Masyarakat adalah sejumlah manusia yang merupakan satu kesatuan golongan yang berhubungan tetap dan mempunyai kepentingan yang sama. Seperti; sekolah, keluarga, perkumpulan, negara dan atau semua komunitas apapun yang di situ terdapat unsur kepentingan. Dewasa ini, dalam diskursus yang seringkali dimediakan, masyarakat era globalisasi seolah telah lebih dewasa dari jamannya. Ketika aspek teknologi telah menjamur dalam berbagai sisi, masyarakat telah mampu bergerak dan survive baik secara pribadi maupun kelompok, dalam upaya mempertahankan dirinya meskipun itu masih partikular.
Kenyataan
ini merupakan sebuah bentuk kedewasaan dalam kehidupan yang layak diketahui
oleh setiap element, sehingga kehidupan bermasyarakat tetap berkesan manusiawi
dan tak apatis atas yang lain. Karena mungkin saja, semakin meningkatnya
kehidupan manusia atas kebutuhan pribadi, intensitas partisipasi terhadap
manusia yang lain akan berkurang, dan mereka lebih pada prioritas personal
untuk memenuhi kebutuhannya.
Dalam
konteks kehidupan, masyarakat tentu tidak terlahir oleh satu pintu. Mereka
mempunyai ciri khas masing-masing sesuai latar belakang yang membentuknya.
Hingga kemudian, bermacamnya ciri khas inilah yang mengakar dalam proses
kehidupan mereka. Tanpa menutup kemungkinan, terjadi proses perubahan secara
perlahan menuju peradaban ataupun nilai-nilai yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Karena semakin cerdas dan matangnya pemikiran yang terlahir dari konteks itu.
Salah
satu diantara faktor yang bisa mempengaruhi kelahiran atas kemungkinan itu
adalah peran pendidikan sebagai pengontrol kehidupan masyarakat. Sebagaimana
yang pernah ditulis hujjatul Islam Al Imam Al Ghozali, bahwa pendidikan
merupakan usaha yang mengarah kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak,
dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqarrub kepada Allah
dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia.
Dengan bahasa yang lain, pendidikan mempunyai peran yang signifikan dalam
proses yang terjadi dalam masyarakat, terutama dalam hal negatif.
Terlebih,
jika kita menelaah sebuah statement : “Manusia adalah makhluk multidimensional
yang dapat ditelaah dari berbagai sudut pandang. Eduart Spranger (1950),
melihat manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Yang membedakan manusia
dengan makhluk lain adalah aspek kerohaniannya. Manusia akan menjadi
sungguh-sungguh manusia kalau ia mengembangkan nilai-nilai rohani (nilai-nilai
budaya), yang meliputi: nilai pengetahuan, keagamaan, kesenian, ekonomi,
kemasyarakatan dan politik dan sekali lagi, solusi utama dari seraingkaian
permasalahan dan harapan itu hanyalah lewat pendidikan.
Pendidikan
saja tidak cukup. Melainkan pendidikan yang baik dan sempurnalah yang akan
mampu memberikan sebuah dampak yang besar atas keberlangsungan masyarakat.
Sehingga hal yang sangat dikhawatirkan bahwa manusia akan memakan manusia, tak
akan terjadi. Orientasi pendidikan pada era ini barangkali memang lebih
mengutamakan aspek moralitas dari pada pengetahuan. Banyaknya aktor dalam ilmu
pengetahuan yang kemudian tidak diimbangi dengan pengetahuan moralitas (agama)
maka, manusia semacam itu belumlah sempurna.
Tujuan
pendidikan terbesar adalah memanusiakan manusia. Ilmu bukan untuk ilmu
sebagaimana kemudian mengasingkan diri dari kehidupan masyarakat. Namun, ilmu
untuk diamalkan, dan amalan terbesar dari sebuah ilmu adalah akhlakul karimah,
termasuk dengan memanusiakan manusia. Seberapapun ia memiliki ilmu, namun tak
cakap dalam kehidupan bermasyarakat dan mematuhi norma yang ada, maka pada
kualitas sejatinya ia belumlah berilmu.
Dialek
itulah yang pada akhirnya memberikan sebuah pemahaman baru, bahwa pendidikan
humanis (human education) layak menjadi sorotan utama dan menjadi target yang
tak bisa dilepaskan. Sehingga masyarakat benar-benar menjadi sebuah koloni
kehidupan yang sangat indah, dan baik, sementara kejengahan terkotak pada
keburukan.
Oleh karena, dengan semangat bersama
membangun sebuah kebersamaan melalui pendidikan. Semoga segala mimpi yang
tergores akan benar menetas menjadi sebuah realitas di kemudian hari. Semoga
Tuhan selalu melimpahkan rahmat dan taufiq bersama kita semua. Amin.






0 comments:
Post a Comment