MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN
“EPISTIMOLOGI PENDIDIKAN ISLAM”
disusun oleh:
Iftitakhul Muhlasin
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL MUSLIHUUN
BLITAR
2013
A.
Pendahuluan
Saat ini pendidikan
islam berada pada posisi determinisme historic dan realism dalam artian bahwa
satu sisi ummat Islam berada pada romantisme
historic, dimana mereka bangga pernah memiliki para pemikir dan
ilmuan-ilmuan besar.
Kejayaan ummat Islam
pada abad ke 7 sapai abad ke 15, justru kontras dengan peradaban ummat Islam
dewasa ini. Kini ummat Islam cenderung mengalami kemunduran hingga abad 21 saat ini, yang berimbas ke
sektor-sektor vital. Seperti perdagangan, perekonomian, teknologi informasi
bahkan ke sektor pendidikan Islam.
Kehadiran pendidikan
Islam jika ditinjau dari kelembagaan maupun dari nilai-nilai yang ingin
dicapainya masih memenuhi tuntutan yang bersifat formalitas, bukan sebagai
tuntutan yang bersifat substansial, yakni tuntutan untuk menularkan
pribadi-pribadi aktif, penggerak sejarah dan pemain gesit, tangkas, pelopor dan
produsen peradaban Islam di masa mendatang.
Ketertinggalan ummat
Islam salah satunya juga juga dikarenakan oleh terjadinya penyempitan terhada
pemahaman pendidikan Islam yang hanya berkisar pada aspek kehidupan ukhrawi
yang terpisah dengan kehidupan duniawi atau aspek rohani yang terpisah dengan kehidupan jasmani.
Dengan kata lain, pendidikan Islam masih memisahkan antara akal dan wahyu, ayat
Qauliyah dan Qauniyah serta piker dan Zikir.
Hal ini menyebabkan
adanya ketidakseimbangan paradigmatik, yaitu kurang berkembangnya konsep
humanisme religius dalam dunia pendidikan Islam, yang disebabkan karena
pendidikan Islam lebih berorientasi pada konsep manusia sebagai hamba
(‘Abdullah) ketimbang sebagai konsep manusia sebagai Khalifah.
Oleh karena itu
reformasi pendidikan Islam sangat penting dilakukan demi menghasilkan
pendidikan Islam yang bermutu yang mencerdaskan dalam krisis kekinian yang menyangkut
pengetahuan dan pendidikan ummat saat ini.
Pembagian Wilayah Telaah Epistemologi Pendidikan Islam
H.A.R. Tilaar menyatakan bahwa pendidikan itu dapat
dibedakan dalam dua bentuk, yaitu pendidikan sebagai benda dan pendidikan sebagai proses.
Sementara, pengertian pendidikan sebagai benda
itu sendiri dapat dibedakan dalam dua bentuk lagi, yaitu benda dalam arti
“lembaga pendidikan” dan benda dalam arti “ilmu” atau lebih
tepatnya ilmu pendidikan.
Pendidikan Islam sebagai salah satu objek konkrit telaah
epistemologi pendidikan memiliki rangka bangun konsep sejenis. Telaah
epistemologi pendidikan Islam dibedakan dan dibagi dalam 3 (tiga) wilayah,
Yaitu:
1. Pendidikan
Islam Sebagai Suatu Sistem Ilmu Pengetahuan
Pendidikan Islam sebagai suatu sistem
ilmu pengetahuan adalah semesta ide, gagasan dan pemikiran tentang pendidikan
Islam yang direpresentasikan menurut aturan dan kaidah-kaidah tertentu secara
sistematis dan metodologis. Artinya semesta pengetahuan manusia tentang
pendidikan yang direpresentasikan merupakan bagian dari bentuk pendidikan Islam
sebagai suatu sistem ilmu pengetahuan. Perbedaan masing-masing pengetahuan yang
direpresentasikan tersebut ditentukan menurut kadar kepatuhan bahasan pada
persyaratan ilmiah seperti; sistematika, metodologi, aturan dan kaidah-kaidah
tertentu. Semakin ketat satu sistem bahasan pendidikan Islam yang disajikan
dalam mematuhi persyaratan ilmiah, maka ia menduduki peringkat tertinggi dalam
sistem ilmu pengetahuan
Beberapa
persyaratan ilmiah tersebut antara lain : 1. Punya Objek yang Jelas dan Tegas,
2. Melalui Metode Ilmiah Tertentu, 3. Sistematis (ada bentuk dan urutan yang
jelas) 4. Bersifat Koheren, 5. Saling Berhubungan (korelevan) dan 6. Reflektif
(dapat dipertanggungjawabkan kesesuaiannya dengan objek).
2.
Pendidikan Islam Sebagai Suatu
Proses Belajar-Mengajar
Pendidikan Islam sebagai suatu
proses belajar-mengajar mengarah pada pengertian kajian pendidikan Islam yang
memfokuskan diri menelaah apa, bagaimana dan kemana tujuan proses pendidikan,
serta unsur-unsur apa saja yang ikut mempengaruhi penyelenggaraannya.
Wilayah telaah pendidikan Islam
sebagai suatu proses belajar mengajar berisi penjelasan tentang apa yang
disebut pendidikan, bagaimana seharusnya aktifitas belajar-mengajar dilakukan,
tujuan apa yang ingin dicapai melalui proses belajar mengajar, serta
unsur-unsur apa saja yang terlibat dalam proses kependidikan tersebut.
3.
Pendidikan Islam Sebagai Suatu
Lembaga/Institusi Pendidikan.
Dilihat dari perwujudan
kebendaannya, konsep pendidikan Islam mengarah pada lembaga atau institusi
pendidikan. Proses pendidikan dalam arti semesta mengarah pada semesta
realitas material yang mengalami atau mampu melakukan perubahan kearah yang
lebih baik.
Unsur terpenting dalam konsep
tersebut adalah segala wujud benda yang mengalami atau mampu melakukan
perubahan kearah yang lebih baik. Unsur tujuan pendidikan kearah yang lebih
baik menjadi unsur pertama dan utama untuk dapat disebut sebagai lembaga
pendidikan Islam. Keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat, tempat-tempat
peribadahan, maupun diri manusia dapat dipandang sebagai bagian dari objek
pendidikan Islam sebagai suatu lembaga pendidikan jika mengalami atau mampu
melakukan perubahan kearah yang lebih baik.
Wilayah telaah pendidikan Islam
sebagai suatu institusi atau lembaga pendidikan menjadi sangat luas. Semua
benda bermateri yang mengalami atau melakukan perubahan kearah yang lebih baik
dalam pandangan manusia, dapat disebut sebagai pendidikan Islam. Dari sini
persoalan yang muncul adalah konsep lebih baik dalam pandangan manusia satu
sama lain tidak sama bahkan tidak jarang berseberangan.
Wujud
Konkrit Epistemologi Pendidikan Islam
Persoalan
mendasar yang ingin disampaikan pada sub bab ini adalah apa dan bagaimana
pengaruh pemetaan wilayah epistemologi pendidikan Islam, kemudian bagaimana
implementasi konsep konkrit dari pemetaan wilayah epistemologi pendidikan Islam
tersebut dalam merumuskan konsep ideal pendidikan Islam.
Untuk itu, bahasan wujud konkrit epistemologi pendidikan
Islam sebagai anak cabang pemetaan wilayah epistemologi pendidikan Islam
dibedakan pula dalam 3 (tiga) kelompok sub tema, yaitu:
1.
Pemetaan Studi Ilmu Dalam Proses
Pendidikan Islam
Dalam sejarah filsafat kuno, orang pertama peletak dasar
objek belajar manusia yang memandang kesatuan realitas semesta “ada”
terbagi dalam dua bentuk adalah Plato. Dua dunia realitas itu adalah “dunia
jasmani” dan “dunia ide”. Dunia jasmani diakui sebagai dunia yang selalu dalam
bentuk perubahan, sebaliknya dunia ide tidak pernah ada perubahan.
2.
Wilayah Kerja Ilmu Pendidikan Islam
Dalam pandangan Islam, pendidikan pada hakekatnya khusus
diperuntukkan bagi manusia. Pelikan, tumbuhan, dan hewan dalam
batas-batas tertentu tidak bisa dikatakan mendapatkan pendidikan. Meskipun pada
fakta-fakta tertentu kita sering melihat perilaku hewan dapat diarahkan sesuai
dengan kehendak yang dinginkan manusia, contohnya hewan-hewan dalam sirkus,
tetapi konsep pendidikan yang dihadirkan tidak sesempurna konsep pendidikan
yang diterapkan pada manusia.
3.
Konseptualisasi Lembaga Pendidikan
Islam
Seperti telah disebutkan, lembaga pendidikan Islam adalah
lembaga penyelenggara pendidikan yang bertujuan melakukan perubahan kearah yang
‘lebih baik’. Konsep lebih baik dibangun dan dikembangkan dari dasar persamaan
persepsi dan tujuan. Sedangkan pendidikan Islam sebagai suatu lembaga menunjuk
pada lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola, dilaksanakan dan diperuntukkan
bagi umat Islam.
konsep
visi dan misi lembaga pendidikan Islam dapat dirumuskan dengan bersumber
dari Al Qur’an, Hadits dan Ijtihad. Visi berhubungan dengan rumusan
konsep tujuan pendidikan Islam dalam rentang waktu yang panjang, idealis dan
bersifat filosofis. Sedangkan misi berhubungan dengan rumusan tujuan pendidikan
Islam dalam rentang waktu relatif pendek dan dengan standar tingkat
keberhasilan tertentu. Konsep misi suatu lembaga pendidikan Islam umumnya
dirumuskan dalam bentuk tujuan-tujuan praktis dan atau fungsional.
Corak
Pemikiran Pendidikan Al-Attas
Apabila
ditelaah dengan cermat, format pemikiran pendidikan yang ditawarkan oleh
Al-Attas, tampak jelas bahwa dia berusaha menampilkan wajah pendidikan Islam
sebagai suatu sistem pendidikan terpadu.
Hal
tersebut dapat dilihat dari tujuan pendidikan yang dirumuskannya, yakni tujuan
pendidikan yang dirumuskannya, yakni tujuan pendidikan dalam Islam harus
mewujudkan manusia yang baik, yaitu manusia universal (Al-Insan Al-Kamil).
Insan kamil yang dimaksud adalah manusia yang bercirikan: pertama; manusia yang seimbang, memiliki keterpaduan dua dimensi
kepribadian; a) dimensi isoterikvertikal yang intinya tunduk dan patuh kepada
Allah dan b) dimensi eksoterik, dialektikal, horisontal, membawa misi
keselamatan bagi lingkungan sosial alamnya. Kedua;
manusia seimbang dalam kualitas pikir, zikir dan amalnya (achmadi, 1992: 130).
Maka untuk menghasilkan manusia seimbang bercirikan tersebut merupakan suatu
keniscayaan adanya upaya maksimal dalam mengkondisikan lebih dulu paradigma
pendidikan yang terpadu.
Indikasi
lain yang mempertegas bahwa paradigma pendidikan yang ditawarkan Al-Attas
menghendaki terealisirnya sistem pendidikan terpadu ialah tertuang dalam
rumusan sistem pendidikan yang diformulasikannya, dimana tampak sangat jelas
upaya Al-Attas untuk mengintegrasikan ilmu dalam sistem pendidikan Islam,
artinya Islam harus menghadirkan dan mengajarkan dalam proses pendidikannya
tidak hanya ilmu-ilmu agama, tetapi juga ilmu-ilmu rasional, intelek dan
filosofis.
Dari
deskripsi di atas, dapat dilacak bahwa secara makro orientasi pendidikan
Al-Attas adalah mengarah pada pendidikan yang bercorak moral religius yang
tetap menjaga prinsip keseimbangan dan keterepaduan sistem. Hal tersebut
terlihat dalam konsepsinya tentang Ta’dib (adab) yang menurutnya telah mencakup
konsep ilmu dan amal. Di situ dipaparkan bahwa setelah manusia dikenalkan akan
posisinya dalam tatanan kosmik lewat proses pendidikan, ia diharapakan dapat
mengamalkan ilmunya dengan baik di masyarakat berdasarkan adab, etika dan
ajaran agama. Dengan bahasa yang berbeda dapat dikatakan bahwa penggunaan ilmu
pengetahuan dan teknologi harus dilandasi pertimbangan nilai-nilai dan ajaran
agama.
Kondisi
Obyektif Pendidikan Islam dewasa ini
Untuk
memotret bagaimana kondisi dunia pendidikan Islam dewasa ini, setidaknya bisa
dicerna pandangan dan penilaian kritis para cendekiawan muslim, dimana secara
makro dapat disimpulkan bahwa ia masih mengalami keterjajahan oleh konsepsi
pendidikan Barat. Walaupun statemen ini berupa tesis atau hipotesa yang perlu
dikaji ulang, tetapi ia sangat penting sebagai cermin dan refleksi untuk
memperbaiki wajah pendidikan Islam yang dicita-citakan.
Prof.
Dr. Isma’il Raji Al-Faruqi dalam karya monumentalnya islamization of knowlegde: general principles and workplan mensinyalir bahwa
kondisi umat Islam saat ini sangat memprihatinkan, berada di bawah anak tangga
bangsa-bangsa terbawah. Mengenai kondisi ini, ia menulis the whole world nomdays is led to thing that the religion of islam
standas at the root of all evils (Al-Faruqi, 1995: x). Dalam bukunya Al-Tawhid,
ia menambahkan bahwa : the ummah of islam
is undeniabley the most unhappy ummah in modern times (Al-Faruqi, 1994:
xiii). Al-Faruqi meyakini bahwa kondisi umat islam yang memprihatinkan ini,
disebabkan oleh sistem pendidikan yang dipakai jiplakan dari sistem pendidikan
Barat, baik materi maupun metodologinya (AL-Faruqi, 1984:17).
Tidak
bisa dipungkiri, bahwa masyarakat Islam di seluruh dunia sedang berada dalam
arus perubahan yang sangat dahsat seiring datangnya era globalisasi dan
informasi. Sebagai masyarakat mayoritas dalam dunia ketiga, sungguhpun telah
berusaha menghindari pengaruh westernisasi, tetapi dalam kenyataannya
modernisasi yang diwujudkan melalui pembangunan berbagai sektor termasuk
pendidikan, intervensi dan westernisasi tersebut sulit dielakkan.
Sehubungan
dengan itu Fazlur Rahman Anshari yang selanjunya dikutip oleh Muhaimin,
menyatakan : bahwa dunia Islam saat ini menghadapi suatu krisis yang belum
pernah dialami sepanjang sejarahnya, sebagai akibat dari benturan peradaban
Barat dengan dunia Islam.
Khursyid
Achmad, seorang pakar muslim asal Pakistan, mencatat empat kegagalan yang
ditemui oleh sistem pendidikan Barat yang liberal dan sekuler, yaitu:
Pertama: pendidikan
telah gagal mengembangkan cita-cita kemasyarakan di kalangan pelajar.
Kedua, pendidikan semacam ini gagal menanamkan
nilai moral dalam hati dan jiwa generasi muda. Pendidikan semacam ini hanya
memenuhi tuntutan pikiran, tetapi gagal memenuhi kebutuhan jiwa.
Ketiga, pendidikan liberal membawa akibat terpecah
belahnya ilmu pengetahuan. Ia gagal menyusun atau menyatukan ilmu dalam
kesatuan yang utuh. Empat, selanjutnya pendidikan liberal menghasilkan manusia
yang tiadak mampu menghadapi masalah kehidupan yang mendasar. (Achmad,
1992:22-23).
Semerntara
Al-Attas melihat bahwa universitas modern (baca:Barat) tidak mangakui
eksistensi jiwa atau semangat yang ada pada dirinya, dan hanya terikat pada
fungsi administratif pemeliharaan pembangunan fisik
Dapat
disimpulkan bahwa kondisi pendidikan dewasa ini, secara makro telah
terkontaminasi dan terinvensi konsep pendidikna Barat. Dimana paradigma
pendidikan Barat tersebut secara garis besar dapat dikatakan hanya mengutamakan
pengejaran pengetahuan ansich,
menitik beratkan pada segi teknik empiris, sebaliknya tidak mengakui eksistensi
jiwa, tidak mempunyai arah yang jelas serta jauh dari landasan spiritual.
Pendidikan Islam Sebagai Suatu Sistem
Dasar-Dasar pendidikan islam
Kata sistem
sering digunakan dalam berbagai seminar, diskusi, ceramah, dan sebagainya.
Sebenarnya apa arti sistem itu? Ini penting karena sistem pendidikan islam
tidak akan dipahami jika arti sistem belum diketahui sepenuhnya.
Ada yang
mengartikan sistem sebagai himpunan gagasan atau prinsip yang saling bertautan,
yang tergabung menjadi suatu keseluruhan (Imam Barnadib, 1997 : 19). Sehingga,
dalam sistem terdapat tiga hal mendasar yaitu :
1.
Adanya
berbagai komponen, gagasan, konsep, dan prinsip-prinsip.
2.
Adanya
saling keterkaitan antar komponen, antar gagasan, antar konsep dan prinsip.
3.
Adanya
integralitas di antara komponen dan gagasan serta prinsip yang saling berkaitan
sehingga membentuk konsep sistemik yang menjadi terminologi umum dari semua
komponen yang ada.
Dengan demikian,
apabila kita sepakat bahwa islam sebagai agama merupakan sistem sehingga
disebut sebagai sistem islam, hal tersebut karena didalamnya terdapat komponen,
ajaran, prinsip-prinsip kehidupan islami yang saling berkaitan dan membentuk
jalinan konsep yang integral.
Pendidikan
Islam sebagai suatu sistem dapat dipahami bahwa dalam pendidikan islam terdapat
gagasan, prinsip-prinsip, dan subsistem lainnya yang saling berkaitan. Oleh
karena itu, yang harus diketahui lebih dahulu adalah dasar-dasar pendidikan
islam sebagai sistem.
Dasar artinya
tempat berpijak atau landasan, yang merupakan titik tolak keberangkatan segala
sesuatu. Dalam sistem berpikir filsafat, pendidikan islam dinyatakan sistem.
Artinya, pendidikan islam berkaitan dengan tiga unsur fundamental, yaitu :
a.
Realitas
masyarakat yang memandang ajaran-ajaran islam merupakan ide dasar pendidikan
dunia akhirat.
b.
Ilmu
pengetahuan tidak sebatas memahami yang lahiriyah, tetapi yang batiniyah pun
menjadi objek kajian.
c.
Semua
yang ada dengan dan tanpa ilmu pengetahuan akan terus berubah. Perubahan
merupakan hukum alam, sedangkan ilmu pengetahuan diketahui melalui pendidikan
yang sumbernya dapat bervariasi.
Pendidikan Islam merupakan sistem
yang dibangun oleh dasar yang sangat kuat, yaitu :
1.
Al-Quran
Tidak bisa dipungkiri bahwa al-quran sebagai titik tolak
keberangkatan sistem pendidikan islam. Al-quran merupakan dasar pendidikan
islam karena mnyampaikan pesan-pesan pendidikan kepada manusia yang berakal.
2.
As-Sunnah
Dasar pendidikan islam yang kedua adalah As-Sunnah, yang merupakan
barometer keberhasilan Allah SWT menghadirkan manusia teladan yang sempurna.
Nabi Muhammad SAW terkenal sebagai manusia yang paling jujur, amanah, tabligh,
dan fathanah. Pendidikan yang mencerminkan teladan Nabi adalah sistem pendidikan
Islam yang bertujuan membentuk anak didik yang amanah, fathanah dan tabligh,
artinya semua ilmu yang dimiliki wajib diamalkan dalam kehidupan, dimanfaatkan
dan didakwahkan kepada semua masyarakat, serta menjaga nama baik Islam sebagai
agama yang kebenarannya universal.
3.
Atsar
dan ijma sahabat
Atsar dan ijma sahabat menjadi dasar pendidikan islam. Sebagaimana
dalam sejarah digambarkan bahwa para sahabat bergotng royong membangun masjid
Nabawi sebagai pusat pendidikan Islam, membangun majlis taklim, membangun
madrsah dan menyebarluaskan ilmu yang diterima dari Rasulullah SAW.
4.
Ijtihad
ulama
Dasar pendidikan Islam berikutnya adalah ijtihat atau pendapat para
ulama, yang menurut sejarah tidak sedikit dari para ulama yang mendirikan
sekolah dan membangun lembaga pendidikan. Muhammad Abduh adalah salah satu
tokoh politik dan pendidik yang menyarankan agar umat islam keluar dari
belenggu taklid, fanatisme buta, dan kebodohan, dengan memperbanyak mencari
ilmu, mengembangkan dunia pendidikan dan ijtihad.
Sistem
pendidikan Islam dan pendidikan Islam sebagai sistem adalah integralitas antara
unsur-unsur di bawah ini :
a.
Integralitas
unsur ilahiyah, alamiah, dan insaniah. Karena tujuan pendidikan Islam terfokus
pada pemberdayaan alam dan manusia dengan bertitik tolak dari nilai-nilai
ilahiyah dan rabbaniyah atau kependidikan yang berbasis pada al-quran dan
as-sunnah.
b.
Integralitas
antar hati, akal, dan panca indra. Tiga alat pendeteksi kebenaran yang bersifat
intuitif dan metafisikal, kebenaran rasional dan kebenaran empirik.
c.
Integralitas
antara ilmu pengetahuan, hidayah, dan sumber ilmu pengetahuan.
Tiga unsur di
atas merupakan sistem terpadu dan universal yang akan diterapkan dalam
pendidikan Islam. Pendidikan Islam sebagai suatu sistem dapat diwujudkan dengan
mempertimbangkan prinsip-prinsip di bawah ini :
1.
Prinsip
qurani, yakni al-quran sebagai dasar pendidikan Islam.
2.
Prinsip
‘aqli, yakni sebagai alat untuk mendalami ayat-ayat Ilahi.
3.
Prinsip
ilmu bi al-‘amali, yakni pengetahuan praktis, semua ilmu untuk diamalkan.
4.
Prinsip
‘ilmu bi al-hidayati, ilmu sebagai
hidayah kehidupan.
5.
Prinsip
‘ilmu bi at-taghayuri, ilmu yang fleksibel dan multitafsir untuk segala zaman,
waktu, situasi, dan kondisi.
Upaya Membangun Epistemologi Pendidikan Islam
Sistem
pendidikan islam telah mengalami banyak kelemahan karena pengaruh pendidikan
barat yang sangat kuat. Sehingga harus ada pembaharuan-pembaharuan dalam
pendidikan islam yang harus dimunculkan di berbagai dimensi. Pada dimensi
pengembangan terdapat kesadaran bahwa cita-cita mewujudkan pendidikan islam
ideal itu baru bisa dicapai bila ada upaya membangun epistemologinya. (Epistemologi
pendidikan islam hal.249)
Epistemologi
pendidikan islam harus dirumuskan secara konseptual untuk menemukan
syarat-syarat dalam mengetahui pendidikan berdasarkan ajaran-ajaran islam
selain itu juga upaya-upaya pengembangan
pendidikan islam hanya hanya bisa berjalan secara kondusif, apabila
epistemologi pendidikan islam telah benar-benar dikuasai oleh para peneliti
muslim.
Epistemologi
memiliki peran, pengaruh dan fungsi yang begitu besar, dan terlebih lagi
sebagai penentu atau penyebab tumbulnya akibat-akibat dalam pendidikan islam,
sekiranya terjadi kelemahan atau kemunduran pendidikan islam, maka epistemologi
sebagai penyebab paling awal harus dibangun terlebih dahulu, dan melalui
epitemologi juga pendidikan islam dapat dikembangkan. Kekokohan bangunan
epistemologi melahirkan ketahanan pendidikan islam menghadapi pengaruh apapun,
termasuk arus budaya barat, dan mampu memberi jaminan terhadap kemajuan
pendidikan islam serta bersaing dengan pendidikan-pendidikan lainnya. Masa
depan pendidikan islam tergantung dengan kondisi epistemologinya, maju
mundurnya pendidikan dan baik buruknya system pendidikan islam akan sangat
bergantung pada keadaan epistemologinya. epistemologi dapat mengangkat martabat
pendidikan islam dan sebaliknya, dapat menjatuhkannya apabila keadaannya rapuh.






0 comments:
Post a Comment