24 Maret 2013

BAB II PARADIGMA BARU PENDIDIKAN ISLAM (SEBUAH KAJIAN EPISTEMOLOGI)

http://ayinbarabbas


BAB II
PENDIDIKAN ISLAM

A.    Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan berasal dari kata dasar didik berarti suatu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.[1] Dalam kajiannya, pendidikan mempunyai dua istilah yang hampir sama bentuknya dan sering digunakan yakni paedagogie dan paedagogiek. Paedagogie berarti pendidikan, sedangkan paedagogiek berarti ilmu pendidikan yang menyelidiki serta merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik.[2]
Dalam mempelajari pendidikan Islam, perlu kiranya memahami makna dari pendidikan Islam terlebih dahulu. Menurut perbendaharaan pendidikan Islam, terdapat tiga istilah yang digunakan untuk menunjukkan makna pendidikan yakni al-tarbiyahal-ta’lim  dan  al-ta’dib.[3] Akan tetpi ada juga yang menambahkan istilah ar-riyadloh.[4] Ketiganya mempunyai arti yang berbeda sesuai dengan teks dan konteksnya, namun disaat tertentu mereka juga mempunyai sinonim arti. Secara leksikal kosa kata ﺗﺮﺑـﻴﺔ (tarbiyah) berarti pendidikan, ﺗﻌﻠﻴﻢ (ta’lim) berarti pengajaran, dan ﺗﺄﺩﻳﺐ (ta’dib) berarti pendidikan.[5] Makna al-tarbiyah lebih luas dari pada makna al-ta’lim, sedangkan al-ta’dib mempunyai makna universal dibandingkan makna al-tarbiyah.
Para ahli memberikan pengertian pendidikan dengan redaksi yang berbeda namun esensinya adalah sama. Menurut Djumransjah pendidikan mengandung tujuan yang ingin dicapai, yakni kemampuan individu untuk berkembang sehingga bisa bermanfaat bagi kehidupannya baik sebagai individu, warga negara, maupun warga masyarakat.[6] Sedangkan pendidikan Islam hakikatnya adalah “proses pembentukan manusia ke arah yang dicita-citakan Islam”.[7]
Menurut Ki Hajar Dewantara sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, pendidikan adalah usaha  yang dilakukan  dengan penuh  keinsyafan  yang  ditujukan  untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia. Pendidikan tidak hanya bersifat pelaku pembangunan  tetapi  sering  merupakan  perjuangan.  Pendidikan  berarti memelihara  hidup  kearah  pengajuan,  tidak  boleh  melanjutkan  hari  kemarin menurut  alam  kemarin.  Pendidikan  adalah  usaha  kebudayaan,  berasas peradaban, yakni memajukan hidup agar mempertinggi derajat kemanusiaan.[8]
Ddalam sumber yang lain dijelaskan bahwa pengertian pendidikan adalah upaya orang-orang beriman dalam rangka mengajak orang lain untuk berbuat kebajikan selama diberi-Nya karunia berupa kehidupan sebagai nikmat Allah yang paling berharga bagi manusia. Bersamaan dengan itu, mendidik juga mengandung makna mencegah orang-orang berbuat dosa dan perbuatan buruk lainnya yang tidak dirodhoi Allah SWT.[9]
Beberapa makna mengenai pendidikan Islam menurut beberapa ahli  diantaranya adalah Yusuf Qardhawi, beliau menjelaskan bahwasannya pengertian “Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Karena itu Pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya”.[10]
Sementara itu Hasan Langgulung merumuskan Pendidikan Islam sebagai “proses penyiapan generasi muda  untuk mengisi peranan memindahkan pengetahuan  dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk  beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat. Di sini Pendidikan  Islam merupakan proses pembentuksn individu  berdasarkan islam yang di wahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui proses mana individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi sehingga ia mampu menunaikan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi yang selanjutnya mewujudkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat”[11] Serta Ahmad  D.  Marimba yang berpendapat bahwa “pendidikan  Islam  adalah  suatu bimbingan  jasmani  dan  rohani  berdasarkan  hukum.  Hukum  Islam  menuju terbentuknya kepribadian utama dan kepribadian muslim”.[12]
Pendidikan islam menurut Fazlur Rahman adalah bukan sekedar perkengkapan dan peralatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang di ajarkan ataupun struktur eksternal pendidikan, melainkan sebagai  intelektualisme islam karena baginya inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tinggi islam.[13]
Dari pengertian yang telah dipaparkan di atas baik secara etimologi maupun terminologi dapat disimpulkan bahwa pendidikan islam adalah roses tranformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri anak didik melalui pertumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya.[14] Pengertian tersebut sebagaimana kedudukan manusia sebagai hamba Allah serta khalifah Allah di bumi.
Pendidikan tidak hanya terpaku pada pendidikan formal. Hal ini mengacu pada esensi pendidikan yang di dalamnya mengandung lima unsur dasar pendidikan. Kelima unsur tersebut adalah adanya unsur memberi, menerima, tujuan baik, cara atau jalan yang baik, dan adanya konteks positif.[15] Kegiatan di luar persekolahan yang mengandung kelima esensi tersebut bisa pula disebut dengan kegiatan mendidik atau pendidikan. Kegiatan yang mengacu pada pembentukan sikap yang diwarnai dengan nilai-nilai Islam dalam pribadi manusia akan bisa efektif bila hal tersebut disertai dengan proses pendidikan yang berjalan di atas kaidah-kaidah dan norma-norma ajaran Islam.
B.     Landasan Pendidikan Islam
Setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang di sengaja untuk mencapai tujuan tertentu, harus mempunyai landasan tempat berpijak yang baik dan kuat. Oleh karena itu pendidikan islam sebagai usaha membentuk manusia, harus pula mempunyai landasan yang kuat. Landasan tersebut antara lain adalah:
1.      Al-Quran
Al-Quran adalah firman Allah berupa wahyu yang di sampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad. Dalam Al-Quran terdiri dari dua prinsip besar yaitu yg berhubungan dgn masalah keimanan yg disebut aqidah dan yg berhubungan dgn amal disebut syari’ah.  Pendidikan karena termasuk ke dalam usaha atau tindakan untuk membentuk manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup syari’ah atau yang lebih spesifik bisa di sebut mu’amalah, oleh karena itu pendidikan Islam harus menggunakan Al-Qur’an sebagai sumber dalam merumuskan berbagai teori tentang pendidikan Islam sesuai dengan perubahan dan pembaharuan.[16]
2.      As-Sunnah
As-Sunnah ialah perkataan ataupun pengakuan Rasul Allah SWT. yang di maksud dengan pengakuan ialah kejadian atau perbuatan orang lain yang di ketahui Rasululah dan beliau membiarkan saja kejadian atau erbuatan itu berjalan. Sunnah merupakan sumber ajaran kedua sesudah Al-Qur’an yg juga sama berisi pedoman utk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspek utk membina umat menjadi manusia seutuh atau muslim yg bertaqwa. Untuk itulah rasul Allah menjadi guru dan pendidik utama.
 Maka dari pada itu Sunnah merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan pribadi manusia muslim dan selalu membuka kemungkinan penafsiran berkembang. Itulah sebab mengapa ijtihad perlu ditingkatkan dalam memahami termasuk yg berkaitan dgn pendidikan. As-Sunnah juga berfungsi sebagai penjelasan terhadap beberapa pembenaran dan mendesak untuk segara ditampilkan.[17]
3.      Ijtihad
Ijtihad menurut istilah para fuqoha yaitu berfikir dengan menggunakan seluruh ilmu yg dimiliki oleh ilmuan syari’at Islam utk menetapkan atau menentukan sesuatu hukum syara’ dalam hal-hal yg ternyata belum ditegaskan hukum oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Namun dengan demikian ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan tetapi tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah.
 Oleh karena itu ijtihad dipandang sebagai salah satu sumber hukum Islam yg sangat dibutuhkan sepanjang masa setelah rasul Allah wafat. Sasaran ijtihad ialah segala sesuatu yg diperlukan dalam kehidupan yg senantiasa berkembang.[18] Ijtihad dalam bidang pendidikan sejalan dgn perkembangan zaman yg semakin maju bukan saja dibidang materi atau isi melainkan juga dibidang sistem. Secara substansial ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yg diolah oleh akal yg sehat dari para ahli pendidikan Islam.[19]
C.    Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam
Dalam membahas pendidikan islam, tentunya tidak melupakan rinsip-prinsip pendidikan islam. Sesungguhnya untuk merumuskan tujuan pendidikan islam, harus diketahui terlebih dahulu prinsip-prinsip pendidikan islam yang bersumber dari nilai-nilai Al-Quran dan As-Suannah. Dalam hal ini, paling tidak ada lima prinsip dalam pendidikan islam. Kelima prinsip tersebut antara lain:[20]
1.      Prinsip Integrasi (Tauhid)
Prinsip ini mendukung adanya wujud kesatuan antara dunia dan akhirat. Untuk itu pendidikan akan meletakkan porsi yang seimbang untuk mencapai kebahagiaan di dunia sekaligus di akhirat (i’malu lid dunyaka ka annaka ta’isyu abadan, wa i’malu lil akhiratika kaanka tamuutu ghadan)
2.      Prinsip Keseimbangan
Prinsip ini merupakan konsekuensi dari prinsip integrasi. Keseimbangan yang proporsional antara muatan ruhaniah dan jasmaniah, antara ilmu murni (pure science) dan ilmu terapan (aplicated science), antara teori dan praktek, dan antara nilai-nilai yang menyangkut aqidah, syari’ah, dan akhlak.
3.      Pinsip Persamaan dan Pembebasan
Prinsip ini di kembangkan dari nilai tauhid, bahwa tuhan adalah maha Esa. Oleh karea itu setiap individu dan bahkan semua mahluk hidup di ciptakan oleh pencipta yang sama (Tuhan). Perbedaan hanyalah unsur untuk memperkuat persatuan. Pendidikan adalah salah satu upaya untuk membebaskan manusia dari belenggu nafsu dunia menuju pada nilai tauhid yang bersih dan mulia. Manusia dengan pendidikannya diharapkan bisa terbebas dari belenggu kebodohan, kemiskinan, kejumudan, dan nafsu hayawaniyah-nya sendiri.
4.      Prinsip Kontiunitas dan Berkelanjutan (Istiqomah)
Dalam prinsip inilah kemudian dikenal konsep pendidikan seumur hidup (long life education). Karenaa sepanjang hidup manusia dihadapkan pada berbagai tantangan dan godaan yang dapat menjerumuskan dirinya sendiri ke jurang kehinaan. Dalam hal ini dituntut kedewasaan manusia berupa kemampuan untuk mengakui dan menyesali kesalahan dan kejahatan yang dilakukan, disamping selalu memperbaiki kualitas dirinya.[21] Sebagaimana firman Allah, “Maka siapa yang bertaubat sesuadah kedzaliman dan memperbaiki (dirinya) maka Allah menerima taubatnya....” (QS. Al Maidah: 39).[22]
5.      Prinsip Kemaslahatan dan Keutamaan
Jika ruh tauhid sudah berkembang dalam sistem moral dan akhlak seseorang dengan kebersihan hati dan kepercayaan yang jauh dari kotoran, ia akan memiliki daya juang untuk membela hal-hal yang maslahat atau berguna bagi kehidupan. Sebab nilai tauhid hanya bisa dirsakan apabila ia telah dimanifestasikan dalam gerak langkah manusia untuk kemaslahatan dan keutamaan manusia sendiri.
D.    Tujuan Pendidikan Islam
Manusia adalah makhluk istimewa yang oleh Allah telah diberikan akal agar mampu membedakan antara baik dan buruk. Akal juga berfungsi sebagai alat pengontrol bagi segala bentuk tindakan manusia. Sebagai upaya pengembangan pikiran, penataan perilaku, pengaturan emosional, dan pendukung peranan manusia sebagai khalifah di bumi maka manusia memerlukan pendidikan.
Dalam ilmu kependidikan, manusia diletakkan sebagai pelaku otonom atas segala perbuatannya dengan sadar dan bertanggungjawab. Oleh karenanya tujuan pendidikan Islam bukan ketakwaan dan kesalehan yang dimaknai sebagai produk dari takdir akan tetapi sebuah kesadaran dalam bertindak dan kemampuan yang bisa diuji, dievaluasi serta diukur. Seperangkat tindakan yang dapat diukur inilah yang dimaksud sebagai tujuan pendidikan.
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa definisi tujuan pendidikan identik dengan tujuan hidup. Kesalehan, ketakwaan, serta menjadi insan kamil senantiasa mewarnai terma tujuan pendidikan. Bagi ‘Athiyah Al Abrasyi, tujuan pendidikan islam adalah untuk membentuk akhlak mulia, persiapan menghadapi kehidupan dunia akhirat, persiapan mencari rizki, menumbuhkan semangant ilmiah, dan menyiapkan profesionalisme objek didik.[23]
Tujuan pendidikan islam dapat di rumuskan sebagai berikut, a),untuk membentuk akhlakul karimah, b), Membantu peserta didik dalam mengembangkan kognisi afeksi dan psikomotorik guna memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam sebagai pedoman hidup sekaligus sebagai kontrol terhadap pola fikir pola laku dan sikap mental, c), Membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin dangan membentuk mereka menjadi manusia beriman bertaqwa berakhlak mulia memiliki pengetahuan dan keterampilan berkepribadian integratif mandiri dan menyadari sepenuh peranan dan tanggung jawab diri di muka bumi ini sebagai abdulloh dan kholifatulloh.[24]
Selanjutnya Zakiah Daradjat megatakan definisi tujuan pendidikan Islam adalah “kepribadian  yang  mengantarkan  seseorang  yang  membuatnya  menjadi  insan  kamil.”[25] Manusia yang sempurna berarti manusia yang memahami tentang Tuhan, diri dan lingkungannya.[26]
Secara prinsipal, tujuan pendidikan Islam ada dua macam, yakni tujuan keagamaan dan tujuan keduniaan. Maksud dari tujuan keagamaan ini adalah bahwa setiap orang muslim secara personal beramal untuk keperluan akhiratnya atas petunjuk dan ilham keagamaan yang benar, yang tumbuh dan berkembang dari ajaran-ajaran Islam yang bersih dan suci.[27] Pada intinya, tujuan keagamaan ini melalui berbagai metode serta sudut pandangnya baik secara ilmiah maupun falsafiyah akan mengantarkan manusia kepada kebenaran yang haq, yaitu Allah SWT.
Telah disinggung sebelumnya bahwa antara ilmu pengetahuan dan agama sangat erat hubungannya. Pada kenyataannya jika diteliti sesungguhnya agama (Islam) senantiasa menggunakan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk menentukan ketetapan-ketetapan maupun keputusan-keputusan yang mengajak kepada penemuan kebenaran guna memuaskan akal pikiran (rasio).[28] Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT. Dalam QS. Ar-Ra’du (13) ayat 19 yang kurang lebih berbunyi:
أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ
“Adakah  orang  yang  mengetahui  bahwasanya  apa  yang  diturunkan  kepadamu  dari  Tuhanmu  itu  benar  sama  dengan  orang  yang  buta?  Hanyalah  orang-orang  yang  berakal  saja  yang  dapat  mengambil  pelajaran.”[29] Agama dan ilmu pengetahuan adalah sama-sama haq. Dengan penganalisaan yang benar, akan sangat kecil sekali kemungkinan antara keduanya berlawanan.
Yang kedua adalah tujuan keduniaan. Tujuan ini sebagaimana tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh para ahli pendidikan. Pada zaman tehnologi, tujuan ini lebih mengarah pada pembentukan manusia dalam mencapai kecekatan bekerja.[30] Sedangkan dalam Islam, tujuan keduniaan ini haruslah tetap melihat dan merujuk aspek dan pandangan yang berdasarkan Al Qur’anul karim.
Hegel berpendapat sebaiknya pendidikan menghindari perbuatan yang membawa pada dorongan kebendaan (materialisme), hendaknya pendidikan lebih mengarah pada usaha untuk mengembangkan jiwa manusia.[31] Pendidikan yang terjebak pada dorongan kebendaan pada akhirnya akan menciptakan manusia-manusia yang materialistis, individualis, dan terlepas dari tujuan pendidikan sendiri.
Masalah yang sering muncul dalam rumusan tujuan pendidikan yakni sering terdapat ketidak konsistenan antara tujuan pendidikan dengan tujuan pembelajaran pada setiap bidang studi. Misalnya saja tujuan bidang studi sering terfokus pada pemahaman, penjelasan, pencarian serta penemuan. Sedangkan pada tujuan pembelajaran tidak nampak adanya tujuan ketakwaan dan kesalehan tercermin pada setiap bidang studi. Rumusan bidang studi dan pembelajaran seringkali terjebak hanya pada ranah kognisi dan komitmen pada ranah afeksi kurang diperhatikan.
Selain itu perlu adanya perhatian terhadap problem sistematisasi kurikulum yang didalamnya terdapat dikotomi antara ilmu agama dan sekuler (umum).[32] Perlu pengkajian yang kritis terkait pemahaman keduanya. Mereka yang mau berpikir, bersikap, dan meneliti secara kritis akan bisa membangun kesatuan teori kebenaran dan pendidikan sehingga tidak perlu adanya pembedaan antara ilmu agama dan sekuler.
E.     Sistem Pendidikan Islam
Sistem pendidikan merupakan rangkaian dari sub sistem maupun unsur-unsur yang diantaranya ada tujuan, kurikulum, materi, metode, pendidik, peserta didik, sarana, alat, pendekatan, dan sebagainya. Antara satu dengan yang lain saling terkait dan saling mempengaruhi. Selama ini para pemikir Barat telah merumuskan konsep-konsep tujuan pendidikan yang sangat menarik. Akan tetapi banyak pula terdapat konsep pemikiran yang bertentangan dengan petunjuk-petunjuk ajaran Islam.[33] Pengabdosian yang kurang tepat akan melemahkan dan menjadi penghalang bagi kejayaan pendidikan Islam karena pada akhirnya pengadopsian pada salah satu sub sistem akan mempengaruhi pada sub sistem yang lain.
Para pembaharu Islam menyadari pentingnya sistem pendidikan bagi existensi pendidikan Islam. Akan tetapi perubahan di dalamnya memerlukan proses dan tahapan-tahapan. Dalam proses dan perkembangannya, hendaknya sistem tersebut senantiasa memperhatikan kesesuaian dengan petunjuk wahyu yang diharapkan dapat merubah tatanan sosio-kultural menjadi jauh lebih baik dan mampu menjadi garda terdepan.
Dalam pendidikan Islam, letak Al Qur’an dan As sunnah adalah sebagai petunjuk kemana proses pendidikan akan digerakkan, apa dan bagaimana bentuk dan cara mencapai tujuan, apa orientasi yang ingin dituju, dan lain-lain. Selain itu, wahyu juga dijadikan sebagai alat pemantau perkembangan dan kesesuaian pendidikan Islam dengan petunjuk Allah SWT.[34] Di dalam Al Qur’an telah digariskan pendidikan yang ideal yang dapat membina kehidupan masyarakat serta sebagai teladan.
Menurut pendapat guru besar IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, H. Mastuhu, ketika diwawancarai oleh tim dari Taswirul Afkar mengatakan bahwa pendidikan Islam di Indonesia penyelenggaraannya masih menggunakan paradigma pendidikan lama.[35] Banyak sekali perbedaan antara paradigma pendidikan lama dan yang baru. Diantaranya adalah paradigma lama masih menggunakan otoritas kekuasaan dengan pendekatan administrasi birokrasi. Pendidikan masih diberikan dalam bentuk transfer sehingga doktrin yang terbangun adalah menunggu ilmu, bukannya mencari ilmu. Akibatnya siswa akan menjadi pasif karena terbiasa menunggu dan hanya menghafal dan menerapkan pelajaran yang bersifat doktrinal.
Orientasi paradigma pendidikan lama masih berkutat pada kepentingan pendidik, bahkan negara. Padahal pendidikan adalah kebutuhan peserta didik untuk menghadapi masa depannya. Paradigma pendidikan lama masih melihat manusia dari sisi antropologis, bukannya antroposentris maupun teosentrik.
Pendidikan di Indonesia sendiri masih terjebak pada embel-embel gelar dan ijazah. Paradigma ini akan mengubah lembaga persekolahan menjadi ladang bisnis. Pendidikan Islam Indonesia masih bersifat eksklusif, dikotomis, dan parsial. Pendidikan Islam Indionesia membutuhkan rasa dimiliki oleh publik sehingga pendidikan Islam mampu menjadi pendidikan yang bersifat inklusif, integralistik, dan holistik.
F.     Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum menurut Saylor dan Alexander yang dikutip oleh Haidar adalah “. . . school curriculum is the total affort of the school to bring about desired outcome’s in school and in out of school situation. In short the curriculum is the school’s program of learners”.[36] Kurikulum memiliki makna yang sangat luas, yakni apa saja yang dipergunakan dalam rangka untuk mencapai tujuan pendidikan.
Kurikulum merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat strategis, karena merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang di gunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertntu. Sehingga sebenarya kurikulum merupakan nafas atau inti dari proses pendidikan di madrasah untuk memberdayakan potensi anak didik.[37]
Dalam  kurikulum  pendidikan  Islam, Dani Hidayat mengutip dari Sembodo Widodo dalam buku Kajian Filosofis Pendidikan Barat dan Islam, ada dua kurikulum inti yang digunakan sebagai kerangka dasar operasional pengembangan kurikulum. Pertama,  tauhid  sebagai  unsur  pokok  yang  tidak  dapat  dirubah.  Kedua,  perintah membaca  ayat-ayat  Allah  yang  meliputi  tiga  macam  ayat,  yaitu:  1)  ayat  Allah yang berdasarkan wahyu, 2) ayat Allah yang ada pada diri manusia, 3) ayat Allah yang terdapat di alam semesta  atau di luar manusia. Selain itu ada beberapa prinsip umum  yang menjadi dasar kurikulum pendidikan Islam, yakni:
a.       Adanya pertautan  yang sempurna  dengan  agama,  termasuk  ajaran-ajaran  dan nilai-nilainya.
b.      Prinsip menyeluruh (universal) pada tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum.
c.       Keseimbangan  yang  relatif  antara  tujuan  dan  kandungan-kandungan kurikulum.
d.      Perkaitan dengan bakat, minat, kemampuan-kemampuan, dan kebutuhan, dan juga dengan alam sekitar, fisik, dan sosial tempat berinteraksi.
e.       Pemeliharaan atas perbedaaan-perbedaan individu dilingkungan masyarakat.
f.       Penyesuaian  dengan  perkembangan  dan  perubahan  yang  berlaku  dalam kehidupan.
g.       Pertautan  antara  mata  pelajaran,  pengalaman,  dan  aktivitas  yang  terkandung dalam kurikulum dengan kebutuhan murid dan kebutuhan masyarakat tempat murid itu tinggal.[38]

Dalam dunia pendidikan Islam, ada dua macam kurikulum yaitu kurikulum ibtidai (tingkat dasar) dan kurikulum tingkat atas. Kurikulum ibtidai (tingkat dasar) dimulai terhadap anak-anak yang sedang bertumbuh, lalu berproses ke arah tingkat usia murahaqah (usia di mana anak telah mampu berpikir). Kurikulum ini mencangkup pendidikan bagi tingkat kanak-kanak dan murahaqah.[39] Pendidikan tingkat dasar ini pada dasarnya menekankan pada metode hafalan. Namun tidak jarang pula yang menambahkan pengetahuan yang lain.
Sedangkan kurikulum tingkat atas berisi tentang ilmu pengetahuan yang jenisnya banyak dikembangkan dan di dalami secara khusus. Dalam hal ini, Ali Al Jumbulati dan Abdul Futuh Al Tuwaanisi mengutip dua jenis ilmu pengetahuan dari Ibnu Khaldun. Pertama, ilmu pengetahuan yang mengandung nilai intrinsik (nilai asli). Ilmu pengetahuan ini berupa ilmu syari’ah yang mencangkup ilmu fiqih, tafsir, hadits, ilmu kalam, ilmu alam, ilmu ketuhanan, filsafat, dan sebagainya. Kedua, ilmu pengetahuan yang mengandung nilai extrinsik (nilai yang terkandung dari luar). Ilmu pengetahuan ini berfungsi sebagai alat untuk mendalami ilmu pengetahuan yang pertama. Ilmu-ilmu ini terdiri dari bahasa arab, ilmu hitung, dan ilmu mantiq (logika).
Ada dua asas yang yang wajib dipegang dalam proses pencarian bahan-bahan kurikulum. Ibnu Khaldun menegaskan bahwa sistem pendidikan anak hendaknya mengarah kepada kedua asas tersebut, yakni 1.) keharusan memperhatikan bakat atau kemampuan yanng dimiliki oleh anak, 2.) mendahulukan pengalaman pancaindra sebagai asas untuk mencapai pengalaman yang bukan pancaindra (non-indrawi).[40] Pendapat ini sejalan dengan persyaratan pokok yang harus dipenuhi dalam penyusunan kurikulum modern.
Pemikiran Islam dunia Arab berkembang pada masa Daulah Abbasiyah akibat dari terjadinya kontak kebudayaan Arab dengan kebudayaan asing dari Persia, Yunani dan Hindu. Pada masa tersebut diberlakukan kurikulum yang mengandung ilmu dan adab (sastra/kebudayaan). Keinginan bangsa Arab untuk bisa menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan sangat besar sehingga terwujudlah penerjemah-penerjemah yang terpercaya dalam berbagai ilmu pengetahuan.
Perkembangan selanjutnya dari penerjemahan tersebut terjadilah pengkajian, penelitian, meringkas, dan memahami secara kritis setiap disiplin ilmu. Selanjutnya para pemikir Islam dapat menemukan, menciptakan hal baru, serta menghubungkan warisan ilmu dengan peradaban yang amat tinggi nilainya. Bidang-bidang ilmu yang dikaji diantaranya ilmu kedokteran, ilmu bedah, pengobatan, fisiologi, kimia, ilmu alam, dan falak. Diantara tokoh-tokoh yang dikenal dalam bidangnya yakni Ibnu Haitam, Ibnu Sina, Ar-Razi, Abu Raihan Al-Biruni, Abu Qasim Al-Zahrawi ahli bedah yang terkenal, Jabir bin Hayyan ahli ilmu kimia, Yaqut Al-Hamawi ahli geografi, Al Ghazali, Ibnu Khaldun ahli ilmu filsafat dan sejarah. [41]
Corak khusus kurikulum tingkat tinggi pendidikan Islam yakni:[42] (a) Aspek perhatian kepada ilmu-ilmu agama, agama menjadi faktor penentu dalam semua kurikulum. Sehingga akan tercipta ilmu-ilmu pembantu untuk mengistimbatkan hukum-hukum dalam ajaran Islam. (b) Pelajaran kesusastraan di bawah tingkat ilmu agama. Pelajaran ini hanya sebagai alat untuk memahami agama.
(c) Perhatian orang Arab kepada studi ilmiah semakin bertambah karena telah merasakan dampaknya terhadap kemajuan pemikiran dan peradaban. (d) Islam tidak mengenal pengkhususan pada cabang-cabang ilmu sehingga para pelajar harus mendalami semua ilmu. Misalnya saja orang yang mengajar ilmu kedokteran hendaknya ia juga mengajarkan ilmu mantiq, matematika, dan sebagainya.
(e) Sifat umum pendidikan tingkat tinggi yakni kajiannya lebih luas dan beragam. Mengarah kepada kesadaran hati nurani yang memberikan peran terhadap rasio sehingga erat kaitannya antara pertumbuhan hati dan akal. Hal ini akan menciptakan pendidikan Islam yang unggul yang dapat merealisasikan ketentraman manusia serta menciptakan perdamaian dunia. (f) Kurikulum pendidikan tinggi Islam keberadaannya sangat tergantung pada lingkungan sosial Islami, perkembangannya sangat berkaitan dengan keutuhan masyarakat. Secara integral, faktor dari asas-asas tujuan pendidikan adalah lingkungan masyarakat.
Seiring perkembangan zaman, kurikulum pendidikan di Indonesiapun mengalami banyak gejolak. Perubahan sosial yang terjadi pada akhirnya akan mempengaruhi perubahan pada pendidikan, mengenai isi, metode, media, dan sebagainya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan kaitannya dengan permasalahan mengenai kurikulum di Indonesia yakni yang pertama kurikulum yang bersifat sentralistik. Sistem ini bersifat otoriter sehingga mempunyai kesan bahwa pihak bawah harus melaksanakan keinginan pihak atas. Sehingga outputnya menjadikan manusia robot tanpa inisiatif.
Yang kedua berbentuk link and match. Berusaha memberikan keterkaitan output pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Prinsip ini muncul dikarenakan terdapat kesenjangan antara output pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Ketiga, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Seperangkat kurikulum yang didesain sedemikian rupa sehingga memiliki kompetensi yang terukur diantaranya mengenai kompetensi kelulusan, kompetensi jurusan atau program studi kompetensi mata pelajaran, dan lain sebagainya.
Keempat, beban kurikulum. Banyak kritikan terkait kurikulum yang kelebihan muatan. Hal ini sangat mempengaruhi kualitas dari pendidikan. Benar atau tidaknya terkait wacana tersebut tergantung bagaimana masyarakat menyikapi hubungan beban pelajaran dengan tujuan pendidikan sendiri. Pengoperasian kurikulum dapat disingkronisasikan secara proporsional antara intrakurikuler, yakni apa yang diberikan di dalam kelas; kokurikuler, yakni yang diberikan sebagai kelanjutan dari intrakurikuler; dan ekstrakurikuler, yakni apa yang diberikan sebagai tambahan di luar kegiatan intra dan kokurikuler. Dengan pembagian yang proporsional diantara ketiganya akan mengurangi beban kurikulum yang terasa berat karena kebanyakan lembaga hanya terfokus pada intrakurikuler.



[1] EM Zul Fajri, Ratu Aprilia Senja, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (tt.: Difa Publisher, 2008), cet. 3, hlm. 254.
[2] M. Djumransjah, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Malang: Bayumedia, 2004), hlm. 21.
[3] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dn Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm 5
[4] Akh. Muzakki, Kholilah, Ilmi Pendidikan Islam, (Surabaya: Kopertais IV Press, 2006), hlm 9. Pengertian ar-riyadhoh dalam konteks pendidikn islam adalah mendidik jiwa anak dengn akhlak yang mulia. Pengertian ar-riyadhoh dalam konteks endidikan islam tidak sama dengan pengertian ar-riyadhoh dalam pandangan ahli sufi. Ahli sufi menta’rifkan ar-riyadhoh dengan menyendiri pada hari-hari tertentu untuk beribadah dan bertafakur mengenai hak-hak dan kewajiban orang mukmin. Istilh ini sering dipakai oleh orang sufi, tetapi ahli olahraga mendefinisikan ar-riyadhoh dengan aktivits-aktivitas tubuh untuk menguatkan jasad manusia. Lihat Akh. Muzakki, Kholilah, op.cit., hlm 22.
[5] Rosmiaty Azis, Rekontruksi Pendidikan Islam dalam Era Post-Modernisme Tantangan Menuju civil Society di Indonesia, tesis, (Makasar: IAIN Alaudin, 2003), hlm. 51. Lihat juga dalam Abdullah bin Nuh, Oemar Bakry , Kamus Indonesia–Arab-Inggris, (Jakarta; Mutiara Sumber Widya, 1996) cet. X, hlm. 77. Juga Achmad Warson Munawwir,  Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia, (Surabaya:  Pustaka  Progresif, 1977), Ed.II,  hlm.  462.  Juga  Mahmud  Yunus,  Kamus  Arab Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penyelenggaraan Penterjemah/pentafsir alquran, 1973), cet. I, hlm. 136.
[6] M. Djumransjah, op.cit.. hlm. 28.
[7] Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam: dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2004), hlm. 3.
[8] Dani Hidayat, Konsep Dasar Pendidikan Islam, makalah, (Tasikmalaya: Ma’had ‘Ali Persatuan Islam,2009), hlm. 2-3.
[9] Hadari Nawawi,  Pendidikan Dalam Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993), hlm 23-24
[10] Azyumardi Azea, op.cit., hlm 6
[11] Ibid,
[12] Ibid., Lihat juga: Ahmad  D.  Marimba,  Pengantar  Filsafat  Pendidikaan,  (Bandung:  Al-Ma’arif, 1986), cet. VIII, hlm. 39.
[13] Sutrisno, Fazlur Rahman, Kajian terhadap Metode, Epistemologi, dan Sistem Pendidikan  (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2005), hlm 170.
[14] Akh. Muzakki, Kholilah, op.,cit., hlm 13.
[15] Dani Hidayat, op. cit., hlm. 3-4. Lihat pula dalam Muhadjir Noeng, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial, Suatu Teori Pendidikan, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1987), hlm. 15.
[16] Zakiah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam,  (Jkarta: PT Bumi Aksara, 2000), cet 4, hlm 19-20. Lihat Riyanto, Pendidikan Islam Indonesia
blog.re.or.id > Pondok Pesantren > Pendidikan Islam Indonesia ... Pendidikan Islam. Di ulas pada 25 Maret 2013
[17] Ibid., hlm 20-21.
[18] Ibid., hlm 21
[19] Riyanto, op.cit.,
[20] Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam: Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga dan Masyarakat, (Yogyakarta: Lkis Group, 2011), hlm 32-33. Lihat Novan Ardy Wiyani, Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam: Rancang Bangun Konsep Pendidikan Monokotomik-Holistik, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hlm 27-28.
[21] Ferynita, Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam ( April 20127)
feryntina.blogspot.com › Pendidikan. Di ulas pada 25 Maret 2013
[23] Moh. Roqib, op.cit., hlm 28.
[24] Riyanto, op.cit.,
[25] Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritual Pendidikan Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), hlm. 301.
[26] Novan Ardy Wiyani, Barnawi, op.cit., hlm 26.
[27] Ali Al Jumbulati, Abdul Futuh At Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, terj. M. Arifin, Dirasatun Muqaaranatun fit-Tarbiyyatil Islamiyyah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), cet. 2, hlm. 37.
[28] Ibid. hlm. 38.
[29] Departemen Agama Republik Indonesia, Al Qur’an dan Terjemahnya, hlm. 372.
[30] Ali Al Jumbulati, op.,cit., hlm. 39.
[31] Ibid., hlm. 41.
[32] Abdul Munir Mulkhan, op.cit., hlm. 244.
[33] Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam: dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik, (Jakarta: Erlangga, 2005), hlm. 218-220.
[34] Ibid., hlm. 222.
[35] H. Mastuhu, “Pendidikan Islam di Indonesia Masih Berkutat pada Nalar Islami Klasik”, dalam Tashwirul Afkar, edisi 11, (Jakarta: Lakpesdam NU, 2001), hlm. 78.
[36] Haidar Putra Daulay, op.,cit., hlm. 204.
[37] H Muhaimin, Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), cet 2, hlm 202.
[38] Dani Hidayat, op.cit., hlm. 9.
[39] Ali Al Jumbulati, op.cit., hlm. 59.
[40] Ibid., hlm. 61-63.
[41] Ibid., hlm. 69.
[42] Ibid., hlm. 74.

1 komentar:

  1. bagus ne artikelnya... mksh gan...
    http://membumikan-pendidikan.blogspot.com/

    BalasHapus