
eksternal pendidikan, melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya
inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tinggi islam.[36]
G.
Sistematika Pembahasan
Untuk mendapatkan
pembahasan yang tersusun secara sistematis dan menghasilkan sebuah karya ilmiah yang utuh dan
komprehensif, serta diharapkan dapat ditarik benang merah yang lebih mudah,
maka penelitian ini dibagi ke dalam beberapa bagian. Secara garis besar
sistematika pembahasan penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut;
Bab pertama, Pendahuluan. Dalam bab ini akan
diuraikan berbagai persoalan mendasar yang akan menentukan bangunan isi
seluruhnya. Pembahasan dalam bab ini mencakup latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian, definisi
operasional, dan sistematika pembahasan.
Bab kedua
merupakan pembahasan awal dalam peneltian yang penyusun paparkan. Dalam bab
ini penyusun akan mencoba menguraikan tentang Pendidikan Islam yang meliputi, Pengertian
Pendidikan Islam, Landasan Pendidikan Islam, Kurikulum, Prinsip-prinsip Pendidikan Islam, Tujuan Pendidikan Islam, Orientasi Pendidikan Islam.
Pembahasan selanjtnya yaitu bab ketiga. Dalam bab ini penyusun akan
memaparkan seputar epistemologi. Selain itu penyusun juga akan membahas
mengenai epistemologi barat dan epistemologi islam.
Untuk memaparkan hasil penelitian penyusun
sampaikan pada bab keempat, Konsep
Epistemologi dan Paradigma Baru Pendidikan Islam. dimana dalam bab ini penyusun
membahas tentang Konsep Epistemologi Pendidikan Islam dan Paradigma Baru
Pndidikan Islam Dalam Kajian Epistemologi.
Bab kelima,
Penutup. Bab ini merupakan bab terakhir dari penelitian yang telah penulis
susun. Dalam bab ini memuat kesimpulan atas peneletian yang penulis sajikan
serta saran-saran yang membangun terkait penelitian ini.
[1]
Ahmad Arifi Politik Pendidikan
Islam:Menelusuri Ideologi dan Aktualisasi Pendidikan Islam di Tengah Arus
Globalisasi, (Yogyakarta: Teras, 2010) hlm, 135
[2]
Naufa El Hakim, Pengertian Globalisasi dan Dampaknya
http://www kumpulanilmu2.blogspot.com/.../pengertian-globalisasi-dan-dampak... Di akses
pada 10 Maret 2013
[3] Ibid.
[4]
Mahmud Hamdi Zaqzuq, Reposisi Islam di
Era Globalisasi (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004), cet 1, hlm 5
[5]
Ibid.
[6]
Ibid.
[7]
Ahmad Arifi, loc.cit.
[8]
Arif Rohman Memahami Pendidikan dan Ilmu
Pendidikan (Yogyakarta;: LaksBang Mediatama Yogyakarta)
[9]
Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam: dari Metode Rasional Hingga
Metode Kritik, (Jakarta:
Erlangga, 2005), hlm. 220.
[10]
Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana,
2006), hlm 82
[11] Mujamil Qomar,
loc.cit
[12]
H. Sholihan, Pernik-Pernik Pemikiran
Filsafat Islam dari Al-Farabi sampai Al-Faruqi (Semarang: Wali Songo Press,
2010), hlm 156
[13]
Felix Baskara, Pendidikan Multikultural. (28 Januari 2011).
http://www.slideshare.net/FelixBhaktiUtomo/pendidikan-multikulturalartiklel.
Diakses pada 5 Maret 2013
[14]
Lihat, Mujamil Qomar, op.cit
[15]
Ibid,
[16]
Ibid,
[17]
Mujamil Qomar, op.cit., hlm. 164
[18]
Suharsimi Arikunto, Prosedur
Penelitian:
Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta; Rineka Cipta, 2010), cet. 14, hlm. 16
[20]
Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan,
(Bandung: PT. Remaja Rodsakarya, 2008), cet. 4, hlm. 12.
[21]
S. Margono, Metodologi Penelitian
Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), cet. 4, hlm. 36.
[23]
Moh. Nazir, Metode Penlitian (Bogor
Selatan: Ghalia Utama, 2005) hlm, 26
[25]
Lihat: Mujamil Qomar, op.cit
[26]
Lihat: Haryanto Al-Fandi, Desain Pembelajaran yang Demokratis dan Humanis,
(Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media, 2011),
cet 1
[28]
Lihat: Sutrisno
Fazlur Rahman, Kajian terhadap Metode,
Epistemologi, dan Sistem Pendidikan
(Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2005), cet 1
[29]
Lihat: Ali Al Jumbulati, Abdul Futuh Al
Tuwanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, terj. M. Arifin, “Dirasatun
Muqaaranatun fit-Tarbiyyahtil Islamiyyah”, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002).
[30]
(tnp.), Analisis Isi
(content Analysis), (2
September 2009). http://andreyuris.wordpress.com/2009/09/02/analisis-isi-content-analysis/.
Diakses pada 06 Maret 2013
[32]
Ibid.
[33]
Sutardjo A. Wira mihardja, Pengantar Filsafat: Sistematika dan Sejarah
Filsafat, Logika dan Filsafat Ilmu (Epistemologi) Metafisika dan Filsafat
Manusia, Aksiologi (Bandung: PT Refika Aditama, 2009), cet 3, hlm 113.
[34]
Radja Mudyaharjo, “Filsafat Ilmu Pendidikan”, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 45-49.
[35]
Redaksi Sinar Grafika, log.cit.,
hal. 2.
[36] Sutrisno, op,cit hlm170






Terima Kasih. semoga bermanfaat
ReplyDeletemkash bos
ReplyDelete