10 Maret 2013

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN “EPISTIMOLOGI PENDIDIKAN ISLAM”


MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN
“EPISTIMOLOGI PENDIDIKAN ISLAM”











disusun oleh:
Iftitakhul Muhlasin



SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL MUSLIHUUN
 BLITAR 2013

A.    Pendahuluan
Saat ini pendidikan islam berada pada posisi determinisme historic dan realism dalam artian bahwa satu sisi ummat Islam berada pada romantisme historic, dimana mereka bangga pernah memiliki para pemikir dan ilmuan-ilmuan besar.
Kejayaan ummat Islam pada abad ke 7 sapai abad ke 15, justru kontras dengan peradaban ummat Islam dewasa ini. Kini ummat Islam cenderung mengalami kemunduran  hingga abad 21 saat ini, yang berimbas ke sektor-sektor vital. Seperti perdagangan, perekonomian, teknologi informasi bahkan ke sektor pendidikan Islam.
Kehadiran pendidikan Islam jika ditinjau dari kelembagaan maupun dari nilai-nilai yang ingin dicapainya masih memenuhi tuntutan yang bersifat formalitas, bukan sebagai tuntutan yang bersifat substansial, yakni tuntutan untuk menularkan pribadi-pribadi aktif, penggerak sejarah dan pemain gesit, tangkas, pelopor dan produsen peradaban Islam di masa mendatang.
Ketertinggalan ummat Islam salah satunya juga juga dikarenakan oleh terjadinya penyempitan terhada pemahaman pendidikan Islam yang hanya berkisar pada aspek kehidupan ukhrawi yang terpisah dengan kehidupan duniawi atau aspek rohani  yang terpisah dengan kehidupan jasmani. Dengan kata lain, pendidikan Islam masih memisahkan antara akal dan wahyu, ayat Qauliyah dan Qauniyah serta piker dan Zikir.
Hal ini menyebabkan adanya ketidakseimbangan paradigmatik, yaitu kurang berkembangnya konsep humanisme religius dalam dunia pendidikan Islam, yang disebabkan karena pendidikan Islam lebih berorientasi pada konsep manusia sebagai hamba (‘Abdullah) ketimbang sebagai konsep manusia sebagai Khalifah.
Oleh karena itu reformasi pendidikan Islam sangat penting dilakukan demi menghasilkan pendidikan Islam yang bermutu yang mencerdaskan dalam krisis kekinian yang menyangkut pengetahuan dan pendidikan ummat saat ini. 





Pembagian Wilayah Telaah Epistemologi Pendidikan Islam
H.A.R. Tilaar menyatakan bahwa pendidikan itu dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu pendidikan sebagai benda dan pendidikan sebagai proses.  Sementara, pengertian pendidikan sebagai benda itu sendiri dapat dibedakan dalam dua bentuk lagi, yaitu benda dalam arti “lembaga pendidikan” dan benda dalam arti “ilmu”   atau lebih tepatnya ilmu pendidikan.
Pendidikan Islam sebagai salah satu objek konkrit telaah epistemologi pendidikan memiliki rangka bangun konsep sejenis. Telaah epistemologi pendidikan Islam dibedakan dan dibagi dalam 3 (tiga) wilayah, Yaitu:
1.      Pendidikan Islam Sebagai Suatu Sistem Ilmu Pengetahuan
Pendidikan Islam sebagai suatu sistem ilmu pengetahuan adalah semesta ide, gagasan dan pemikiran tentang pendidikan Islam yang direpresentasikan menurut aturan dan kaidah-kaidah tertentu secara sistematis dan metodologis. Artinya semesta pengetahuan manusia tentang pendidikan yang direpresentasikan merupakan bagian dari bentuk pendidikan Islam sebagai suatu sistem ilmu pengetahuan. Perbedaan masing-masing pengetahuan yang direpresentasikan tersebut ditentukan menurut kadar kepatuhan bahasan pada persyaratan ilmiah seperti; sistematika, metodologi, aturan dan kaidah-kaidah tertentu. Semakin ketat satu sistem bahasan pendidikan Islam yang disajikan dalam mematuhi persyaratan ilmiah, maka ia menduduki peringkat tertinggi dalam sistem ilmu pengetahuan
Beberapa persyaratan ilmiah tersebut antara lain : 1. Punya Objek yang Jelas dan Tegas, 2. Melalui Metode Ilmiah Tertentu, 3. Sistematis (ada bentuk dan urutan yang jelas) 4. Bersifat Koheren, 5. Saling Berhubungan (korelevan) dan 6. Reflektif (dapat dipertanggungjawabkan kesesuaiannya dengan objek).
2.      Pendidikan Islam Sebagai Suatu Proses Belajar-Mengajar
Pendidikan Islam sebagai suatu proses belajar-mengajar mengarah pada pengertian kajian pendidikan Islam yang memfokuskan diri menelaah apa, bagaimana dan kemana tujuan proses pendidikan, serta unsur-unsur apa saja yang ikut mempengaruhi penyelenggaraannya.
Wilayah telaah pendidikan Islam sebagai suatu proses belajar mengajar berisi penjelasan tentang apa yang disebut pendidikan, bagaimana seharusnya aktifitas belajar-mengajar dilakukan, tujuan apa yang ingin dicapai melalui proses belajar mengajar, serta unsur-unsur apa saja yang terlibat dalam proses kependidikan tersebut.
3.      Pendidikan Islam Sebagai Suatu Lembaga/Institusi Pendidikan.
Dilihat dari perwujudan kebendaannya, konsep pendidikan Islam mengarah pada lembaga atau institusi pendidikan.  Proses pendidikan dalam arti semesta mengarah pada semesta realitas material yang mengalami atau mampu melakukan perubahan kearah yang lebih baik.
Unsur terpenting dalam konsep tersebut adalah segala wujud benda yang mengalami atau mampu melakukan perubahan kearah yang lebih baik. Unsur tujuan pendidikan kearah yang lebih baik menjadi unsur pertama dan utama untuk dapat disebut sebagai lembaga pendidikan Islam. Keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat, tempat-tempat peribadahan, maupun diri manusia dapat dipandang sebagai bagian dari objek pendidikan Islam sebagai suatu lembaga pendidikan jika mengalami atau mampu melakukan perubahan kearah yang lebih baik.
Wilayah telaah pendidikan Islam sebagai suatu institusi atau lembaga pendidikan menjadi sangat luas. Semua benda bermateri yang mengalami atau melakukan perubahan kearah yang lebih baik dalam pandangan manusia, dapat disebut sebagai pendidikan Islam. Dari sini persoalan yang muncul adalah konsep lebih baik dalam pandangan manusia satu sama lain tidak sama bahkan tidak jarang berseberangan.

Wujud Konkrit Epistemologi Pendidikan Islam
Persoalan mendasar yang ingin disampaikan pada sub bab ini adalah apa dan bagaimana pengaruh pemetaan wilayah epistemologi pendidikan Islam, kemudian bagaimana implementasi konsep konkrit dari pemetaan wilayah epistemologi pendidikan Islam tersebut dalam merumuskan konsep ideal pendidikan Islam.
Untuk itu, bahasan wujud konkrit epistemologi pendidikan Islam sebagai anak cabang pemetaan wilayah epistemologi pendidikan Islam dibedakan pula dalam 3 (tiga) kelompok sub tema, yaitu:
1.      Pemetaan Studi Ilmu Dalam Proses Pendidikan Islam
Dalam sejarah filsafat kuno, orang pertama peletak dasar objek belajar manusia yang memandang kesatuan realitas semesta “ada”  terbagi dalam dua bentuk adalah Plato. Dua dunia realitas itu adalah “dunia jasmani” dan “dunia ide”. Dunia jasmani diakui sebagai dunia yang selalu dalam bentuk perubahan, sebaliknya dunia ide tidak pernah ada perubahan. 
2.        Wilayah Kerja Ilmu Pendidikan Islam
Dalam pandangan Islam, pendidikan pada hakekatnya khusus diperuntukkan bagi manusia.  Pelikan, tumbuhan, dan hewan dalam batas-batas tertentu tidak bisa dikatakan mendapatkan pendidikan. Meskipun pada fakta-fakta tertentu kita sering melihat perilaku hewan dapat diarahkan sesuai dengan kehendak yang dinginkan manusia, contohnya hewan-hewan dalam sirkus, tetapi konsep pendidikan yang dihadirkan tidak sesempurna konsep pendidikan yang diterapkan pada manusia.
3.      Konseptualisasi Lembaga Pendidikan Islam
Seperti telah disebutkan, lembaga pendidikan Islam adalah lembaga penyelenggara pendidikan yang bertujuan melakukan perubahan kearah yang ‘lebih baik’. Konsep lebih baik dibangun dan dikembangkan dari dasar persamaan persepsi dan tujuan. Sedangkan pendidikan Islam sebagai suatu lembaga menunjuk pada lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola, dilaksanakan dan diperuntukkan bagi umat Islam.
konsep visi dan misi lembaga pendidikan Islam dapat dirumuskan dengan bersumber dari  Al Qur’an, Hadits dan Ijtihad. Visi berhubungan dengan rumusan konsep tujuan pendidikan Islam dalam rentang waktu yang panjang, idealis dan bersifat filosofis. Sedangkan misi berhubungan dengan rumusan tujuan pendidikan Islam dalam rentang waktu relatif pendek dan dengan standar tingkat keberhasilan tertentu. Konsep misi suatu lembaga pendidikan Islam umumnya dirumuskan dalam bentuk tujuan-tujuan praktis dan atau fungsional.

Corak Pemikiran Pendidikan Al-Attas
Apabila ditelaah dengan cermat, format pemikiran pendidikan yang ditawarkan oleh Al-Attas, tampak jelas bahwa dia berusaha menampilkan wajah pendidikan Islam sebagai suatu sistem pendidikan terpadu.
Hal tersebut dapat dilihat dari tujuan pendidikan yang dirumuskannya, yakni tujuan pendidikan yang dirumuskannya, yakni tujuan pendidikan dalam Islam harus mewujudkan manusia yang baik, yaitu manusia universal (Al-Insan Al-Kamil). Insan kamil yang dimaksud adalah manusia yang bercirikan: pertama; manusia yang seimbang, memiliki keterpaduan dua dimensi kepribadian; a) dimensi isoterikvertikal yang intinya tunduk dan patuh kepada Allah dan b) dimensi eksoterik, dialektikal, horisontal, membawa misi keselamatan bagi lingkungan sosial alamnya. Kedua; manusia seimbang dalam kualitas pikir, zikir dan amalnya (achmadi, 1992: 130). Maka untuk menghasilkan manusia seimbang bercirikan tersebut merupakan suatu keniscayaan adanya upaya maksimal dalam mengkondisikan lebih dulu paradigma pendidikan yang terpadu.
Indikasi lain yang mempertegas bahwa paradigma pendidikan yang ditawarkan Al-Attas menghendaki terealisirnya sistem pendidikan terpadu ialah tertuang dalam rumusan sistem pendidikan yang diformulasikannya, dimana tampak sangat jelas upaya Al-Attas untuk mengintegrasikan ilmu dalam sistem pendidikan Islam, artinya Islam harus menghadirkan dan mengajarkan dalam proses pendidikannya tidak hanya ilmu-ilmu agama, tetapi juga ilmu-ilmu rasional, intelek dan filosofis.
Dari deskripsi di atas, dapat dilacak bahwa secara makro orientasi pendidikan Al-Attas adalah mengarah pada pendidikan yang bercorak moral religius yang tetap menjaga prinsip keseimbangan dan keterepaduan sistem. Hal tersebut terlihat dalam konsepsinya tentang Ta’dib (adab) yang menurutnya telah mencakup konsep ilmu dan amal. Di situ dipaparkan bahwa setelah manusia dikenalkan akan posisinya dalam tatanan kosmik lewat proses pendidikan, ia diharapakan dapat mengamalkan ilmunya dengan baik di masyarakat berdasarkan adab, etika dan ajaran agama. Dengan bahasa yang berbeda dapat dikatakan bahwa penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilandasi pertimbangan nilai-nilai dan ajaran agama.

Kondisi Obyektif Pendidikan Islam dewasa ini
Untuk memotret bagaimana kondisi dunia pendidikan Islam dewasa ini, setidaknya bisa dicerna pandangan dan penilaian kritis para cendekiawan muslim, dimana secara makro dapat disimpulkan bahwa ia masih mengalami keterjajahan oleh konsepsi pendidikan Barat. Walaupun statemen ini berupa tesis atau hipotesa yang perlu dikaji ulang, tetapi ia sangat penting sebagai cermin dan refleksi untuk memperbaiki wajah pendidikan Islam yang dicita-citakan.
Prof. Dr. Isma’il Raji Al-Faruqi dalam karya monumentalnya islamization of knowlegde: general principles and workplan mensinyalir bahwa kondisi umat Islam saat ini sangat memprihatinkan, berada di bawah anak tangga bangsa-bangsa terbawah. Mengenai kondisi ini, ia menulis the whole world nomdays is led to thing that the religion of islam standas at the root of all evils (Al-Faruqi, 1995: x). Dalam bukunya Al-Tawhid, ia menambahkan bahwa : the ummah of islam is undeniabley the most unhappy ummah in modern times (Al-Faruqi, 1994: xiii). Al-Faruqi meyakini bahwa kondisi umat islam yang memprihatinkan ini, disebabkan oleh sistem pendidikan yang dipakai jiplakan dari sistem pendidikan Barat, baik materi maupun metodologinya (AL-Faruqi, 1984:17).
Tidak bisa dipungkiri, bahwa masyarakat Islam di seluruh dunia sedang berada dalam arus perubahan yang sangat dahsat seiring datangnya era globalisasi dan informasi. Sebagai masyarakat mayoritas dalam dunia ketiga, sungguhpun telah berusaha menghindari pengaruh westernisasi, tetapi dalam kenyataannya modernisasi yang diwujudkan melalui pembangunan berbagai sektor termasuk pendidikan, intervensi dan westernisasi tersebut sulit dielakkan.
Sehubungan dengan itu Fazlur Rahman Anshari yang selanjunya dikutip oleh Muhaimin, menyatakan : bahwa dunia Islam saat ini menghadapi suatu krisis yang belum pernah dialami sepanjang sejarahnya, sebagai akibat dari benturan peradaban Barat dengan dunia Islam.
Khursyid Achmad, seorang pakar muslim asal Pakistan, mencatat empat kegagalan yang ditemui oleh sistem pendidikan Barat yang liberal dan sekuler, yaitu:
Pertama: pendidikan telah gagal mengembangkan cita-cita kemasyarakan di kalangan pelajar.
Kedua,       pendidikan semacam ini gagal menanamkan nilai moral dalam hati dan jiwa generasi muda. Pendidikan semacam ini hanya memenuhi tuntutan pikiran, tetapi gagal memenuhi kebutuhan jiwa.
Ketiga,       pendidikan liberal membawa akibat terpecah belahnya ilmu pengetahuan. Ia gagal menyusun atau menyatukan ilmu dalam kesatuan yang utuh. Empat, selanjutnya pendidikan liberal menghasilkan manusia yang tiadak mampu menghadapi masalah kehidupan yang mendasar. (Achmad, 1992:22-23).
Semerntara Al-Attas melihat bahwa universitas modern (baca:Barat) tidak mangakui eksistensi jiwa atau semangat yang ada pada dirinya, dan hanya terikat pada fungsi administratif pemeliharaan pembangunan fisik
Dapat disimpulkan bahwa kondisi pendidikan dewasa ini, secara makro telah terkontaminasi dan terinvensi konsep pendidikna Barat. Dimana paradigma pendidikan Barat tersebut secara garis besar dapat dikatakan hanya mengutamakan pengejaran pengetahuan ansich, menitik beratkan pada segi teknik empiris, sebaliknya tidak mengakui eksistensi jiwa, tidak mempunyai arah yang jelas serta jauh dari landasan spiritual.










Pendidikan Islam Sebagai Suatu Sistem
Dasar-Dasar pendidikan islam
Kata sistem sering digunakan dalam berbagai seminar, diskusi, ceramah, dan sebagainya. Sebenarnya apa arti sistem itu? Ini penting karena sistem pendidikan islam tidak akan dipahami jika arti sistem belum diketahui sepenuhnya.
Ada yang mengartikan sistem sebagai himpunan gagasan atau prinsip yang saling bertautan, yang tergabung menjadi suatu keseluruhan (Imam Barnadib, 1997 : 19). Sehingga, dalam sistem terdapat tiga hal mendasar yaitu :
1.      Adanya berbagai komponen, gagasan, konsep, dan prinsip-prinsip.
2.      Adanya saling keterkaitan antar komponen, antar gagasan, antar konsep dan prinsip.
3.      Adanya integralitas di antara komponen dan gagasan serta prinsip yang saling berkaitan sehingga membentuk konsep sistemik yang menjadi terminologi umum dari semua komponen yang ada.
Dengan demikian, apabila kita sepakat bahwa islam sebagai agama merupakan sistem sehingga disebut sebagai sistem islam, hal tersebut karena didalamnya terdapat komponen, ajaran, prinsip-prinsip kehidupan islami yang saling berkaitan dan membentuk jalinan konsep yang integral.
Pendidikan Islam sebagai suatu sistem dapat dipahami bahwa dalam pendidikan islam terdapat gagasan, prinsip-prinsip, dan subsistem lainnya yang saling berkaitan. Oleh karena itu, yang harus diketahui lebih dahulu adalah dasar-dasar pendidikan islam sebagai sistem.
Dasar artinya tempat berpijak atau landasan, yang merupakan titik tolak keberangkatan segala sesuatu. Dalam sistem berpikir filsafat, pendidikan islam dinyatakan sistem. Artinya, pendidikan islam berkaitan dengan tiga unsur fundamental, yaitu :
a.       Realitas masyarakat yang memandang ajaran-ajaran islam merupakan ide dasar pendidikan dunia akhirat.
b.      Ilmu pengetahuan tidak sebatas memahami yang lahiriyah, tetapi yang batiniyah pun menjadi objek kajian.
c.       Semua yang ada dengan dan tanpa ilmu pengetahuan akan terus berubah. Perubahan merupakan hukum alam, sedangkan ilmu pengetahuan diketahui melalui pendidikan yang sumbernya dapat bervariasi.
Pendidikan Islam merupakan sistem yang dibangun oleh dasar yang sangat kuat, yaitu :
1.      Al-Quran
Tidak bisa dipungkiri bahwa al-quran sebagai titik tolak keberangkatan sistem pendidikan islam. Al-quran merupakan dasar pendidikan islam karena mnyampaikan pesan-pesan pendidikan kepada manusia yang berakal.
2.      As-Sunnah
Dasar pendidikan islam yang kedua adalah As-Sunnah, yang merupakan barometer keberhasilan Allah SWT menghadirkan manusia teladan yang sempurna. Nabi Muhammad SAW terkenal sebagai manusia yang paling jujur, amanah, tabligh, dan fathanah. Pendidikan yang mencerminkan teladan Nabi adalah sistem pendidikan Islam yang bertujuan membentuk anak didik yang amanah, fathanah dan tabligh, artinya semua ilmu yang dimiliki wajib diamalkan dalam kehidupan, dimanfaatkan dan didakwahkan kepada semua masyarakat, serta menjaga nama baik Islam sebagai agama yang kebenarannya universal.
3.      Atsar dan ijma sahabat
Atsar dan ijma sahabat menjadi dasar pendidikan islam. Sebagaimana dalam sejarah digambarkan bahwa para sahabat bergotng royong membangun masjid Nabawi sebagai pusat pendidikan Islam, membangun majlis taklim, membangun madrsah dan menyebarluaskan ilmu yang diterima dari Rasulullah SAW.
4.      Ijtihad ulama
Dasar pendidikan Islam berikutnya adalah ijtihat atau pendapat para ulama, yang menurut sejarah tidak sedikit dari para ulama yang mendirikan sekolah dan membangun lembaga pendidikan. Muhammad Abduh adalah salah satu tokoh politik dan pendidik yang menyarankan agar umat islam keluar dari belenggu taklid, fanatisme buta, dan kebodohan, dengan memperbanyak mencari ilmu, mengembangkan dunia pendidikan dan ijtihad.
Sistem pendidikan Islam dan pendidikan Islam sebagai sistem adalah integralitas antara unsur-unsur di bawah ini :
a.       Integralitas unsur ilahiyah, alamiah, dan insaniah. Karena tujuan pendidikan Islam terfokus pada pemberdayaan alam dan manusia dengan bertitik tolak dari nilai-nilai ilahiyah dan rabbaniyah atau kependidikan yang berbasis pada al-quran dan as-sunnah.
b.      Integralitas antar hati, akal, dan panca indra. Tiga alat pendeteksi kebenaran yang bersifat intuitif dan metafisikal, kebenaran rasional dan kebenaran empirik.
c.       Integralitas antara ilmu pengetahuan, hidayah, dan sumber ilmu pengetahuan.
Tiga unsur di atas merupakan sistem terpadu dan universal yang akan diterapkan dalam pendidikan Islam. Pendidikan Islam sebagai suatu sistem dapat diwujudkan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip di bawah ini :
1.      Prinsip qurani, yakni al-quran sebagai dasar pendidikan Islam.
2.      Prinsip ‘aqli, yakni sebagai alat untuk mendalami ayat-ayat Ilahi.
3.      Prinsip ilmu bi al-‘amali, yakni pengetahuan praktis, semua ilmu untuk diamalkan.
4.      Prinsip ‘ilmu bi al-hidayati,  ilmu sebagai hidayah kehidupan.
5.      Prinsip ‘ilmu bi at-taghayuri, ilmu yang fleksibel dan multitafsir untuk segala zaman, waktu, situasi, dan kondisi.
Upaya Membangun Epistemologi Pendidikan Islam
Sistem pendidikan islam telah mengalami banyak kelemahan karena pengaruh pendidikan barat yang sangat kuat. Sehingga harus ada pembaharuan-pembaharuan dalam pendidikan islam yang harus dimunculkan di berbagai dimensi. Pada dimensi pengembangan terdapat kesadaran bahwa cita-cita mewujudkan pendidikan islam ideal itu baru bisa dicapai bila ada upaya membangun epistemologinya. (Epistemologi pendidikan islam hal.249)

Epistemologi pendidikan islam harus dirumuskan secara konseptual untuk menemukan syarat-syarat dalam mengetahui pendidikan berdasarkan ajaran-ajaran islam selain itu juga  upaya-upaya pengembangan pendidikan islam hanya hanya bisa berjalan secara kondusif, apabila epistemologi pendidikan islam telah benar-benar dikuasai oleh para peneliti muslim.
Epistemologi memiliki peran, pengaruh dan fungsi yang begitu besar, dan terlebih lagi sebagai penentu atau penyebab tumbulnya akibat-akibat dalam pendidikan islam, sekiranya terjadi kelemahan atau kemunduran pendidikan islam, maka epistemologi sebagai penyebab paling awal harus dibangun terlebih dahulu, dan melalui epitemologi juga pendidikan islam dapat dikembangkan. Kekokohan bangunan epistemologi melahirkan ketahanan pendidikan islam menghadapi pengaruh apapun, termasuk arus budaya barat, dan mampu memberi jaminan terhadap kemajuan pendidikan islam serta bersaing dengan pendidikan-pendidikan lainnya. Masa depan pendidikan islam tergantung dengan kondisi epistemologinya, maju mundurnya pendidikan dan baik buruknya system pendidikan islam akan sangat bergantung pada keadaan epistemologinya. epistemologi dapat mengangkat martabat pendidikan islam dan sebaliknya, dapat menjatuhkannya apabila keadaannya rapuh.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar