MANAJEMEN
PENDIDIKAN TINGGI ISLAM
Untuk memenuhi tugas mata kuliyah
Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Dosen pengampu: Dra. Hj. Sulistyarini
Dosen pengampu: Dra. Hj. Sulistyarini
Disusun oleh:
Iftitakhul Muhlasin
Hadi Nur Miftah
Iftitakhul Muhlasin
Hadi Nur Miftah
Eni Istiana
Susiani
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL MUSLIHUUN
TLOGO
BLITAR 2013
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Segala puji bagi Allah, sang Pencipta alam semesta
beserta isinya untuk kepentingan hidup manusia. Shalawat dan salam semoga
dicurahkan kepada Nabi penutup semua risalah samawi, yaitu Muhammad SAW,
beserta keluarga, parasahabat, dan pengikutnya. Alhamdulillah, dengan izin
Allah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Manajemen Pendidikan
Tinggi Islam. Oleh karenanya, kami mengharapkan makalah ini dapat digunakan
sebagai monitoring terhadap mahasiswa/i lainnya dan untuk menambah wawasan dan
pengetahuan bagi kami dan kelompok lain mengenai Manajemen Pendidikan Tinggi
Islam. Walaupun dalam makalah ini tidak lepas dari kekurangan dan kekhilafan,kami
mengharapkan kritik dan saran dari Dosen Pembimbing untuk perbaikannya, agar
makalah ini bisa lebih baik lagi. Mudah mudahan makalah yang kami buat ini
dengan sangat sederhana, dapat bermanfaat bagi kita bersama. Amin
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus
dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus
diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan (Didin
dan Hendri, 2003:1). Mulai dari urusan terkecil seperti mengatur urusan Rumah
Tangga sampai dengan urusan terbesar seperti mengatur urusan sebuah negara
semua itu diperlukan pengaturan yang baik, tepat dan terarah dalam bingkai
sebuah manajemen agar tujuan yang hendak dicapai bisa diraih dan bisa selesai
secara efisien dan efektif.
Pendidikan Agama Islam dengan berbagai jalur,
jenjang, dan bentuk yang ada seperti pada jalur pendidikan formal ada jenjang
pendidikan dasar yang berbentuk Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah
Tsanawiyah (MTs), jenjang pendidikan menengah ada yang berbentuk Madrasah Alyah
(MA) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), dan pada jenjang pendidikan tinggi
terdapat begitu banyak Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) dengan berbagai
bentuknya ada yang berbentuk Akademi, Sekolah Tinggi, Institut, dan
Universitas. Pada jalur pendidikan non formal seperti Kelompok Bermain, Taman
Penitipan Anak (TPA), Majelis Ta’lim, Pesantren dan Madrasah Diniyah. Jalur
Pendidikan Informal seperti pendidikan yang diselenggarakan di dalam kelurarga
atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan. Kesemuanya itu perlu
pengelolaan atau manajemen yang sebaik-baiknya, sebab jika tidak bukan hanya
gambaran negatif tentang pendidikan Islam yang ada pada masyarakat akan tetap
melekat dan sulit dihilangkan bahkan mungkin Pendidikan Islam yang hak itu akan
hancur oleh kebathilan yang dikelola dan tersusun rapi yang berada di
sekelilingnya, sebagaimana dikemukakan Ali bin Abi Thalib :”kebenaran yang
tidak terorganisir dengan rapi akan dihancurkan oleh kebathilan yang tersusun
rapi”.
B.
Rumsan
Masalah
1. Bagaimana pengertian manajemen pendidikan Islam?.
2. Bagaimana prinsip manajemen pendidikan Islam?
3. Bagaimana fungsi-fungsi manajemen pendidikan Islam?.
1. Bagaimana pengertian manajemen pendidikan Islam?.
2. Bagaimana prinsip manajemen pendidikan Islam?
3. Bagaimana fungsi-fungsi manajemen pendidikan Islam?.
C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui pengertian manajemen pendidikan Islam.
2. Untuk Mengetahui bagaimana prinsip manajemen pendidikan Islam
3. Untuk Mengetahui fungsi-fungsi manajemen pendidikan Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Manajemen Pendidikan Tinggi Islam
Secara bahasa manajemen berasal dari kata manage
yang berarti mengurus,mengatur, melaksanakan, mengelola. Sedang menurut Asnawir
manajemen berasal dari kata managio yang berarti pengurusan atau managiare yang
berarti melatih dalam mengatur langkah-langkah. Secara bahasa manajemen
mengandung arti kerja aktif yang bertanggungjawab, tidak sekedar untuk mengatur
diri tetapi juga mengandung unsur sosial untuk memberikan pendidikan manajemen
kepada orang lain, terutama kepada bawahannya.
Dari arti secara bahasa tersebut dapat dipahami
bahwa manajemen merupakan kerja aktif, lawannya adalah pasif, dengan demikian
manajemen adalah aktifitas aktif untuk mencapai sesuatu. Jika dalam sebuah
organisasi tidak ada gerak aktif yang terus menerus dan terarah, maka organisasi
tersebut belum terdapat manajemen yang baik.
Alam raya yang besar dan luas ini, tentu ada yang mengaturnya, kalau tidak ada yang mengatur mustahil alam ini berjalan secara teratur, terarah, tersusun secara rapi. Adanya alam bergerak secara teratur dan tertata rapi pasti ada yang mengerakkan dan menyusun serta mengendalikannya. Yang mengatur dan mengendalikannya adalah Yang Maha mengatur,Maha Mengerakkan yaitu Allah swt.
Alam raya yang besar dan luas ini, tentu ada yang mengaturnya, kalau tidak ada yang mengatur mustahil alam ini berjalan secara teratur, terarah, tersusun secara rapi. Adanya alam bergerak secara teratur dan tertata rapi pasti ada yang mengerakkan dan menyusun serta mengendalikannya. Yang mengatur dan mengendalikannya adalah Yang Maha mengatur,Maha Mengerakkan yaitu Allah swt.
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak
mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada
yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui
apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak
mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi
Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara
keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
Sedangkan manajemen menurut bahasa akan dikemukakan
beberapa pendapat, menurut Hersey dan Blanchard manajemen adalah kerjasama
melalui orang atau kelompok untuk mencapai tujuan. Dari kutipan tersebut dapat
dipahami bahwa manajemen adalah sebuah kerja tim yang berusaha untuk mewujudkan
impian dan cita-cita bersama, cita-cita dan impian bersama diwujudkan dengan
kerjasama dalam tim yang saling mendukung satu dengan lainnya dalam wadah
organisasi yang sama.
Menurut Ramayulis manajemen adalah sebuah proses
pemanfaatan segala sumber daya melewati orang lain dengan cara bekerjasama.
Dari pengertian ini dapat dicermati bahwa manajemen selalu membutuhkan orang
lain dalam proses pencapaian tujuan bersama, artinya dalam manajemen
membutuhkan orang lain dalam pencapaian tujuan. Dengan demikian manajemen memerlukan
kerjasama lebih dari satu orang dalam rangka proses pencapaian keinginan
bersama.
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa manajemen
adalah suatu proses kegiatan aktif satu dengan lainnya dalam sebuah organisasi,
lembaga dalam rangka mewujudkan keinginan dan tujuan bersama. Dengan demikian
manajemen pendidikan adalah suatu proses kerjasama aktif dalam sebuah lembaga
pendidikan dalam rangka mencapai tujuan lembaga pendidikan. Kerjasama tersebut
berdasarkan keimanan kepada Allah, serta kerjasama untuk mencapai ridho Allah.
Sehingga segala usaha aktif bersama-sama untuk mencapai tujuan terlaksana dan
terarah dalam bingkai keimanan. Karena pada dasarnya Allah menyuruh bekerjasama
dalam kebaikan dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan
takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan
bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.
Dari ayat tersebut dapat diambil pemikiran bahwa
manajemen dalam pendidikan Tinggi Islam lebih mengedepankan kerjasama aktif
dengan orang lain, baik di dalam lembaga pendidikan maupun di luar lembaga.
Kerjasama tersebut dibingkai dengan semangat ridhoi Allah, semangat kerjasama
tim untuk mencapai tujuan Pendidikan Islam yang bernuansa keilahian. Manajemen
Pendidikan Islam dalam arti tersebut membedakannya dengan manajemen lain,
karena manajemen dalam pendidikan Islam berdasarkan Al-Quran dan Hadis Nabi
Muhammad Saw.
Manajemen Pendidikan Tinggi Islam berdasarkan
Al-Quran dan Hadis. Dasar ini menjadi pembeda dengan manajemen lain, manajemen
di luar lembaga Pendidikan Islam hanya berdasarkan pemikiran para tokoh
manajemen dan idiologi negara tempat lembaga itu berada. Sedangkan manajemen
Pendidikan Islam tidak terkait dengan idiologi negara. Ketidakterkaitan
manajemen pendidikan Islam dengan idiologi negara karena pada dasarnya
manajemen Pendidikan Islam tidak mempunyai kaitan langsung, manajemen
Pendidikan Islam menyatu dengan nilai nilai ajaran Islam itu sendiri. Dengan
demikian dasar manajemen Pendidikan Islam tidak akan pernah bercampur dengan
idiologi manajemen lain, karena semangat manajemen Pendidikan Islam berdasarkan
Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad Saw. Di sisi lain, manajemen Pendidikan Islam
lebih mengedepankan kerjsama yang saling menguntungkan untuk mencapai tujuan
bersama, karena kerjasama yang dilakukan berdasarkan nilai-nilai kebaikan yang
barometernya adalah keridhoan Allah, yang akhir semua tujuan kerjasama tersebut
adalah nilai takwa di sisi Allah swt.
B. Prinsip
Manajemen Pendidikan Tinggi Islam
Menurut Ramayulis prinsip-prinsip manajemen
pendidikan adalah ikhlas, kejujuran, manah, adil, tanggungjawab, dinamis,
praktis, dan fleksibel. Untuk secara detail akan dikemukakan beberapa dalil
Al-Quran yang mendasari prinsip-prinsip manajemen Pendidikan Islam sebagai
berikut:
1.
Ikhlas
Prinsip ikhlas dalam manajemen Pendidikan Islam
hendaknya menjadi bagian terpenting dalam diri pemimpin dan yang dipimpinnya.
Jika keikhlasan tidak ada, maka akan terjadi kesemerawutan dalam melaksanakan
tugas, tugas tidak mereka anggap sebagai ibadah. Tanpa adanya keikhlasan maka
segala perbuatannya dalam rangka mencapai tujuan bersama dalam organisasi
maupun lembaga pendidikan akan sisa-sia karena dilakukan dengan terpaksa atau
karean selain Allah.
2. Kejujuran
2. Kejujuran
Allah memerintahkan kepada setiapmuslim untuk
berlaku dan bersama orang-orang yang jujur.Hai orang-orang yang beriman
bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.
Dalam ayat tersebut tersirat bahwa ketika seorang mukmim dalam kebersamaan
dalam sebuah kelompok atau dalam lembaga maupun dalam organisasi hendaknya ia
berada dalam barisan orang-orang yang jujur. Jika dalam manajemen pendidikan
Islam banyak orang-orang yang jujur maka Allah akan memberikan balasan atas
kebenaran dan kejujurannya.
3. Amanah
3. Amanah
Amanah hendaknya dimiliki oleh setiap muslim, ketika
amanah telah dimiliki, maka dalam melaksanakan tugas apapun akan
bertanggungjawab, akan amanah dengan tugas yang diberikan kepadanya. Karena
pada dasarnya Allah menyuruh manusia untuk menyampaikan amanah kepada yang
berhak.
4. Adil
4. Adil
Dalam manajemen Pendidikan Islam keputusan yang akan
diambil hendaknya memperhatikan nilai-nilai keadilan, sehingga keputusan
tersebut tidak merugikan pihak lain. Prinsip keadilan hendaknya diterapkan di
semua aspek manajemen, sehingga tidak ada celah untuk melakukan kezhaliman
terhadap yang lain.
5. Tanggung Jawab
5. Tanggung Jawab
Setiap komponen dalam manajemen hendaknya mempunyai
pribadi yang bertanggung jawab, sehingga dalam melaksanakan tugas bukan sekedar
jadi, tetapi memnag berani untuk mempertanggungjawabkan segala keputusan,
segala tindakan dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam manajemen
pendidikan Islam pertanggungan jawaban tidak hanya berhenti di tangan manajer,
tetapi juga dihadapan Allah Swt. Hal senada juga diungkapkan oleh Ramayulis
bahwa semua tindakan yang dilakukan oleh manajer akan dimintai
pertanggungjawaban, baik segala aktivitas, kebijakan yang diambilnya akan
dimintai petanggungjawaban, baik dihadapan manusia maupun di hadapan Allah Swt.
6. Dinamis
6. Dinamis
Manajemen pendidikan Islam hendaknya selalu dinamis,
dalam arti melakukan perubahan-perubahan yang mungkin perlu untuk diubah, dan
berusaha untuk tidak statis dalam melakukan manajerial dalam pendidikan Islam,
dan kesemua dinamika hendaknya diarahkan dan disesuaikan dengan pendidikan Islam
itu sendiri.
7. Praktis
7. Praktis
Prinsip kepraktisan hendaknya menjadi dasar dalam
manajemen pendidikan Islam, terutama dalam teorinya, karena teori yang praktis
akan memungkinkan untuk dilakukan.
8. Fleksibel
8. Fleksibel
Manajemen pendidikan islam hendak bersifat fleksibel
sehingga memungkinkan adanya perubahan menuju kesempurnaan sesuai dengan ajaran
Al-quran dan Hadis. karena pada dasarnya Islam dating untuk rahmat seluruh
alam. Untuk itu manajemen pendidikan Islam hendaknya membawa rahmat bagi semua.
C. Fungsi
manajemen Pendidikan Tinggi Islam
1.
Fungsi
perencanaan
Perencanaan adalah sebuah proses yang dilakukan oleh
seorang manajer dalam menentukan tujuan dan mengambil langkah-langkah untuk
menjamin bahwa tujuan tersebut dapat dicapai. Sedangkan menurut Ramayulis
perencanaan adalah langkah pertama yang harus diperhatikan oleh manajer dan
para pengelola pendidikan pendidikan Islam. perencanaan merupakan hal penting
yang hendaknya ada dalam manajemen pendidikan islam.
Perencanaan dalam lembaga pendidikan Islam tidak
hanya untuk memenuhi target tujuan pendidikan Islam dalam jangak tertentu,
tetapi perencanaan pendidikan Islam melampaui batas duniawi. Maksudnya adalah
perencanaan pendidikan Islam diarahkan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan
akherat. Hal ini diperkuat oleh pendapat Ramayulis, bahwa perencanaan
pendidikan Islam tidak sekedar diarahkan untuk mencapai kesempurnaan
kebahagiaan dunia saja ,tetapi juga kebahagiaan akherat, artinya dalam
perencanaan pendidikan Islam perlu mempertimbangkan keseimbangan antara tujuan
dunia dan akherat.
Asnawir
menyatakan bahwa langkah-langkah dalam perencanaan adalah sebagai berikut:
a) Menentukan dan merumuskan tujuan yang hendak dicapai.
b) Meneliti masalah-masalah atau pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan.
c) Masalah-masalah atau informasi-informasi yang diperlukan.
d) Menentukan tahap-tahap atau rangkaian tindakan.
e) Merumuskan bagaimana masalah-masalah tersebut akan dipecahkan dan bagaimana pekerjaan pekerjaan itu harus diselesaikan.
f) Menentukan siapa yang akan melakukan dan apa yang mempengaruhi pelaksanaan tindakan tersebut.
g) Menentukan cara bagaimana mengadakan perubahan dalam penyusunan rencana.
a) Menentukan dan merumuskan tujuan yang hendak dicapai.
b) Meneliti masalah-masalah atau pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan.
c) Masalah-masalah atau informasi-informasi yang diperlukan.
d) Menentukan tahap-tahap atau rangkaian tindakan.
e) Merumuskan bagaimana masalah-masalah tersebut akan dipecahkan dan bagaimana pekerjaan pekerjaan itu harus diselesaikan.
f) Menentukan siapa yang akan melakukan dan apa yang mempengaruhi pelaksanaan tindakan tersebut.
g) Menentukan cara bagaimana mengadakan perubahan dalam penyusunan rencana.
2. Pengorganisasian
Asnawir menyatakan bahwa pengorganisasian adalah
aktivitas penyusunan, pembentukan hubungan kerja antara orang-orang sehingga
terwujud suatu kesatuan usaha dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan
Ramayulis menyatakan pengorganisasian dalam manajemen sebagai upaya penetapan struktur peran-peran dengan cara membuat konsep-konsep kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan. Hal ini makin memperjelas posisi pengorganisasin dalam manajemen, konsep pengorganisasian tersebut secara jelas memberikan gambaran bahwa dalam manajemen ada upaya untuk melakukan peran-peran yang berbeda dalam rangka mewujudkan tujuan bersama, meskipun berbeda-beda dalam peran tetapi kesemua peran dan aktivitas tersebut bermuara kepada satu tujuan yaitu pencapaian target-target yang telah disepakati sebelumnya. Pencapaian target-target tersebut merupakan aktualisasi darai konsep-konsep yang telah direncanakan sebelumnya. Hal ini memberi pemahaman bahwa ada semacam gerakan aktif dan berkesinambungan berbagai unsur di dalam lembaga, organisasi maupun institusi untuk melakukan berbagai kegiatan yang terstruktur dan tertata rapi, sehingga terjalin keterkaitan yang saling mendukung untuk mewujudkan hasil akhir, hasil akhir tersebut adalah tujuan.
3. Penggerakan
Ramayulis menyatakan pengorganisasian dalam manajemen sebagai upaya penetapan struktur peran-peran dengan cara membuat konsep-konsep kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan. Hal ini makin memperjelas posisi pengorganisasin dalam manajemen, konsep pengorganisasian tersebut secara jelas memberikan gambaran bahwa dalam manajemen ada upaya untuk melakukan peran-peran yang berbeda dalam rangka mewujudkan tujuan bersama, meskipun berbeda-beda dalam peran tetapi kesemua peran dan aktivitas tersebut bermuara kepada satu tujuan yaitu pencapaian target-target yang telah disepakati sebelumnya. Pencapaian target-target tersebut merupakan aktualisasi darai konsep-konsep yang telah direncanakan sebelumnya. Hal ini memberi pemahaman bahwa ada semacam gerakan aktif dan berkesinambungan berbagai unsur di dalam lembaga, organisasi maupun institusi untuk melakukan berbagai kegiatan yang terstruktur dan tertata rapi, sehingga terjalin keterkaitan yang saling mendukung untuk mewujudkan hasil akhir, hasil akhir tersebut adalah tujuan.
3. Penggerakan
Manajemen mempunyai fungsi pengerakan, adanya
pengerakan yang dilakukan oleh manajer memungkinkan organisasi berjalan dan
perencanaan dilaksanakan. Dengan demikian pengerakan yang dilakukan oleh
manajer penting dalam manajemen. Manajer yang mampu menggerakan bawahannya
tentu mempunyai kiat-kiat tertentu, seperti memberi motivasi, memberi motivasi
adalah usaha untuk membangkitkan, usaha membangkitkan merupakan satu di antara
asma Allah yaitu Al-Ba’ist yang berarti membangkitkan. Berdasarkan Asma Allah
tersebut hendaknya manajer mempunyai sifat tersebut sehingga diharapkan dalam
manajerialnya mampu membangkitkan semangat kerja bawahannya.
4. Pengawasan
4. Pengawasan
Pengawasan merupakan usaha mengawasi atau pengamatan
agar pelaksanaan tidak menyimpang dari rencana yang telah ditetapkan. Menurut
Ramayulis pengawasan adalah upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional
dalam rangka menjamin kegiatan berjalan sesuai dengan ketetapan yang telah
ditentukan. Berdasarkan pendapat Ramayulis tersebut pengawasan merupakan usaha
mengendalikan agar pelaksanaan tidak menyimpang dari ketentuan yang telah
disepakati.
Menurut Ramayulis pengawasan dalam pendidikan Islam
mempunyai karakteristik sebagai berikut: pengawasan bersifat material dan spiritual,
monitoring bukan hanya manajer, tetapi juga Allah Swt, menggunakan metode yang
manusiawi yang menjunjung martabat manusia. Dengan karakterisrik tersebut dapat
dipahami bahwa pelaksana berbagai perencaan yang telah disepakati akan
bertanggung jawab kepada manajernya dan Allah sebagai pengawas yang Maha
Mengetahui. Di sisi lain pengawasan dalam konsep Islam lebih mengutamakan
menggunakan pendekatan manusiawi, pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai
keislaman.
BAB
III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan makalah ini dapat dipahami bahwa
Secara bahasa manajemen berasal dari kata manage yang berarti
mengurus,mengatur, melaksanakan, mengelola. Kemudian secara istilah manajemen
pendidikan Islam adalah suatu proses kerjasama aktif dalam sebuah lembaga
pendidikan dalam rangka mencapai tujuan lembaga pendidikan. Kerjasama tersebut
berdasarkan keimanan kepada Allah, serta kerjasama untuk mencapai ridho Allah.
Prinsip-prinsip dalam manajemen pendidikan Islam
adalah didasari rasa ikhlas kepada Allah, kejujuran, Amanah, adil, tanggung
jawab, dinamis, fleksibel. Sedangkan aspek manajemen dalam pendidikan Islam
adalah aspek institusi, struktural, personalia, informasi, teknik dan
lingkungan. Kemudian fungsi manajemen pendidikan Islam adalah fungsi perencanaan,
pengorganisasian, pengerakan, dan pengawasan. Perbedaan paling menonjol
manajemen pendidikan Islam dengan manajemen sekuler atau manjemen lainnya
adalah terletak dari prinsip dasarnya, yaitu Al-Quran dan Hadis, di sisi lain
pengawasan bersifat menyeluruh, tidak saja melibatkan manajer dalam pengawasan
tetapi ada pengawas yang lebih tinggi yaitu Allah SWT.
Untuk mengembangkan PTI perlu mengidentifikasi
masalah besar yang dihadapi PTI yaitu, Pertama, produktivitas yang rendah;
kedua, keterbatasan daya tampung; ketiga keterbatasan kemampuan berkembang;
keempat, kepincangan di antara berbagai Perguruan Tinggi; dan kelima,
distribusi yang tidak seimbang dalam bidang-bidang ilmu yang disediakan
Perguruan Tinggi, khususnya di antara ilmu-ilmu sosial dan humaniora dengan
ilmu-ilmu eksakta. Untuk mengatasi berbagai kelemahan ini, perlu program
sebagai berikut: Pertama, peningkatan produktivitas Perguruan Tinggi; kedua,
peningkatan daya tampung; ketiga, peningkatan pelayanan kepada masyarakat;
keempat peningkatan bidang keilmuan eksakta atau iptek; kelima, peningkatan
kemampuan berkembang.
DAFTAR
PUSTAKA
Ø
RIWAYAT NET: MANAJEMEN PENDIDIKAN
TINGGI ISLAM www.riwayat.net/.../manajemen-pendidikan-tinggi-islam.ht
Ø
A. Farhan
Syaddad dan Agus Salim.pengertian, dan fungsi-fungsi manajemen
pendidikan islammpiuika.wordpress.com/.../makalah-diskusi-mpi-kelompok-






0 comments:
Post a Comment