19 Juli 2013

karakteristik ilmu pengetahuan dalam islam


Ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam tidak sepenuhnya bertolak belakang dengan ilmu pengetaguan barat. Ada segi-segi tertentu yang merupakan titik persamaan. Hal ini di buktikan bahwa kebenaran akal dan indera juga diakui. Banyak sekali ayat Al Quran yang menjelasjan keduanya. Namun keduanya juga sangat terbatas dlam memecahkan masalah. Tidak semua permasalahan dapat dipecahkan oleh akal dan indera. Karena keduanya sangat terbatas, itulah akhirnya ilmu Islam dirancang  dan dibangun selain berdasar kedua sumber di atas, juga berdasarkan kekuatan spiritual yang bersumber dari Allah melalui wahyu
1.      Bersandar pada kekuatan spiritual
Manusia adalah makhluk yang lebih dari skedar bersifat sensual, dia punya akal, punya hati nurani dan punya iman. Dalam keimanan terdapat kekuatan-kekuatan spiritual yang luar biasa. Dalam hati juga terdpat kekuatan spiritul. Indikasinya adalah bahwa hati nurani sseorang selalu condong pada perbuatan-perbuatan baik yang diridhoi Tuhan. Pada akal juga terdapat kekuatan spuiritual. Akal manusia mempunyai subtansi sumber dan prinsipnya adalah Ilahi. Fazlur Rahman menempatkan indera dan akal pada posisi sentral dalam memperoleh dan mengembangkan pengetahuan. Namun dari ketiganya, para filosof Muslim menempatkan wahyu di atas rasio. Hal ini dikrenakan wahyu merupkan ajaran-ajaran Tuhan demi kemsalahatan manusia, dan wahyu merupkan kebenaran yang mutlak. Oleh karena itu indera dan akal harus tunduk kepada wahyu, karena wahyu merupakan petunjuk dari Allah selaku Tuhan pencipta mannusia.
Kebenaran yang dirawarkan  oleh wahyu sering dipahami sebagai kebenaran apriori. Memang hal ini ada benarnya jika dipandang dari sudut lmu pengetahuan manusia berdasarkan ketentuan –ketentan Allah dalam kitab suci. Artinya kita mengetahui kebenaran sesutu berdasarkan informasi wahyu, walaupun tanpa penelitian terlebih dahulu. Tetapi dari sudut pengalaman bisa juga sebaliknya, yaitu aposteriori. Artinya kita lebih lama mengalami atau mengamalkan sesuatu ajaran Allah tetapi belum tahu rahasia ajaran tersebut dan mungkin kita baru tahu ketentuan-ketentuan yang memerintahkan untuk mengamalkan sesuatu itu. Pendekatan terhadap wahyu tersebut sering diremehkan oleh Ilmuwan Barat, kecuali sedikit sekali. Hal ini berbeda sekali dengan ilmu pengetahuan Islam yang menempatkan wahyu pada posisi dan fungsi yang sangat strategis.
Di samping wahyu, kekuatan spiritual lain bisa berupa intuisi. Seperti halnya wahyu, intuisi juga ditinggalkan Ilmuwan Barat, baik sebagai sumber maupun sebagai pendekatan pengetahuan. Hanya saja Bergson menyakini, bahwa baik dengan budi maupun dengan indera belaka, kita tak mampu menyelami relitas sepenuhnya. Untuk itu kita harus menggunakan intuisi. Dikalangan muslim intuisi menempati kedudukan yang paling baik  sebagai sumber mupun pendekatan untuk mendapatkan pegetahuan. Mereka lalu memafaatkan intuiasi dalam melakukan kerja ilmiah untuk mendampingi akal, sehingga disamping ada target-terget yang harus dicapai melalui pemikiran, juga mereka mengharapkan datangnya pengetahuan yang sifatnya dianugerahkan melalui intuisi. Yang kemudian Intuisi ini digunakan untuk menyempurnakan proses pemikiran mereka dalam menggagas persoalan-persoalan ilmu.
Dengan demikian, disamping rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatka penegtahuan yang lain yaitu intuiasi dan wahyu. Sampai sejauh ini pengetahuan yang didapatkan secara rasioanl maupun empiris, kedua-duanya merupakan induk produk dari sebuah  penalaran sedangkan pengetahuan yang didapatkan melalui wahyu dan intuisi diyakni lagsung dari Allah. Sebenarnya metode ynng dimiliki oleh pemikir Islam lebih banyak dari Ilmuwan Barat, seharusnya pengetahuan pemikir muslim lebih maju di atas ilmu pengetahuan yang lahir dari barat, namuan kenyataannya pada saat ini, ilmu yang dihasilkan oleh Ilmuwan Barat lebih mendomiasi ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa masih ada yang salah dengan para pemikir muslim.
2.      Hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal
Karakter ilmu dalam Islam yang kedua adalah didasarkan pada hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal. Keduanya tidak dipertentangkan karena memiliki titik temu. Atas dasar dan pertimbangan inilah pendamaian filsafat dan agama menjadi harapan dan aspirasi seluruh filosof muslim. Rata-rata mereka memiliki konsep yang sangat mesra atau harmonis hubungan antara wahyu dan akal, atau antara agama dengan filsafat. Hal ini menjelasakan bahwa ilmu Islam tidak memppertentangkan antara wahyu dan akal.
Namun tradisi pemikiran seperti ini tidak bisa terjadi dikalangan para ilmuwan pada umumnya, terutama para ilmuwan barat. Mereka dapat menerima bahkan menerapakan, bahwa akal sebagai sumber untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan. Namaun mereka menolak wahyu sebagai alat yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah. Kedunya praktis putus satu sama lain yag tidak bisa disatukan. Merek kurang menyadari bahwa sesunguhnya ilmu tanpa didampingi agama akan menyimpang dari akidah yang benar atau kebablasan, seperti kecondongan mendewakan akal, sedangkan agama tanpa didampingi ilmu akan dirasakan sebagai doktrin-doktrin semata yanng membelenggu penalaran dan pemikiran seseorang, karena tidak ada penjelasan-penjelasan yang memadai dari agama, yang ada hanya ketentuan-ketentuan normatif.
Salah satu sebab berkembngnya kecenderungan dikotomi tersebut adalah kegagalan manusia (Muslim) memahami secara proporsional hubungan antara ilmu dan agama. Mereka terjebak oleh pandangan ilmuwan barat mengenai hubunngan antara agama dan ilmu pengetahuan. Pandangan  ilmuwan barat secara historis dan psikologis dapat dimaklumi, karena sebelum masa renaissance terjadi pertentanngan yang hebat antara doktrin agama (Kristen) dengan temuan ilmu pengetahuan yang menyebabkan banyak sekali korban di kalangan ilmu pengetahuan. Nmun kasus tersebut tidak pernah terjadi dalam dunia Islam. secara historis umat Islam dapat mencapai keayaan ustru karena disemangati oleh Islam. Ibn Rusyd menegaskan “sekiranya tidak terdapat perselisihan dalam pandangan Islam antara agama dan akal, maka keduanya adalah jalan mencapai kebenaran tunggal, dan sebagai sarana mencapai satu tujuan yaitu, kebaikan manusia dan kebahagiaannya.” Filsafat dan agama dengan demikian sama-sama bertujuan untuk mencapai kebenaran.
Mengenai hubungan timbal balik antara keduanya, Al-Isfahani menggambarkan bahwa “tanpa wahyu akal tidak sepantasnya dipedomi, dan tanpa akal, wahyu tidak dapat dicapai scara eksplisit kebenarannya. ” Einstein mengatakan “ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh.”
Dengan demikian pada dasarnya tidak ada kontradiksi dan dikotomi antara sains dan agama. Juka sepintas tampak adanya kontradiksi dan dikotomi yang selama ini dianggap terjadi antara agama dan ilmu pengetahuan, sesungguhnya merupakan persepsi ilmuwan barat lantaran mereka pernah mengalami sejarah hitam yang berkaitan denga pertentangan agama melawan ilmu pengetahuan, sehingga melumpuhkan perkembangan peradabannya. Namun bagi pemikir Islam, ilmu pengetahuan perlu mendapatkan bimbingan agama, sedangkan agama perlu didampingi ilmu pengetahuan.
3.      Interpendensi akal dan intuisi
Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun adakalanya atas kerjasama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki keterbatasana-keterbatasan yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang sifatnya pemberian atau bantuan, sedangken pemberian dari intuisi masih belum tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu.  Dengan pengertian lain akal membutuhkan intuisi dan begitu pula sebaliknya, intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling membutuhkan bantuan dari pihak lainnya untuk menyempurnakan pergerakan yang dicapai masing-masing.
Pascal melihat dengan jelas bahwa, perkembangan rasional tidak akan pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang paling esensial. Bukan lantaran pikirannya melainkan berkat rahmat Tuhnlah paradoks-paradoks eksistensi manusia bisa teratasi. Maka kita harus menyadari terhaddap kelemahan-kelemahan akal manusia agar kita tdak sampai berbuat sesat dengan mendewakan akal. Rahmat Allah itulah yang paling menentukan dan memuaskan dalam menjawab atau memecahkan persoalan-persoalan pelik yang dihadapi manusia. Rahmat Allah itu mencakup juga intuisi, sehingga intuisi banyak membantu kerja akal dalam memahami kebenaran dan mencapai pengetahuan. Hasi pemikiran rasioanal dikenal dengan pengetahuan perolehan, sedangkan hasil dari pengeahuan intuisi dikenal dengan pengetahuan yang dihadirkan.
Kedua macam pengetahuan ini memiliki ciri masing-masing. Penegtahuan yang dicapai atau pengetahuan perolehan bersifat tak langsung, rasioanal, logis dan diskursif. Sedang pengetahuan yang dihadirkan bersifat langsug, serta merta, suprarasioanl, intuitif, dan kontemplatif. Ciri-ciri tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara pengetahuan perolehan dengan pengetahuan yang dihadirkan, namun keduanya tidak untuk dipertentangkan dalam semua aspeknya, melainkan ada indikasi perbedaan tingkatan. Misalnya sifat rasional peda pengetahuan perolehan dan suprarasional pada pengetahuan yang dihadirkan sesungguhnya tidak bertentangan. Hanya saja sesuatu yang suprarasioanal berada di atas derajat rasioanal, karena berada di luar jangkaun rasio, seperti supraindera berarti di atas indera.
4.      Memiliki orientasi teosentris
Bertolakdari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari Allah dan ini merupakan salah satu perbedaan mendasar antara ilmu dengan sains, ilmu dalam Islam memilki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Artinya ilmu tesebut mengemban nilai-nilai ketuhanan, sebagai nilai yang memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi semua makhluk. Sebaliknya ilmu tersebut tidak boleh menyimpang dari ajaran-ajaran allah. Jika sains Barat tidak memiliki kepedulian kepada Tuhan, maka ilmu dalam Islam selalu diorientasikan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan hakiki.
Ilmu dalam Islam selain berdasar fakta empiris dan akal, juga berdasarkan wahyu (agama). Wahyu mencakup berbagai dimensi persoalan; muai ari permasalahan yang berkaitan ddengab pengalaman atau pengetahuan sehari-hari (knowlodge), ilmu pengetahuan (science), filsafat yang mengandalkan potensi akal, dan persoalan-persoalan suprarasioanal (di atas jangkauna akal). Pada persoalan terakhir ini menjadi wilyah jealajah agama dan di luar jangkauan ilmu maupun filsafat. Ketika mengemukakan permsalahan yang berkait dengan dimensi spiritual atau traansendental, maka ilmu dalam Islam juga menggarap wilayah di luar jelajah ilmu dan filsafat tersebut. Dengan demikian ilmu dalam Islam berlapis ganda; lapis indera, lapis akal dan lapis iman. Sebab itulah ilmu dalam Islam memiliki kandungan  informasi dan pembahasan yang jauh lebih mendalam daripada sains, karena ilmu dala Islam di samping melalui proses yang bisa dilalui oleh sains juga mendapatkan bahan-bahan informasi dari Tuhan melalui wahyu. Dengan demikian ilmu dalam Islam memiliki sesuatu yang dimiliki dan tidak dimiliki oleh sains. Disinilah letak kelebihan atau keunggulan ilmu dalam Islam di banding sains. Adapun kelebihan itu terletak pada faktor transedental.
5.      Terikat nilai
Mengingat ilmu dalam Islam dipengaruhi dimensi spiritual, wahyu, intuisi, dan memiliki orientasi teosentris, konsekuensi berikutnya sebagai salah satu ciri ilmu tersebut adalah terikat nilai. Ini sangat membedakan dengan sains barat, karena semangat tradisi ilmiah barat senantiasa berusaha menegaskan, bahwa ilmu itu nertal atau bebas nilai, tidak boleh terikat nilai tertentu. Bahkan menurut pandangan barat, salah satu sarat keilmiahan adalah bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan fakta apa adanya dan tidak boleh dipengaruhi oleh fakta apapun.
Orang-orang barat merasa resah  terhadap dampak negatif dari serangkaian kemajuan yang berhasil dicapai. Kondisi demikian ini secara langsung  maupun tidak langsung adalah akibat dari sains barat yang tidak dibangun di atas landasan etika. Berbeda dengan tradisi barat tersebut, tradisi keilmuan Islam sejak dini memiliki perhatian besar pada etika. Pada prinsipnya etika diyakini memiliki peranan yang sangat besar dalam menuntun perkembangan pengetahuan dan respons masyarakat, sehingga pertimbangan-pertimbangan aksiologis selalu ditempatkan menyertai pertimbanngan-perimbangan epostemologis, agar di samping mampu mencapai kemajuan juga mampu mempertahankan keutuhan moralitas yang positif. A. Rashid Maten menegaskan “Dalam Islam ilmu harus didasarkan nilai dan harus memiliki fungsi dan tujuan” dengan kata lain, pengetahuan bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi menyajikan jalan keselamatan, dan agaknya tidak seluruh pengetahuan melayani tujuan ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar