Definition List

May 6, 2014

MANAJEMEN PENDIDIKAN TINGGI ISLAM




MANAJEMEN PENDIDIKAN TINGGI ISLAM

Untuk memenuhi tugas mata kuliyah
Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Dosen pengampu: Dra. Hj. Sulistyarini





Disusun oleh:
Iftitakhul Muhlasin
Hadi Nur Miftah
Eni Istiana
Susiani


SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL MUSLIHUUN
TLOGO BLITAR 2013

KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum Wr.Wb
Segala puji bagi Allah, sang Pencipta alam semesta beserta isinya untuk kepentingan hidup manusia. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Nabi penutup semua risalah samawi, yaitu Muhammad SAW, beserta keluarga, parasahabat, dan pengikutnya. Alhamdulillah, dengan izin Allah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Manajemen Pendidikan Tinggi Islam. Oleh karenanya, kami mengharapkan makalah ini dapat digunakan sebagai monitoring terhadap mahasiswa/i lainnya dan untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi kami dan kelompok lain mengenai Manajemen Pendidikan Tinggi Islam. Walaupun dalam makalah ini tidak lepas dari kekurangan dan kekhilafan,kami mengharapkan kritik dan saran dari Dosen Pembimbing untuk perbaikannya, agar makalah ini bisa lebih baik lagi. Mudah mudahan makalah yang kami buat ini dengan sangat sederhana, dapat bermanfaat bagi kita bersama. Amin



Penulis














BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan (Didin dan Hendri, 2003:1). Mulai dari urusan terkecil seperti mengatur urusan Rumah Tangga sampai dengan urusan terbesar seperti mengatur urusan sebuah negara semua itu diperlukan pengaturan yang baik, tepat dan terarah dalam bingkai sebuah manajemen agar tujuan yang hendak dicapai bisa diraih dan bisa selesai secara efisien dan efektif.
Pendidikan Agama Islam dengan berbagai jalur, jenjang, dan bentuk yang ada seperti pada jalur pendidikan formal ada jenjang pendidikan dasar yang berbentuk Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), jenjang pendidikan menengah ada yang berbentuk Madrasah Alyah (MA) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), dan pada jenjang pendidikan tinggi terdapat begitu banyak Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) dengan berbagai bentuknya ada yang berbentuk Akademi, Sekolah Tinggi, Institut, dan Universitas. Pada jalur pendidikan non formal seperti Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak (TPA), Majelis Ta’lim, Pesantren dan Madrasah Diniyah. Jalur Pendidikan Informal seperti pendidikan yang diselenggarakan di dalam kelurarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan. Kesemuanya itu perlu pengelolaan atau manajemen yang sebaik-baiknya, sebab jika tidak bukan hanya gambaran negatif tentang pendidikan Islam yang ada pada masyarakat akan tetap melekat dan sulit dihilangkan bahkan mungkin Pendidikan Islam yang hak itu akan hancur oleh kebathilan yang dikelola dan tersusun rapi yang berada di sekelilingnya, sebagaimana dikemukakan Ali bin Abi Thalib :”kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dihancurkan oleh kebathilan yang tersusun rapi”.

B.         Rumsan Masalah
1.    Bagaimana pengertian manajemen pendidikan Islam?.
2.    Bagaimana prinsip manajemen pendidikan Islam?
3.    Bagaimana fungsi-fungsi manajemen pendidikan Islam?.


C.    Tujuan
1.    Untuk Mengetahui pengertian manajemen pendidikan Islam.
2.    Untuk Mengetahui bagaimana prinsip manajemen pendidikan Islam
3.    Untuk Mengetahui fungsi-fungsi manajemen pendidikan Islam.





























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Manajemen Pendidikan Tinggi Islam
Secara bahasa manajemen berasal dari kata manage yang berarti mengurus,mengatur, melaksanakan, mengelola. Sedang menurut Asnawir manajemen berasal dari kata managio yang berarti pengurusan atau managiare yang berarti melatih dalam mengatur langkah-langkah. Secara bahasa manajemen mengandung arti kerja aktif yang bertanggungjawab, tidak sekedar untuk mengatur diri tetapi juga mengandung unsur sosial untuk memberikan pendidikan manajemen kepada orang lain, terutama kepada bawahannya.
Dari arti secara bahasa tersebut dapat dipahami bahwa manajemen merupakan kerja aktif, lawannya adalah pasif, dengan demikian manajemen adalah aktifitas aktif untuk mencapai sesuatu. Jika dalam sebuah organisasi tidak ada gerak aktif yang terus menerus dan terarah, maka organisasi tersebut belum terdapat manajemen yang baik.
Alam raya yang besar dan luas ini, tentu ada yang mengaturnya, kalau tidak ada yang mengatur mustahil alam ini berjalan secara teratur, terarah, tersusun secara rapi. Adanya alam bergerak secara teratur dan tertata rapi pasti ada yang mengerakkan dan menyusun serta mengendalikannya. Yang mengatur dan mengendalikannya adalah Yang Maha mengatur,Maha Mengerakkan yaitu Allah swt.
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
Sedangkan manajemen menurut bahasa akan dikemukakan beberapa pendapat, menurut Hersey dan Blanchard manajemen adalah kerjasama melalui orang atau kelompok untuk mencapai tujuan. Dari kutipan tersebut dapat dipahami bahwa manajemen adalah sebuah kerja tim yang berusaha untuk mewujudkan impian dan cita-cita bersama, cita-cita dan impian bersama diwujudkan dengan kerjasama dalam tim yang saling mendukung satu dengan lainnya dalam wadah organisasi yang sama.
Menurut Ramayulis manajemen adalah sebuah proses pemanfaatan segala sumber daya melewati orang lain dengan cara bekerjasama. Dari pengertian ini dapat dicermati bahwa manajemen selalu membutuhkan orang lain dalam proses pencapaian tujuan bersama, artinya dalam manajemen membutuhkan orang lain dalam pencapaian tujuan. Dengan demikian manajemen memerlukan kerjasama lebih dari satu orang dalam rangka proses pencapaian keinginan bersama.
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa manajemen adalah suatu proses kegiatan aktif satu dengan lainnya dalam sebuah organisasi, lembaga dalam rangka mewujudkan keinginan dan tujuan bersama. Dengan demikian manajemen pendidikan adalah suatu proses kerjasama aktif dalam sebuah lembaga pendidikan dalam rangka mencapai tujuan lembaga pendidikan. Kerjasama tersebut berdasarkan keimanan kepada Allah, serta kerjasama untuk mencapai ridho Allah. Sehingga segala usaha aktif bersama-sama untuk mencapai tujuan terlaksana dan terarah dalam bingkai keimanan. Karena pada dasarnya Allah menyuruh bekerjasama dalam kebaikan dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.
Dari ayat tersebut dapat diambil pemikiran bahwa manajemen dalam pendidikan Tinggi Islam lebih mengedepankan kerjasama aktif dengan orang lain, baik di dalam lembaga pendidikan maupun di luar lembaga. Kerjasama tersebut dibingkai dengan semangat ridhoi Allah, semangat kerjasama tim untuk mencapai tujuan Pendidikan Islam yang bernuansa keilahian. Manajemen Pendidikan Islam dalam arti tersebut membedakannya dengan manajemen lain, karena manajemen dalam pendidikan Islam berdasarkan Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad Saw.
Manajemen Pendidikan Tinggi Islam berdasarkan Al-Quran dan Hadis. Dasar ini menjadi pembeda dengan manajemen lain, manajemen di luar lembaga Pendidikan Islam hanya berdasarkan pemikiran para tokoh manajemen dan idiologi negara tempat lembaga itu berada. Sedangkan manajemen Pendidikan Islam tidak terkait dengan idiologi negara. Ketidakterkaitan manajemen pendidikan Islam dengan idiologi negara karena pada dasarnya manajemen Pendidikan Islam tidak mempunyai kaitan langsung, manajemen Pendidikan Islam menyatu dengan nilai nilai ajaran Islam itu sendiri. Dengan demikian dasar manajemen Pendidikan Islam tidak akan pernah bercampur dengan idiologi manajemen lain, karena semangat manajemen Pendidikan Islam berdasarkan Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad Saw. Di sisi lain, manajemen Pendidikan Islam lebih mengedepankan kerjsama yang saling menguntungkan untuk mencapai tujuan bersama, karena kerjasama yang dilakukan berdasarkan nilai-nilai kebaikan yang barometernya adalah keridhoan Allah, yang akhir semua tujuan kerjasama tersebut adalah nilai takwa di sisi Allah swt.

B.     Prinsip Manajemen Pendidikan Tinggi Islam
Menurut Ramayulis prinsip-prinsip manajemen pendidikan adalah ikhlas, kejujuran, manah, adil, tanggungjawab, dinamis, praktis, dan fleksibel. Untuk secara detail akan dikemukakan beberapa dalil Al-Quran yang mendasari prinsip-prinsip manajemen Pendidikan Islam sebagai berikut:
1.        Ikhlas
Prinsip ikhlas dalam manajemen Pendidikan Islam hendaknya menjadi bagian terpenting dalam diri pemimpin dan yang dipimpinnya. Jika keikhlasan tidak ada, maka akan terjadi kesemerawutan dalam melaksanakan tugas, tugas tidak mereka anggap sebagai ibadah. Tanpa adanya keikhlasan maka segala perbuatannya dalam rangka mencapai tujuan bersama dalam organisasi maupun lembaga pendidikan akan sisa-sia karena dilakukan dengan terpaksa atau karean selain Allah.
2.    Kejujuran
Allah memerintahkan kepada setiapmuslim untuk berlaku dan bersama orang-orang yang jujur.Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. Dalam ayat tersebut tersirat bahwa ketika seorang mukmim dalam kebersamaan dalam sebuah kelompok atau dalam lembaga maupun dalam organisasi hendaknya ia berada dalam barisan orang-orang yang jujur. Jika dalam manajemen pendidikan Islam banyak orang-orang yang jujur maka Allah akan memberikan balasan atas kebenaran dan kejujurannya.
3.    Amanah
Amanah hendaknya dimiliki oleh setiap muslim, ketika amanah telah dimiliki, maka dalam melaksanakan tugas apapun akan bertanggungjawab, akan amanah dengan tugas yang diberikan kepadanya. Karena pada dasarnya Allah menyuruh manusia untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak.
4.    Adil
Dalam manajemen Pendidikan Islam keputusan yang akan diambil hendaknya memperhatikan nilai-nilai keadilan, sehingga keputusan tersebut tidak merugikan pihak lain. Prinsip keadilan hendaknya diterapkan di semua aspek manajemen, sehingga tidak ada celah untuk melakukan kezhaliman terhadap yang lain.
5.    Tanggung Jawab
Setiap komponen dalam manajemen hendaknya mempunyai pribadi yang bertanggung jawab, sehingga dalam melaksanakan tugas bukan sekedar jadi, tetapi memnag berani untuk mempertanggungjawabkan segala keputusan, segala tindakan dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam manajemen pendidikan Islam pertanggungan jawaban tidak hanya berhenti di tangan manajer, tetapi juga dihadapan Allah Swt. Hal senada juga diungkapkan oleh Ramayulis bahwa semua tindakan yang dilakukan oleh manajer akan dimintai pertanggungjawaban, baik segala aktivitas, kebijakan yang diambilnya akan dimintai petanggungjawaban, baik dihadapan manusia maupun di hadapan Allah Swt.
6.    Dinamis
Manajemen pendidikan Islam hendaknya selalu dinamis, dalam arti melakukan perubahan-perubahan yang mungkin perlu untuk diubah, dan berusaha untuk tidak statis dalam melakukan manajerial dalam pendidikan Islam, dan kesemua dinamika hendaknya diarahkan dan disesuaikan dengan pendidikan Islam itu sendiri.
7.    Praktis
Prinsip kepraktisan hendaknya menjadi dasar dalam manajemen pendidikan Islam, terutama dalam teorinya, karena teori yang praktis akan memungkinkan untuk dilakukan.
8.    Fleksibel
Manajemen pendidikan islam hendak bersifat fleksibel sehingga memungkinkan adanya perubahan menuju kesempurnaan sesuai dengan ajaran Al-quran dan Hadis. karena pada dasarnya Islam dating untuk rahmat seluruh alam. Untuk itu manajemen pendidikan Islam hendaknya membawa rahmat bagi semua.

C.     Fungsi manajemen Pendidikan Tinggi Islam
1.        Fungsi perencanaan
Perencanaan adalah sebuah proses yang dilakukan oleh seorang manajer dalam menentukan tujuan dan mengambil langkah-langkah untuk menjamin bahwa tujuan tersebut dapat dicapai. Sedangkan menurut Ramayulis perencanaan adalah langkah pertama yang harus diperhatikan oleh manajer dan para pengelola pendidikan pendidikan Islam. perencanaan merupakan hal penting yang hendaknya ada dalam manajemen pendidikan islam.
Perencanaan dalam lembaga pendidikan Islam tidak hanya untuk memenuhi target tujuan pendidikan Islam dalam jangak tertentu, tetapi perencanaan pendidikan Islam melampaui batas duniawi. Maksudnya adalah perencanaan pendidikan Islam diarahkan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat. Hal ini diperkuat oleh pendapat Ramayulis, bahwa perencanaan pendidikan Islam tidak sekedar diarahkan untuk mencapai kesempurnaan kebahagiaan dunia saja ,tetapi juga kebahagiaan akherat, artinya dalam perencanaan pendidikan Islam perlu mempertimbangkan keseimbangan antara tujuan dunia dan akherat.
Asnawir menyatakan bahwa langkah-langkah dalam perencanaan adalah sebagai berikut:
a)    Menentukan dan merumuskan tujuan yang hendak dicapai.
b)    Meneliti masalah-masalah atau pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan.
c)    Masalah-masalah atau informasi-informasi yang diperlukan.
d)    Menentukan tahap-tahap atau rangkaian tindakan.
e)    Merumuskan bagaimana masalah-masalah tersebut akan dipecahkan dan bagaimana pekerjaan pekerjaan itu harus diselesaikan.
f)    Menentukan siapa yang akan melakukan dan apa yang mempengaruhi pelaksanaan tindakan tersebut.
g)    Menentukan cara bagaimana mengadakan perubahan dalam penyusunan rencana.

2.    Pengorganisasian
Asnawir menyatakan bahwa pengorganisasian adalah aktivitas penyusunan, pembentukan hubungan kerja antara orang-orang sehingga terwujud suatu kesatuan usaha dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan
Ramayulis menyatakan pengorganisasian dalam manajemen sebagai upaya penetapan struktur peran-peran dengan cara membuat konsep-konsep kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan. Hal ini makin memperjelas posisi pengorganisasin dalam manajemen, konsep pengorganisasian tersebut secara jelas memberikan gambaran bahwa dalam manajemen ada upaya untuk melakukan peran-peran yang berbeda dalam rangka mewujudkan tujuan bersama, meskipun berbeda-beda dalam peran tetapi kesemua peran dan aktivitas tersebut bermuara kepada satu tujuan yaitu pencapaian target-target yang telah disepakati sebelumnya. Pencapaian target-target tersebut merupakan aktualisasi darai konsep-konsep yang telah direncanakan sebelumnya. Hal ini memberi pemahaman bahwa ada semacam gerakan aktif dan berkesinambungan berbagai unsur di dalam lembaga, organisasi maupun institusi untuk melakukan berbagai kegiatan yang terstruktur dan tertata rapi, sehingga terjalin keterkaitan yang saling mendukung untuk mewujudkan hasil akhir, hasil akhir tersebut adalah tujuan.
3.    Penggerakan
Manajemen mempunyai fungsi pengerakan, adanya pengerakan yang dilakukan oleh manajer memungkinkan organisasi berjalan dan perencanaan dilaksanakan. Dengan demikian pengerakan yang dilakukan oleh manajer penting dalam manajemen. Manajer yang mampu menggerakan bawahannya tentu mempunyai kiat-kiat tertentu, seperti memberi motivasi, memberi motivasi adalah usaha untuk membangkitkan, usaha membangkitkan merupakan satu di antara asma Allah yaitu Al-Ba’ist yang berarti membangkitkan. Berdasarkan Asma Allah tersebut hendaknya manajer mempunyai sifat tersebut sehingga diharapkan dalam manajerialnya mampu membangkitkan semangat kerja bawahannya.
4.    Pengawasan
Pengawasan merupakan usaha mengawasi atau pengamatan agar pelaksanaan tidak menyimpang dari rencana yang telah ditetapkan. Menurut Ramayulis pengawasan adalah upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional dalam rangka menjamin kegiatan berjalan sesuai dengan ketetapan yang telah ditentukan. Berdasarkan pendapat Ramayulis tersebut pengawasan merupakan usaha mengendalikan agar pelaksanaan tidak menyimpang dari ketentuan yang telah disepakati.
Menurut Ramayulis pengawasan dalam pendidikan Islam mempunyai karakteristik sebagai berikut: pengawasan bersifat material dan spiritual, monitoring bukan hanya manajer, tetapi juga Allah Swt, menggunakan metode yang manusiawi yang menjunjung martabat manusia. Dengan karakterisrik tersebut dapat dipahami bahwa pelaksana berbagai perencaan yang telah disepakati akan bertanggung jawab kepada manajernya dan Allah sebagai pengawas yang Maha Mengetahui. Di sisi lain pengawasan dalam konsep Islam lebih mengutamakan menggunakan pendekatan manusiawi, pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai keislaman.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan makalah ini dapat dipahami bahwa Secara bahasa manajemen berasal dari kata manage yang berarti mengurus,mengatur, melaksanakan, mengelola. Kemudian secara istilah manajemen pendidikan Islam adalah suatu proses kerjasama aktif dalam sebuah lembaga pendidikan dalam rangka mencapai tujuan lembaga pendidikan. Kerjasama tersebut berdasarkan keimanan kepada Allah, serta kerjasama untuk mencapai ridho Allah.
Prinsip-prinsip dalam manajemen pendidikan Islam adalah didasari rasa ikhlas kepada Allah, kejujuran, Amanah, adil, tanggung jawab, dinamis, fleksibel. Sedangkan aspek manajemen dalam pendidikan Islam adalah aspek institusi, struktural, personalia, informasi, teknik dan lingkungan. Kemudian fungsi manajemen pendidikan Islam adalah fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengerakan, dan pengawasan. Perbedaan paling menonjol manajemen pendidikan Islam dengan manajemen sekuler atau manjemen lainnya adalah terletak dari prinsip dasarnya, yaitu Al-Quran dan Hadis, di sisi lain pengawasan bersifat menyeluruh, tidak saja melibatkan manajer dalam pengawasan tetapi ada pengawas yang lebih tinggi yaitu Allah SWT.
Untuk mengembangkan PTI perlu mengidentifikasi masalah besar yang dihadapi PTI yaitu, Pertama, produktivitas yang rendah; kedua, keterbatasan daya tampung; ketiga keterbatasan kemampuan berkembang; keempat, kepincangan di antara berbagai Perguruan Tinggi; dan kelima, distribusi yang tidak seimbang dalam bidang-bidang ilmu yang disediakan Perguruan Tinggi, khususnya di antara ilmu-ilmu sosial dan humaniora dengan ilmu-ilmu eksakta. Untuk mengatasi berbagai kelemahan ini, perlu program sebagai berikut: Pertama, peningkatan produktivitas Perguruan Tinggi; kedua, peningkatan daya tampung; ketiga, peningkatan pelayanan kepada masyarakat; keempat peningkatan bidang keilmuan eksakta atau iptek; kelima, peningkatan kemampuan berkembang.






DAFTAR PUSTAKA
Ø  A. Farhan Syaddad dan Agus Salim.pengertian, dan fungsi-fungsi manajemen pendidikan islammpiuika.wordpress.com/.../makalah-diskusi-mpi-kelompok-
Ø  manajemen perguruan tinggi islam kukuhbudiantoalislami.blogspot.com/

Ø  Makalah Manajemen Lembaga Ilmu Pendidikan Islam | greenalif greenalif.wordpress.com/.../makalah-manajemen-lemb aga-il.



0 comments:

Post a Comment