8 Juli 2013

Sumber Ilmu Pendidikan Islam



a.    Wahyu (Al-Quran dan Hadis)
Sumber pengetahuan yang disebut “wahyu” identik dengan agama atau kepercayaan. Karena wahyu merupakan pengetahuan yang bersumber dari Tuhan melalui hambanya yang terpilih untuk menyampaikannya (nabi dan rasul).[1] Menurut Arkoun, tidak ada terjemahan istilah wahyu ke dalam bahasa lain, karena dia berpendapat tidak ada padanan kata yang tepat dalam bahsa manapun untuk menerjemahkan kata wahyu tersebut.[2]
Disini, wahyu terbagi menjadi dua. Pertama adalah Al-Quran. Al-Quran adalah firman Allah berupa wahyu yang di sampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad. Dalam Al-Quran terdiri dari dua prinsip besar yaitu yg berhubungan dgn masalah keimanan yg disebut aqidah dan yg berhubungan dgn amal disebut syari’ah.[3]
Kedua adalah Hadist. Hadist adalah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rasul Allah SWT.[4] Yang di maksud dengan pengakuan ialah kejadian atau perbuatan orang lain yang di ketahui Rasululah dan beliau membiarkan saja kejadian atau erbuatan itu berjalan. Hadist merupakan sumber ajaran kedua sesudah Al-Qur’an. Menurut Arkoun, hadist  merupakan bentuk penafsiran Nabi sebagai penerima wahyu terhadap Al-Quran untuk melakukan kontekstualisasi makna wahyu yang di terima agar bisa di pahami dan di aplikasikan kepada masyarakat.[5] Hadist juga sama dengan Al-Quran, berisi pedoman untuk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspek untuk membina umat menjadi manusia yang utuh atau muslim yang bertaqwa.
b.    Akal
Rasio (akal), adalah pemikiran menurut akal sehat, akal budi atau nalar.[6] Paham Rasionalisme ini beranggapan bahwa sumber pengetahuan manusia adalah rasio.[7] Jadi dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia harus dimulai dari rasio. Tanpa rasio maka mustahil manusia itu dapat memperolah ilmu pengetahuan.  Rasio itu adalah berpikir. Maka berpikir inilah yang kemudian membentuk pengetahuan. Dan manusia yang berpikirlah yang akan memperoleh pengetahuan. Semakin banyak manusia itu berpikir maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapat. Berdasarkan pengetahuan lah manusia berbuat dan menentukan tindakannya. Sehingga nantinya ada perbedaan prilaku, perbuatan, dan tindakan manusia sesuai dengan perbedaan pengetahuan yang didapat tadi.
 Namun demikian, rasio juga tidak bisa berdiri sendiri. Ia juga butuh dunia nyata. Sehingga proses pemerolehan pengetahuan ini ialah rasio yang bersentuhan dengan dunia nyata di dalam berbagai pengalaman empirisnya. Maka dengan demikian, seperti yang telah disinggung sebelumnya kualitas pengetahuan manusia ditentukan seberapa banyak rasionya bekerja. Semakin sering rasio bekerja dan bersentuhan dengan realitas sekitar maka semakin dekat pula manusia itu kepada kesempunaan. Hal ini sesuai dengan irman Allah dalam surat Al Isro’:
Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. (Al Isro’: 6)[8]

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.(An Nahl: 78)[9]

Katakanlah: "Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (tetapi) Amat sedikit kamu bersyukur.(Al Mulk: 23)[10]
Leibinz adalah seorang Jerman yang pada usia 17 tahun telah menjadi sarjana. Ia menjadi duta tetapi tidak meniggalkan  ilmu pasti dan filsafat. Teorinya menyatakan bahwa segala sesuatau itu terjadi dari monade, tidak ada hubunannya dengan luar dan tidak mempunyai hubungan apapun. Oleh karena itu pengetahuan tidak berpangkal dari luar diri kita, tetapi berpangkal pada diri kita sendiri, akal. Leibintz mengemukakan doktrine of innete idea (innete = di bawa sejak lahir).
Gagasan inilah yang membawa kita kepada pengetahuan. Pikiran didapat dari diri kita sendiri, dibawa sejak lahir. Misalnya bujur sangkar tidak dapat dilihat, tetapi hanya dapat dipikirkan. Jadi bujur sangkar ada padadiri kita, dari gagasan atau idea.[11]
Descrates sebagai bapak rasionalisme kontinental, berusaha menemukan suatu kebenaran yang tidak dapat diraguan yang darinya dengan memakai metode deuktifdapat disimpulkan semua pengetahuan kita. Ia yakin bahwa kebenaran yang semacam itu ada dan bahwa kebenaran-kebenaran tersebut dikenal dengan cahaya yang terang dari akal budi sebagai hal-hal yang idak dapat diragukan lagi. Secara demikian akal budi dipahamkan sebagai (1) sejenis perantara kgusu yang dengan perantara tersebut dapat dikenal kebenaran, dan sebagai (2) suati tehnik eduktif yang degan memakai tehnik tersebut dapat ditemukan kebenaran-kebenaran: artinya dengan melakukan penalaran.[12]
Teori-teori pengetahuan acap kali gugur, karena sulit diterima akal.[13] Para ilmuwan boleh memberikn konsep tentang cara-cara memeroleh ilmu pengetahuan, tetapi konsep mereka harus bisa diterima oleh akal sehat mamusia. Karena rasio memberikan  pertimbangan dan sekaligus pengujian aling awal terhadap segala konsep untuk memperoleh pengetahuan. Pertimbangan dan pengujian rasio terhadap konse epistemologi tersebut berfungsi menentukan dan memperlancar  pengakuan terhadap konsep tersebut, apakah konsep tersebut bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, atau ditolak sebagai kesalahan.
Walaupun sedemikian penting posisi akal dala menentukan suatu konsep kebenaran, namun cukup banyak pula kekurangannya. Kartanegara memaparkan bahwa, sebenarnya ada beberapa kelemahan akal antara lain, a) akal tidak mampu menembus  atau menjangkau secara utuh pengalaman-pengalaman yanaga bersifat eksistensial yaitu pengalaman yang secara langsung kita rasakan , dan bukan seperti yang kita konsepsikan, b) akal cenderung memahami sesuatu secara general dan homogen sehingga tidak mampu mengerti keunikan sebuah momen atau atau ruang sebagaimana yang di alami seseorang, c) akal tidak mampu memahami objek secara langsung  karena akal hanya berada pada dunia kata-kata dan simbul dan tidak pernah secara langsung menyentuhnya.[14]
c.    Panca Indera
Empirisme (panca indera) berasal dari bahasa yunani  empeirikos yang berasal darin kata empeiria, artinya pengalaman. Menurut aliran ini  manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman.[15] Pengalaman yang di maksud dalam pengetahuan ini adalah pengalaman yang bersifat inderawi.
Dapat disimpulkan maksud dari empirisme adalah, bahwa pada mulanya manusia itu kosong dari p0engetahuan, kemudian kehidupannya sehari-hari menjadi pengalaman yang mengisi jiwanya sehingga manusia tersebut memiliki pengetahuan. Hal ini sesuai denga  irman Allah dalam surat As Sajdah ayat 9 yang artinya:
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.[16]
Sebagai contoh, manusia bisa mengatakan kalau es rasanya dingin setelah mereka (manusia) menyentuhnya. Tanpa menyentuhnya, manusia tidak bisa mengatakan kalau  es itu dingin. Manusia juga mengatakan kalau gula itu manis karena mereka (manusia) telah mencicipinya.
Kelemahan aliran ini cukup banyak.[17] diantaranya ialah indra adalah indera sangat terbatas. Benda yang jauh kelihatan kecil tapi belum tentu benda yang jauh itu benar-benar kecil. Sebagai contoh, bintang di langit terlihat kecil,namun sebenarnya bintang itu adalah besar. Hal ini terjadi karena keterbatasan indera. Contoh lain adalah pada orang yang sakit malaria. Menurutnya gula pahit rasanya, udara panas dirasakan dingin. Pada fatamorgana manusia melihat objek yang sebearnya objek itu idak seperti apa yang mereka lihat. Indera, dalam hal ini mata tidak mampu melihat objek secara keseluruhan. Mata ketika melihat objek dari depan, maka pengetahuan yang ada adalah bahwa bentuk objek itu seperti yang dilihatnya.
d.   Intuitif (Hati)
Banyak kalangan yang menyebut intuitif dapat menjadi sumber pengetahuan. Henri Bergson adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas. Objek-objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu berubah.[18]  Sumber pengetahuan intuitif  ini adalah sumber pengetahuan yang bersandar pada hati.[19] Hal ini sesuai engan irman Allah dalam surat al Baqoroh ayat 269 yang artinya:
Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).[20]

Metode intuitif ini di gunakan untuk melawan metode epistemologi barat yang menggunakan akal untuk mendapatkan pengetahuan dan kebenaran. Ada pandangan  yang berbareng dengan hal ini, yaitu bahwa pemahaman yang berakar pada logika dan analisis kritis, empiris dan rasionalis bukanlah yang di butuhkan.[21]
Dengan menyadari keterbatasan akal pada pemaparan di atas, Bergson  mengembangakan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi. Ini adalah hasil pemahaman yang tertinggi.[22] Malcolm Gladwell, seperti yang di sunting oleh Nuroini Soyomukti, beliau berpendapat bahwa “intuisi adalah kekuatan bawah sadar yang menyerap banyak banyak sekali informasi dan data dari indra dan dengan tepat membentuk situasi, memecahkan masalah, dan seterusnya, tanpa adanya pikiran formal yang kaku dan mengatur”.[23]
Kartanegara memaparkan beberapa kelebihan intuisi atau hati sebagaimana berikut: a) hati mampu memahami wilayah kehidupan emosional manusia yang bersifat eksistensial, b) hati mampu menangkap keunikan-keunikan setiap peristiwa yang dialami manusia, c) hati mempunyai kemampuan untuk mengenal objeknya secara langsung (direct experiment).[24]


[1] Nuraini Soyomukti,  Pengantar Filsafat Umum (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 162.
[2] Ruslani, Masyarakat Kitab dan Dialog Antar Agama: Studi Atas Pemikiran Mohammed Arkoun (Yogyakarta: Yayasan Bentang Utama, 2000), hlm. 94
[3] Zakiah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam,  (Jkarta: PT Bumi Aksara, 2000), cet 4, hlm 19-20. Lihat Riyanto, Pendidikan Islam Indonesia, blog.re.or.id > Pondok Pesantren > Pendidikan Islam Indonesia ... Pendidikan Islam. Di ulas pada 25 Maret 2013
[4] Abu Zahrah, Ushul Fiqh (Jakarta: PT Firdaus dengan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan asyrakat, 1983) hlm 147. Lihat Zakiah Drajat hlm 20-21.
[5] Ruslani, op.cit., hlm. 88
[6] Definisi: rasio, Arti Kata: rasio, www.artikata.com/arti-347091-rasio.html
[7] Filsafat Ilmu Aliran Rasionalisme dan Empirisme – Kompasiana. Filsafat.kompasiana.com/.../filsafat-ilmu-aliran-rasionalisme-dan-empiris. Diakses pada 11 Maret 2013.
[8] Departemen Agama Republik Indonesia,  Al Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: CV. Atlas, 2000), hlm. 425
[9] Ibid.,  hlm. 413
[10] Ibid., hlm. 957
[11]   Sutardjo Wiraharja, Pengantar  filsafat, hlm 116
[12] Luis O Kattasof, Elements of Philosophy, Terjemahan Soejon Soemargono (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004) cet, 9 hlm. 135
[13] Mujamil Qomar, op.cit., hlm. 65
[14] Muhammad In’am Esha, loc.it.
[15] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum : Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), cet 18, hlm. 24
[16] Departemen Agama Republik Indonesia,  op.cit.,  hlm. 661
[17] Ahmad Tafsir, loc,it.
[18] Ahmad Tafsir, op.cit., hlm 27.
[19] Muhammad In’am Esha, Menuju Pemikiran Filsafat (Malang: UIN Maliki Press, 2010), cet 1, hlm. 97
[20] Departemen Agama Republik Indonesia, op.,cit., hlm. 67
[21] Nuraini Soyomukti, loc.it.
[22] Ahmad Tafsir, loc.,it
[23] Nuraini Soyomukti, op.cit., hlm. 161
[24] Muhammad In’am Esha, loc.it.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar